Memang Beda, Tapi Kami Memilih Jalan Bersama

Penulis : bukik | 20 Nov, 2018 | Kategori: Refleksi Guru Belajar

Berangkat dari arah berbeda, kami berkumpul di Stasiun Rawa Buntu, menuju satu tujuan, melakukan refleksi bersama.

Saya berangkat dari Kantor Pusat Cikal di Cilandak. Amel, anggota terbaru kami, berangkat dari kos seusai penerbangan Lombok – Jakarta. Empat anggota tim yang lain, Baja, Rizqy, Mahayu dan Maman berangkat dari kantor kami. Lengkap lah enam orang tim Kampus Guru Cikal. Kami berenam merasakan terik siang yang sama, terik yang menusuk kulit kepala. Kami menantikan kereta yang sama, kereta yang akan membawa kami ke Ujungkulon, menuju Honje Ecoledge

Kami berenam memang berasal dari daerah yang berbeda, dua berasal dari Jawa Timur, dua berasal dari Jawa Tengah, satu dari Jakarta dan satu dari Sumatera. Kami berbeda pula masa bergabungnya di Kampus Guru Cikal. Baja dan saya adalah anggota terlama, disusul oleh Rizqy. Awal tahun ini bergabung Mahayu, dan semester ini, Maman dan Amel baru saja bergabung. Meski bekerja di kantor yang sama, kami menjalankan peran yang berbeda. Saya dan Amel di Manajemen Belajar, Mahayu dan Baja di Pelibatan Komunitas, sementara Rizqy dan Maman di Manajemen Pengetahuan.

Bila mau mencari perbedaan kami, sama sekali tidak susah. Dari hal-hal yang kasat mata saja sudah berbeda, belum lagi bicara keterampilan, minat, aspirasi, kepribadian dan cita-cita. Kami memang beda. Tapi Jumat siang itu, kami bersepakat melakukan perjalanan, tujuan dan cara yang sama. Perjalanan refleksi akhir tahun. 

Berkumpul di Stasiun Rawa Buntu

Di dunia perhotelan dikenal istilah peak season. Begitu kiranya akhir tahun bagi kami, lembaga pengembangan karier guru. Selepas Temu Pendidik Nusantara, kami sudah dihadapkan dengan berbagai proyek, di luar misi utama kami menemani Komunitas Guru Belajar. Proyek literasi Pesisir Selatan dan proyek bersama IniBudi di ujung selesai. Kami sudah dinanti proyek literasi di Jawa Timur (2 daerah), proyek pengembangan guru PAUD di NTB (2 daerah), proyek pengembangan murid penyandang disabilitas bersama Nusantarun (2 – 3 daerah), proyek Foundation Program untuk penyiapan guru baru Cikal (1 daerah) dan proyek Temu Pendidik Nusantara 2019 (9 daerah). Satu tim, enam orang, tujuh proyek dan banyak daerah 🙂

Apa yang harus kami lakukan? Alih-alih ngebut mengerjakan proyek, kami memilih berhenti, karena sadar jalan masih panjang. Perjalanan panjang butuh banyak bekal. Bekal sebagai tim berupa pengalaman positif bersama, pengalaman yang layak diperbincangkan bertahun-tahun kemudian. 

Dua hari sebelumnya, kami memutuskan menggunakan voting untuk menentukan moda transportasi. Empat dari kami memilih moda transportasi kereta kemudian baru memikirkan di tempat tujuan antara. Pilihan nekat karena perjalanan panjang yang menuntut berganti moda transportasi. Itulah kenapa di siang yang terik ini justru kami berkumpul di stasiun Rawa Buntu menuju stasiun terakhir di Rangkas Bitung. 

https://www.instagram.com/p/BqYmxtinlBG/

Tantangan pertama berdiri di kereta hampir dua jam. Sudah dihajar panas terik, lanjut berdiri pula. Lima dari kami ngobrol iseng, satu yang lain membaca buku dari penulis favoritnya. Sampai di Rangkas Bitung, kami keluar dari stasiun dan mulai mencari kendaraan untuk melanjutkan perjalanan 4 jam menuju Ujungkulon. Kami menuju terminal, mencari mobil bak terbuka atau angkutan umum yang mau disewa. Cari sana sini, akhirnya kami memilih seorang sopir angkutan umum untuk menemani perjalanan kami. Awalnya kami mau diantar ke terminal Mandala untuk mencari kendaraan ke arah Ujung Kulon, tapi di sepanjang perjalanan terjadi obrolan disertai tawar menawar. Akhirnya sang bapak bersedia mengantar sampai ke tempat tujuan. 

Naik angkutan umum dari Rangkasbitung menuju Ujungkulon

Dua jam pertama perjalanan penuh semangat. Mobil angkot yang kami tumpangi melaju pada kecepatan rata-rata 50 km/jam, kecuali di 1 – 2 titik tertentu. Kami pun masih penuh semangat, obrolan ringan disertai karaoke tembang kenangan *eh. Satu jam berikutnya, keadaan sudah mulai sunyi. Pak sopirnya pun sesekali lepas konsentrasi yang mengakibatkan angkotnya melompat sekali dua kali di jalan dan jembatan yang memberi kejutan. Mulai bertanya, apakah masih jauh? Mana tujuan sebenarnya? Pertanyaan yang mengusik di perjalanan yang semakin banyak diwarnai tanjakan dan turunan curam. 

Satu jam terakhir, suasana terus menurun. Pak sopir mulai bicara ditunggu temannya. Jalan semakin sempit. Dan banyak sekali bagian badan jalan yang rusak parah. Kecepatan maksimal 30 km/jam, kecepatan rata-rata turun menjadi 15 km/jam, karena seringkali kendaraan terpaksa berjalan 5 – 10 km/jam karena jalan yang rusak. Saya sudah berpikir apa jadinya bila Pak Sopir menolak melanjutkan perjalanan. Akankah kami jalan kaki menembus hutan yang gelap? Pak Sopirnya sendiri sudah mengeluh tidak berani balik pulang sendiri. Bukan takut pada orang, tapi takut pada penghuni hutan. Entah apa 

Setelah menempuh satu jam menegangkan, kami pun tiba di Honje Ecoledge sekitar pukul 8 malam. Legaaaaaa………

Kami disambut makan malam yang nikmat. Atau karena kami lapar setelah bergoncang di angkot selama 4 jam? 

Setelah sebagian mandi (tebak siapa?), sebagian lagi tetap duduk santai. Malam itu, acara tidak sesuai rencana. Kami memilih duduk di beranda rumah penginapan. Topik obrolan tentang fiml dan serba-serbinya. Tanpa terasa sudah hampir tengah malam. Kami pun masuk ke tiga kamar di rumah penginapan. 

Apa artinya waktu berhenti? Itu lah yang saya rasakan pada hari Sabtu di Honje. Pagi subuh sebagian dari kami sudah di tepi pantai yang sepelemparan batu dari rumah penginapan. Tepat sesuai jadwal, Baja memimpin kami untuk senam pagi. Senam sebentar dan kemudian lanjut melakukan aktivitas pantai bagi yang mau. Sebentar saja, ketua panitia sudah memanggil. Kami pun makan dan mandi pagi untuk memulai sesi refleksi personal. 

https://www.instagram.com/p/BqUbFxLnrzj/

Kami diminta untuk berburu dua foto yang menggambarkan perubahan positif yang kami alami dan harapan di masa mendatang. Waktunya satu jam. Saya memanfaatkan waktu dengan berburu foto ke area pantai yang belum saya kunjungi pada dua kunjungan sebelumnya. Area pantai yang ditumbuhi pohon, sebagian diantaranya pohon bakau. Saya dibuat kagum oleh sejumlah pohon. Ada satu pohon yang tegak lurus berdiri meski sendiri dikelilingi air laut. Ada tiga pohon yang berdiri sejajar, seolah bergandengan tangan menghadang ombak. Keduanya saya foto dan ceritakan di sesi refleksi personal. 

https://www.instagram.com/p/BqUe2BHHxaK/

Saya punya banyak teman sepemikiran. Saya pun dulu mendidik mahasiswa untuk memenuhi panggilan hidup, mengaktualkan potensi dan mengejar cita. Tidak banyak yang bertahan. Lebih banyak memilih bekerja semata mendapatkan uang. Ketika muda, mahasiswa saya bertanya tentang idealisme. Semakin lama, semakin jarang dan memilih jalan kompromi. Awalnya kompromi untuk tetap jadi idealis, makin lama kompromi hanya demi kompromi, menjadi satu. Teman dari masa lalu menjadi semakin sedikit yang sejalan.

Terlebih masuk dunia pendidikan. Pendidikan menumbuhkan adalah jalan yang sepi. Mayoritas masyarakat, bukan saja Indonesia tapi juga dunia, masih memuja pendidikan menanamkan, pendidikan yang mencekoki anak dengan berbagai pelajaran, memacu anak dengan ujian, dan mendisiplinkan dengan hukuman. Jarang yang memilih pendidikan menumbuhkan, apalagi yang memilih melalui dan menghidupkannya. Beruntung saya berjumpa Najelaa Shihab yang kemudian mengajak saya bergabung di Kampus Guru Cikal. Berjalan perlahan, berjumpa teman seperjalanan dan membangun Komunitas Guru Belajar yang kini sudah ada di 145 daerah. 

Setelah sesi refleksi, kami melakukan sesi refleksi organisasi. Kami diminta untuk merefleksikan Lima Cara Kerja Cikal: Memanusiakan Hubungan, Memahami Konsep, Membangun Keberlanjutan, Memilih Tantangan, dan Memberdayakan Konteks. Apa cara yang sudah kami lakukan dan apa cara yang belum kami lakukan. Saya menemukan tiga poin yang belum saya lakukan: membangun suasana kerja tim yang nyaman (memanusiakan hubungan), memberi umpan balik dengan nada tenang (membangun keberlanjutan) dan mengenal anggota tim secara personal (memanusiakan hubungan). Refleksi yang membuat saya semakin menyadari pentingnya kegiatan kami di Honje. 

https://www.instagram.com/p/BqXaOp7nSSE/

Selesai sesi refleksi, kami makan siang dan waktu bebas (me time). Sebagian tidur, sebagian menikmati pemandangan pantai, tapi ada juga yang berenang di pantai meski siang panas. Sore semuanya ke pantai. Saya dan Rizqy mengurus beberapa keperluan sambil menjelajah daerah sekitar menggunakan motor pinjaman. Menjelang senja kami berkumpul. Meski ada awan, namun senjanya tetap indah. Selepas matahari tenggelam, langit keseluruhan berubah warna, kombinasi oranye dan merah muda.

Seusai makan malam, kami berkumpul kembali. Sesinya memberi umpan balik untuk ketua Kampus Guru Cikal. Iya, saya. Mereka bebas bicara tentang apa yang sudah baik dan apa yang perlu diperbaiki dari sikap dan perilaku saya. Beberapa umpan balik yang penting berkaitan dengan ekspresi wajah, komunikasi yang lebih telaten, dan ide-ide yang terlalu liar. Saya tidak memberi tanggapan sama sekali karena gunanya masukan buat saya pribadi. 

Sesi seru, tukar kado. Kami sudah diminta sebelumnya untuk menyiapkan kado untuk ditukarkan dengan teman yang lain. Saya menyiapkan kado buku dan mendapatkan kado buku juga hehe. Semakin malam semakin ramai. Sesi Truth or Dare, yang pada akhirnya menjadi sesi truth melulu. Tidak ada satu pun yang memilih dare sepanjang sesi. Dasar mager! Tapi dengan demikian, kami, setidaknya saya, semakin memahami sisi-sisi personal dari setiap anggota. 

Sesi selesai lanjut obrolan random. Kecuali Rizqy yang harus menerima “panggilan malam”. Tanpa terasa tengah malam menjelang, kami pun beristirahat. 

Pagi bangun. Main ke pantai, lagi. Bersih diri. Sarapan. Foto bareng. Kami pun siap di tepi jalan mencegat angkutan umum. Ternyata tidak lama, sekitar lima menit, kami sudah naik angkatan umum menuju Serang. Berangkat jam 9 pagi, sampai di Serang jam 13. Kami berhenti makan siang dan makan durian di Haji Arif Durian Jatohan. Kenyang dan malas menyerang. Kami pun memutuskan beralih ke transportasi standar, taksi online. Sekitar jam 16, kami sampai di Sekolah Cikal Serpong. Kami pun berpisah untuk kembali ke rumah dan kos masing-masing. Istirahat untuk menyambut akhir tahun yang padat. 

Kami memang beda, tapi kami memilih jalan yang sama, jalan perubahan pendidikan Indonesia bersama guru belajar.

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: