Mengenal Asesmen Nasional Lebih Dekat

Sebenarnya apa sih, AN dan AKM itu?
Apakah Asesmen Nasional adalah UN versi baru atau justru ada sesuatu yang benar-benar baru dan belum banyak kita tahu?
Mari mengenal Asesmen Nasional lebih dekat.

Asesmen Nasional dan AKM sedang naik daun di Indonesia. Sejumlah persiapan telah dilakukan sekolah. Meskipun ramai diperbincangkan, tapi nyatanya masih ada miskonsepsi AN & AKM yang berkembang. Loh, kok bisa ya?
Apa urgensi keduanya dan strategi apa yang harus dipersiapkan sekolah?

KGB Jakarta Timur dengan bangga mempersembahkan Temu Pendidik Daerah (TPD) ke-21 yang dilaksanakan pada hari Jumat, 2 April 2021 pukul 19.30-21.00 WIB. Acara ini dilaksanakan secara live di kanal Youtube KGB Jakarta Timur. Mengangkat topik Mengenal Asesmen Nasional (AN). TPD kali ini dipandu oleh Ibu Fitria Juwita Santi, S.Pd dari SDN Rawamangun 12 Pagi selaku moderator dan Pak Ari Wibowo dari Yayasan Guru Belajar selaku pembicara. Harapannya apa yang dibahas di TPD kali ini bisa jadi pencerahan sekaligus kesempatan belajar bareng untuk teman-teman pendidik yang masih bingung mempersiapkan AN. 

Acara dibuka dengan doa oleh Pak Tohirin dari SMA PB Soedirman Jakarta lalu dilanjutkan sambutan dari Ketua KGB Jakarta Timur, Ibu Ida Widaningsih dari SMPN 160 Jakarta. Bu Ida selaku ketua juga menyampaikan beberapa hal, mulai dari Program Guru Merdeka Belajar yang kini dialihkan ke KGB daerah, lalu program TPD sebagai agenda rutin yang diadakan setiap bulannya, dan juga keterbukaan KGB Jakarta Timur untuk menerima masukan terkait program KGB ke depannya.

Mengawali pemaparannya saat itu, Pak Ari Wibowo dari Yayasan Guru Belajar mengajak semua peserta TPD merefleksikan pengalaman tentang ujian. Menurutnya, ini jadi bagian penting juga dalam pembahasan mengenal Asesmen Nasional. Refleksi dimaksudkan sebagai pemantik dalam asesmen awal untuk mengetahui kebutuhan belajar yang dalam konteks ini adalah mengenal Asesmen Nasional. Momen ini langsung disambut baik oleh peserta yang hadir. Terlihat dari beberapa komentar di kolom chat, salah satunya dari Pak Fandi Karami.

“tergantung. Kalo mata pelajaran yang dikuasai yang A, kalo gak yang B”.

 Beliau juga menambahkan lagi komentarnya.

“datang, kerjakan, lupakan“

Komentar tersebut seakan memperkuat gambaran ujian yang mungkin Pak Fandi rasakan dulu. Ada juga komentar senada dari peserta lain yaitu dari Bu Wiwit.

“ B B B B masa sekolah dulu Pak Ari, tapi masih ada juga zaman sekarang “

Seakan memahami perasaan peserta, Pak Ari langsung memberikan penguatan dengan melanjutkan pemaparannya dan mengajak peserta untuk flashback ke masa pendidikan di zaman abad 20.

Pendidikan saat itu jauh dari kata merdeka. Tidak banyak guru saat itu yang menghadirkan pengalaman belajar yang bermakna. Selain itu, ada banyak salah kaprah atau miskonsepsi dalam proses belajar, pembelajaran dilakukan hanya dengan satu cara, dan tidak heran akhirnya banyak murid tidak suka belajar

UN Dihapus?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut,  Pak Ari membagikan beberapa fakta berupa hasil riset, diantaranya :

1.  Tahun 2014, tagar #TolakUN jadi salah satu aksi yang mengawali perubahan saat ini. Gerakan beberapa tahun lalu ini jadi saksi betapa tidak adilnya UN untuk Pendidikan Indonesia. Pak Ari kemudian mengajak peserta mengingat kembali analogi yang dibuat Albert Einstein tentang Sistem Pendidikan. Einstein menggambarkan ketidakadilan dimana hanya ada satu ujian yang digunakan untuk individu yang beragam. Analogi ini tentu bisa dikaitkan dengan gambaran ketidakadilan UN untuk murid di Indonesia saat itu.

2.  Riset dari Smeru.or.id melalui rise program yang dilakukan selama 4 tahun ( 2000-2014). Dari riset ini disimpulkan bahwa banyak anak pergi ke sekolah tetapi tidak belajar dilihat dari skor awal yang rendah, sedikitnya peningkatan kompetensi murid antar jenjang kelas, dan menurunnya capaian belajar murid selama 4 tahun. Hasil riset ini tentunya semakin meyakinkan pendidik bahwa keadaan Pendidikan Indonesia saat itu memang tidak baik-baik saja.

3.  Hasil Skor PISA Indonesia mengalami penurunan, terkonfirmasi dari hasil UN selama 5 tahun terakhir. Kebanyakan murid bisa membaca tetapi belum bisa memahami makna apa yang dibacanya.

Hasil riset ini menyimpulkan bahwa UN tidak sesuai dengan kebutuhan murid karena terbukti hanya berfokus pada konten kurikulum bukan berfokus pada kebutuhan belajar murid. Murid tidak mendapatkan proses pengalaman belajar yang bermakna dan belum dipersiapkan untuk menghadapi real life. Saat UN masih diwajibkan, bisa dikatakan bahwa UN adalah tujuan belajar dan kini AN menghadirkan solusi salah kaprah ini.

Menurut Pak Ari, guru yang merdeka belajar harus tahu mulai dari mana. Jika dulu terjebak miskonsepsi, sekarang belajar lagi mana yang harus diperbaiki. Misalnya saja mulai melibatkan murid dalam membuat kesepakatan kelas, merancang pembelajaran yang berpihak dan mengakomodasi kebutuhan murid, dan melakukan berbagai cara untuk melakukan penilaian yang menggambarkan proses serta hasil belajar murid.

Tentang AN dan AKM

Lalu, apakah AN sama dengan UN? Pak Ari mengajak peserta flashback kembali. Dulu saat UN menentukan kelulusan murid, pastinya semua merasakan ada ritual tersendiri. Bahkan, ada yang mengambil jalan pintas dan menghalalkan segala cara demi kelulusan murid. Kini, mari  memahami AN dengan cara baru.

Perbedaan Ujian Nasional dan Asesmen Nasional

Penetapan AN memiliki beberapa perbedaan yang mencolok dengan UN, seperti:

1.  AN bukan sebagai penentu kelulusan murid

2.  Hasil AN digunakan sebagai informasi tentang pemetaan kemampuan murid dan sekolah.

3.  AN meliputi 3 instrumen, yaitu : AKM, Survei Karakter, dan Survei Lingkungan belajar.

Nah, hubungan antara AKM dan AN dimulai dari sini. AKM adalah salah satu dari aspek penilaian AN. AKM menekankan pada literasi dan numerasi. Lalu mengapa minimum? karena harapannya setelah menempuh pendidikan di sekolah, murid bisa menjadi problem solver di kehidupan nyata. Selain AKM ada juga Survei Karakter. Instrumen ini mengukur karakter yang diperoleh murid selama proses pembelajaran yang telah dialami di sekolah. Maksudnya, melalui instrumen ini murid bisa merefleksikan pengalaman dari sikap-sikap yang berwawasan Pancasila. 

Baca Juga: Siap AN, Siap Berubah?

Sementara Survei Lingkungan Belajar memotret lingkungan sosial murid. Dimulai dari lingkungan di rumah yang menekankan kembali pentingnya pembentukan karakter anak, guru yang membentuk proses belajar murid agar bermakna, serta kepala sekolah yang kini tidak lagi hanya jadi pemimpin sekolah melainkan terlibat dalam proses belajar guru bersama murid.

Mengapa hanya di level/kelas tertentu?

Untuk AKM, memang dilaksanakan hanya di kelas 5,8, dan 11. Tujuannya agar ada umpan balik untuk perbaikan. Mulai dari perubahan cara, berbagai inovasi, praktik baik,dan lainnya. Lalu di tengah pemaparan, salah satu peserta bertanya.

“ AKM perlu les ya pak ? “

Tidak seperti UN yang menjadi penentu kelulusan, AN hanya mengukur kemampuan murid dengan melibatkan proses belajar bermakna. Jadi, tidak perlu ada persiapan khusus seperti les atau bimbel. Cukup hadirkan proses belajar sepanjang hayat, bukan sepanjang ujian. 

Pak Ari menambahkan bahwa literasi dan numerasi bukan lagi hanya tanggung jawab guru-guru tertentu. Semua guru mapel perlu membelajarkan literasi dan numerasi. Tugas mapel harus linier dan simultan mengukur dan mengevaluasinya. Hadirkan pengalaman belajar keduanya di semua mata pelajaran agar murid punya keterampilan yang diharapkan di kehidupan nyata.

Lalu bagaimana dengan sekolah yang sudah mempersiapkan pembahasan soal-soal AKM?

Itu sih, boleh-boleh saja. Bahkan ini bisa dipersiapkan mulai dari kelas rendah. Intinya seperti tanaman. Dimulai dari bibit lalu tumbuh. Begitupun dengan persiapan AN. Pastikan guru tetap menumbuhkan semangat dan motivasi internal murid. Menjadikan belajar sebagai kebutuhan yang alamiah. Pak Ari menambahkan, bagi yang ingin mempelajari model soal AKM, bisa mengunjungi website Pusmenjar.

Namun, perjalanan mempersiapkan AN bukan tanpa tantangan. Apalagi populasi kelas yang beragam, Sementara untuk soal AKM saja dibutuhkan kemampuan menalar. Di awal memang terlihat sulit, tapi ala bisa karena terbiasa. Mulai dari mempersiapkan pembelajaran yang adaptif dan mengikuti tahapan proses belajar. Hasil AKM pun bukan berupa perbandingan skor melainkan dilaporkan dalam bentuk tingkatan dimulai dari perlu level Intervensi, Dasar, Cukup, dan Mahir. Setiap tahunnya akan dievaluasi dari hasil sebelumnya.

Pak Ari juga memberikan contoh praktik baiknya selama mengajar. Beliau berusaha mengakomodir kebutuhan murid yang beragam. Menurutnya, disinilah pentingnya memahami kondisi murid. Pemahaman ini akan digunakan untuk merancang proses pembelajaran lalu digunakan untuk merefleksikan kemampuan yang telah dicapai. Jadi, proses ini akan menerapkan diferensiasi konsep, konteks, dan produk yang dihasilkan.

Kita percaya bahwa murid punya cara belajar yang berbeda. Maka kita perlu memberi kesempatan kepada murid mencari sumber belajar, mempraktekkan aksinya, dan menghasilkan produk sebagai upaya pemecahan masalah.

Siap AKM, siap berubah. Adaptif dan transformatif.

Ingin lebih siap menghadapi AN?
Yuk ikuti program Siap AN, Siap Berubah
Klik tombol di bawah ini

About the Author

One thought on “Mengenal Asesmen Nasional Lebih Dekat”

Leave a Reply

%d bloggers like this: