Membuat Asesmen yang Menyenangkan dengan Ekshibisi Mini Digital

Bingung membuat asesmen yang menyenangkan saat pembelajaran di masa pandemi? Asesmen sejatinya tidak hanya berupa penilaian atas hasil ulangan dan semacamnya. Rupanya asesmen seperti itu sudah menjadi momok bagi murid. Padahal kita tahu cara belajar masing-masing murid berbeda, maka dibutuhkan asesmen yang bisa mengakomodir perbedaan tersebut. Sehingga asesmen akan terasa lebih menyenangkan karena murid merasa dipahami. Tapi apa mungkin asesmen seperti itu bisa dilakukan saat pembelajaran di masa pandemi? Bagaimana menerapkannya?

Nah, pada tulisan kali ini kita akan membahas kisah guru belajar dari PYP Al Firdaus Surakarta bernama Ibu Dwi Rakhmawati. Beliau juga pernah mengalami masalah serupa seperti yang sudah disebutkan di atas. Namun, beliau menganggap pandemi bukanlah hambatan melainkan tantangan tersendiri untuk tetap dapat melaksanakan asesmen yang memberi kegembiraan bagi murid. Beliau ingin menjadikan asesmen sebagai bentuk perayaan bagi murid untuk menunjukkan kemampuan, talenta, dan keahlian yang dimiliki sesuai dengan bakat kecerdasannya masing-masing meskipun tehalang oleh jarak.

Selama diberlakukannya Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), di sekolah Bu Rakhmawati kegiatan belajar mengajar dilaksanakan dengan penuh secara daring. Jadwal disusun dengan jam belajar sejak pukul 07.30 hingga 13.30 WIB. Platform digital yang digunakan yakni Zoom Meeting. Seperti Zoom Morning Briefing, Zoom materi Homeroom Teacher,  Zoom Subject Teacher, serta Zoom Refleksi. Sedangkan penugasan murid menggunakan ClassDojo. Dan tema yang dipelajari waktu itu tentang energi.

Sejujurnya tidak mudah bagi Bu Rakhmawati membangun iklim belajar daring di kota kecil seperti di Solo. Berbagai kendala mulai dari perangkat, jaringan, hingga orangtua yang bekerja menjadi perkara tersendiri. Mau tidak mau guru kelas harus membangun kerja sama dengan orangtua agar kegiatan pembelajaran tetap berjalan.  Selain itu juga diharapkan mampu membawa manfaat serta pengalaman belajar. Karena itu, agar tidak membosankan, menu Zoom terus dibenahi dengan memberikan sentuhan berbagai aplikasi pendukung seperti memanfaatkan Whiteboard Zoom, Jamboard, Pear Deck, Quizizz, dan Kahoot.

Baca juga: Mengembangkan Bakat Murid saat Pembelajaran di Masa Pandemi Melalui Asesmen Diagnosis

Selaku pengampu murid kelas 4 dan 6, Bu Rakhmawati memberikan tugas sebagai asesmen akhir unit berupa pameran kecil yang dilakukan secara digital atau istilahnya Ekshibisi Mini Digital. Murid akan memamerkan karya sains yang dibuat berdasarkan tema yang pembelajaran waktu itu. Sebagai contoh kelas 4 yang mengambil topik pemanfaatan energi dan cara bijak menggunakannya. Bu Rakhmawati memberi kemerdekaan murid untuk bereksplorasi dengan berbagai bahan dan alat yang ada di sekitar rumahnya. Memang pameran karya ini dilakukan sejak kelas 4 agar nantinya saat di kelas 6, mereka telah terbiasa berbagi ide dan pengetahuan dalam ekshibisi di akhir pembelajaran di PYP.

Tahapan pameran karya dalam asesmen ini tidak terlalu sulit. Tentu saja di masa pandemi ini peran orangtua murid sangat penting dalam mendukung murid. Langkah yang dilakukan antara lain:

  1. Menyusun perencanaan asesmen.
  2. Memberikan beberapa alternatif pilihan bentuk proyek yang dapat dipilih murid seperti benda miniatur, percobaan, atau poster tentang energi dan cara bijak menggunakannya. Hal ini bertujuan agar murid dapat dengan mudah menjelaskan perubahan energi yang terjadi.
  3. Menyusun rubrik penilaian dari setiap subjek (transdisiplinary).
  4. Menyusun rubrik penilaian skill yang diharapkan.
  5. Mempersiapkan perangkat dan jaringan yang mendukung pelaksanaan kegiatan belajar mengajar.
  6. Melakukan koordinasi antar wali kelas ataupun guru mata pelajaran yang terkait dengan tema.
  7. Menjalin komunikasi dengan orangtua murid tentang asesmen di akhir unit.

Prinsip pameran karya ini antara lain sebagai media menampilkan ide, kreasi, dan yang terpenting adalah berani serta dapat menjelaskan bagaimana alat atau percobaan tersebut mengalami perubahan energi. Selama 4 hari dengan 4 rombel kelas, setiap murid mencoba mempresentasikan dan menjawab pertanyaan dari teman-temannya. Murid yang tampil dan murid yang menjadi audiensi akan memperoleh pengalaman belajar melalui pertemuan daring tersebut. Berikut ditampilkan hasil dokumentasi berupa gambar dari murid kelas 4 yang sedang presentasi.

Murid yang ada pada gambar di atas sedang mempresentasikan alat rangkaian berbentuk miniatur elevator. Alasan murid tersebut membuatnya karena tidak lama lagi di kota Solo akan banyak gedung-gedung bertingkat dan bangunan yang ke atas. Jadi akan banyak menggunakan elevator yang memakai energi listrik yang diubah menjadi energi gerak. Dalam proyeknya, murid boleh dibantu orangtua dalam membeli perlengkapan hingga merangkainya. Presentasi dilakukan dengan menggunakan bahasa inggris. Namun, murid diperbolehkan menggunakan bahasa lain atau bilingual.

Dokumentasi Ekshibisi Mini Digital untuk membuat asesmen yang menyenangkan

Sedangkan gambar di atas menunjukkan presentasi dari seorang murid inklusi. Murid inklusi tersebut memiliki gangguan pendengaran, sehingga dibantu dengan mind mapping  atau teks dalam presentasinya. Dengan bantuan guru pendamping khusus, ia mampu menampilkan sebuah eksperimen berupa nyala lilin yang dapat memutarkan kertas di atasnya.

Asesmen semacam ini memberikan beberapa manfaat antara lain:

  1. Kreativitas terbangun melalui proyek sains sederhana ataupun eksperimen sains.
  2. Mendorong murid untuk berani menampilkan ide gagasan.
  3. Melatih keahlian berkomunikasi.
  4. Melatih keberanian di depan pemirsa dalam Zoom Meeting (presentasi).
  5. Melatih berargumentasi dalam tanya jawab dengan teman sebaya ataupun guru.

Sedangkan untuk kelas 6 nanti akan diadakan penelitian sederhana yang menjadi kemasan ekshibisi dengan bimbingan guru mentor dan asesmen dari leader. Puncaknya adalah perayaan dengan mengundang teman-teman dari sekolah lain untuk berkunjung. Inilah salah satu tantangan bagi Bu Rakhmawati dan sekolahnya dalam menyiapkan mental , skill berkomunikasi, serta melatih manajemen waktu sejak kelas bawah. Asesmen menjadi sarana perayaan yang dinanti.

Pembelajaran akan bermakna apabila memberikan ruang bagi murid untuk berinovasi. Jika sebelum pandemi presentasi dilakukan di depan kelas masing-masing, kali ini teman dari kelas lain juga berkesempatan mengikuti kegiatan presentasi dan tanya jawab dalam Zoom Meeting. Hal in ternyata mampu menambah kepercayaan diri bagi murid. Mereka yang aktif akan banyak bertanya dan yang awalnya pasif juga termotivasi untuk ikut bertanya. Terakhir, setiap murid akan belajar menjawab pertanyaan dari audiensi dengan waktu yang sama. Tujuan lain dari kegiatan tersebut adalah jika asesmen dikemas secara fun learning, maka akan menghilangkan kesan menakutkan seperti sebuah ujian.

Wah, ternyata membuat asesmen yang menyenangkan untuk murid tidak sulit ya. Meskipun harus dilakukan saat pembelajaran di masa pandemi. Bahkan punya poin lebih dan banyak manfaatnya lagi. Sekarang Bapak dan Ibu guru pasti sudah tidak bingung lagi kan membuat asesmen yang menyenangkan saat pembelajaran di masa pandemi. Untuk menemukan cerita inspiratif  lainnya, yuk ikuti Temu Pendidik Nusantara VIII. Tema TPN kali ini adalah “Merayakan Asesmen, Mendesain Ekosistem Merdeka Belajar” yang akan diselenggarakan pada tanggal 20-21 November 2021. Dan di sini Bapak Ibu guru akan mendapat inspirasi dari #1000Pembicara.

Cara daftarnya gampang banget. Tinggal klik tpn.gurubelajar.org

Sumber: Surat Kabar Guru Belajar No. 27

About the Author

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: