Media Ajar Matematika dengan GPS

Apakah Bapak dan Ibu guru merasa sedih saat mengajar matematika? Karena seperti yang kita tahu, banyak murid yang tidak suka dengan mata pelajaran matematika. Ingin membuat pembelajaran menjadi lebih menyenangkan, tapi bagaimana caranya? Ingin menggunakan media ajar? Tapi media ajar seperti apa yang selain menyenangkan juga bisa berdampak bagi murid dan masih relevan di masa sekarang maupun di masa depan? Jangan khawatir Bapak Ibu, karena pada tulisan kali ini kita akan membahas kisah dari seorang guru yang juga mengalami hal serupa. Guru ini mengajar matematika kelas 7. Namun guru ini mampu membuat pembelajaran matematika menjadi lebih menyenangkan sekaligus berdampak bagi murid dengan media ajar yang digunakannya. Nah kira-kira, siapa guru ini dan media ajar matematika apa yang digunakannya ya? Penasaran? Yuk langsung simak kisah selengkapnya di bawah ini!

Media ajar matematika dengan GPS

Guru ini bernama Febriandrini dari SMP Lazuardi Al Falah GIS Depok. Awalnya Guru Febri merasa dengan menyisipkan permainan atau menggunakan alat peraga saat beliau mengajar dulu, dirasa sudah cukup untuk membuat pembelajarannya menjadi lebih menyenangkan. Namun tidak untuk sekarang. Melihat pesatnya perkembangan zaman dan teknologi, Guru Febri sadar jika hampir separuh ilmu yang diajarkan saat ini bakal hilang ditelan zaman sekian tahun mendatang. Sudah banyak profesi baru yang membutuhkan ilmu baru yang bahkan belum diajarkan di sekolah. Karena itu Guru Febri juga mencoba hal baru dalam mengajar. yakni mencoba media ajar matematika menggunakan aplikasi peta dengan fitur GPS. Kebetulan waktu itu materi yang diajarkan tentang bilangan dan operasi dasar matematika. Guru Febri mengaitkan materi bilangan dengan aplikasi peta dengan fitur GPS.

Di awal pembelajaran Guru Febri biasa memberikan sesi inkuiri dan bertanya apa gunanya angka atau bilangan dalam kehidupan manusia. Ada yang menjawab untuk mengetahui seberapa banyak barang yang kita miliki, seberapa tinggi sebuah gedung dan sebagainya. Lalu Guru Febri lanjutkan dengan bertanya, “Kalian tahu tidak kalau angka itu bisa menyelamatkan nyawa manusia?”

“Masa? Kok angka bisa menyelamatkan manusia, Teacher?” sahut nurid-muridnya.

“Iya, bisa. Ada yang tahu tentang GPS?” tanya Guru Febri.

“Saya tahu. Itu biasanya yang ada di Google Maps, untuk menunjukkan lokasi kita,” sahut salah satu murid.

“Betul, sekali. GPS atau  Global Positioning System menggunakan satelit yang mengirim data tentang lokasi kita di bumi. Jika kita tersesat di hutan dan sinyal smartphone masih aktif, kita bisa mengirimkan data lokasi dan meminta pertolongan untuk datang ke lokasi tersebut,” kata Guru Febri.

“Data lokasi itu koordinat GPS, kan ya, Teacher?” murid lain menimpali.

Yep, betul. Nah, ada yang pernah tahu jenis bilangan apa yang digunakan untuk menuliskan koordinat GPS?” Guru Febri lanjut bertanya.

Murid diam.

“Ada yang tahu bagaimana kita bisa mendapat koordinat GPS dari Google Maps?” Guru Febri bertanya lagi.

Murid saling melirik satu sama lain, lalu menggelengkan kepalanya. Di sini, Guru Febri akan menerapkan media ajar matematika yang telah ditentukannya. Guru Febri mulai mengajak murid mengeksplorasi bilangan desimal dalam koordinat GPS, mengaitkan pengetahuan mereka tentang posisi berdasarkan lintang dan bujur, serta kuadran dalam koordinat Kartesius.

Baca juga: Membuat Asesmen yang Menyenangkan dengan Ekshibisi Mini Digital

“Oke, sekarang Teacher akan tunjukkan caranya. Kita buka Google Maps, pastikan tombol Location atau GPS dalam keadaan aktif ya. Nanti akan terlihat titik biru seperti in, kita zoom hingga makimal, lalu tekan di titik biru itu sampai keluar pin merah. Nah, akan muncul deretan angka yang merupakan koordinat GPS. Yuk, yang bawa smartphone, bisa di coba.”

Murid yang membawa smartphone pun mulai mencoba dan mereka heran ternyata mereka mendapatkan angka yang berbeda. Guru Febri pun meminta dua murid membacakan deretan angka tersebut dan Guru Febri menuliskan di papan tulis. Lalu Guru Febri bertanya, “Menurut kalian, ini angka apa?”

“Desimal ya, Teacher?” jawab salah satu murid.

“Betul, ada dua angka desimal di sini dan Kalian lihat dari dua koordinat yang Teacher tulis di sini, ada angka yang berbeda. Ini menunjukkan bahwa teman kalian tadi berada pada posisi yang berbeda. Nah, sekarang yang mau Teacher tanyakan adalah mengapa angka bulatnya –6 dan 106? Ada yang tahu?”

“Apa ya? Tidak tahu,” jawab murid yang lain.

“Coba masih ingat, Indonesia berada di bujur dan lintang berapa?” Guru Febri bertanya lagi. Sambil menunggu jawaban murid, Guru Febri menggambar sumbu koordinat di papan tulis.

“Ingat, 6o lintang utara –11o lintang selatan kan?” jawab salah satu murid.

“95o—141o bujur timur!” teriak murid yang di belakang.

Good. Coba sekarang lihat ke sini. Masih ingat empat arah mata angin, apa saja?”

“Betul. Barat, Timur, Selatan, dan Utara.” Guru Febri dan murid-muridnya bersama-sama meletakkan nama mata angin di gambar.

“Kalau gambar ini melambangkan posisi di bumi, kira-kira sumbu X ini menunjukkan apa?” sambil menggerakkan tangan Guru Febri di sepanjang sumbu X.

“Khatulistiwa?” seorang murid menjawab dengan ragu-ragu.

“Yak betul khatulistiwa. Selanjutnya, kalau batas Indonesia terletak di 6o lintang utara –11o lintang selatan, 95o—141o bujur timur. Bagaimana kita menggambarkannya di sini?” Guru Febri dan muridnya lalu meletakkan posisi batas-batas dan mereka sepakat tentang letak Indonesia.

“Nah, sekarang kalau tadi Depok berada di (-6, 106), yang -6 menunjukkan lintang utara atau selatan?” Guru Febri bertanya.

Ada yang menjawab utara, ada yang menjawab selatan.

“Coba perhatikan baik-baik, tanda negatif di bagian utara apa selatan?”

“Berarti lintang selatan, Teacher.”

“Betul, berarti 106 menunjukkan bujur timur karena tanda positif ya.” Guru Febri dan muridnya lalu menggambar letak titik (-6, 106).

“Sekarang, lihat dua pasangan koordinat yang tadi Teacher tulis. Kalau titik ini adalah A, kira-kira titik B di sebelah mana A? Perhatikan baik-baik angka desimalnya, ya.” Guru Febri dan muridnya lalu menggambar letak titik A dan B.

“Nah, sekarang kalian sudah paham tentang koordinat GPS dan cara mendapatkannya. Teacher akan bagi kalian menjadi grup kecil. Satu orang dari setiap grup akan menempati sebuah posisi di sekitar sekolah, seakan menjadi orang yang harus kita selamatkan. Orang tersebut nanti akan mengirim data GPS lokasi ke kelompoknya supaya yang hilang sampai ketemu. Kalau sudah ketemu, langsung kembali ke tempat Teacher menunggu. Siap?”

Berbekal alat tulis dan smartphone, setiap grup bersemangat keliling sekitar sekolah, mencari anggota mereka yang hilang.  Mereka melihat peta dan membangdingkn dengan data GPS yang dikirim dengan lokasi mereka. Akhirnya, semua grup berhasil menemukan anggota kelompoknya. Dari kegiatan ini, murid bisa merasakan kegunaan angka sebagai data GPS yang bisa digunakan untuk menyelamatkan nyawa manusia, karena memberikan titik lokasi yang tepat.

Proses selanjutnya yakni melakukan proyek elaborasi memadukan konsep matematika dengan pengamatan lingkungan. Setiap grup diminta untuk berjalan keliling area sekitar sekolah, jika melihat ada tumpukan sampah, mereka mengambil gambar dan mencatat data GPS lokasinya. Setelah semua data terkumpul, Guru Febri dan murid-muridnya menuju laboratorium komputer untuk memproses data koordinat tersebut.

Pertama, mereka menggunakan Google Spreadsheets untuk meng-input data koordinat dan sekaligus belajar konversi dari bentuk koordinat desimal ke bentuk derajat, menit, dan detik. Setelah itu, mereka import data dari Spreadsheets ke dalam Google My Maps untuk dipetakan titik-titik koordinatnya. Proses terakhir yang dilakukan oleh setiap murid adalah membuat presentasi dalam bentuk Google Slides yang menunjukkan di mana saja mereka menemukan tumpukan sampah. Murid menyajika hasil analisis mengapa bisa ada tumpukan sampah dan memberikan rekomendasi apa yang bisa dilakukan oleh sekolah untuk membuat lingkungan komunitas lebih sehat dan lebih bersih.

Dengan adanya kegiatan inkuiri, disambung dengan eksplorasi dan proyek elaborasi tersebut, Guru Febri melihat interaksi antar murid dan bagaimana mereka menyelesaikan problem-problem dalam kelompok dengan pikiran kritisnya. Termasuk bagaimana mereka membantu teman-teman mereka yang berkebutuhan khusus untuk bisa melaksanakan tugas. Meskipun waktu proyek elaborasi panasnya sangat terik, seluruh murid terlibat aktif saat berkeliling sekolah. Guru Febri pun bisa menilai kemampuan komunikasi mereka dalam menyampaikan intruksi maupun data ke sesama teman. Serta akhirnya menyampaikan pesan mereka ke khalayak.

Di akhir pengajaran, Guru Febri meminta refleksi dari para murid, apa saja yang mereka dapatkan dari kegiatan tersebut. Ada yang bilang ‘Asyik”. “Enak bisa jalan-jalan, Teacher”. Namun, ada satu murid bilang, “Saya akhirnya paham Teacher, angka di koordinat GPS itu banyak artinya. Berdiri di tempat yang berbeda ternyata koordinat GPS-nya beda juga. Jadi angka bukan Cuma untuk dihitung saja, ya.”

Guru Febri langsung senyum lebar saat mendengar komentar murid tersebut karena itulah hasil nyata dari literasi matematika. Murid mendapatkan kebermaknaan dari materi pelajaran bilangan, bukan hanya sekedar tahu definisi dan jenis-jenis bilangan serta cara berhitung saja. Pemahaman pun diraih saat murid bisa menjawab arti angka-angka dalam koordinat GPS dan memprosesnya sebagai data yang bisa dipresentasikan untuk berkontribusi kepada komunitasnya.

Setelah membaca kisah Guru Febri dengan media ajar matematika yang digunakannya, apakah Bapak Ibu sudah terbayang ingin menggunakan media ajar seperti apa dalam pembelajaran di kelas nanti? Atau masih ingin mendapat kisah inspiratif dan solutif lainnya? YuK, ikuti saja Temu Pendidik Nusantara (TPN) VIII yang bertemakan “Merayakan Asesmen, Mendesain Ekosistem Merdeka Belajar” yang akan diselenggarakan pada tanggal 20-21 November 2021. Di TPN kali ini Bapak dan Ibu akan mendapat inspirasi dari #1000Pembicara lho.

Untuk mendaftar bisa klik link ini ya tpn.gurubelajar.org

Sumber: Buku Literasi Menggerakan Negeri karya Najelaa Shihab dan Komunitas Guru Belajar

About the Author

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: