Memulai Blended Learning

Penulis : rizqy | 17 Jun, 2019 | Kategori: Inspirasi Guru Belajar

Saya punya hobi fotografi dan juga videografi, bahkan hobi saya tersebut akhirnya menjadi pekerjaan saya. Bagaimana saya memulai itu semuanya, padahal pendidikan formal yang saya ambil tidak ada kaitannya dengan dua keterampilan tersebut?

Jawabannya adalah internet.

Adanya internet membantu saya bisa belajar di mana saja dan kapan saja. Ilmu-ilmu dasar foto dan video saya dapatkan melalui kegiatan berselancar di internet. Membaca artikel di beberapa website, saya padukan dengan menonton video di youtube dan tak jarang mengikuti diskusi di grup-grup Facebook. Dan sesekali mengikuti pelatihan atau kelas tatap muka.

Internet mengubah kebiasaan belajar zaman dulu. Belajar di tempat formal seperti sekolah, dan lembaga pelatihan. Belajar yang waktu dan tempatnya sudah ditentukan, sehingga kita yang ingin ikut belajar harus mengikuti waktu dan lokasi yang sudah ditentukan. Dan itu kadang membuat kita tidak leluasa.

Oleh karena itulah Kampus Guru Cikal dalam program Wardah Inspiring Teacher 2019 (WIT 2019) menggunakan konsep Blended Learning dalam pelaksanaan pelatihan. Peserta WIT 2019 diajak merasakan pembelajaran bermakna dengan konsep Blended Learning. Konsep yang menggabungkan berbagai macam metode belajar, baik luar jaringan (luring) dengan tatap muka, atau dalam jaringan (daring) melalui aplikasi digital.

Sebelumnya sekitar bulan April 2019 yang lalu Kampus Guru Cikal sudah memberikan pelatihan tatap muka di 4 daerah yaitu Yogyakarta, Bandung, Surabaya dan Jakarta untuk memulai berinovasi untuk menciptakan media ajar. Dalam kesempatan tersebut, peserta mendapatkan pengetahuan mengenai langkah awal untuk berinovasi dengan design thinking . Peserta baru melaksanakan 3 langkah design thinking, yaitu 1) empati (memahami murid), 2) mendefinisikan masalah yang dihadapi murid saat belajar, dan 3) mencari solusi dari permasalahan murid. Masih ada dua tahapan lagi yang perlu peserta ikuti yaitu 4) membuat portofolio (purwarupa) media ajar, dan terakhir adalah 5) melakukan uji coba/testing. Untuk itulah tahapan 4 dan 5 akan dimulai dari pembelajaran dalam jaringan (daring).

Untuk memudahkan pembelajaran daring Kampus Guru Cikal menggunakan dua platform yaitu aplikasi Whatsapp dan Google Classroom. Alasan digunakannya Whatsapp karena sudah umum di kalangan guru, sehingga memudahkan untuk berkomunikasi. Adapun penggunaan Google Classroom digunakan untuk menyajikan materi dan asesmen, dan memudahkan mengecek peserta siapa saja yang sudah membaca materi dan mengirimkan tugas yang diberikan.

Seperti tulisan Badrul H.Khan dalam artikel yang berjudul The Global E-Learning Framework, salah satu prinsipnya yaitu aspek pedagogis, di mana pelaksana E-Learning terlebih dahulu harus menganalisis kebutuhan pelatihan dari pesertanya, konten, media yang digunakan, strategi pembelajarannya. Sehingga peserta bisa belajar dengan efektif dan efisien.

Seperti yang Kampus Guru Cikal lakukan sebelum pelaksanaan Blended Learning, yaitu mengadakan sesi diskusi pengenalan platform yang akan digunakan. Sesi diskusi dipandu oleh Anggayuda Anandarasa dari Kampus Guru Cikal. Ternyata dari sesi diskusi yang dilakukan tersebut, banyak peserta yang belum pernah menggunakan Google Classroom. Sehingga sesi perkenalan dengan platform tepat dilaksanakan karena membantu peserta mengenal lebih dulu sebelum menggunakannya.

“Ini pertama kali saya memakai Google Classroom. Terima kasih ilmunya Kampus Guru Cikal.” ungkap salah satu peserta setelah sesi diskusi berakhir.

Beberapa peserta yang tidak bisa mengikuti diskusi di waktu yang ditentukan masih bisa mempelajari Google Classroom. Karena memang kelebihan pembelajaran ini yaitu fleksibilitas. Peserta bisa mengakses materi kapan saja dan di mana saja.

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: