Melipatgandakan Dampak Lewat Tulisan

Penulis : rizqy | 13 Mar, 2020 | Kategori: Liputan Guru Belajar

Saya memiliki rekan guru yang pengajarannya bermakna. Melihatnya mengajar, saya tertarik untuk menerapkan apa yang guru tersebut lakukan untuk saya duplikasi di kelas saya.

Cara guru tersebut memulai pengajaran, berkomunikasi dengan murid sampai strategi pengajaran yang ia gunakan saya praktikkan dan sesuaikan di kelas saya. Saya pun merasakan perubahan yang terjadi pada murid saya.

Saya membayangkan, jika teman saya tersebut menuliskan praktik pengajarannya lalu menyebarkannya lewat media sosial, banyak guru seperti saya yang akan terbantu. Mungkin bukan teman saya saja, banyak guru lain di luar sana yang memiliki pengajaran bermakna namun hanya di simpan untuk dirinya sendiri.

Publikasi praktik baik pengajaran menurut saya penting bagi guru. Selain bisa menginspirasi guru lain, juga akan membantu guru yang melakukan publikasi tersebut menjadi berdaya, salah satunya menjadi guru penulis.

Di Kampus Guru Cikal dalam mengembangkan Komunitas Guru Belajar memiliki siklus Guru Belajar untuk membiasakan publikasi di kalangan guru. Siklus Guru Belajar bisa dilihat di gambar di bawah ini :

Kalau dilihat dari gambar di atas, maka bagian publikasi adalah salah satu yang penting. Jika tidak ada publikasi, maka bagian yang lain tidak akan berjalan.

Di awali guru MENEMUKAN praktik baik pengajaran guru lainnya, dari proses menemukan tersebut, guru melakukan PENALARAN, mempelajarinya dan menyesuaikan untuk kelasnya. Setelah itu, guru melakukan PRAKTIK pengajaran di kelasnya, dari praktik itulah guru melakukan PUBLIKASI. Publikasi tersebutlah yang akan ditemukan lagi oleh guru lainnya.

Dari satu yang menulis publikasi, bisa banyak guru yang mempraktikkan dan mempublikasikannya ulang. Semakin melipatgandakan dampak.

Namun, sekali lagi, masih banyak yang belum mengetahui manfaat dari publikasi praktik baik pengajaran. Terlihat dari media sosial guru-guru.

Pelatihan Menulis Praktik Baik Pengajaran
Tantangannya adalah mengajak guru membiasakan menulis praktik baik pengajaran. Ini salah satu yang dilakukan Kampus Guru Cikal, memasukkan pelatihan menulis praktik baik pengajaran pada tiap program. Salah satunya adalah program Pendidikan untuk Semua.

Program Pendidikan untuk Semua merupakan program yang sudah berjalan hampir satu tahun. Program ini berfokus pada pengembangan murid penyandang disabilitas di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Sebelumnya Kampus Guru Cikal sudah beberapa kali melakukan pelatihan guru, seminar orangtua, dan audiensi ke perguruan tinggi hingga pemerintah provinsi terkait.

Oleh karena itu, di fase akhir program diadakan pelatihan menulis, agar praktik-praktik guru yang didapatkan dari pelatihan sebelumnya bisa terpublikasi dan berdampak tidak hanya kepada guru tersebut, tetapi kepada guru lainnya.

Pelatihan diadakan di BP2KLK Jawa Tengah yang terletak di kompleks SLBN 1 Semarang pada 10 Maret 2020. Pelatihan ini diisi oleh 3 pelatih dari Kampus Guru Cikal, yaitu Guru Rizqy, Guru Ratno dan Guru Fatrica.

Ternyata banyak peserta yang memang jarang bahkan belum pernah menulis praktik baik pengajaran. Ini salah satu tantangan kami, para pelatih untuk menyampaikan materi tentang menulis.

Oleh karena itu, di awal kami ajak peserta untuk memahami konsep mengenai menulis praktik baik dengan formula ATAP (Awal, Tantangan, Aksi dan Pelajaran). Kami kaitkan dengan keseharian guru-guru.

“Coba amati cerita membeli donat ini..” kataku pada peserta.

Saya membuat kerangka ATAP dengan contoh membeli donat, dan meminta peserta mengidentifikasikan bagian ATAP. Senang rasanya, dengan analogi seperti ini membuat peserta lebih bisa memahami konsep. Lalu mereka mencoba menulis formula ATAP dari permasalahan yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari.

Ada yang menulis tentang permasalahan dalam membuat masakan, perjalanan ke lokasi pelatihan, hingga permasalahan melakukan permainan dengan anak di rumah.

Setelah itu, kami ajak peserta lebih dalam, yaitu ke proses menulis praktik baik pengajaran. Kami mendetailkan konsep ATAP, kami kenalkan kanvas menulis ATAP, dan akhirnya para peserta praktik serta memberi umpan balik tulisan peserta lain.

Senang rasanya membaca tulisan praktik baik guru-guru tersebut. Guru yang awalnya merasa menulis adalah kegiatan yang membosankan, menyulitkan, setelah ikut pelatihan merasa menulis bukan untuk orang berbakat saja. Berikut adalah testimoni guru-guru yang telah mengikuti pelatihan menulis.

Saya jadi ingat salah satu kutipan dari Pramoedya Ananta Toer yaitu,
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” – Pramoedya Ananta Toer.

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: