Magang Guru Merdeka Belajar: Siapkan Calon Guru Penggerak

Penulis : Yosinta Maharani Here | 12 Jan, 2022 | Kategori: Inspirasi Guru Belajar, Merdeka Belajar
Proses belajar-mengajar oleh peserta MGMB di SDN 09 Sanggau (Dok. pribadi Restu Avika)

Kuliah sudah hampir lulus tapi belum siap untuk mengajar? Atau bahkan sudah lulus tapi ragu untuk jadi guru? Mungkin karena kamu belum mendapatkan ilmu mengajar merdeka seperti yang sudah didapatkan teman-teman peserta Magang Guru Merdeka Belajar (MGMB).

Awalnya, teman-teman peserta MGMB juga meresahkan banyak hal terkait mengajar, seperti;

“Ternyata susah bikin murid fokus. Lima menit mengajar, semua sudah pada sibuk sendiri. Haruskah aku jadi guru yang galak agar mereka jadi nurut? ”

 “Kok sepertinya guru-guru pusing banget ya sama RPP? Ternyata aplikasinya kok sulit, aku bisa nggak ya nantinya?”

Mengapa Harus “Guru Merdeka Belajar”?

Saat memutuskan untuk menjadi guru, apa yang kamu bayangkan? Mungkin kamu akan membayangkan datang setiap hari ke sekolah, masuk ke kelas, menjelaskan materi, menyiapkan soal ulangan, dan memasukkan nilai ke raport.

Baca juga: 5 Cerita Inspiratif Mentor dan Mentee Magang Guru Merdeka Belajar

Jika ada murid yang dapat nilai jelek, kamu akan berpikir mereka butuh mendapat pengajaran tambahan di luar kelas. Atau yang paling buruk adalah melabeli murid tersebut bodoh. Sebaliknya, murid dengan nilai 90 ke atas adalah murid yang pintar.

Sayangnya hal tersebut adalah hasil miskonsepsi belajar yang sudah mendarah daging di dunia pendidikan kita. Murid yang belajar tapi malah menjadi objek dari aktivitas guru mengajar. Berikut beberapa miskonsepsi belajar yang pasti sering kamu temukan;

1. Belajar hanya untuk ujian
2.  Kendali belajar ada pada guru
3.  Pelajar dipaksa memiliki kebutuhan belajar dan minat yang sama
4.  Belajar itu menghafal dan menggunakan rumus
5. Keberhasilan belajar terstandar dengan nilai angka
6. Penilaian belajar sepenuhnya adalah wewenang guru

Padahal, menurut Ki Hajar Dewantara, anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik memiliki peran yang besar namun hanya sampai pada titik merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu. Dengan kata lain, murid harus merdeka dalam proses belajarnya.

Dengan menjadi peserta Magang Guru Merdeka Belajar, kamu bisa menjadi penggerak perubahan agar tidak ada lagi miskonsepsi seperti di atas yang sangat merugikan murid. Pada akhirnya, prinsip ini juga akan membantu kamu untuk menghadapi permasalahan dan keresahan seperti pada bagian awal tulisan ini.

Apa Itu Magang Guru Merdeka Belajar (MGMB)?

MGMB adalah program magang Kampus Guru Cikal (KGC) yang secara resmi menjadi mitra industri Kemendikbud dan Ristek melalui program Magang dan Studi Independen Bersertifikat pada tahun 2021.

KGC memberikan kesempatan pada mahasiswa dengan latar studi keguruan maupun non keguruan minimal semester 5 untuk menjadi peserta magang ini. “Kami menerima 107 mahasiswa dari 51 perguruan tinggi yang tersebar di seluruh Indonesia,” jelas Elisabet Susan, ketua KGC.

Setelah mengikuti mentoring pedagogi selama satu bulan secara daring, peserta magang akan praktik mengajar dengan model blended learning. “Mahasiswa magang ditugaskan ke sekolah/madrasah di berbagai wilayah. Untuk tahun ini berada di 17 titik yang tersebar di 4 pulau besar di Indonesia,” lanjut Elisabet.

Baca juga: Katrol Nilai dengan Hasil Asesmen Formatif, Bolehkah?

WIlayah penempatan peserta Magang Guru Merdeka Belajar yakni Binjai, Tangerang, Tangerang Selatan, Depok, Jakarta Selatan, Bandung, Sukabumi, Jombang, Lamongan, Batu, Sidoarjo, Surabaya, Hulu Sungai Tengah, Sanggau, Makassar, dan Gowa.

Seluruh sekolah yang menerima mahasiswa magang merupakan sekolah dari Jaringan  Sekolah Madrasah Belajar dan Komunitas Guru Belajar Nusantara.

Selama magang, mahasiswa akan mendapatkan uang saku termasuk uang akomodasi penuh termasuk saat penempatan mengajar tatap muka.

Elisabet mengungkapkan bahwa tujuan MGMB adalah agar semakin banyak mahasiswa yang tergerak untuk menjadi penggerak pendidikan dan melakukan perubahan ekosistem pendidikan yang lebih kolaboratif dan berpihak pada anak.

“(Harapannya) semakin banyak calon guru merdeka belajar yang siap terjun ke sekolah-sekolah, sehingga semakin banyak murid yang mengalami merdeka belajar di kelas,” pungkasnya.

Apa Kata Mentee?

Uji prototipe oleh Riswan di SDI Binakheir Depok (Dok. pribadi Riswan)

Riswan, salah satu mentee Magang Guru Merdeka Belajar angkatan pertama berharap bahwa kedepannya semakin banyak mahasiswa yang tertarik untuk mengikuti program magang yang diselenggarakan oleh KGC ini.

Harapan tersebut tidak lepas dari pengalaman mahasiswa Universitas Negeri Makassar itu saat menjalani MGMB. Ia merasa banyak belajar dari para mentor dan lebih siap untuk mengajar nantinya setelah lulus.

“Sebelumnya sudah magang di tempat lain. Saat program tersebut, aku tanya-tanya bagaimana caranya mengajar dan sebagainya. Aku menemukan banyak guru yang mengeluh. Seperti misalnya membuat RPP yang sangat banyak, lalu ada yang tidak diterapkan,” ungkap Riswan.

“Tapi setelah ikut Magang Guru Merdeka Belajar kan dapat banyak modul, salah satunya modul Guru Merdeka Belajar. Pandanganku berubah drastis. Guru merdeka belajar itu enjoy-enjoy menjalankan tugasnya. RPP yang mereka rancang tidak memberatkan dan semua dapat diterapkan” lanjut mentee yang mendapat penempatan praktik di SDI Binakheir Depok ini.

Selain itu, Riswan juga mendapat pandangan baru bahwa menjadi guru tidak hanya sekadar mengajar atau menyelesaikan target kurikulum. Ia menyampaikan bahwa orientasi pembelajaran adalah murid sehingga poin-poin pencapaian pun harus merupakan kesepakatan yang melibatkan murid.

Apa Kata Mentor?

Theresia Tri Darini merupakan salah satu mentor Magang Guru Merdeka Belajar berasal dari Yayasan Salib Suci Bandung. Keputusan Guru Theresia untuk menjadi mentor tidak lepas dari keresahannya ketika sulit mencari guru merdeka belajar untuk mengajar di tempat Ia bekerja.

“Jangan sampai yang baru lulus hendak jadi guru, masih terpola dengan pola pendidikan konvensional. Hal ini terasa banget ketika saya banyak melakukan wawancara dengan pelamar-pelamar calon guru,” ungkapnya.

Baca juga: Asesmen Nasional: Memperpanjang Derita atau Sebaliknya?

“Sehingga kemudian sempat terpikir perubahan mindset ini harus dimulai dari bangku universitas. Berharap para pendatang bukan yang akan terpengaruh dengan gaya mengajar lama, tapi justru memberikan aura baru (yang merdeka belajar),” lanjut Guru Theresia.

Ia pun mengatakan bahwa sangat senang menerima mentee dari program Magang Guru Merdeka Belajar. Sebagai mentor, ia dilibatkan dalam setiap proses sehingga merasa memiliki peran pada mahasiswa untuk menyiapkan bekal dunia kerja secara nyata.

“Saya terlibat dengan apa yang mentee lakukan. Dari menyusun bersama bahan observasi, diskusi, hingga merencanakan prototype sesuai kebutuhan siswa,” jelas Guru Theresia. “Sebelumnya pernah jadi tempatnya belajar mahasiswa namun serasa hanya tempat,” lanjutnya.

Guru Theresia mengungkapkan bahwa mahasiswa magang yang ia terima dari KGC sangat kritis dan percepatan belajarnya luar biasa. Ia menilai bahwa mahasiswa ini adalah jembatan antara (guru) yang konvensional dan millennial.

Yuk Berproses di #AyoJadiGuru!

Belum sempat ikut Magang Guru Merdeka Belajar tapi siap berproses untuk jadi guru yang merdeka belajar? Nantikan program #AyoJadiGuru dari Kampus Guru Cikal tahun 2022 ini! 

#AyoJadiGuru merupakan program persiapan dan sertifikasi profesi guru yang terstruktur untuk mempersiapkanmu untuk jadi guru yang berkualitas dan  inspiratif, bahkan dicari oleh banyak sekolah. 

Tidak hanya mahasiswa, untuk kamu yang sudah lulus pun bisa mengikuti program ini. Bukan dari lulusan pendidikan? Program ini terbuka untuk siapa saja, dari latar belakang pendidikan apapun. 

Setelah lulus sertifikasi, kamu akan langsung mendapatkan pekerjaan di sekolah-sekolah yang sudah menjadi mitra Kampus Guru Cikal.

Ikuti instagram @kampusgurucikal agar kamu tidak ketinggalan informasinya!

About the Author

2 thoughts on “Magang Guru Merdeka Belajar: Siapkan Calon Guru Penggerak”

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: