Literasi Sebagai Proses Pembelajaran Seumur Hidup

Penulis : Widya Apri Wandini | 19 Jul, 2019 | Kategori: Liputan Guru Belajar, Sanggau, Temu Pendidik Daerah

Temu Pendidik Daring KGB- Sijunjung kali ini membahas tentang literasi. Dengan Narasumber Guru Irma Nurul dari KGB –Depok, dan moderator Widya Apri Wandini. 

Berikut materi yang disampaikan oleh Guru Irma Nurul : 

Perjalanan kami memahami literasi cukup panjang. Tahun 2014 kami mempunyai jam khusus untuk literasi. Saat itu literasi kami anggap kemampuan baca tulis. Murid berkunjung ke perpustakaan selama 30 menit membaca. Tahun ajaran berikutnya aktivitas membaca kami kembangkan lagi menjadi 30 menit membaca dan 30 menit menulis.  Pada tahun ini kami diliputi kegalauan. Kami memiliki kelas 9 yang diwajibkan membuat Karya Ilmiah. Kemampuan murid dalam memahami dan menginterpretasikan bacaan ilmiah masih belum sesuai dengan harapan. 

Fakta ini membuat kami memikirkan ulang target kegiatan membaca dan menulis sebagai kegiatan literasi. Berpikir ulang apakah pemahaman kami akan pengertian literasi sudah tepat? Kami mulai mencari sumber dari dalam dan luar negeri. Akhirnya kami merumuskan dan  menempatkan literasi dalam bentuk kemampuan yang diasah melalui pengalaman belajar untuk meningkatkan kecintaan terhadap ilmu, eksplorasi belajar dari lingkungan sekitar dimana murid mendapatkan ilmu, membuat asosiasi antar bidang ilmu, dan menggunakannya untuk memecahkan permasalahan dalam kehidupan.

Pengalaman belajar dilakukan melalui kegiatan belajar mengajar dan kegiatan kunjungan tematik. Pada rapat awal tahun ajaran setiap guru melakukan curah ide tentang pembelajaran masing-masing. Lalu bersama-sama guru akan membuat satu tema yang dapat didekati dari beberapa pelajaran. Guru membuat daftar kemampuan dan keterampilan apa saja yang dapat tercakup dari kegiatan tersebut. Setelah itu tim guru akan menentukan tempat yang sesuai dengan tema. Kunjungan tematik dilakukan setiap 2-3 bulan sekali dengan pilihan tempat yang dekat atau terjangkau transportasi massal seperti stasiun kereta api, museum, pusat budaya, perpustakaan, kantor pemerintahan, sampai bioskop.

 Salah satu contoh kegiatan implementasi literasi budaya, baca tulis, dan numerasi, adalah dengan kegiatan kunjungan ke sebuah museum. Pada pelajaran Bahasa Inggris, guru bidang studi mengambil topik tour guide. Guru menjelaskan bahwa mereka akan pergi ke museum Ciputra di Jakarta. Moda transportasi tercepat apa yang bisa digunakan? Murid belajar untuk memahami peta dan menggunakan aplikasi Trafi dan dibagi menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok di kelas 7 akan mengatur perjalanan dan pembiayaan yang paling efisien untuk mencapai lokasi. Mereka akan menghitung jumlah guru, murid dan staf yang akan ikut, membaginya dalam kelompok kendaraan dan menghitung keseluruhan biaya yang dibutuhkan hingga sampai ke museum Ciputra. Murid belajar mengasah literasi visual spasialnya ketika memahami peta di Google maps dan literasi numerasi ketika memperhitungkan biaya dan moda transportasi tercepat.

Setelah sampai di museum murid dipandu untuk memahami lukisan Hendra Gunawan dari lukisan naturalis ke lukisan modern kemudian diberikan pertanyaan mengenai perbedaan lukisan. Pemandu museum meminta murid mengamati lebih dekat tentang elemen garis, bentuk, dan warna. Pada sisi ruang pamer yang lain murid melihat bagian lukisan kontemporer pada era masa kini. Murid mengamati lukisan dan diperbolehkan bertanya. Membaca keterangan tentang lukisan dan mengamati kembali. Apa yang mereka rasakan ketika melihat lukisan? Elemen apa dalam lukisan yang membuat murid dapat merasa seperti itu? Apakah interpretasi mereka sama atau berbeda dengan temannya? Murid membaca teks mengenai periode dimana lukisan itu dibuat, suasana yang melatarbelakangi pelukis menghasilkan karya, dan mengaitkannya ke dalam sejarah pasca kemerdekaan Indonesia. Setelah itu dilakukan tanya jawab dengan pemandu. Kemampuan ini mengasah literasi visual dan budaya. Pengalaman melihat langsung lukisan dan berbicara langsung dengan ahlinya membuat murid mendapatkan pengalaman belajar yang lebih kaya.

Pada pertemuan setelah murid melakukan kunjungan, murid membuat tulisan tentang lukisan yang paling disukainya dan penjelasan yang membekas di ingatan mereka. Tahapan selanjutnya pada pelajaran Bahasa Indonesia murid akan membuat teks deskriptif terkait kunjungan mereka dan di pelajaran Seni Budaya murid membuat lukisan kontemporer versi mereka sendiri. Dalam kegiatan ini literasi baca tulis dan visualnya berkembang.

Dari kegiatan di atas disimpulkan bahwa mengasah kemampuan literasi tidak harus terfokus ke satu kemampuan literasi secara spesifik seperti baca tulis. Literasi bukan merupakan hasil akhir namun merupakan pembelajaran seumur hidup. Peningkatan literasi di berbagai bidang dapat meningkatkan kemampuan murid dalam menghargai kearifan lokal, bekerja sama dan berkolaborasi dengan banyak pihak untuk menghadapi tantangan di masa depan.

Sesi Tanya Jawa

Pertanyaan dari Guru Tuti 

Pemahaman Literasi di sekolah sangat minim saya rasakan. Hampir seluruh guru hanya paham bahwa literasi selalu tentang baca dan atau menulis saja. Membaca praktik baik yang ibu lakukan di sekolah menginspirasi saya untuk dan harusembuka wawasan guru tentang Literasi yang sesungguhnya. Namun permasalahannya untuk sekolah SMK tentu perlu kolaborasi semua guru, dan apakah program ini dapat  dilakukan di SMK? Dan apakah dimasukkan dalam program sekolah ?

Jawaban 

Program literasi dapat dilaksanakan dari jenjang TK hingga SMA dan SMK. Pertama-tama untuk memulai Ibu bisa coba di pelajarannya sendiri. Jika ada satu dua orang teman guru yang bersedia kolaborasi sudah cukup. Jadi didiskusikan berdua topiknya apa dan bagaimana bentuk kolaborasinya Mencoba melihat topik yang menarik tentunya. Namun alangkah baiknya jika ini merupakan program sekolah ya Bu.

Masukan buat tim literasi sekolah di bawah koordinator wakil kurikulum dan kepala pustaka ya Bu 😊?

Kalau di sekolah kami langsung di bawah Kepala Sekolah. Kami mengalokasikan waktu untuk curah gagasan aktivitas literasi apa yang bermakna.  Namun bisa dimulai dari individual guru bersama rekan yang satu visi jika dari sekolah belum ada program

Iya harus coba dimulai bu. Kemarin kami membuat reading workshop. Jadi setelah anak membaca satu buku mereka membuat poster atau miniatur tentang buku tersebut. Ditambahkan dengan cat, pernak pernik disana sini. Kemudian ada hari presentasi dimana murid saling mempresentasikan bukunya dan melihat karya yang beraneka ragam.

Pertanyaan dari Guru Sri 

Bukankah dengan strategi yang ibu gunakan itu akan membuat perpustakaan menjadi sepi pengunjung dari murid karena murid-murid   sudah diajak ke lokasi lain untuk melakukan literasi. Jadi pertanyaan saya apa fungsinya dan peranan perpustakaan lagi, terimakasih Bu Irma atas jawabannya

Jawaban 

Dengan strategi itu tidak membuat sepi perpustakaan. Karena buku juga menjadi salah satu rujukan referensi. Kita berusaha mengikat makna pembelajaran dengan hal-hal yang ada di keseharian. Kunjungan ke perpustakaan tetap dilakukan. Tentunya dengan aktivitas yang menyenangkan dan sesuai dengan tahapan perkembangan muridnya

Pertanyaan dari Guru Rini 

Saya mengajar di Kelas Tiga SD Bu, saya menerapkan literasi di semua mata pelajaran, saya suruh murid baca materi 10 menit awal, kemudian saya ajukan pertanyaan sesuai isi bacaan utuk membantu murid memahami bacaan. Kemudian di akhir pelajaran saya minta murid membuat ringkasan materi yang telah di pelajari dan ringkasan itu di pajang di mading kelas, apa kegiatan seperti ini tidak menyalahi konsep literasi? Mohon pencerahan Bu

Jawaban 

Kegiatan literasi apapun bisa dilakukan selama dapat membangun pemahaman murid dan menyenangkan. Pada dasarnya literasi itu membangun pemahaman. Bisa dari buku, bisa dari kehidupan nyata. Ilustrasinya seperti ini. Anak murid ibu suka games. Kita bisa gali game apa yang mereka suka? Apakah mereka mengenal tipe game yang lain? Misalnya game ada yang RPG ada yang multiplayer. Minta mereka melakukan riset di internet dan melalui buku. Siapa yang dapat menggali banyak informasi dan membuta kesimpulan akan mendapat hadiah. Jadikan kesenangan mereka pastikan kita untuk memberi aktivitas.

Ada anak yang terbiasa dengan kegiatan membaca dari kecil ada yang tidak. Ibu bisa buat pemetaan dulu di awal. Setelah itu baru memilih buku yang sesuai dengan level baca anak.

Pertanyaan dari Guru Novia Oktaviari  

Luar biasa, strategi yang ibu lakukan sangat menambah wawasan saya lebih luas mengenal apa itu literasi.Sesuai penjelasan Ibu berikutnya, berarti strategi yang Ibu lakukan sudah merupakan program sekolah Ibu ya? Nah yang ingin saya tanyakan bagaimana menggunakan stategi tersebut klw belum menjadi program sekolah, Bu? Karena bila menggunakan strategi tersebut secara tidak langsung harus dirancang dalam Rencana Pembelajarannya ya, Bu. Pertanyaan saya berikutnya Bu, apakah ada tindak lanjut berikutnya atau evaluasinya terhadap tulisan murid Ibu dalam melaksanakan strategi tersebut?

Jawaban 

Jika belum menjadi program sekolah bisa diterapkan ke mata pelajaran kita dulu. Langkah pertama yang kami lakukan membuat peta konsep atau mindmap. KD kita apa saja misalnya teks prosedur. Kita bisa membuat teks prosedur memasak atau tutorial membuat sesuatu dan divideokan. Atau membuat teks prosedur dan dikombinasikan dengan visualisasi yang menarik memakai aplikasi canva yang bisa didownload di handphone. Anak-anak bisa memasukkan karyanya di blog pribadi dan merekapun bisa menceritakan tahapan merancang poster online. Tindak lanjutnya biasanya selama proses kami berikan masukan untuk menyempurnakan. 

Guru menggunakan rubrik untuk menilai karya murid sehingga lebih objektif. Kalau kemarin kami integrasikan dengan pelajaran Pendidikan Agama Islam. Prosedur menyembelih hewan. Kami beli ayam dan minta anak-anak menyembelih. Ayamnya dimasak, setelah itu anak berfoto dengan hasil karya masakannya. Fotonya dimasukkan blog dan ditulis prosedurnya. Di pelajaran agama diambil nilai teknik penyembelihan hewan yang halal di bahasa Indonesia dapat nilai membuat teks prosedur. Sama-sama senang, waktu lebih singkat

Sistem integrasi bidang studi ada beberapa. Ada yang dalam satu waktu ada dua guru. Ada yang dilaksanakan di pelajran masing-masing tapi satu tema

Terimakasih atas penjelasannya, Bu. Berarti dalam pembelajaran bahasa indonesia, setiap hasil tulisan murid dapat dikatakan sebagai proses literasi? Sebagai contoh, tuntutan KDnya menulis teks debat singkat.Lalu guru tsb memberikan pemodelan dengan menampilkan salah satu video ILC (TVone) Dari video yang di tampilkan murid dapat beranalogi dalm menulis teks debat. Nah hasil tulisanya tersebut dapat di katakan proses literasikan Bu?

Iya betul Bu Novi Selama itu dapat membangun pemahaman murid.

Pertanyaan dari Guru Fidra Yanti Era

Saya mengajar di kelas 1 SD, saya sering menayangkan film kartun sebagai literasi untuk peserta didik saya. Film tersebut berdurasi 10-15 menit..kemudian setelah film selesai, saya mengadakan tanya jawab dengan peserta didik. Yang saya tanyakan Bu apakah dengan menonton film kartun termasuk literasi? Seandainya iya, selain tanya ajwab dengan peserta didik Apa lagi hendaknya yang saya lakukan Bu, supaya anak-anak tidak bosan

Jawaban

Film bisa dijadikan aktivitas literasi juga. Untuk melakukan variasi aktivitas belajar selain tanya jawab bisa diminta mengorelasikan film itu dengan konsep dalam bentuk gambar. Atau bisa diminta berdiskusi dengan rekan sebaya tentang perasaan mereka setelah melihat film. Mereka juga bisa membuat vlog pendek yang menjabarkan film tersebut, Vlog, Video blog. Jadi mereka bisa merekam diri mereka sedang menjelaskan tentang film yang mereka lihat dan perasaannya. Dapat juga diedit dan ditambahkan efek visual. Iya. Projectnya disesuaikan dengan usia saja bu. Atau gurunya yang merekam murid dengan kamera handphone. Tidak harus aktivitas ini. Bisa yang lain.

Makasih Bu, yang ini terus terang belum pernah saya coba di kelas 1, dengan adanya pengetahuan dari ibu akan saya coba, tetapi apakah tidak memakan waktu lama Bu, soalnya literasi waktunya 15 menit

Untuk anak SD bisa dipantik dengan kegiatan Show and Tell. Mereka membawa barang dan menceritakan barang yang dibawanya

Pertanyaan Guru Novie Etmawita 

Saya tertarik sekali dengan literasi yang ibu terapkan, untuk d SD memang masih cendrung literasi 15 menit sebelum pembelajaran di mulai. Saya ingin menerapkan berliterasi seperti yang ibu terapkan kendalanya di daerah kami belum ada museum, sehingga kami hanya bisa memanfaatkan alam. Yang ingin saya tanyakan bagaimana sebaiknya berliterasi yg efektif dgn memanfaatkan alam Bu? Terima kasih 🙏

Jawaban

Sangat efektif Bu. Alam memberikan sumber inspirasi yang tidak ada habisnya. Justru kita di tengah kota sangat kekurangan karena sedikit bisa mengamati alam terbuka. Misalnya ketik jalan-jalan menemuka tupai. Kalau di Jakarta tupainya berlari di atas tiang listrik😁. Kita bisa belajar konsep gaya dari alam, membuat teks deskriptif dari alam, berhitung dengan alam, dan masih banyak konsep yang lain

Bisa Bu. Tapi kerja sama dengan guru bidang studi setelah itu. Misalnya setelah itu pembelajaran selanjutnya dilakukan di alam. Belajar itu tidak harus dibatasi dinding. Bisa dimana saja. Ini yang saya tulis di buku Kelasnya Manusia bersama Pak Munif Chatib

Cari yang dekat dengan sekolah, tidak usah jauh-jauh. Kalau mau jauh baru harus ada waktu khusus. Kalau dalam pembelajaran memang sudah kami lakukan bu, tapi untuk literasi di ajak ke alam belum. Literasi alam memang ada dalam program literasi sekolah kami. Tetapi belum terlaksana karena keterbatasan waktu yang hanya 15 menit di awal, kemudian kita juga dihukum dengan PB pada buku murid yang sudah ditentukan. Sangat sulit menggabungkan, hingga sekarang belum terlaksana.

Kalau literasi di kami bisa dipanjangkan hingga masuk ke jam pelajaran pertama sepanjang topiknya sesuai. Jadi cair saja. 15 menit mungkin waktu membacanya, waktu membahasnya bisa dimasukkan ke pelajaran pertama. Saran saya cari literasi alam yang dekat dengan lokasi sekolah

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: