Membangun Madrasah Inklusi – Guru Belajar Pekalongan

Penulis : Anifah Anind | 29 Nov, 2018 | Kategori: Liputan Guru Belajar, Pekalongan, Temu Pendidik Daerah

“Anak gila kok diterima di sekolah,”

Kata-kata teror melalui SMS ini kami terima pada tahun 2012 di awal-awal tahun perjuangan membangun sekolah/madrasah inklusi.  Guru Niam, Kepala Madrasah akan bercerita bagaimana ia jatuh bangun membangun madrasah inklusi.

Apa saja yang perlu dipersiapkan untuk membangun sekolah inklusi?
Mengapa perlu menjadi sekolah inklusi?

Yuk temukan jawabanya dalam Temu Pendidik Mingguan ke-23 Komunitas Guru Belajar Pekalongan

“Membangun Madrasah Inklusi”

Guru Belajar Pekalongan Membangun Madrasah Inklusi

Anifah 
Assalamualaikum, selamat malam Bapak Ibu. Apa kabarnya hari ini?

Yuk yang jauh mendekat, yang dekat merapat. Bahagia rasanya dapat menyapa guru-guru luar biasa malam
ini, guru-guru yang memiliki semangat tinggi untuk terus belajar. Perkenalkan nama saya Anif dari KGB Pekalongan. Malam ini akan berperan sebagai moderator diskusi. Jangan lupa siapkan tenaga lebih dan cemilan untuk menyimak materi kece malam ini. Tema diskusi kita kali ini yaitu

Membangun Madrasah Inklusi
Bersama Pak Niamil Hida
dari MI Kranji 1 Kedungwuni

M. Niamil Hida
Perkenalkan Nama saya Muhammad Niamil Hida biasa dipanggil Niam atau Hida. Pada kali ini saya akan sharing pengalaman proses merintis dan menumbuhkan madrasah Inklusi di MI Kranji 1 Kedungwuni Pekalongan

Muhammad Niamil Hida
Materi:
“Anak gila kok diterima di sekolah,” kata-kata teror melalui SMS ini kami terima pada tahun 2012 di awal-awal tahun perjuangan membangun sekolah/madrasah inklusi. MI Walisongo Kranji 01 Pekalongan pada awalnya adalah sekolah/madrasah biasa seperti pada umumnya, sekolah/madrasah setingkat SD yang di bawah Kementrerian Agama. Awal mula munculnya ide menerapkan sistem inklusi karena keresahan beberapa guru melihat anak yang kami duga termasuk berkebutuhan khusus di sekitar sekolah tidak dapat kesempatan belajar yang baik, jikapun diterima di SD/MI hampir bisa dipastikan tidak mendapatkan pelayanan yang layak. “Terus anak-anak spesial ini tanggung jawab siapa?” Kata-kata itu yang akhirnya membuat tekad kami semua untuk memulai langkah awal menerima anak terindikasi berkebutuhan khusus di MI kami dengan modal “nekat”. Modal tekad dan nekat memang kata yang pas untuk menggambarkan kondisi saat itu saat memulai merintis madrasah inklusi. Banyak sekali tantangan yang harus dilalui baik faktor internal maupun faktor eksternal. Dilihat dari faktor internal kondisi guru-guru di MI Kranji 01 tidak ada satupun dari jurusan yang berkompeten dalam penangan ABK, bahkan mayoritas guru di MI Kranji 01 adalah dari lulusan PAI (Pendidikan Agama Islam) dan beberapa bukan jurusan pendidikan. Faktor internal lain yaitu kondisi sarana prasarana yang belum memenuhi dan belum ideal. Faktor eksternal juga sangat mempengaruhi tingkat tantangan dalam upaya menerapkan madarasah inklusi saat itu.

Pada tahun 2012, di Kementerian Agama belum ada peraturan yang mengatur tentang pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus. Di tahun berikutnya ada MI Kranji seperti mendapat angin segar karena Kementerian Agama mengeluarkan PMA No. 90 tahun 2013 tentang penyelenggaraan pendidikan madrasah, yang di salah satu pasalnya menyebutkan pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus, tepatnya pada pasal 14 ayat 6 yang berbunyi
“MI wajib menyediakan akses bagi peserta didik berkebutuhan khusus”.
Dengan modal peraturan ini kami menjadi lebih yakin bahwa madrasah juga mendapat dukungan yang baik dari pemerintah.Membangun kesadaran lingkungan sekolah akan pentingnya pendidikan inklusi di daerah yang sangat minim informasi tentang inklusi menjadi hal penting, stempel jelek masih banyak diterima anak berkebutuhan khusus, anak autis dianggap gila, anak ADHD dianggap tidak layak belajar bareng sebayanya di sekolah
karena sering mengganggu. Melihat hambatan atau tantangan memang perlu untuk menyiapkan aksi apa yang pas
untuk menjawab tantangan-tantangan. Seperti tantangan untuk menumbuhkan kesadaran pentingnya sistem inklusi kepada masyarakat, dan tugas sekolah/madrasah adalah memberikan edukasi dan bukti.

Usaha untuk memberikan edukasi dan bukti kami lakukan melalui tindakan P3K, bukan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan, tetapi P3K yang kepanjangannya : Program Solutif, Pembelajaran Efektif, Promosi Simpatik dan Komitmen Energik.

Membangun Madrasah Inklusi Komunitas Guru Belajar Pekalongan

1. Program Solutif

Program-program yang didesain berusaha memberikan solusi atas permasalahan- permasalahan yang muncul di sekolah, seperti masalah kesempatan yang sama dalam berekspresi; sekolah/madrasah memberikan kesempatan kepada semua murid untuk tampil sebagai pengibar bendera, walau tubuh mereka sangat mencolok berbeda. Memberikan anak berkebutuhan khusus juga ikut berperan tentunya disesuaikan dengan potensinya. Tidak hanya itu, juga memberikan kesempatan anak kelas 1 MI untuk tampil dengan menjadi petugas upacara. Contoh-contoh program lain seperti parenting untuk memanusiakan hubungan dengan wali murid, program tentang pemahaman toleransi dengan hari tanpa seragam dan lain sebagainya.

2. Pembelajaran Efektif

Belajar efektif yang kami percaya bukan sekadar mahir menjawab soal, tetapi belajar yang mendekatkan dengan realita kehidupan sehari-hari, seperti belajar tentang perpindahan panas dengan memasak dan latihan menyetrika baju, belajar perubahan zat benda dengan mencuci baju dan lain sebagainya. Jika murid didekatkan dengan hal yang bukan abstrak akan mempermudah pemahaman, salah satunya kehadiran anak berkebutuhan khusus sangat membatu guru mendekatkan realita ketika membahas toleransi, mencegah terjadinya bulliying dengan buddy system dan lain sebagainya.

3. Promosi Simpatik

Kalau 2 hal di atas adalah usaha untuk memberikan bukti pentingnya pendidikan inklusi, promosi simpatik adalah upaya untuk mengedukasi masyarakat. Promosi yang dilakukan di MI kami saya yakin juga sudah dilakukan oleh sekolah lain, yaitu promosi melalui berbagai hal, seperti menyebar brosur dan promosi melalui media sosial. Cara tersebut bisa efektif jika sekolah kita sudah dipandang, kami sadar akan hal itu, maka yang kami lakukan adalah berbagi ilmu tentang apa yang guru-guru kami miliki kepada guru dan orangtua di sekitar, baik praktik baik maupun kompetensi yang dibutuhkan oleh mereka. Kegiatan promosi simpatik dengan kolaborasi ini sangat efektif untuk mengedukasi masyarakat.

4. Komitmen “Energik”

Bagi saya yang terakhir ini faktor penentu keberhasilan dalam usaha meningkatkan sesuatu termasuk membangun madrasah inklusi. Dalam menjalankan 3 usaha sebelumnya pasti muncul beberapa masalah, tanpa komitmen yang kuat tidak mungkin kita bisa bertahan dengan tujuan mulianya, dengan komitmen masalah apapun bisa diminimalisir selama selalu mencari cara untuk menyelesaikan masalah. Untuk menjaga komitmen guru, yang kami lakukan adalah dengan membuat program diskusi rutin dengan program obsesi (obrolan senin santai) di forum inilah kami merefleksi program-program yang sudah dijalankan dan mencari program baru atau memodifikasi program program lama jika dibutuhkan.

Melalui refleksi bersama program-program untuk memberikan pelayanan bisa bertumbuh lebih baik, seperti awal menerapkan inklusi program awal hanya klinik baca, akhirnya berkembang dengan PPI (program pembelajaran individual) dan lain sebagainya Melalui cara P3K ini yang di dalamnya ada kegiatan refleksi alhmadulillah sedikit demi sedikit apa yang kami lakukan untuk menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya pendidikan inklusi menuai hasil. Mulai terlihat dari pancaran wajah anak-anak spesial yang mulai percaya diri berbaur dengan anak seusianya. Anak yang dulunya selalu berpindah-pindah setiap tahunnya mulai belajar dengan nyaman sampai lulus kelas 6.

Murid-murid non ABK juga ikut terpantik empatinya seperti ikut membantu memapah berjalan jika teman spesialnya ada ingin ke luar ketika pendampingnya sedang tidak ada di kelas Respon masyarakat juga mulai tumbuh Hal ini bisa dilihat dari jumlah murid yang tadinya berjumlah 167 dalam 6 tahun bertumbuh hampir 300 murid, yang tadinya
ada 6 ruang kelas sekarang tersedia 12 kelas yang setiap kelasnya kami batasi maksimal 28 murid yang didalamnya 2 anak berkebutuhan khusus. Kepercayaan terhadap madrasah inklusi juga bisa dilihat dari asal murid yang ada di MI yang dulu hampir semua dari kampung sendiri, beberapa tahun ini sudah ada separuh murid yang yang berasal dari luar desa bahkan luar kecamatan.

Selain indikator perubahan di atas, pengakuan dari pemangku kebijakan mulai muncul di antaranya ada 2 buku yang di dalamnya sebagian mengangkat tentang perjuangan membangun madrasah inklusi. Ada buku “Madrasah Transformatif” karangan Dr. H. A. Umar, Ma yang saat itu menjadi kepala kantor Kementerian Agama Kabupaten Pekalongan yang sekarang menjabat sebagai Direktur KSKK Ditjen Pendis Kementerian Agama RI, dan buku “Mengawal Generasi Milenial-Sosok Guru Madrasah Inspiratif 2017” yang diterbitkan oleh Ditjen Pendis Kementerian Agama RI.

Harapannya banyak sekolah atau madrasah yang berani untuk menerapkan pendidikan inklusi. Jika ada yang berpendapat “menerapkan sekolah inklusi menurunkan prestasi dan eksistensi”, yakinlah itu hanya miskonsepsi. Memang ketika kami berusaha menerapkan inklusi tidak mudah, tetapi dengan selalu berbenah, insya Allah usaha kita akan menjadi berkah.

Pertanyaan Termin 1 
1. Kinanti – Banjarnegara : Bagaimana membuat guru-guru di sekolah bapak memiliki visi misi yang sama dan berkomitmen membuat madrasah inklusi? Apakah ada penolakan dari internal sekolah bapak?
2. Aryo – Kendal : Seberapa luas inklusifitas yang ingin diwujudkan, mengingat batasnya cukup absurd, terutama saat LGBT dianggap sebuah hak?
3. Sekar – Bandung : Apa pengalaman yang paling berkesan sekaligus paling challenging selama mendirikan MI Inklusi ini? Lalu apa tindakan yang dilakukan untuk menyelesaikan challenge tersebut?

M. Niamil Hida
Pertanyaan

1. Kinanti – Banjarnegara : Bagaimana membuat guru-guru di sekolah bapak memiliki visi misi yang sama dan berkomitmen membuat madrasah inklusi? Apakah ada penolakan dari internal sekolah bapak?
Jawaban :
Menyamakan visi memang tantangan paling menantang. Madrasah inklusi muncul bukan karena ditargetkan dari awal. Fokus di tahun 2011-2012 adalah pembenahan madrasah yang setiap tahun selalu menurun jumlah muridnya, dari hasil refleksi bersama sepakat bahwa guru perlu di upgrade ilmunya. Dalam proses upgrade kompetensi guru inilah akhirnya mengarah pada madrasah inklusi. Diawal tentu saja ada “penolakan” baik di intern guru maupun masyarakat. Bagi kami jika orang tau pentingnya #pendidikanuntuksemua pasti mereka akan dukung. Kuncinya sih selalu berusaha membekali ilmu lebih untuk guru-guru dimadarasah. Mengedukasi masyarakat sekitar melalui sosmed maupun diskusi ringan dengan tetangga sekolah. Maklum madrasah kami tidak punya gerbang dan terletak d tengah kampung pinggir sungai.
Kinanti :
Membangun kepercayaan antar guru butuh proses ya pak. Salut untuk Pak Niam dan rekan-rekan guru di MI bapak.

2. Aryo – Kendal : Seberapa luas inklusifitas yang ingin diwujudkan, mengingat batasnya cukup absurd, terutama saat LGBT dianggap sebuah hak?
Jawaban :
Untuk MI kami termasuk belum ideal disebut madrasah inklusi yang benar-benar menerima apapun kondisi anak. karena keterbatasan SDM guru dan sarpras di madrasah.  murid yang kami terima adalah murid yang masih termasuk komunikatif dan sejak kenal KGB batasan inklusi tidak hanya pada ABK atau disabilitas saja. Termasuk memberikan kesempatan pada anak untuk bisa belajar banyak hal. Diantaranya karena gemuk maka tidak pernah dipilih menjadi pengibar. Karena kecil (seperti saya) tidak pernah menjadi pemimpin upacara, dll. Kepercayaan diri guru agar tetap kuat mendengar sindiran tetangga teman guru dari sekolah lain juga jadi perhatian, melalui pembekalan setiap hari senin siang menjadi wadah yang sangat bermanfaat bagi kemudian sejak kenal KGB batasan
inklusi tidak hanya pada ABK atau disabilitas saja. Termasuk memberikan kesempatan pada anak untuk bisa belajar banyak hal. Diantaranya karena gemuk maka tidak pernah dipilih menjadi pengibar. Karena kecil (seperti saya) tidak pernah menjadi pemimpin upacara dll. Pelatihanya tidak ambil dari pakar. Modelnya guru mempelajari buku lalu di
sampaikan ke guru yang lainnya. Dilakukan secara bergilir. karena kami adalah madrasah maka tetap adanya batasannya.

3. Sekar – Bandung : Apa pengalaman yang paling berkesan sekaligus paling menantang selama mendirikan MI Inklusi ini? Lalu apa tindakan yang dilakukan untuk menyelesaikan challenge tersebut?
Jawaban :
Yang paling berkesan dan menantang apa ya, buanyak! Bisa mendampingi anak yang kepercayaan diri murid pindahan 4 kali karena drop sering bully akhirnya bisa PD itu sesuatu banget. Mendampingi anak yang punya hambatan berjalan dan penglihatan bisa sampai lulus kelas 6 dan membantu menemukan potensi dirinya bagi saya sangat menyenangkan. Biasanya di tunggui ibunya di depan kelas jika mau keluar, karena ibunya masih di kamar mandi, ternyata teman-temanya punya inisiatif untuk memapah turun kebawah. Murid pindahan 4 kali ini biasanya kena bully temen-temennya karena apa? Lalu tindakan apa yang dilakukan sampai akhirnya berhasil mengembalikan kepercayaan dirinya lagi? Iya karena murid tersebut sering jadi korban konflik dan bully jadinya minder. Langkahnya mengondisikan teman-teman di kelasnya. Bahwa beda itu biasa tentunya untuk memahamkan ke murid butuh proses, diantaranya ada 1 hari seragamnya bebas. dari situ bisa menjadi sarana guru untuk menerangkan toleransi dan mempraktekannya tidak sekedar teori.

Pertanyaan Termin 2
1. Ihya – Pekalongan:
– Bagaimana dengan standar kompetensi dari pemerintah yang tentunya juga harus dipenuhi oleh anak spesial? Pdhl mereka butuh perlakuan khusus untuk memahami suatu kompetensi tertentu, dibandingkan dengan anak lainnya.
– Adakah batasan yang diterapkan di sana, tentang jumlah ABK yang diterima di setiap kelas?
2. Kurnia-Pekalongan :
Apakah anak-anak yang berkebutuhan khusus target pencapaian belajarnya berbeda dengan anak-anak lainnya?
3. Jesi-Banjarnegara :
Apa hal paling berkesan di awal-awal mendirikan MI Inklusi yang sampai hari ini menjadi sejarah dan akan selalu diingat?

M. Niamil Hida 
Pertanyaan
1. Ihya- Pekalongan :
– Bagaimana dengan standar kompetensi dari pemerintah yang tentunya juga harus dipenuhi oleh anak spesial? Padahal mereka butuh perlakuan khusus untuk memahami suatu kompetensi tertentu, dibandingkan dengan anak lainnya.
– Adakah batasan yang diterapkan di sana, tentang jumlah ABK yang diterima di setiap kelas?
Jawaban :
Untuk Standar Kompetensi kadang berbeda kadang sama dengan murid lainnya tergantung kondisi hambatannya. Seumpama murid lain SK adalah mengenal angka 1-10 bisa jadi murid spesial targetnya memahami sampai 3 (sangat tergantung dari kondisi anak) bisa juga sama tetapi caranya yang berbeda. Jika teman lain belajar melalui aktivitas
seperti biasa, anak spesial ada alat bantu dan aktifitas yang berbeda. Untuk jumlah murid spesial sementara kami batasi 2 di setiap kelas. Karena madrasah kami belum diakui secara legal formal menerapkan inklusi untuk ujian sementara pakai standar yang sama. Tapi kami sampaikan ke pengawas ruang bahwa ada sebagian murid spesial yang ikut dan harus dibantu dibacakan. alhamdulillah pengawas ujian mau membantu membacakan soal (kasus anak punya hambatan penglihatan, bisa lihat tapi tidak jelas). Anak spesial selain di kelas klasikal (raung kelas besar) kami ada PPI (Program Pembelajaran Individual) klinik baca (bagi yang punya hambatan baca). dan setiap anak yang ikut program-program tersebut akan direkam jejak progresnya dan dilaporkan kepada walimurid.

2. Kurnia – Pekalongan :
Apakah anak-anak yang berkebutuhan khusus target pencapaian belajarnya berbeda dengan anak-anak lainnya?
Jawaban : Sepertinya pertanyaan Bu Kurnia sama dengan pertanyaan Bu Ihya

3. Jesi :
Apa hal paling berkesan di awal-awal mendirikan MI inklusi yang sampai hari ini menjadi sejarah dan akan selalu diingat ?
Jawaban : Untuk yang berkesan di awal-awal perintisan adalah:
– Dianggap sekolah buangan (karena banyak pindahan anak bermasalah ke sekolah kami)
– Diteror sms oleh no tidak diketahui.
– Dimarahi di forum kepala sekolah oleh pejabat.
– Disindir teman-teman guru sekolah lain, dll.
Sepertinya kok tidak ada yang enak ya. Tapi kami menikmatinya kok. Dari situ akhirnya saya kenal KGB. Bisa belajar dari guru senusantara. Dapat inspirasi perjuangan teman-teman KGB yang keren-keren. Hambatan didepan kita justru membuat kita lebih kuat dan bertumbuh dengan akar yang kuat

Jesi :
Kemudian bagaimana caranya menjelaskan kepada teman-teman di kelas bahwa ada teman spesial di kelas yang sama ?
Jawaban :
Untuk menghadapi tantangan yang kami hadapi. kami fokus pada tujuan kami tujuan untuk memberikan pendidikan yang layak untuk semua, proses pendidikan yang memanusiakan. Sebenarnya muncul ide mengajak orang tua bermain bareng murid karena melihat komunikasi antara anak dan orang tua ada hambatan, seringkali orang tua menganggap bahwa bermain bukan bagian dari belajar, dan yang dilakukan itu tidak bermanfaat. Dari parent game kami berusaha mengedukasi orang tua dan mau mengajak orang tua untuk terus belajar. Dari kegiatan sederhana orang tua bisa menghargai perjuangan anak, interaksi guru dan ortu tidak hanya ketika penerimaan rapot saja dan dari situ pula kepercayaan walimurid kepada sekolah/madrasah jadi lebih meningkat.

Interaksi antara guru dengan orang tua

Jesi :
Sangat luar biasa. Contoh kegiatan langsung spt ini jadi kita punya gambaran konkret apa yang sebaiknya kita lakukan.

M. Niamil Hida
Simpulan :
Menerapkan sekolah inklusi merupakan keharusan, tidak perlu menunggu ada anak spesial dulu. Karena inklusi tidak sesempit hanya menerima ABK. Tidak perlu banyak teori untuk menerima mereka di sekolah kita. Lihat saja mereka adalah ciptaan sang maha kuasa yang sempurna. Yang harus kita muliakan karena sesama manusia.

Anifah :
Terimakasih kepada Pak Niamil Hida, yang sudah menjawab semua kegundahan kami dengan menjawab rasa keingintahuan kami mengenai sekolah inklusi. Terimakasih juga kepada bapak ibu yang telah ikut bertanya membuat diskusi tambah menarik dan mendalam. Tak lupa terimakasih juga kepada bapak ibu yang yang diam-diam menyimak dengan seksama, menjadikan mudik online kali ini menjadi lebih hangat. Saya Anifah sebagai moderator, menyampaikan mohon maaf kalau ada salah. Termasuk salah tag tadi

Jangan lupa follow sosmed KGB Pekalongan:
Instagram : http://instagram.com/kgbpekalongan
Facebook : http://facebook.com/KGBPekalongan/

Saya tutup diskusi malam ini dengan pantun ya
Ambil cucian di rumah Bu Desi
Cukup sekian dan terimakasih
Makan kelapa diatas papan
Sampai jumpa di TPM Minggu depan

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: