Menjadi Guru Merdeka Belajar

Penulis : Achmad Junaedi | 27 Sep, 2020 | Kategori: Merdeka Belajar

Apa yang terlintas di benak, saat kita mendengar istilah guru merdeka belajar? Mengapa harus menjadi guru merdeka belajar? Murid memiliki potensi yang luar biasa. Setiap murid memiliki cita-cita setinggi langit. Akan tetapi murid tidak bisa mengoptimalkan potensinya jika guru tidak memberikan pembelajaran yang bermakna untuk mereka. Potensi tersebut akan sulit berkembang jika siswa tidak memiliki kemerdekaan belajar.  Namun kemerdekaan belajar murid hanya bisa terjadi jika kita sebagai pendidik memiliki kemerdekaan dalam belajar. Sudahkah kita berefleksi terhadap diri sendiri, “Sudahkah aku menjadi guru yang merdeka?”.

Untuk mendukung tujuan di atas, tim pengurus Komunitas Guru Belajar Nusantara (KGBN) Daerah Sidoarjo mengajak guru-guru Sidoarjo untuk bergabung belajar bersama menjadi guru merdeka belajar, untuk mengikuti kegiatan webinar bertajuk nonton bareng. Pada masa pandemi saat ini, kegiatan ini dilaksanakan secara daring melalui dari melalui aplikasi Zoom yang dilaksanakan pada tanggal pada tanggal 13 September 2020, pukul 19:00 WIB. Acara dibuka oleh MC yang super cool oleh Pak Hose dan Bu Mega dari pengurus KGBN daerah Sidoarjo dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Pak Hose dan Bu Mega menyapa para peserta dengan penuh semangat. Kegiatan ini dihadiri oleh kurang lebih 40 peserta.

Menginjak ke acara inti, acara yang paling ditunggu-tunggu yaitu Nonton Bareng (Nobar) guru merdeka belajar. Sebelum Nobar dimulai, Moderator memberikan pertanyaan reflektif. Untuk apa hal tersebut diberikan di awal? Agar peserta bisa menghayati apakah selama ini sudah menjadi guru yang merdeka apa belum. Dengan adanya pertanyaan reflektif peserta diharapkan dapat lebih menghayati makna merdeka belajar. Acara sempat terganggu karena ada masalah teknis jaringan internet. Alhamdulillah masalah tersebut dapat ditanggulangi dengan baik, bu Inka dan bu Nisrin selaku moderator langsung sigap mengendalikan acara.   

Pembicara dalam video tersebut adalah ibu Najelaa Shihab atau yang akrab dipanggil bu Elaa. Beliau adalah pemerhati dan pakar pendidikan yang aktif baik dari forum-forum dalam lingkup nasional maupun internasional. Beliau merupakan pendiri Sekolah Cikal, yang mana lembaga tersebut telah membuat serangkaian program pelatihan guru yang bertemakan Merdeka Belajar. Pelatihannya pun sudah dilakukan sejak 2015 hingga saat ini. “Pendidikan adalah belajar, bergerak, dan bermakna, pendidik adalah kita, semua murid semua guru”, (Najelaa Shihab). Atas gagasan itulah beliau bergerak cepat, membuat gerakan bersama dengan guru untuk pendidikan Indonesia yang merdeka dengan menginisiasi berdirinya Komunitas Guru Belajar Nusantara (KGBN).

Dalam Nonton Bareng (Nobar) video merdeka belajar, Bu Elaa juga menyampaikan adanya miskonsepsi guru dalam belajar, untuk itu itu kita perlu melawan miskonsepsi tentang proses guru merdeka belajar, miskonsepsi tersebut yaitu: 

  1. Belajar perlu insentif eksternal X belajar adalah kebutuhan alamiah. Belajar tidak menunggu adanya insentif dulu atau menunggu janji jabatan baru mau belajar.
  2. Belajar harus dari ahli X belajar dari sesama guru. Banyak yang bilang belajar itu harus dari seorang ahli, pengisi materi harus memiliki jabatan di atas guru. Di Komunitas Guru Belajar dibuktikan, bahwa belajar yang paling efektif adalah belajar dari guru sendiri yang saling berbagi praktik baik dalam pembelajaran.
  3. Belajar cukup terbatas “how to” X belajar dengan tujuan dalam konteks. Banyak yang tidak mau ribet dalam mengajar.  Guru yang profesional harusnya bisa menyesuaikan diri dengan konteks di lapangan seperti apa.
  4. Kompetensi bersifat individual X kompetensi tumbuh bersama lingkungan. Masalah Pendidikan di lapangan sangat kompleks, tidak cukup jika hanya meningkatkan kompetensi secara individual. Guru juga perlu sebuah ekosistem atau lingkungan yang mendukung. 
download rpp merdeka belajar

Setelah selesai pemutaran video, Moderator membuka sesi diskusi dari pertanyaan yang sudah diberikan di awal sebelumnya. Pertanyaan (1) diantara semua miskonsepsi tadi, mana yang paling menggambarkan diri anda? Salah satu peserta memberikan pendapat yang cukup menarik.

Menurut pak Imam Muddin, “Saya menggambarkan diri saya sendiri sebagai seorang guru yang masih tertatih tatih dan masih terbelenggu cara-cara lama dan tersibukkan administrasi, saya belajar masih diburu waktu, diburu harus selesai menyampaikan materi dalam target sebentar”.

Peserta lainnya juga memberikan tanggapan. Menurut bu Sari Novita, “Selama ini, saya ngajar ya seperti itu, menyodorkan ilmu, memberi soal, menilai, mengisi rapot”. Pak Imam Mudin dan bu Sari Novita menyampaikan bahwa selama ini mereka belum merasa menjadi guru yang belum merdeka, waktu beliau mengajar banyak dihabiskan untuk mengejar target materi, menyiapkan ujian dan tuntutan administrasi. 

Pertanyaan (2)  Sebagai guru merdeka belajar, perubahan apa yang ingin anda lakukan di kelas? Beberapa peserta memberikan tanggapan yang sangat reflektif.

Menurut bu Sri Supartini “Menjadi teman bagi murid saya, sehingga mereka nyaman untuk belajar”. Bu Siti Agustini juga menanggapi, “Semua guru harus selalu belajar menjadi guru profesional yang bisa beradaptasi dengan anak didik dan dapat mengantarkannya mencapai kesuksesan”.

Bu Sri Supartini dan bu Siti Agustini sepakat bahwa untuk melakukan perubahan dalam kelas guru harus bisa menjadi teman yang baik buat siswa dan untuk menjadi guru yang profesional guru harus bisa adaptif atau menyesuaikan diri terhadap perubahan. 

Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon

Pertanyaan terakhir yaitu sebagai guru merdeka belajar, pengembangan diri apa yang ingin anda lakukan bersama Komunitas Guru Belajar Nusantara (KGBN) Daerah Sidoarjo?

Banyak peserta yang antusias untuk tergabung dalam KGBN daerah Sidoarjo, untuk bisa mengembangkan diri menjadi guru merdeka belajar. Menurut bu Ni Nyoman Sri Widanti, “saya ingin ikut segala bentuk pengembangan diri yang diberikan KGBN khususnya di Sidoarjo, praktek di lembaga, dan mengajak teman-teman guru lain untuk ikut belajar bersama”. Peserta yang lainnya juga tidak mau kalah dalam memberikan tanggapan. Menurut bu Nani, “terlalu banyak aplikasi untuk merdeka belajar, tapi tidak dipakai, jadi mencoba secara perlahan melakukannya sendiri sambil belajar di KGB, bertemu kawan-kawan yang seide, menjadi lebih semangat untuk mentransfer ilmu pada teman-teman”. 

Menjadi guru yang merdeka belajar, guru butuh lebih banyak waktu untuk memahami siswa, merancang pembelajaran yang adaptif sesuai dengan karakteristik siswa, butuh dukungan oleh ekosistem yang baik. Akan tetapi hal tersebut terhambat karena adanya miskonsepsi Dari sekian peserta yang mengikuti kegiatan nonton bareng, mereka menjadi terdorong untuk menjadi guru yang merdeka dan ingin ikut bergerak untuk membangun ekosistem belajar bersama Komunitas Guru Belajar Nusantara Daerah Sidoarjo dan ingin mengajak teman guru untuk tergerak.

Acara kemudian diserahkan moderator ke MC untuk menutup acara. Sebelum penutupan acara, pak Hose dan bu Mega selaku MC meminta peserta mengaktifkan kamera untuk sesi foto bersama. Seluruh peserta dan panitia acara memakai dresscode merah, pilihan tema warna merah dipilih karena mewakili makna merdeka. Acara kemudian ditutup dengan doa dengan penuh hikmat oleh pak Hose.

Ingin mengikuti Program Guru Merdeka Belajar?
klik tombol di bawah ini

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: