Menatap Garis Cerah Karier Penyandang Disabilitas

Penulis : Winda Dyah Uningrumjati | 23 Jan, 2020 | Kategori: Pelatihan Orangtua, Tegal

Pertama kali mendengar kabar Angkie Yudistia menjadi staf khusus presiden, saya tertegun. Diam-diam memikirkan perjalanan yang sudah ditempuh dan dukungan yang menjadi penguat beliau sebagai penyandang tuli- untuk sampai di titik itu. Sesekali saya juga membaca berita mengenai peraturan mengenai pekerja disabilitas yang harus ditampung dalam suatu perusahaan, dan beberapa gerai usaha yang inklusif. Namun di sisi lain, selama dua tahun saya menjadi guru di Sekolah Luar Biasa, lebih banyak alumni yang ‘dirumahkan’ ketimbang hadir di tengah masyarakat. 

Sebuah ironi, mengingat sekolah luar biasa pada hakikatnya memiliki peran yang sama dengan sekolah lainnya. Sekolah bertanggung jawab akan kualitas peserta didiknya agar kelak mampu mengambil perannya di masyarakat. Sekolah luar biasa bertujuan untuk membentuk pribadi berkebutuhan khusus yang mandiri.  Definisi mandiri tersebut tentunya beragam, disesuaikan dengan tingkat kemampuan, bisa jadi mandiri cukup dengan mampu beraktivitas keseharian. Namun tidak menutup kemungkinan penyandang disabilitas juga memiliki karier pendidikan maupun pekerjaan, bukan? Sayangnya, sampai saat ini angka partisipasi penyandang disabilitas di pendidikan tingkat tinggi maupun lapangan pekerjaan masih rendah. 

Ada beberapa hal yang melatarbelakangi fakta tersebut, diantaranya rendahnya pemahaman karier pada murid berkebutuhan khusus, kurangnya kemampuan guru dalam menggali potensi murid, serta persepsi orangtua, keluarga, maupun masyarakat yang cenderung memanjakan, menyepelekan, dan pada akhirnya berujung pada perilaku diskriminatif.

Syukurlah muncul satu garis cerah. Berangkat dari konsep pendidikan adalah tanggung jawab bersama, Kampus Guru Cikal berkolaborasi dengan Yayasan Nusantara telah menyelesaikan program NusantaRun 6. Sebanyak 201 pelari menempuh jarak 160 km dan berhasil mengumpulkan dana sebanyak 2,6 milyar yang ditujukan untuk membantu penyandang disabilitas di provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Salah satu penyaluran dari dana tersebut adalah beasiswa untuk penyandang disabilitas.

Alih-alih memberikan beasiswa secara langsung kepada murid berkebutuhan khusus, Kampus Guru Cikal memilih untuk mengedukasi guru sekolah luar biasa/inklusi, orang tua murid berkebutuhan khusus, dan murid berkebutuhan khusus terlebih dahulu. Pada tanggal 17 Desember 2019, diadakan Seminar Karier Murid Penyandang Disabilitas Program yang diadakan di SLB N Kota Tegal. Para orang tua murid berkebutuhan khusus dari beberapa sekolah luar biasa, dan perwakilan guru sekolah menengah diberikan pemahaman mengenai karier murid berkebutuhan khusus, utamanya pada aspek pendidikan tinggi. 

 Materi dibuka oleh Bapak Joko Yuwono (dosen Pendidikan Luar Biasa Universitas Negeri Sebelas Maret) yang menjelaskan bahwasanya regulasi mengenai inklusivitas perguruan tinggi diawali sejak tahun 2014 (Permendikbud No.46 tahun 2014). Dilanjutkan dengan sarana prasarana bagi mahasiswa disabilitas, dan skema penerimaanya baik melalui jalur SNMPTN, SBMPTN, maupun seleksi mandiri. Beliau juga menegaskan para orangtua tidak perlu khawatir, karena di awal masa adaptasi, pihak kampus akan mendampingi baik melalui advokasi, organisasi, serta konseling.

Pemateri kedua, Mas Misbahul Arifin merupakan seorang mahasiswa penyandang disabilitas di Pascasarjana UNS. Hambatan penglihatan yang dimilikinya tidak menghalangi ruang geraknya. Beliau aktif di berbagai organisasi, bahkan saat ini beliau sedang menjabat sebagai ketua Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia. Mas Misbah menggarisbawahi peran orang tua dan keluarganya dalam membentuk regulasi dirinya sejak kecil. Motivasi, nasehat, dan pemberian layanan yang tepat dari orangtua, diakuinya sangat membantu dalam menghadapi problem perundungan dan diskriminasi di lingkungan sekitarnya.

Dilanjutkan oleh Ibu Sepholindarsih selaku perwakilan SLBN Kota Tegal yang telah mengikuti pelatihan dari Kampus Guru Cikal sebelumnya. Beliau memaparkan betapa pentingnya proses asesmen supaya potensi murid bisa dikembangkan dengan optimal, dan mengajak orangtua untuk berkolaborasi bersama untuk membersamai persiapan karier murid. 

Pak Rizqy Rahmat Hani sebagai pemateri terakhir menayangkan video kolaborasi Kampus Guru Cikal dan Yayasan Nusantara untuk memberikan gambaran mengenai tujuan dan tahapan program NusantaRun 6. Beliau juga memaparkan agenda setelah seminar untuk orang tua, yaitu berupa pelatihan Murid Belajar. Sebanyak 120 murid berkebutuhan khusus akan mengikuti pelatihan keterampilan belajar untuk selanjutnya diseleksi menjadi 16 penerima beasiswa di beberapa kampus inklusi, diantaranya Universitas Sebelas Maret, Universitas Sunan Kalijaga, dan Universitas Negeri Yogyakarta. Pemaparan tersebut menumbuhkan keyakinan para orang tua bahwa anak-anak berkebutuhan khusus juga memiliki masa depan.

Respon dari peserta seminar beragam. Beberapa orang tua mulai mempertimbangkan apakah setelah lulus, anak melanjutkan pendidikan tingkat tinggi atau bekerja, serta menanyakan fakultas yang sesuai. Adapun perwakilan guru sekolah luar biasa menyatakan pendapat perlu adanya penyesuaian bahkan modifikasi kurikulum SMALB, jika murid menginginkan untuk melanjutkan pendidikan ke Universitas.

Pak Joko dan Pak Rizqy menjawab kedua respon tersebut dengan kembali ke prinsip memahami murid melalui asesmen, sehingga intervensi menjadi tepat. Peserta dari SMA/SMK menyimak dengan antusias karena di Kota Tegal belum ada sekolah inklusi di tingkat menengah, namun tidak menutup kemungkinan mereka menerima murid berkebutuhan khusus di masa mendatang. 

Program NusantaRun 6 menjadi pemantik optimisme dan juga pemahaman baru para guru, orang tua, dan murid berkebutuhan khusus. Setelah acara selesai, ada salah satu orang tua murid yang berpamitan kepada saya sambil mengatakan, “Sebelumnya saya tidak ada bayangan anak saya melanjutkan kuliah. Selama ini dia hanya bilang mau kerja di Jakarta. Nanti saya coba tawarkan ke dia, kebetulan suka masak, barangkali rejeki dia dan bisa jadi koki hebat.” Saya hanya bisa mengamini kalimat beliau. Optimisme beliau menular ke saya, berharap pula ini menjadi garis start dari perjalanan panjang individu penyandang disabilitas mendapatkan hak pendidikan dan penghidupan yang layak sebagaimana tertulis dalam Undang-Undang Dasar 1945. 

Penulis : Meisayu Dwitami (Guru SLBN Tegal)

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: