Program Literasi di Sekolah yang Bermakna

Sudah membuat program literasi sekolah, namun nyatanya kegiatan tidak meninggalkan jejak pada murid. Murid sudah membaca buku tapi masih tetap saja tidak paham isinya. Atau sudah paham tentang literasi tetapi minim ragam kegiatan yang bermakna. Ternyata memang masih banyak kerikil  miskonsepsi tentang literasi. Termasuk di dalamnya bahwa literasi hanya berkutat pada buku, teks, kegiatan membaca atau menulis. Lalu apa pentingnya literasi untuk murid jika tidak memberikan perubahan bahkan tidak memberikan daya. Karena seharusnya literasi yang bermakna akan menjadikan murid semakin berdaya. Nah, dari persepsi inilah kita akan mengurai tentang miskonsepsi literasi yang nyatanya telah membudaya berakar bertahun tahun dalam persepsi pendidik.

Temu Pendidik Daerah

Kegiatan Temu Pendidik Daerah (TPD) adalah sebuah pertemuan antarpendidik di daerah Tulungagung. Peserta dari berbagai jenjang mulai PAUD, TK, SD, SMP, SMA maupun perguruan tinggi. Dalam pertemuan ini kami saling berkolaborasi membahas tentang tema yang kami angkat yaitu Literasi untuk Berdaya. Tema ini kami angkat berkaitan dengan masih banyak miskonsepsi tentang apa itu literasi? Bagaimana program literasi?

Program Literasi Sekolah

TPD dilaksanakan pada hari minggu tanggal 6 Oktober 2019. Bertempat di Omah Dolan Pelangi, Jln. Teuku Umar, Dusun, Gluduk, Desa Ariyojeding, Kec. Rejotangan. Kab.Tulungagung. Pemantik diskusi adalah Bunda Ilmi yang merupakan Penggerak KBG Blitar dan Bunda Pelangi Penggerak KGB Tulunggagung. Peserta yang hadir ada 7 orang. Di antara mereka memiliki motivasi ikut karena memang belum pernah mendengar adanya Komunitas Guru Belajar. Adapula yang sudah dengar tetapi belum pernah mengikuti kegiatannya. Maka menjadi lumrah saat baru datang di lokasi peserta masih malu-malu untuk berinteraksi dan komunikasi.

Untuk mencairkan suasana Bunda Ilmi mengajak peserta untuk memperkenalkan diri. Kemudian peserta diajak saling bertukar informasi tentang aktivitas dan motivasi mengikuti agenda TPD. “Motivasi saya ikut adalah tertarik pada tema yang diangkat, karena kebetulan di sekolah saya belum ada program literasi.” Ungkap Bu  Gilang yang merupakan guru SD Sentul Blitar. “Saya sebelumnya belum pernah mendengar ada KGB makanya saya datang karena saya penasaran.” Kata Bu Nur yang rumah dan tempat mengajarnya cukup dekat dengan lokasi TPD.

Miskonsepsi Literasi

Sebelum pemantik diskusi menyampaikan pemaparan tentang praktik baik literasi yang berdaya, para peserta diajak mengemukakan pendapatnya tentang apa itu literasi Jawabannya pun beragam seperti kata pak Satrio Guru SD di Buntaran “Literasi itu ya kegiatan membaca buku.” Berbeda dengan Pak Denny mengungkapkan “Literasi itu adalah kegiatan belajar yang tidak hanya dari buku tetapi juga dalam aktivitas berkreasi.”

Setelah  merangkum pendapat peserta, bu Ilmi kemudian memulai mengurai tentang miskonsepsi literasi. Bahwa literasi bukan hanya berkutat pada diktat, buka selalu dengan buku, bukan tentang kegiatan membaca dan menulis saja. Tetapi semua aktivitas mencari informasi, mengolah informasi kemudian mengkomunikasikannya kembali dalam bentuk yang lebih bermakna. Dari pemaparan bu Ilmi sedikit terbukalah paradigm peserta. Ada yang kaget juga karena konsep tentang literasi yang mereka pahami selama ini masih keliru. Ada juga yang kemudian tersenyum lega karena ternyata kegiatan literasi bukan hanya membaca buku. Maklum ternyata ada beberapa peserta yang tidak menyukai kegiatan membaca. Setelah Bu Ilmi memantik diskusi tentang Miskonsepsi Literasi, Bunda Pelangi yang merupakan pemilik Omah Dolan Pelangi memaparkan tentang Praktik baik Literasi yang bermakna di jenjang dasar ( PAUD, TK,SD ). Salah satunya adalah dengan sosiodrama. Kemudian permainan Board Game karakter baik, belajar cerita dan dongeng. Literasi yang berbasis eksplorasi sains. Mengaitkan pembiasaan atau kegiatan sehari hari dengan literasi.

Baca Juga: Miskonsepsi Literasi

Refleksi Kegiatan

Dari hasil diskusi peserta mulai ada ide baru untuk membuat ragam kegiatan literasi yang bermakna. Semuanya dimulai dari pemahaman pendidiknya terlebih dahulu, pada sesi penutupan bu Ilmi menyampaikan

“Keterampilan yang harus dimiliki baik pendidik maupun murid di era 4.0 adalah keterampilan berkomunikasi dan berpikir kritis dan inilah bagian dari sebuah literasi yang berdaya.”

Sementara Bunda Pelangi menyampaikan

“Bukan bagaimana anak itu bisa membaca akan tetapi bagaimana anak itu suka membaca, untuk kegiatan literasi yang bermakna perlu adanya kegiatan pasca membaca.”

Sebuah refleksi juga diberikan salah satu peserta TPD yaitu Bu Reza

“Kegiatan siang hari ini sangat bermanfaat, membuka pikiran yang selama ini literasi saya anggap hanya tentang membaca. Sangat santai sehingga bisa lebih enjoy dalam memahami. Semoga bulan depan ada agenda lagi dengan teman yang lebih banyak.”

Kami tawarkan kepada peserta tentang tema pada pertemuan TPD yang selanjutnya. Dari berbagai masukan dan pendapat ternyata banyak diantara peserta yang ingin berbagai praktik baik pembelajaran literasi. Maka Call to Action nya adalah peserta TPD akan mendapatkan tantangan membuat skenario pembelajaran literasi yang bermakna . Tidak lupa juga kami agendakan awal  bulan depan untuk TPD lagi dengan bahasan Ragam Kegiatan Literasi yang Bermakna, kami rencanakan akan berbagi praktek baik tentang literasi dari semua jenjang sekolah.

Penasaran Bagaimana Menerapkan Literasi Numerasi di Sekolah Dasar?

Yuk ikuti pelatihan online
Memulai Karier Guru: Strategi Numerasi Sekolah Dasar
klik di sini

Literasi sekolah
About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: