Berbagi Praktik Mengajar Kreatif

Penulis : Enggar Puspitasari | 29 Jun, 2020 | Kategori: Liputan Guru Belajar, Merdeka Belajar, Probolinggo

Agar para guru bisa saling berbagi inspirasi praktik mengajar yang kreatif. Komunitas Guru belajar (KGB) Probolinggo mengadakan Temu Pendidik Daerah (TPD). Acara diselenggarakan di aula Korwil Dinas Pendidikan Kecamatan Krejengan. Ada tiga kelas di antaranya yang pertama: mencari teman duduk dengan menggunakan kartu bilangan atau kartu benda, kedua: miskonsepsi literasi dan literasi bermakna menumbuhkan empati, dan yang ketiga: Gambar Bercerita – Media Belajar SPOK. TPD kali ini dihadiri oleh kurang lebih 50 guru dari berbagai sekolah yang ada di Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo. 

Mengajar Kreatif: Mencari Teman Duduk

Silvia Eka Putri, guru kelas 1 di SDN Sumberkerang, Kecamatan Gending berbagi praktik baik mengajar kreatif tentang mencari teman duduk. Setiap ajaran baru, murid kelas 1 di dalam kelas selalu berebut tempat duduk, dan tak jarang pula orang tua mereka rela mengantarkan pagi-pagi sekali hanya untuk mendapatkan kursi baris depan.

Para orang tua beranggapan bahwa anak yang duduk di kursi depan cenderung lebih cerdas dan memiliki kompetensi lebih unggul dibandingkan anak yang duduk di belakang. Kejadian ini membuat kelas bu Silvi tidak kondusif. Setelah mendiskusikannya dengan wali kelas yang lain, akhirnya beliau menemukan cara untuk meminimalisir agar kejadian tersebut tidak terulang lagi. Cara ini juga sebagai media pembelajaran untuk anak-anak kelas1 lebih mengerti bilangan dan nama benda sekitar.

Caranya setelah bel masuk sekolah berbunyi, anak-anak harus mengambil kartu di depan kelas. Kartu tersebut bisa berupa bilangan atau gambar benda seperti buah, hewan, dan lainnya. Kartu tersebut disesuaikan dengan kebutuhan murid. Jika kebanyakan murid kurang mengerti tentang bilangan, maka bisa menggunakan angka. Sebelum itu, setiap bangku di dalam kelas sudah ada satu kartu yang sama dengan kartu yang ada di depan kelas. Jadi, secara keseluruhan ada 3 kartu yang sama yakni 1 kartu dibangku dan 2 kartu lagi di depan kelas untuk anak-anak menemukan tempat duduk dan teman duduknya secara adil dan tanpa saling iri. Sehingga tercipta kelas yang kondusif. Orang tua pun bisa memahami dan tidak mempermasalahkan tempat duduk anak-anaknya. Media mencari tempat duduk ini juga bisa digunakan para guru untuk membagi kelompok-kelompok dalam kelas. 

Literasi Bermakna Menumbuhkan Empati

Kelas kedua yang berbagi praktik baik mengajar kreatif adalah bu Yulia yang mengajar di SDN Krejengan. Awalnya beliau menceritakan pengalamannya menjadi guru kelas tinggi, yang menurutnya seorang guru harus bisa memberikan apa yang dibutuhkan oleh murid. Baginya untuk menjadi guru merdeka belajar harus bisa mengaplikasikan 5M. Memahami murid merupakan praktik salah satu 5M yakni memanusiakan hubungan.

Guru Mengajar Kreatif Literasi

Ketika di dalam kelas, kita sebagai seorang guru harus bisa memahami apa kebutuhan murid. Hal ini bisa dilakukan dengan membuat kesepakatan kelas. Meskipun untuk bisa menjalani kesepakatan kelas ini butuh ketelatenan dari guru itu sendiri. Dengan begitu rasa empati akan tumbuh, dan suasana pembelajaran akan semakin  menarik. Selain kesepakatan kelas, bisa juga melalui 5 posisi kontrol menjadi seorang guru merdeka belajar. 5M yang berikutnya adalah memahami konsep, membangun keberlanjutan, memilih tantangan dan memberdayakan konteks. Ada juga strategi literasi untuk empati di antaranya berlatih perspektif, identitas moral, kesempatan untuk berempati serta memperluas lingkaran kepedulian.

Gambar Bercerita: Media Belajar SPOK

Kelas ketiga yang berbagi praktik baik mengajar kreatif adalah bu Iva yang mengajar di SDN Rawan, Kecamatan Krejengan. Awalnya bu Iva menceritakan keresahannya saat mengajar tentang unsur-unsur kalimat. Bahwa tidak semua murid paham akan unsur-unsur yang ada pada kalimat. Padahal di awal pembelajaran bu Iva sudah menjelaskan definisi dari kalimat dan unsur-unsur yang terdapat di dalamnya yakni subjek, predikat, objek dan keterangan. Akan tetapi mereka masih saja kesulitan dalam menulis sebuah kalimat yang benar. Oleh karenanya, beliau berinisiatif membuat media SPOK guna memudahkan murid dalam memahami materi yang diterima.

Guru Mengajar Kreatif Bahasa Indonesia

Bu Iva menggunakan media gambar pada masing-masing unsur kalimat. Misal untuk subjek menggunakan gambar kucing, untuk predikat menggunakan kartu bertuliskan memakan, objek dengan gambar ikan, dan untuk keterangan menggunakan gambar dapur. Sehingga jika digabungkan akan terbentuk kalimat “Kucing memakan ikan di dapur”. Dan ternyata dengan penggunaan media SPOK, murid menjadi lebih mudah memahami materi, lebih aktif dan berani menjawab pertanyaan. Selain  itu, suasana belajar jadi lebih menyenangkan.

Sebagai penutup, bu Iva juga menyampaikan bahwa media yang digunakan memang dibuat sederhana jadi dipersilakan jika ada yang memodifikasinya atau ingin mempraktekkan media yang sama di sekolah masing-masing.

Di sesi akhir dibuka sesi tanya jawab dan sharing antar sesama guru.

Anda ingin mempelajari praktik mengajar yang Merdeka Belajar?

Pelatihan Merdeka Belajar

Yuk ikuti pelatihan daring (online)
Memulai Karier Guru: Merumuskan Tujuan Belajar
Klik link di bawah ini

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: