Memahami Merdeka Belajar

Mengapa harus memahami merdeka belajar? Kata merdeka belajar pada dasarnya sudah tidak asing dikalangan para pendidik. Istilah Merdeka belajar sudah lama digaungkan oleh Menteri Pendidikan. Namun masih yang banyak salah arti terhadap kata tersebut. 

Temu Pendidik Daerah ke 8 ini  dilaksanakan secara daring memanfaatkan aplikasi zoom. Hal ini dilakukan karena pandemic Covid 19 yang masih belum mereda. Tanpa Mengurangi semangat, TPD dilaksanakan secara Daring dengan peserta sejumlah 60 Guru-guru Kota Batu yang sebelumnya sudah mendaftar dan terhimpun dalam Whatsapp Grup.

Guru Belajar Batu Memahami Merdeka Belajar

Para guru beranggapan mereka belajar adalah kebebasan dalam melakukan pembelajaran, bebas tidak menjelaskan, bebas menghukum, tidak membawa buku ketika mengajar dan pengertian sempit lainnya. Para guru memahami merdeka belajar adalah kebebasan siswa untuk bebas tidak mengerjakan tugas, atau belajar sesuka hatinya tanpa mematuhi aturan dan komitmen. 

Kesalahpahaman dalam memahami merdeka belajar ini kami tanggapi melalui kegiatan Nonton Bareng Merdeka Belajar. Karena telah dipahami bahwa tujuan belajar tidak hanya menjawab soal, atau mengerjakan matematika saja, namun seharusnya memberi pengalaman bermakna pada siswa agar dapat menyelesaikan permasalahan hidup sehari-hari. 

Nonton Bareng Video “Merdeka Belajar”

Kegiatan Nobar dilaksanakan pada hari Selasa/ 07 Juli 2020. Pada Pukul 09.00-10.30 WIB. Dengan Host pak Guru Herdy, dan moderator Pak guru Yudi Herdianto yang merupakan anggota KGB Kota Batu.  10 menit sebelum kegiatan berlangsung dilakukan perkenalan dan sharing tujuan mengikuti kegiatan Nobar merdeka Belajar ini. Moderator menyampaikan peraturan selama mengikuti kegiatan Nobar, diantaranya dengan menonaktifkan speaker, dan aktif di chat untuk menuliskan pertanyaan atau pendapat dari hasil Nobar. 

pelatihan guru merdeka belajar

Berikut peraturan yang disampaikan, agar kegiatan Nobar dan diskusi dapat berlangsung dengan lancar. 

Selama pelaksanaan acara, Bapak/Ibu yang bergabung melalui Zoom Meeting tidak diperkenankan log-out. Host akan menonaktifkan pelantang (microphone) Bapak/Ibu ketika berlangsung acara. Pendapat atau curhat dapat diajukan melalui raise hand di aplikasi Zoom Meeting dan melalui fasilitas chatroom. Tetap  aktif dan memantau wa grup, jika terdapat tambahan informasi. 

Kegiatan Nobar berlangsung lancar dan tanpa kendala. Selama 15 menit video diputar dengan lancar. Selanjutnya dibuka sesi Tanya jawab dan diskusi. Moderator ( Pak Guru Yudi) mengatur jalannya diskusi. Berikut pertanyaan yang diungkapkan beberapa peserta dari 60 peserta Nobar. 

Diantara semua miskonsepsi tadi, mana yang paling menggambarkan diri anda? Urutan jawaban terbanyak dari peserta adalah utamanya adalah 

  1. Belajar diburu target yang dipaksakan, seperti disampaikan bu Diana bahwa “ selama ini saya pribadi termasuk yang belajar diburu target. memenuhi target terasa sebagai kewajaran, sebagai tuntutan pekerjaan. 
  2. Kedua adalah kompetensi bersifat individual, seperti disampaikan bu Mustika Alam bahwa kita dapat meningkatkan kompetensi juga melalui keberadaan siswa, karena dengan memahami karakter siswa saya akan dapat meningkatkan kemampuan mengajar.
  3. Ketiga belajar memerlukan insentif/sertifikat, mematahkan miskonsepsi bahwa belajar untuk kebutuhan murid bukan kebutuhan sertifikat, pergantian kurikulum tanpa di imbangai komitmen guru juga tidaka kan berhasil, demikian yang disampaikan oleh ibu Sri Wahyuni 
  4. Ke empat belajar sebatas HOW TO, membutuhkan pemahaman dan menikmati indahnya merdeka belajar tidak terbatas, demikian disampaikan oleh Pak Fajar.
  5. Kelima belajar harus dari ahli.  Seperti dikatakan oleh saudari Sri Indayani saya belajar hanya dengan orang yang ahli dibidangnya, ternyata kurang.

Ciri guru merdeka belajar adalah komitmen pada tujuan, mandiri terhadap cara belajar dan melakukan refleksi. Apakah anda setuju dengan pernyataan tersebut? apa alasannya?

jawaban : 

  1. Diana Librawati : setuju, karena tujuan guru adalah untuk memberi pelayanan sebaik mungkin kepada anak didik.
  2. Mustika Alam : setuju, sebab tujuan pembelajaran guru adalah menyampaikan materi sehingga diperlukan kemandirian dan refleksi
  3. Fia : setuju, dengan ciri merdeka belajar berorientasi pada komitmen terhadap tujuan, kemandirian dan refleksi
  1. Apakah anda ingin menjadi guru merdeka belajar? apa alasannya?

sebagai peserta memberikan tanggapan Siap, berusaha, mencoba dan menyampaikan siap tidak siap harus siap dengan beberapa alasan antara lain karena tantangan, kebutuhan siswa, tantangan PJJ.

  1. Sebagai guru merdeka belajar, apa perubahan yang ingin anda lakukan di kelas?
  1. Sri Indayani : mengeksplor metode
  2. Rubiyati : menumbuhkan kemandirian
  3. Istiqomah : merubah pola pikir mengajar
  4. Mismiati : meningkatkan kreatifitas
  5. Evia : menumbuhkan perubahan perilaku lebih baik
  6. Fajar : mengembangkan penilaian

Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon

  1. Sebagai guru merdeka belajar, apa pengembangan diri yang ingin anda lakukan bersama komunitas guru belajar?
  1. Dian Anggraeni : mewujudkan tujuan belajar yang merdeka belajar
  2. Sumarmi : Berbagi praktek baik
  3. Titik Obarwati : menentukan kegiatan belajar
  4. Sri Wahyuni : mengembangkan cara/ metode/ media pembelajaran
  5. Fita Safitri : Saling berbagi ilmu
  6. Mismiati : merdeka belajar bersama teman guru

Moderator memberikan kesempatan sesi curhat tentang pembelajaran selama ini :

Tutik : perbedaan pembelajaran yang sebelum ada merdeka belajar  dengan setelah ada merdeka belajar terletak pada usaha sadar untuk belajar setiap saat. Guru Sri Wahyuni  menyatakan bahwa Reward atau pujian dapat menumbuhkan motivasi anak dalam belajar. Sedangkan Guru Diana  menuturkan bahwa  dengan memerdekakan diri dari tuntutan target kurikulum saya menginginkan murid saya juga merasakan merdeka dalam belajar dan berharap nantinya mendapatkan hasil belajar yang lebih baik.

Kesimpulan 

  1. “ Guru yang merdeka memahami kewajiban, tetapi juga memiliki otonomi dan menggunakan otoritas dengan bijak”

“ Tidak  ada guru yang bisa belajar sendirian dan tidak ada guru yang bisa merdeka belajar sendirian”

  1. Guru guru Kota Batu mengalami miskonsepsi 

Miskonsepsi  1: Guru hanya akan akan belajar bila ada insentif, janji sertifikat, ataupun penghargaan.

  1. Miskonsepsi 2: Guru hanya bisa belajar dari pakar dan ahli.
  2. Miskonsepsi 3 : Guru hanya perlu mengikuti resep standar, “how to” bagaimana melakukan sesuatu.
  3. Miskonsepsi 4: Pengembangan guru bisa dilakukan instan, dipaksakan dengan target terburu-buru.
  4. Miskonsepsi 5: Kompetensi guru adalah soal kemampuan dan pengukuran individu.
Memahami Merdeka Belajar

Guru merdeka belajar adalah kunci dari perubahan pendidikan. (Najelaa Shihab)

Akhirnya  kegiatan ditutup dengan membaca hamdalah bersama dan berharap semua kegiatan di TPD ke 8 dapat memberikan manfaat dan memotivasi peserta dengan semangat untuk menjadi guru yang Merdeka Belajar. 

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: