Mengembangkan Bakat Murid saat Pembelajaran di Masa Pandemi Melalui Asesmen Diagnosis

Bingung bagaimana memfasilitasi bakat murid saat pembelajaran di masa pandemi? Sulit menemukan wadah untuk menyalurkan bakat dan minat mereka? Padahal murid sudah sangat jenuh belajar dari rumah. Tidak ada lagi kegiatan semacam ekstrakulikuler yang dapat mereka ikuti seperti saat PTM (Pembelajaran Tatap Muka). Mungkin hal ini yang sekarang masih membuat Bapak dan Ibu guru bimbang. Tenang Bapak Ibu, karena pada tulisan kali ini kita akan membahas kisah dari guru belajar yang mengalami kasus serupa namun bisa menanganinya melalui asesmen diagnosis. Benar, melalui asesmen diagnosis guru ini mampu menghadirkan pembelajaran yang bisa mengembangkan bakat murid di saat pembelajaran di masa pandemi.

Mengembangkan bakat murid saat pembelajaran di masa pandemi melalui asesmen diagnosis

Guru ini bernama Bu Fitriana. Bu Fitriana merupakan guru di SDN Tugu Utara 05 sekaligus menjadi anggota Komunitas Guru Belajar (KGB) Jakarta Selatan. Sejak diberlakukannya PJJ dibarengi munculnya kebijakan Asesmen Nasional (AN) dalam bentuk survei karakter, survei lingkungan belajar, dan asesmen kompetensi minimum menuntun Bu Fitri untuk mencari informasi dan bergerak mengikuti perkembangan mengenai hal yang masih dianggapnya baru tersebut. Bu Fitri banyak mengikuti kegiatan webinar seperti Wardah Inspiring Teacher (WIT) 2020. Dari kegiatan ini Bu Fitri belajar mengenai empati kepada murid. Tak berselang lama, Bu Fitri juga mengikuti Seri Guru Belajar yang diadakan oleh Kemendikbud. Dari sini Bu Fitri belajar tentang Asesmen Nasional, macam-macam asesmen dan cara menindaklanjutinya. Selain itu Bu Fitri juga mendapat pemahaman tentang kegiatan pembelajaran yang mempertimbangkan kondisi murid (tidak memberatkan murid) dengan menghadirkan pembelajaran yang lebih variatif, inovatif, dan kreatif agar potensi murid dapat dioptimalkan.

Sebelum melaksanakan pembelajaran, Bu Fitri melakukan asesmen diagnosis guna menggali informasi terkait kondisi murid-muridnya. Informasi tersebut Bu Fitri jaring dengan menyebar kuesioner kesiapan belajar kelas VI-A dalam Google Form. Hasil kuesioner menunjukkan bahwa orangtua murid dominan bekerja sebagai buruh. Selain itu, Bu Fitri juga tahu keberagaman hobi murid, mulai dari futsal hingga menari. Data menunjukkan jika 50% muridnya sudah menggunakan gawai milik sendiri. Untuk hambatan saat pembelajaran di masa pandemi, murid Bu Fitri sebagian besar mengeluh akan bosannya belajar dari rumah, keterbatasan kuota, gangguan jaringan atau sinyal, dan merepotkan orang tua karena tidak bisa terus mendampingi mereka.

Dari hasil asesmen diagnosis tersebut, Bu Fitri memulai pembelajaran dengan kegiatan proyek perkenalan diri. Dimulai dengan murid mengenal Bu Fitri melalui media sosialnya, kemudian murid diminta untuk menyimpulkan tentang Bu Fitri. Proyek ini cukup ampuh untuk membuat murid mengenal dan dekat dengan Bu Fitri. Bu Fitri juga memberikan opsi pada pengumpulan tugas, bisa berbentuk mind map, video, atau voice note. Dari kegiatan tersebut, Bu Fitri memberi kesempatan murid mengembangkan bakat-nya.

Baca juga: Implementasi Asesmen Diagnosis untuk Membangun Disiplin Murid

Di luar pembelajaran, murid-murid juga mengalami kejenuhan karena tidak bisa menyalurkan bakat dan minatnya di kegiatan ekskul ataupun kegiatan memperingati hari besar nasional seperti saat PTM dulu. Dengan melihat data hasil asesmen diagnosis yang menunjukkan bahwa 50% muridnya menggunakan gawai sendiri, Bu Fitri berencana untuk membuat panggung virtual dengan memanfaatkan aplikasi Stream Yard, Zoom, dan YouTube sebagai medianya. Bu Fitri mengajak teman-teman guru berdiskusi membahas peringatan HUT RI  dengan menyelenggarakan lomba-lomba secara virtual. Mulai dari jenis lomba, teknis lomba, sistem penilaian dan hadiahnya diusahakan persis seperti saat pandemi belum datang. Contoh lomba yang berhasil diselenggarakan dapat ditonton melalui tautan berikut: https://youtu.be/1y-q4d1HqX8 

Namun setelah melakukan refleksi, Bu Fitri merasa kegiatan tersebut belum sepenuhnya dapat memaksimalkan potensi dan minat bakat murid. Bu Fitri mulai melibatkan orangtua murid dengan mengajak mereka berdiskusi. Bu Fitri sadar bahwa peran orangtua sangat besar dalam membantu murid menampilkan unjuk kreasi mereka.  Oleh karena itu, saat Hari Guru, Bu Fitri dan teman-teman guru mengadakan kegiatan lagi berupa pentas seni dan penampilan terbaik dari tiap kelas. Kegiatan dapat dilihat melalui tautan berikut: https://youtu.be/AMf05WTBESs. Namun setelah melakukan refleksi kembali, ternyata masih ditemukan beberapa hambatan seperti h beberapa murid yang tampil dari setiap kelas, kendala sinyal, dan kuota internet. 

Pantang menyerah, demi mengembangkan bakat murid, Bu Fitri dan teman-teman guru di sekolahnya kembali memanfaatkan momen yang pas yakni ketika Isra Mikraj sebagai wadah menyalurkan bakat dan minat murid-muridnya. Berbekal refleksi sebelumnya, Bu Fitri kembali mengadakan kegiatan pentas seni dengan menambah tema dan pengisi acara dalam kegiatan tersebut. Kegiatan dapat dilihat melalui tautan berikut: https://youtu.be/H54Ui-SLuHw  Dan Bu Fitri tidak menyangka banyak yang mengirim video dari tiap kelas. Artinya banyak yang ingin tampil di pentas seni virtual. Mereka sangat antusias menyaksikan penampilan teman-temannya melalui YouTube. Mereka juga tidak sabar menanti penampilan mereka ditayangkan. Murid-murid menyaksikan kegiatan tersebut hingga akhir tanpa takut kuota mereka habis.

Nah, bagaimana Bapak Ibu guru, apakah cerita inspiratif di atas sudah cukup menghilangkan kebingungan Bapak dan Ibu? Atau Bapak Ibu masih ingin mendapat cerita-cerita inspiratif lainnya? Yuk langsung aja daftar di Temu Pendidik Nusantara (TPN) VIII dengan tema Merayakan Asesmen, Mendesain Ekosistem Merdeka Belajar yang akan diselenggarakan pada 20-21 November 2021. Di sini Bapak Ibu akan mendapat inspirasi dari #1000Pembicara lho!

Langsung aja klik tpn.gurubelajar.org

Sumber: Surat Kabar Guru Belajar No.28 

About the Author

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: