Merancang Pembelajaran yang Bermakna

Penulis : rizqy | 16 Mar, 2019 | Kategori: Liputan Guru Belajar, Temu Pendidik Daerah

Moderator : Abdurakhman Hardiyanto (Unikal – KGB Pekalongan)
Narasumber : Rizqy Rahmat Hani (Kampus Guru Cikal – KGB Pekalongan)

Rizqy : Three Idiots adalah salah satu film favoritku, ada sebuah adegan yang membuatku terinspirsi yaitu adegan  Pia, dan teman-temannya sedang mencari Rancho yang lama telah menghilang. Setelah mencari ke bebrapa tempat, akhirnya mereka sampai  di sebuah sekolah. Ketika mereka turun, yang mereka lihat pertama adalah seorang anak dengan sebuah mesin sederhana mencampurkan bahan-bahan membuat kue, kemudian mata mereka tertuju kepada seorang anak yang memutar pedal sepeda sebagai daya pencukur  bulu domba, dan di samping mereka ada dinding sekolah yang nerwarna-warni.

Adegan itulah yang membuat pandanganku mengenai pendidikan berubah. Suara jangkrik malam itu menemaniku yang sedang mempersiapkan materi ajar untuk esok hari. Aku  buka-buka lagi buku kuliahku tentang karya ilmiah. Aku buka-buka lagi Karya ilmiah yang pernah aku buat dan kirimkan untuk lomba sewaktu aku kuliah.

“Baiklah, besok aku akan menjelaskan tentang apa itu karya ilmiah dan bagian-bagiannya.

Keesokan harinya, karena sudah mempersiapkannya, aku dengan kepercayaan diri masuk ke kelas. Langsung kubagikan karya ilmiah yang pernah kubuat kepada anak-anak. Kemudian kutulis sebuah kalimat di papan tulis.

“Apa itu karya ilmiah?”

Sengaja kutulis besar agar bisa terlihat oleh siswa yangpaling belakang.

“Halo, nah coba Kalian baca sebentar mengenai karya ilmiah yang bapak berikan ya?”

“Bapak beri waktu 5 menit untuk kemudian setiap anak wajib memaparkan pengertian seperti yang diketahuinya. Nanti jawaban yang paling keren Bapak kasih hadiah”.

Saya yakin dengan hadiah anak akan lebih aktif, lebih senang belajar.

Semua tampak senang dan berlomba-lomba menemukan arti dari karya ilmiah. Aku tersenyum karena merasa sudah menjadi guru yang keren, yang membuat anak-anak senang belajar. Belum ada lima menit ada seorang anak yang maju dan menuliskan jawaban di papan tulis. Dilanjutkan anak-anak yang lainnya. Dan semua antusias menuliskannya di papan tulis “pengertian dari karya ilmiah’.

“Terima kasih, jawaban Kalian keren-keren!”

Kemudian dari jawaban-jawaban tersebut, akhirnya kami saring menjadi jawaban yang paling benar.

“Sekarang coba ada yang bisa menuliskan bagian karya ilmiah apa saja?”

Semua diam. Kelas menjadi hening.

Aku melupakan sesuatu. Hadiah.

Maka dengan cekatan, aku langsung menawari hadiah kepada anak-anak.

“Ehmm, kali ini bapak punya sesuatu bagi yang mau menyebutkan”

Belum ada beberapa menit, seorang anak berdiri dan menyebutkan apa yang aku perintahkan.

“Latar belakang, rumusan masalah, …. metode penelitian …, pembahasan… daftar pustaka” jawab saah satu siswa.

Hari itu aku sangat yakin, kalau metodeku ini adalah metode keren. Anak-anak pasti bisa menjawab soal Ujian Nasional dengan baik.

-Itulah yang aku lakukan 3 tahun di awal-awal menjadi guru. Mengajarkan anak menghafal. Senang, karena saat ulangan, anak-anak berhasil menjawab soal-soal pilihan ganda yang memuat materi-materi tersebut. Senang  karena nilai anak-anak selalu bagus di pelajaran Bahasa Indonesia yang artinya aku sebagai guru berhasil dan pastinya akan dipandang oleh pihak sekolah.

Pemahamanku waktu itu mengenai sekolah adalah tempat mendapatkan nilai.

Sampai akhirnya suatu hari saat tidak sengaja membaca tulisan siswaku. Bahwa selepas pulang sekolah, ia sering membantu ayahnya membuat batu bata. Maka ia tak suka jika gurunya memberikan PR, yang itu artinya ia harus meninggalkan bapaknya sendirian bekerja.

Kejadian itu yang membuat aku merenung.

“Apa benar, sekolah hanya mengejar nilai?” “Lalu mendapat ijazah”

“Apa benar nilai-nilai di ijazah itu akan berguna bagi kehidupan mereka”

Aku mulai merasa bahwa apa yang aku lakukan selama ini menjadi guru salah. Guru yang masih berorientasi nilai, guru yang tidak memperhatikan siswa yang diajarnya, guru yang tidak melibatkan siswa.

“Bukan pengertian Karya Ilmiah yang siswa butuhkan”

“Bukan mengetahui bagian-bagian Karya Ilmiah yang siswa butuhkan”

“Lebih dari itu. Siswa Harus tahu bahwa ada sesuatu yang bisa dilakukan dari karya ilmiah bagi kehidupannya”

Aku mencoba berefleksi dari kejadian di atas. Mencoba menjadi guru yang lebih baik. Karena aku sadar, bahwa menjadi guru adalah perjalanan, tidak ada garis finisnya. Perjalananya adalah proses belajarnya.


Di tahun berikutnya, aku mencoba mengubah konsep pembelajaran Karya Ilmiah. Kali ini mencoba melibatkan anak dalam prosesnya.

“Di sekolah ada tempat-tempat apa aja sih?” tanyaku di depan kelas.

“Toilet Pak”

“Tempat Parkir Pak”

“Ruang Guru”

“Hutan sekolah”

“Musala”

“Kantin”

Daftar tempat yang disebutkan siswa aku tulis di papan tulis, kemudian aku meminta siswa untuk mengurutkan tempat-tempat tersebut jika dilalui mulai dari ruang kelas dan kembali lagi ke ruang kelasnya. Akhirnya didapatkan rute untuk penjelajahan sekolah.

“Jika kita seorang detektif yang mau meneliti tempat di sekolah, apa aja yang akan Kalian teliti?”

“Kegunaanya Pak?”

“Maksudnya Kegunaanya” tanyaku

“Misalnya Perpustakaan Pak, perpustakaan pada dasarnya adalah tempat baca, jika digunakan untuk tempat mengobrol, tempat menonton televisi kan tidak digunakan semestinya”

“Yang lain?” tanyaku lagi.

“Kelengkapan Pak”

“Apa lagi itu?”

“Di tempat parkir misalnya Pak, sering terjadi pencurian helm. Itu karena CCTV yang belum ada Pak”

Dari obrolan reflektif itu akhirnya kami mendapatkan rubrik-rubrik yang akan diteliti. Rubrik-rubrik tersebut yang akan digunakan siswa untuk melakukan penjelajahan sekolah secara berkelompok.

Penjelajahan Sekolah pun berlangsung. Saat penjelajahan sekolah ada banyak diskusi di setiap kelompok. Misalnya saat di Perpustakaan, ada kelompok yang mendiskusikan penempatan kursi Perpustakaan yang masih kurang, hingga mendiskusikan peminjaman buku yang belum maksimal dilakukan, masih banyak siswa yang tidak mengembalikan buku.

Kelompok lain saat melewati musala dan mengamati seorang guru yang berwudhu, mereka melihat banyak air wudhu yang terbuang sia-sia saat guru tersebut berwudhu.

Lainnya melihat banyak tanaman yang mati di hutan sekolah dan tanaman yang berada di pot depan kelas.

Dan masih banyak masalah yang mereka temui. (Padahal tiap hari mereka lewati, dan baru sadar setelah menjelajahi sekolah dengan rubrik).

Sesampainya di kelas, akhirnya kami mendata bersama permasalahan yang ditemukan di sekolah. Dari permasalahan yang sudah didata, akhirnya kami sekelas mencoba mem-brainstroming ide-ide kami.

“Saya yakin, Kalian adalah orang-orang keren di masa depan. Nah jika kalian mendapati masalah seperti ini (sambil menunjuk papan tulis) apa yang akan Kalian lakukan, ayo berikan kontribusi Kalian!” tantangku di depan kelas.

“Saya akan mencoba membuat sistem barcode untuk perpustakaan Pak, agar peminjaman buku semakin mudah”

“Aku akan mencoba meneliti, kenapa masih banyak anak pergi ke Kantin daripada ke Perpustakaan Pak saat jam kosong dan istirahat”

“Aku akan mencoba membuat alat agar tumbuhan-tumbuhan di hutan sekolah atau depan kelas tidak layu Pak”

Ide-ide yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Ide-ide yang sangat dekat dengan siswa, yang berasal dari masalah yang ada di sekitar. Dari situlah kemudian aku masuk ke materi karya ilmiah.

“Tadi ada yang akan membuat, meneliti, mengobservasi. Apakah hasil penelitiannya, observasinya atau yang dibuatnya ditulis sembarangan?, atau ada cara khusus? Ada yang tahu?”

“Seperti cerpen Pak, ada alurnya” “Seperti nulis berita Pak, 5W + 1H”

“Benar jawaban kalian, ada alurnya dan ada bagian-bagiannya seperti berita”

Dari situlah kemudian aku masuk ke dalam materi karya ilmiah, sambil anak-anak meneliti. Ada yang benar-benar meneliti jumlah pengunjung perpustakaan, meneliti tanaman, meneliti sampah, hingga meneliti makanan yang ada di kantin, dan ada pula meneliti penggunaan HP di kelas.

Sampai akhirnya aku dibuat terkesima saat hail presentasi karya ilmiah, ada yang membawa selang air dan menjelaskan konsep Penyiram Air Otomatis, ada yang membawa Rokcel (pembuatan Rok sekaligus celana untuk efektivitas perempuan dalam berkendara), ada yang membuat buku elektronik, dan masih banyak ide-ide lainnya yang dibawa anak ke kelas.

Di depan kelas melihat antusiasnya siswa dalam memaparkan idenya dengan mata berbinar, senyum yang mengembang, suara yang lantang dan semangat yang membara membuatku tak bisa berkata-kata.

Mereka melakukan itu bukan karena hadiah, bukan karena takut nilainya jelek, bukan karena paksaan, namun karena kesukaan mereka. Proyek yang dilakukan tidak dipaksakan, dan disesuaikan dengan kesukaan siswa. Sehingga dalam melakukannya pun siswa akan dengan suka rela dan bahagia.

Karena sekolah bukan tempat yang membuat seseorang terasing.

Moderator : Baiklah, terima kasih pak Rizqy untuk materinya. Sekarang saya buka termin bertanya, silakan yang akan bertanya ya!

Najib Ain :  Bagaimanakah keterasingan siswa dalam belajar itu? Apakah siswa belajar tidak sesuai keinginan atau minatnya ataupun gaya belajarnya itu juga bisa membuat siswa terasing? Apakah lingkungan sekolah seperti tembok tinggi gerbang rapat itu bisa membuat siswa terasing dalam belajar? Atau yang bagaimana pak dalam membuat pembelajaran yang bermakna? Karena hakekat belajar bagi pelaku belajar adalah agar tidak tercerabut dan terasing dr akarnya, yaitu masyarakat itu sendiri

Rizqy : Ya Pak Najib aku suka dengan diksi “Agar tidak tercabut dari akarnya.”

Aku coba kasih contoh ya. Waktu itu aku ngajar biografi, tapi aku ngasih contohnya adalah tokoh yang jauh dari mereka. Mereka tahu, sebatas tahu tokoh itu, tapi setelah itu apa yang mereka lakukan?

Kemudian aku refleksi, tokoh-tokoh yang dihadirkan dalam kelas, bukan tokoh yang jauh dan asing bagi murid, tapi yang dekat. Penjual di samping rumahnya, tukang cukur yang setiap pagi dilewatinya. Agar murid-murid pun tidak terasing dengan lingkunya.

Contohnya ini :

Anak belajar meneladani seorang tukang cukur yang disabilitas.

Mereka mengobservasi, memewawancarai, membuat cerita dan kemudian membuat film pendek tentangnya. Setelah itu ada proyek untuk membantu tukang cukur tersebut, jadi pelajaran tidak sampai hanya tahu, tapi berdampak!

Contoh lainnya,  video yang dibuat murid tentang seorang pemulung yang memiliki keterbatasan, namun semangat bekerja.

Jadi tujuannya bukan sekadar mendapat nilai, lebih dari itu…

Kurnia : Untuk mengetahui pembelajaran tersebut bermakna bagi siswa atau tidak,  indikator kebermaknaannya bisa dilihat dari apa saja?

Rizqy : Ada beberapa pertanyaan yang aku gunakan,

1. Apakah pembelajaran tersebut sesuai dengan lingkungan murid?

2. Apakah bisa dikaitkan dengan pengetahuan yang murid punya sebelumnya?

3. Apakah mengakomodir minat murid?

Saat belajar Gurindam banyak dari anak-anak yang tanya, apa sih pentingnya belajar gurindam? Apalagi di zaman sekarang ini. Kemudian saya mencoba bertanya dengan pertanyaan tadi. dari situ saya kemudian mendapatkan bahwa Anak Zaman Now bisa belajar gurindam lewat lagu rap.

Contohnya :

https://www.youtube.com/watch?v=Fwq2wOm0hrM

Kurnia : Caranya,  melalui tanya jawab,  refleksi siswa ataukah dg cara lain seperti evaluasi Mas Rizqy?

Rizqy : Ini tantanganya, bagaimana mengetahui minat, lingkungan murid dan pengetahuan sebelumnya. Aku sering melakukan observasi murid dulu sebelum mengajar. Seperti melakukan beberapa aktivitas observasi, antara lain :

1. 15 menit berbicara (proyek berbicara murid di depan kelas, ngomong apa aja yang mereka suka)

2. Menulis dan mendokumentasikan tentang murid.

Contoh observasi : https://www.youtube.com/watch?v=7y2nbBW_jsk

Murid bisa berbicara apa saja di depan kelas tentang kesukaanya. Jadi sebagai guru akan mengetahui murid yang kita ajar kayak apa.

Kurnia : Untuk observasi yang kedua yaitu menulis dan mendokumentasikan tentang murid, apakah ada contohnya?

Rizqy : Bisa dilihat di sini

https://drive.google.com/file/d/0B_d5htPnE-0AeFEzYXk2aGk2cWc/view?usp=sharing

Setiap awal tahun ajaran, saya mempunyai waktu me time buat anak-anak. Anak-anak saya beri kertas untuk menuliskan apa saja tentang dirinya, keluarganya. Kemudian hasil tulisan saya scan, dan saya simpan untuk mengenali anak lebih dalam

Maman : Jadi inget me time di perusahaan seperti google naikin kreativitas pekerjanya, banyak produk kreatif lahir dari me time

Moderator : Adakah yang ingin bertanya lagi?

Maman : Akhir-akhir ini saya dan rekan-rekan senang sekali mencari beragam ice breaking, games, dan beragam cara belajar yang seru. Apakah setiap pembelajaran yang menyenangkan dan membuat anak tertarik belajar, dapat dipastikan menjadi pembelajaran yang bermakna?

Rizqy : Pertanyaanya mewakili banget. Banyak banget yang gini, yang salah mengerti. Bahwa kalau seneng ya bermakna, ya merdeka. Padahal belum tentu yang rame-rame, seneng-seneng itu bermakna.

Saya pernah ngajar ikut teman saya pakai games, iya sih anak ketawa, anak riang, tapi setelah pembelajaran apa yang didapat? Keriaan iya dapat, tapi relevansi dengan kehidupan mereka apa?

Jadi poinnya adalah Hati hati! Pembelajaran menyenangkan kadang jebakan. Pertanyaanya lagi adalah, kesenangan maunya guru kan ya? Jadi anak tidak dilibatkan, yang penting rame. Kata guru.

Pointnya itu Pak Maman, apakah kita sudah melibatkan murid dalam menentukan tujuan, mennentukan kegiatan belajar? Jika rame-rame itu maunya guru saja, tapi ternyata murid ndak mau? Yang diprioritaskan adalah pembelajaran yang melibatkan murid, saya menyebutnya Merdeka Belajar. Kalau sudah Merdeka Belajar saya rasa murid akan senang, karena diakomodir dan merasa dilibatkan.

Maman : Merdeka belajar itu kebebasan seperti negara kita yang merdeka? Istilah ini sering muncul di KGB, tapi saat Temu Pendidik Nusantara yang lalu saya tidak bisa ikut kelas Merdeka Belajar. Ini sebenarnya apa ya?  Dan apa kaitannya dengan kebermaknaan?

Rizqy : Kita ibaratkan seperti penjajahan, orang yang belum merdeka yang gimana sih?

Yang ngikutin mau penjajah kan? Kelas yang merdeka gimana sih? Yang ndak hanya ngikutin mau guru, mau kurikulum, tapi juga mengakomodir/melibatkan murid dalam menentukan tujuan-cara serta refleksinya Pak. Merdeka itu ya bermakna, karena melibatkan murid.

Moderator : Baiklah nampaknya sesi pertama seruuu banget. Sekarang saya buka sesi yang kedua ya!

Arista : Untuk memulai melakukan perubahan dari pembelajaran sebelumnya diperlukan revolusi mental untuk murid (dan juga guru).Ppertanyaan saya, jika di awal-awal justru terkesan kaku dan aneh, apa yang harus guru lakukan untuk menyiasatinya agar pembelajaran tetap  terasa nyaman untuk siswa & terasa alami tidak dibuat-buat?

Rizqy :  Mengubah sesuatu pun perlu punya alasan. Mengapa kelas saya perlu berubah ya? dan Apa kelas saya sudah bermakna ya? Saya menyebutnya adalah Refleksi, perubahan terjadi karena ada –why– nya

Jika mau berubah gimana memulainya?

Memulai aja dengan sederhana, lakukan pendekatan kepada murid dengan cara-cara yang membuat murid nyaman (tentu cara setiap guru berbeda, karena mengajar murid yang berbeda). Aku dulu memulai dengan mengajak mengobrol murid tentang bola, drama korea, dengan memahami murid yang kita ajar. Dulu saat menjadi guru malah aku lebih parah, menganggap muridku kayak gelas kosong, yang harus diisi sebanyak-banyaknya pengetahuan. Padahal setiap murid sudah memiliki isinya dengan jumlah masing-masing.

Lakukan obrolan ringan tentang materi, analogikan dengan cerita.

Teman saya pak Aye, memiliki metode yaitu dengan tiket bertanya. Murid yang akan belajar pelajaran tertentu, menggunakan sebuah tiket bertanya untuk bisa mengikuti mapel itu….

Arista : Misalnya kasusnya yang perlu diubah mental siswa yang mayoritas pendiam Pak.  Gurunya masih dalam tahap belajar, bagaimana Pak?

Rizqy : Pakai Tiket bertanya untuk masuk kelas atau bisa jadi kita melakukan pendekatan denga mengajak ngobrol tentang hobi atau hal yg mereka sukai. Hal yang saya pelajari belakangan ini adalah belajar dari anak.

Kenapa anak pendiam? Kenapa anak tidak mengekspresikan diri di kelas?

Bu Riski :  Bagaimana cara mengetahui dan menggali konsep-konsep atau pengetahuan  yang telah dimiliki peserta didik sebelumnya, agar bisa relevan dengan apa yang kita sampaikan nantinya,.. (targetnya anak SD) sementara kadang tingkat pengetahuan awal mereka berbeda-beda..🙏🏻

Rizqy : Coba gunakan teks, agar anak menulis kesukaanya. Lalu setelah tahu itu, akomodir sebagai bahan cerita. Misalnya ada anak yang suka Tayo, obrolkan tentang episode terbaru Tayo. Buat anak merasa memiliki guru yang mengerti dia. Coba tambah wawasan dengan baca buku Diferensiasi.

Jesi : Bagaimana cara merancang pembelajaran yang bermakna di kelas, mengingat setiap anak unik dan memiliki bintang terangnya masing-masing ? Mengarahkan mereka yang berwarna-warni sedang kita hanya satu?

Rizqy : Saya selalu mencoba mengakomodir keunikan murid tersebut walau belum maksimal, misalnya dalam pembelajaran biografi tadi. Ada anak yang punya peran sebagai kameramen, sebagai perias, penata baju, sebagai pemainnya, bahkan ada yang tugasnya sebagai pencatat adegan (klepper).

Tapi tetap kesemuanya dapat peran menulis (sebagai kompetensi dasar yang dicapai), tulisan yang terkumpul direfleksikan bersama, proses refleksi juga merupakan tahap belajar. Murid sendiri yang memilih skenario siapa yang akan difilmkan.

Memberikan kesempatan bagi murid menunjukkan apa yang mereka pahami atau hasil belajar lewat berbagai bentuk. Misal Untuk tugas film, tema film saya tidak membatsai Bu.

saya membiarkan anak untuk kritis, tokoh yang seperti apa ya yang akan mereka observasi, apakah tokoh A layak dan emnginspirasi? Apakah tokoh B bisa untuk difilmkan?

Yang ndak bisa nulis, dia fokus di akting, yang ndak bisa akting, dia fokus di tata rias.

Mencoba mengakomodir murid…

Moderator :  Baiklah, tidak terasa hampir  2 jam berlalu semoga apa yang kita diskusikan bisa memberikan manfaat bagi kita semua. Silakan Pak Rizqy memberikan kalimat penutup!

Rizqy : Semangat untuk menjadi guru yang merdeka belajar. Yang harus kita ingat, murid kita bukan kerbau!

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: