Mengelola Keragaman Dalam Kelas Inklusi

Penulis : Nadia | 13 Mar, 2019 | Kategori: Liputan Guru Belajar

Moderator: Guru Filla Nova Mariyana (Sekolah Islam Umar Harun, Rembang)
Narasumber : Guru Yanuar Khaldun (Sekolah Cikal Surabaya)
Profil Narasumber : Anggota KGB Surabaya, mengajar di Sekolah Cikal Surabaya sebagai guru SSC ( student support center),  memberikan pelayanan kepada anak anak yang membutuhkan layanan khusus.

Kegiatan : Diskusi Online
Hari / Tanggal : Minggu, 10 Februari 2019
Pukul : 15.30 – 17.30 WIB

PEMBUKAAN
Narasumber : Sebelumnya saya ke materi, gambaran  pendidikan inklusi menurut bapak dan ibu itu seperti apa sih?

TANGGAPAN PESERTA
Bu Lia : Pendidikan Inklusi adalah pendidikan untuk semua
Bu Shaumi : Pendidikan yang bebas untuk siapa saja
Pak Shoffa: Kalau saya, pendidikan inklusi itu yang semua model latar belakang anak bisa sekolah. Fisik, ekonomi, ras, suku, agama
Pak Joko : Pendidikan Inklusi menurut hemat saya adalah pendidikan yang tidak memandang beda pada muridnya. Semuanya tetep mendapatkan jatah pendidikan yang sama, namun dengan cara yang beda-beda karena semua anak memiliki tahapan perkembangannya masing-masing
Bu Partilah : Pendidikan yang melayani anak berkebutuhan khusus
Bu Shaha: Sekolah dengan anak yang memiliki kebutuhan berbeda dari biasa sampai luar biasa, dari khusus sampai sangat khusus
Bu Ulya : Pendidikan yang menghargai keberagaman
Bu Nisa : Pendidikan yang menfasilitasi berbagai keragaman.
Bu Fiqoh : Pendidikan inklusi adalah pendidikan untuk semua tanpa pilih kasih
Bu Muflihah : Pendidikan inklusi adalah  pendidikan yang tidak membeda-bedakan keadaan (kondisi) anak, baik ABK atau non ABK.
Bu Riroh : pendidikan untuk siapa saja
Bu Mufidah : Semua murid diperlakukan sama
Bu Zahro : Menurut saya pendidikan inklusi adalah pendidikan yang tidak membatasi keberagaman peserta didiknya.
Bu Hani’ : Sebuah pendekatan untuk membangun dan mengembangkan sebuah lingkungan yg semakin terbuka, mengajak masuk dan mengikutsertakan semua orang dgn berbagai perbedaan latar belakang

MATERI
Narasumber : Wah, keren keren jawabannya. Pendidikan inklusi menerapkan model diferensiasi  dalam pembelajaran. Jadi pendidikan inklusi juga menerima anak anak yang berkebutuhan khusus.

Ketika sekolah menjadi sebuah sekolah inklusi, maka secara tidak langsung sekolah tersebut harus siap dengan kedatangan ABK di sekolah tersebut. Namun banyak kejadian di lapangan sekolah umum masih bingung dengan model pelayanan di sekolah inklusi seperti apa. Banyak guru juga masih  kesulitan bagaimana memodifikasi kurikulum, menentukan bagaimana model penilaian yang akan digunakan dan cara mengajar bagi anak berkebutuhan khusus yang bersekolah di sekolah inklusi.

Di SKGB 18 saya menceritakan tentang bagaimana saya menghandle siswa ADHD di kelas inklusi. Dia berusia 3 tahun pada saat itu sangat aktif sekali. Setiap hari ada kejadian temannya yang tertarik, terdorong dan tertendang. Saya mempelajari pola siswa saya. Dengan mengidentifikasi permasalahan siswa saya terlebih dahulu, merancang program, melibatkan orang tua untuk program dirumah, dan monitoring di tiap tengah semester. Prosesnya cukup panjang. Hampir satu tahun, saya juga mencari taktik untuk meyakinkan orang tua. Dikarenakan siswa saya anak tunggal, jadi perilaku tersebut tidak muncul di rumah. Munculnya ketika di sekolah. Hasilnya memang tidak instant, perlu proses. Saya juga berusaha mengkondisikan teman-temannya agar selalu berfikiran positif pada siswa dampingan saya. Orang tua cukup kooperatif jadi dari rekomendasi yang saya berikan dillakukan.

Nah ini tugas dasar dari seorang guru :
1. Memperoleh kerja sama dengan siswa
2. Mencapai keteraturan dengan melakukan kerja sama dengan siswa dan memeliharanya dalam kegiatan pembelajaran
3. Tidak sekedar menangani “perilaku mengganggu” secara efektif, namun juga :
– Membuat tuntutan perilaku dan akademis yang sesuai dengan siswa
– Memberikan petunjuk yang jelas bagi siswa
– Memperlancar peralihan pelajaran
– Memprediksikan permasalahan dan mencegahnya
– Memilihkan & mengurutkan kegiatan sehingga tercapai keteraturan & kelancaran belajar, dll  
4. Kegiatan berbeda membutuhkan keterampilan pengelolaan kelas yang berbeda

DISKUSI
Bu Rodliyah : Di kelas saya ( kelas 1 SD), ada 20 anak dengan 1 anak berkebutuhan khusus ( dulu diagnosanya autis). Saya ingin tanya bagaimana perencanaan kegiatan pada ABK, apakah ada rencana B dan C, mengingat apa yang kita rencanakan ternyata anak tersebut belum siap  mengikuti kegiatan? Mengingat juga kebutuhan yang berbeda, seringnya bentuk kegiatan juga berbeda dari mayoritas anak2 di kelas, meski beberapa kali juga terlihat bisa bergabung

Narasumber : Dalam memberikan materi pembelajaran ke anak ABK kita perlu melihat usia mental anak. Jika anak kelas 1 dengan usia 7 tahun, tetapi kemampuannya seperti anak usia 5 tahun berarti kita menyiapkan materi sesuai dengan anak usia 5 tahun. Kita merencanakan program sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh anak. Misalnya anak sudah bagus di berbahasa tetapi kemandirian, berhitung dan sosial masih kurang baik. Maka kita harus buat program untuk berhitung, kemadirian dan sosial.

Bu Rodliyah : Menurut bapak, apakah dalam kelas itu, memungkinkan kegiatan ABK butuh pendampingan khusus? Sebenarnya dari saya, perencanaan pembelajaran ABK belum begitu optimal, tapi kami juga mempertimbangkan usia tahap perkembangannya pak.

Narasumber : Tidak semua ABK perlu didampingi. Kita melihat kondisi dan karakteristik siswa. Jika anak memiliki perilaku yang masih tiba-tiba marah dan bisa melukai teman-teman lainnya maka dia perlu didampingi. Tetapi jika siswa tersebut memiliki masalah akademik, kita lihat yang perlu pendampingan di mata pelajaran apa.

Bu Rodliyah : Memang observasi anak itu penting untuk merencanakan programnya hingga tercapai tujuan dan tahapan perkembangan. Terima kasih banyak, pak

Bu Khoridah : Di kelas kami ada ABK. Sudah ada program yg didiskusikan bersama orangtua, tapi kami merasa program tersebut sulit tercapai karena seakan-akan hampir tidak ada effort dari si anak. Dan pernah kami berkunjung ke rumahnya, ternyata program yang sudah disepakati bersama itu kurang diindahkan oleh pihak keluarga di rumah. Dari situ kami berpikir, mungkin karena program sekolah dan rumah ini tidak berjalan beriringan jadi sulit perkembangannya. Bagaimana kami sebagai guru menyikapi ini pak? 🙏🏼

Narasumber : Orang tua memang terkadang kurang kooperatif. Membebankan kepada guru pembelajaran anak-anaknya. Nah, untuk menyiasati seperti ini, saya biasanya membuat checklist tugas untuk di rumah dan mana yang di sekolah. Dari checklist tersebut kita dapat mengevaluasi kenapa perkembangan anak stagnan. Jika dari checklist ternyata pihak ortu yang tidak melakukan dengan baik, kita bisa merefleksikan. Mengundang orang tua  ke sekolah, apa kesulitan yang di hadapi di rumah.

Bu Lia : Terimakasih atas kesempatan berharga sore ini. Menarik sekali materi sore ini tentang keragaman. Sungguh indah sekali apabila kita bisa memahami keragaman yang ada di kelas. Di kelas saya ada 2 anak ABK (sama-sama linguistiknya yang masih perlu ditingkatkan) apabila diajak berbicara keduanya sudah memahaminya. Dari keseharian bersama mereka saya dan guru kelas lainnya masih merasa belum bisa konsisten menangani mereka. Mulai dari cara memodifikasi kurikulum, model penilaian, dan cara belajar bersama. Pingin tahu pengalaman Pak Yanuar terkait ini.

Narasumber : Program adalah hal yang penting di dalam sekolah inklusi. Langkah sebelum membuat program adalah guru perlu melakukan observasi kepada siswa terlebih dahulu. Dari hasil observasi ini guru bisa melihat gambaran awal kemampuan anak. Dari hasil observasi guru bisa menyiapkan alat  yang akan guru gunakan untuk mengasesmen anak dan dari hasil asesmen ini, guru bisa membuat Program Individual Siswa.

Bu Lia : Observasi sudah kami lakukan Pak, dengan bertahap mulai bertanya kepada wali murid dan melihat kebiasaan anak di kelas.Tapi lagi-lagi konsistensi cara belajar yang kami lakukan masih perlu ditingkatkan lagi

Narasumber : Dalam pembuatan program memang harus spesifik atau jelas. maksudnya  harus jelas apa sasaran pengajaran yang akan guru berikan kepada anak, sehingga guru bisa mudah untuk mengukur hasil pengajaran tersebut. Misalnya guru bisa buat “Siswa dapat menyebutkan 10 nama hewan yang hidup di darat”. Guru perlu memperhatikan  program yang guru berikan kepada anak bisa dicapai atau tidak. Guru perlu tahu apakah program tersebut sudah sesuai dengan yang dibutuhkan oleh anak dikarenakan ada batasan waktu. Batasan waktu program bisa guru rancang selama 3 bulan, 6 bulan atau 1 tahun sesuai dengan kebutuhan anak.

Bu Lia : Membuat Progam yang dekat dengan anak dan sesuai tahapannya, ya pak. Agar program tersebut juga mudah diterima anak

Narasumber : Iya bu, benar, membuat program sesuai dengan kemampuan anak. Kita akan lebih mudah mengajarkannya, kita juga tidak pusing. Anak anak belajarnya juga lebih mudah.

Pak Shoffa : Membaca ulasan pak Yanuar tentang inklusi yg di dalamnya ada ABK ini sangat intensif. ABK belajar, non ABK pun belajar, mereka belajar dlm 1 ruang. Berbicara soal ABK bukan sekedar merancang dan menjalankan kegiatan utk ABK, ada yang lebih urgent yaitu soal kontrol tindakan, terlebih ABK yang aktif. Pertanyaannya:

1. Kalau pak Yanuar kan memang guru khusus menangani anak yg membutuhkan pelayanan ya?  Apa peranan pentingnya?

2. Bagaimana kalau pelayanan khusus itu dipegang oleh guru kelas? Dan bagaimana caranya?

Narasumber :

1. Iya memang saya guru pendamping khusus untuk anak berkebutuhan khusus. Peranan saya adalah memberikan dukungan kepada anak anak supaya bisa belajar di kelas reguler. Pertama adalah melakukan observasi tentang anak. Dari observasi yang kita lakukan kita bisa jelaskan kepada guru kelas atau kepala sekolah tentang kebutuhan anak. Setelah itu saya melakukan asesment tentang tingkat kemampuan anak dalam materi. dari asesmen ini saya akan buat program.

2. Guru kelas perlu mendapatkan pengetahuan tentang anak ABK terlebih dahulu, pak.  kalau guru kelas memang sudah ada bekal tentang ABK, tidak apa apa memegang ABK tanpa ada guru khusus. Namun karakterisk anak juga perlu di perhatikan, jika anaknya aktif atau masih tidak bisa diam, agresif (mendorong, memukul), masih suka marah, saya rasa perlu guru khusus untuk pendampingan.

Pak Shoffa : Jawaban yg tegas dan mantap. Guru khusus itu shadow teacher ya pak?

Narasumber : Iya pak. Shadow teacher.

Bu Hani’ : Di kelas saya ada 1 anak ABK dari 20 murid, disini saat kami ngobrol dengan orang tuanya, kata orang tuanya anak tersebut saat terapi semuanya baik-baik saja, hanya saja dalam bahasanya yg lambat, dan melakukan sesuatu dengan kehendaknya sendiri.

Saat kami observasi, ternyata anak tersebut tahapan bahasanya masih di umur 1 tahun, dan sosial emosionalnya juga umur 1 tahun, disini yg menjadi kegalauan saya, anak tersebut memang saat diajak melakukan kegiatan tidak mau, dia lebih memilih mengamati teman-temannya yg lain, dan terkadang malah kami merasa anak tersebut terabaikan saat kami fokus ke yang lain, hehe..

Menurut pengalaman pak Yanuar gimana? Mohon pencerahannya

Narasumber : Kelas playgrup ya bu

Bu Hani‘ : Iya, anak usia 3-4 tahun
Narasumber : Kalau menurut saya anak perlu mendapatkan therapy tambahan untuk mengejar ketertinggalannya dan harus intensif. Bisa dilakukan di jam luar sekolah. Kalau sekolah memiliki layanan individual, anak bisa diberikan program individual yang dibuat dari hasil observasi ibu. Layanan individual, pembelajaran di lakukan secara satu guru satu siswa dan program yang berbeda dengan teman-temannya. Orang tua juga harus dilibatkan untuk program yang akan diberikan kepada siswa.

Bu Hani’ : Apakah yg seperti ini perlu pendampingan khusus?

Narasumber : Anaknya melukai teman-teman lainnya apa tidak bu? apakah suka tiba-tiba marah di kelas juga dan menangis

Bu Hani’ UH: Untuk melukai temannya tidak pak, cuman terkadang kalau ada temannya yg menggoda, dan dia merasa tdk nyaman baru teriak2 tp tidak sampai melukai temannya. Jadi dia marah kalau memang ada sebabnya.

Bu Hani’ : Berarti ini juga perlu shadow teacher ya pak?

Narasumber : Iya bu. untuk mengarahkan perilaku dan stimulasi ketertinggalannya.

Kalimat Penutup dari Narasumber : Terimakasih teman-teman KGB Rembang. Sekolah inklusi memang penuh keragaman. Kita sebagai guru didorong untuk  bisa selalu belajar dengan hal hal yang baru di sekitar kita. Bisa perilaku anak anak, atau model pembelajaran yang akan kita berikan ke anak anak. Manajemen kelas itu penting dikarenakan bisa meningkatkan waktu belajar anak anak.

Proses memang membutuhkan waktu dan kita harus sabar. Mendorong orang tua juga agar bisa sabar dan konsisten untuk anak anaknya. Jangan sungkan untuk menasehati orang tua, dikarenakan itu bagian dari support anak anak kita

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: