Mengapa Guru Harus Menulis?

Penulis : Anita Taurisia Putri | 26 Nov, 2018 | Kategori: Liputan Guru Belajar, Temu Pendidik Daerah
Mengapa Guru Harus Menulis

Eka Wardhana

Saya sering menyebut diri sebagai tukang nulis, karena menulis di mana pun dan kapan pun. Beberapa tulisan bahkan hasil menulis di kereta listrik antara stasiun Tebet dan Stasiun Bojonggede. Selepas kuliah, di KRL mengetik sambil bergelentungan.

Moderator

Keren pak…mungkin bisa berbagi tips dengan kami disini pak

Eka Wardhana

Dulu kerap saya dan Pak Bukik saling kontak, apakah naskah sudah cukup untuk SKGB? jika kurang, maka malam-malam saya kirim naskah untuk menggenapi. Terpaksa? oh tidak saya senang saja. menulis itu menyenangkan kok. Masa menyenangkan terpaksa?

Apa manfaat menulis? mempertajam gagasan. Setiap kali menulis maka semua tenaga diarahkan pada bagaimana gagasan sampai kepada pembaca. Maka menulis lebih hati-hati, cermat dan tajam. Ada yang bilang tulisannya jelak. oh tidak apa-apa, itu bagus. Daripada tidak pernah menulis. Salah kalau ingin disebut semua tulisan itu bagus. Tulisan itu yang pertama jelek, lalu jelek, lalu jelek. Kemudian bagus.

Semua penulis punya risiko. Yang yakni terkenal. Bisa karena terkenal jelek bisa karena bagus. Masalahnya menjadi terkenal itu lebih sulit daripada tidak terkenal. Karena setiap kali menulis, orang akan terpaksa membaca. Mengapa? Coba saja tidak pernah menulis, apa yang bisa membuat orang tertarik? Di fb orang tertarik pada tulisan dan menanggapinya dengan tulisan. orang tertarik dengan tulisan.

Masalahnya apa yang akan ditulis?

Saya memilih tulisan yang bisa menyuarakan kelas.

Moderator

Oke…baiklah, mungkin cukup pengantar dr pak Eka, selanjutnya sy akan membuka tanya jawab, untuk yermin pertama silakan 3 org sebutkan nama

Endang Ayu Patrianingsih

Saya memilih tulisan yang bisa menyuarakan kelas. Maksudnya tulisan yang bisa menyuarakan kelas yang gimana pak?

Eka Wardhana

Ya, kelas memang tidak bisa bersuara secara harfiah. Tapi banyak hal kelas yang bisa dibagi ke guru lain. Contohnya : Tentang kebiasaan bertanya. Guru bertanya? Murid bertanya? atau perihal pelajaran IPS atau PKn, atau tentang praktik pembelajaran di kelas yang saya bagi. Baik tantangan dan peluangnya.

Apakah hal tersebut menarik? sangat, banyak guru yang enggan menyuarakan hal kelas, karena dianggap tidak menarik. Atau biasa saja

Usman

Tentang konsisten menulis pak. Susah benar menjaga ini.

Eka Wardhana

Nikmati saja saat-saat menulis. Jangan ada target. Begitu ada target, maka kepala akan dengan cepat menekan seluruh syaraf untuk merespon keras. Rileks saja, tulis pelan, lalu selesaikan. Begitu terus hingga banyak tulisan dihasilkan.

Adelia

Bagaimana tulisan itu dibilang jelek atau bagus?

Seperti apakah tulisan bagus itu?

Terkadang kalau menulis agak tertahan dalam pemilihan kata..bagaimana itu melancarkannya?

Eka Wardhana

Tulisan bagus: ide mudah ditangkap, redaksi sesuai kaidah bahasa, enak dibaca, melancarkan tulisan: perbanyak baca, kuasai perbendaharaan kata, banyak latihan menulis.

Endang Ayu Patrianingsih

Tantangan di kelas, masih banyak siswa yang enggan menulis, kisaran 50% atau lebih dgn alasannya masing2, sehingga kami mencoba menerapkan tugas menulis, meski masih dlm bentuk kegiatan belajar.

Terima kasih banyak ilmunya pak Eka.

Alhamdulillah.

Eka Wardhana

Ya sebelum siswa, tentu gurunya perlu senang menulis.

Olle

Apakah yang dimaksud ‘suara kelas’ itu tanggapan guru terhadap proses pembelajaran atau malah siswanya? Saya cukup sering menulisttg suasana kjelas ke fb dan respon pembaca selalu antusias

Eka Wardhana

Ya, makna suara kelas itu bukan berarti harfiah. Tapi hal yang terkait dengan kelas. Kalau saya lebih banyak merupakan refleksi mengajar. Selepas mengajar saya gunakan untuk menulis sebagai bahan refleksi.

Olle

Bagaimana mengumnpulkan tulisan2 yang sudah berupa artikel-artiukel lepas menjadi satu buku? Bisa diberikan contoh cara menyatukannya?

Eka wardhana

Gampang, satukan dalam folder. Naskah lalu kurasi lalu kelompokan sesuai tema.

Sri Wahyuni

Bagaimana pak Eka menjadikan kegiatan menulis di kelas sebagai kelas literasi di mata pelajaran yg diampuh?  Saya penasaran sejak tdi pak eka ngajar pelajaran apa

Eka Wardhana

Saya sering memberikan tugas IPS dan PKn yanh sifatnya telaah. Anak, mau tidak menulis dengan sendirinya. Contoh: Menurut kamu, Gajah Mada itu orang seperti apa? Sebelumnya saya kasih tulisan tentang sejarah Gajah Mada.

Eka Wardhana

Oh, tentang karir menulis. Saya senang, tulisan saya saya ajukan ke beberapa penerbit mayor.  Hasilnya banyak yang belum siap, karena alasan pemasaran. Tapi akhirnya saya cetak sendiri dan hasilnya saya sudah cetak berulang kali. Sebelas judul sudah saya buat. Buku saya tidak laku? kalau tidak laku maka saya tidak bisa cetak ulang.

Saya ditawari untuk memasukkan buku ke jaringan besar. Saya hanya diberi keuntungan 10 persen, sisanya mereka. Saya mundur, saya jual sendiri. Saya senang buku tersebar kemana-mana.

Urusan laku, masa saya guru bisa mencetak sendiri 11 judul?

Takut? tidak,

Kalau tidak gigih, jangan harap naskah bisa terbit sendiri. Dunia penulisan sangat ketat dan kejam. ini contoh tulisan ringan.

SEJENAK MERAYAKAN KEBERHASILAN MENGAJAR

Oleh Eka Wardana*)

Pagi yang indah kala bincang ringan dengan kepala sekolah. Apa agenda terdekat dari raker sekolah? Kepala sekolah menyodorkan daftar acara yang telah dirancang jauh-jauh hari. Cukup mengernyit membacanya. Tiga hari dengan perencanaan kegiatan yang berjubel. Dari tugas-tugas yang berkaitan dengan administrasi pembelajaran yang seperti biasa dikerjakan sampai kegiatan yang melibatkan siswa.

Dalam bincang itu tercetus bagaimana dengan refleksi yang bisa dilakukan oleh guru? Terhadap langkah yang telah dilakukan dan capaian apa yang sudah nampak? Atau bahkan pertanyaan tidak penting, apa yang membahagiakan selama mengajar disemester ini? Jika menggunakan kata evaluasi yang ada biasanya guru cenderung tersudut karena yang muncul adalah kekurangan-kekurangan. Dan selama bertahun-tahun guru dikenalkan pada model evaluasi yang kerap menampilkan sisi kegagalan, walaupun tidak selalu begitu. Jadi kata “evaluasi” sepertinya agak mengancam dibandingkan dengan refleksi. Sebagaimana makna asli refleksi yakni bercermin, guru bisa melihat “wajah”-nya sendiri.

Mengapa guru tidak diajak merayakan keberhasilan mengajarnya. Seperti pergeseran kognitif apa saja yang terlihat dari siswa? Keterampilan-keterampilan apa saja yang tampak menonjol? Pemahaman-pemahaman apa saja yang terbentuk dan membawa arah belajar siswa? Ada kalanya guru menjawab dengan klise “banyak yang telah anak-anak pelajari” namun kesulitan merumuskannya dalam kalimat yang spesifik. Sehingga guru tidak dapat mengenali apa saja yang berkembang dari siswanya.

Perayaan yang dilakukan sederhana saja, bisa antara teman guru memberi selamat dilanjutkan dengan apresiasi atas keberhasilan yang spesifik itu. Tidak terlalu mewah dan mahal. Namun memberi dampak yang tidak kecil. Setiap keberhasilan yang dirayakan apa pun bentuknya memberi kesan yang mendalam bagi guru. Kesan apa yang muncul saat keberhasilan dirayakan?

Banyak guru yang penulis temui dalam beberapa diskusi mengenai keberhasilan dan kegagalan enggan membicarakan keberhasilan dihadapan teman atau atasan. Hal ini terjadi karena khawatir dianggap menonjolkan diri. Atau bahkan -agak ekstrem- terkesan arogan. Padahal arogansi bukan pada berhasil atau gagal tetapi pada cara dan tujuan menyampaikan keberhasilan itu. Acap kali penyampaian kegagalan pun diutarakan dengan tinggi hati jika tujuan dan cara yang digunakan untuk merendahkan orang lain.

Merayakan keberhasilan juga bukan sekadar euforia, kegembiraan yang berlebihan. Namun memberi makna pada setiap keberhasilan yang dicapai. Apa jadinya jika setiap keberhasilan tidak pernah dianggap bermakna memberi arti dan pengaruh bagi guru dan siswa?

Selama ini guru kerap mendapatkan predikat gagal dibandingkan berhasil. Dalam mendidik murid yang perilakunya belum memenuhi kriteria, gurulah yang paling sering mendapatkan sorotan. Prestasi hasil belajar yang masih di bawah standar, gurulah yang bertanggung jawab. Proses pembelajaran yang monoton, gurulah yang kurang belajar. Sehingga perlu program peningkatan mutu guru untuk mengubah kondisi itu.

Sementara keberhasilan-keberhasilan kecil yang acap dicapai guru, agaknya bukan perkara penting untuk diberikan apresiasi. Hal sederhana membangun kelekatan dengan murid di kelas sehingga tercipta iklim kelas yang sehat, jelas ini keberhasilan guru. Menumbuhkan semangat belajar dalam diri anak supaya belajar tidak lagi terpaksa, tetapi menjadi hobi yang menyenangkan. Itu pun prestasi yang patut mendapatkan perayaan; meski dalam bentuk yang paling ringan.

Prestasi yang diakui biasanya berupa kemenangan dalam kompetisi. Yang dilakukan secara berjenjang oleh pihak terkait. Selain itu dianggap peristiwa biasa saja. Padahal banyak ukiran keberhasilan guru terjadi dalam kelas.

Terlalu sering menganggap guru tidak berhasil menyebabkan kurang percaya diri. Takut mengambil inisiatif, khawatir dengan berbagai sebutan. Seperti “cari muka” atau sejenisnya. Sehingga wajar, untuk menumbuhkan kepercayaan guru menggunakan ragam model pembelajaran yang baru, diperlukan banyak usaha.

Setiap guru yang mencoba kemudian berhasil hakekatnya telah mengalahkan banyak kendala. Dirinya, lingkungan, dan bisa jadi kelasnya sebagai rintangan  yang ditaklukkannya. Merayakan keberhasilan berarti memberi kesempatan guru untuk memikirkan kembali tantangan yang telah ditaklukkannya. Mengukur keyakinan bahwa dengan syarat dan kondisi tertentu bisa menciptakan keberhasilan lainnya.

Guru yang berani mengambil risiko gagal lalu mencoba kembali sampai pada situasi belajar dari setiap kegagalan itu, maka keberhasilannya patut untuk dipertahankan. Sudah sepatutnya keberhasilan seperti itu dirayakan; meski sejenak.

_*) guru PKn dan IPS, penggerak komunitas Guru Belajar Bogor,

Moderator

Terima kasih pak

Selamat berkarya kami tunggu karya bapak selanjutnya

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: