Memetakan Potensi ABK dengan Asesmen

Penulis : rizqy | 20 Aug, 2019 | Kategori: Liputan Guru Belajar, Pelatihan guru

Apa jadinya seorang ahli bedah yang dikenal hebat, terlempar ke masa di mana alat-alat bedah tidak ada. Apakah ia masih bisa melakukan praktik membedahnya? 

Namanya Jyin Hyuk, seorang dokter bedah yang hidup dan tinggal di masa modern yang mengalami kejadian aneh, yang membuatnya harus terlempar jauh ke masa Dinasti Joseon. Dalam masa itu, teknologi medis masih dalam tahap awal. Banyak kasus yang dialami Jyin Hyuk ketika ia terlempar ke waktu yang berbeda. Salah satunya adalah ketika ia menemui seorang anak yang sakit perut, mual, mata tampak cekung, dan juga kulit kering. 

Dari sekilas melihat kondisi anak tersebut, Jyin Hyuk meminta warga untuk menjaga kebersihan dan melakukan beberapa tindakan. Namun tak disangka, wabah melebar, ada beberapa warga yang meninggal karena penyakit tersebut. Di masa belum ada peralatan medis tersebut, Jyin Hyuk membuat alat alternatif, obat alternatif dan melakukan beberapa keputusan agar virus tersebut tidak tersebar.

Asesmen, saya melihat apa yang Jyin Hyuk sebagai seorang dokter melakukan asesmen, dia memperkirakan apa yang sedang dialami si anak dari mengobservasinya, seringnya mual, sakit perut hingga kulit kering membuatnya mendiagnosis bahwa si anak terkena kolera. Ia pun tahu kalau virus itu akan cepat menyebar dan mengambil beberapa keputusan sampai membuat beberapa obat dan alat untuk mengobati yang sudah terkena dampak.

Sebagai seorang guru, salah satu yang perlu dimiliki adalah kemampuan seperti dokter Jyin Hyuk, yaitu melakukan asesmen. Oleh karena itulah dalam program Pengembangan Murid Penyandang Disabilitas pelatihan pertama difokuskan mengajak guru peserta program untuk bisa melakukan asesmen.

Pelatihan bertema  “Pemetaan Potensi ABK Pasca Pendidikan Menengah” ini diikuti sekitar 40 guru pembimbing khusus dari SMALB, dan guru BK dari  SMA/SMK/Madrasah Inklusi di Jawa Tengah. Pelatihan yang berlangsung selama 3 hari ini (5-7 Agustus 2019) bertujuan untuk peserta memiliki persepsi yang sama mengenai tujuan pendidikan inklusi, dan mampu melakukan asesmen untuk mengidentifikasi ABK.

“Sering banget terjadi miskonsepsi diantara guru mengenai pendidikan inklusi”, ujar Vitriani Sumarlis salah satu pelatih dari Kampus Guru Cikal.

Oleh karena itulah di bagian awal pelatihan, peserta diajak untuk berpikir dan berdiskusi mengenai miskonsepsi pendidikan inklusi, seperti :

  1. Murid dengan disabilitas/ berkebutuhan khusus tidak akan mampu mengikuti kurikulum yang sama seperti anak-anak pada umumnya 
  2. Kurikulum khusus perlu dirancang untuk anak-anak dengan disabilitas/ kebutuhan khusus
  3. Menerima murid disabilitas/berkebutuhan khusus dalam kelas reguler hanya akan menghambat pencapaian murid-murid yang lain di kelas tersebut 

Pernyataan-pernyataan tersebut membawa peserta berbeda pendapat, ada yang setuju ada pula yang tidak setuju. Dari proses inilah, kami melihat beberapa guru memang masih kebingungan mengenai tujuan pendidikan inklusi.

Untuk lebih memberikan gambaran mengenai pendidikan inklusi, pelatih memutarkan sebuah video tentang praktik pendidikan inklusi di negara-negara eropa. Peserta kemudian diajak berdiskusi antarkelompok.

“Saya jadi mulai memiliki gambaran sebagai guru BK menerapkan pendidikan inklusi di sekolah saya. Kalau memang pendidikan untuk semua, mengapa perlu kurikulum khusus. Saya mulai memahami bahwa untuk mencapai itu, salah satu yang perlu dilakukan adalah kolaborasi..” ujar salah satu peserta guru BK.

Setelah itu pelatihan yang berlangsung di Gedung BP-Diksus, Semarang ini mengajak peserta untuk mengenali keragaman ABK (Anak Berkebutuhan Khusus). Karena jika guru mengetahui tentang keragaman ABK, guru bisa lebih mudah memberikan tindakan yang tepat sesuai ragam ABK-nya.

Dalam sesi ini, peserta diajak bermain kartu Murid Istimewaku, kartu permainan yang bertujuan mengajak peserta tahu dan mengerti ragam ABK. Melalui permainan, ragam ABK yang berjumlah banyak memudahkan untuk dimengerti oleh peserta dan kemudian mengelompokkannya ke dalam area-area disabilitas, mana ragam disabilitas yang masuk area disabilitas fisik, mana yang masuk disabilitas sensori, mental, dan intelektual.

“Permainannya seru, mengasah peserta untuk bisa merancang strategi agar mendapat skor banyak. Selain itu, penggunaan perbedaan warna memudahkan kami memetakan area disabilitas murid..” ujar salah satu peserta program.

Harapannya setelah mengetahui tujuan pendidikan inklusi dan ragam ABK, guru bisa melakukan asesmen yang tepat untuk murid. Oleh karena itulah sesi selanjutnya yang berlangsung di hari kedua membahas tentang prinsip, tujuan dan cara asesmen. 

Jika diandaikan seorang dokter Jyin Hyuk yang terlempar ke masa belum mengenal peralatan medis, dan menggunakan apa yang ada di lingkungannya untuk membantu mengobati pasien, maka sebenarnya tantangan guru adalah itu. Tidak bergantung asesmen-asesmen dari lembaga lain yang biasanya berharga tinggi melalui serangkaian tes.

“Tantangannya adalah mengajak guru menggunakan apa yang ada untuk melakukan asesmen. Dari sesederhana melakukan pengamatan kepada murid, melakukan wawancara. Karena selama ini yang terjadi di kalangan guru adalah cara melakukan asesmen menggunakan alat berupa tes, yang terkadang berbiaya..” ujar Rizqy salah satu pelatih dalam tahap ini.

Lewat berbagai simulasi permainan, peserta diajak untuk saling mengamati satu sama lain. Mencatat apa yang dilakukan, bagaimana perilakunya, menanyainya untuk mendapat gambaran orang tersebut. 

“Memang tantangannya dalam asesmen, bagaimana melakukan asesmen tidak secara langsung dan murid mengetahui bahwa mereka sedang diamati/diwawancarai.” ujar Vitriani Sumarlis kepada peserta setelah melakukan simulasi observasi dan wawancara.

Di hari terakhir, peserta diajak mengenali bakat dan minat murid melalui teori Holland. Di sesi ini peserta antusias sekali mempelajari mengenai Teori Holland, yang membagi minat menjadi 6 yaitu realistik (sang pekerja), investigatif (sang pemikir), artistik (sang kreator), sosial (sang penolong), wirausaha (sang pembujuk), dan konvensional (sang pengatur). Harapannya, para peserta memiliki pengetahuan mengenai minat sehingga bisa menumbuhkan minat-minat yang murid miliki.

“Pelatihan yang berbeda dari pelatihan lainnya. Tiap hari hampir 8 jam pelatihan namun tidak terasa.” Ujar Nanik Qomariyah, salah satu peserta 

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: