Merdeka Belajar Bukan Jargon

Penulis : bukik | 5 Dec, 2019 | Kategori: Catatan Guru Belajar, Refleksi Guru Belajar

Merdeka Belajar tiba-tiba jadi populer setelah disebutkan oleh Menteri Nadiem Makarim. Apa sebenarnya merdeka belajar itu? Apakah jargon baru dari Mas Menteri?

Kisah Guru Merdeka Belajar

Lima tahun yang lalu, saya mendapat tanggung jawab menginisiasi dan mendampingi #KomunitasGuruBelajar. Ada banyak kisah guru penggerak di berbagai daerah. Kisah Bu Wanti salah satunya. Kami dipertemukan oleh media sosial dalam sebuah kesempatan diskusi daring.

Bu Wanti adalah guru PNS yang mengajar di SDN 34 Borang, Sanggau, 6 jam perjalanan dari Pontianak. Pada obrolan grup Guru Belajar, beliau mengaku sebagai guru kampung. Guru di sekolah kampung yang fasilitasnya tidak memadai untuk menciptakan proses belajar yang berkualitas. Ada benarnya karena Bu Wanti mengajar di kampung yang pada saat itu belum ada akses listrik dan jaringan telepon, tapi tidak sepenuhnya benar.

Setidaknya demikian pendapat anggota grup Guru Belajar pada saat mendengar kisah Bu Wanti. Rekan guru yang lain menunjukkan praktik baik pengajaran berkualitas di daerah lain yang tidak mensyaratkan fasilitas. Praktik baik yang saya ingat adalah ruang kelas raksasa yang ditulis Guru Hesti di Sorowako. Bu Hesti memanfaatkan lingkungan sekolah buat memandu muridnya belajar bahasa sekaligus matematika.

Kisah guru belajar yang menginspirasi Bu Wanti untuk melakukan perubahan praktik pengajaran di ruang kelasnya. Hari ini ia masih mengajar di sekolah yang sama, tapi praktik pengajaran yang dilakukan jauh berbeda. Tulisan praktik baiknya diterbitkan di Surat Kabar Guru Belajar, buku Memanusiakan Hubungan dan dipresentasikan di Temu Pendidik Nusantara.

Belum ada perubahan fasilitas, belum ada perubahan tempat mengajar, belum ada perubahan beban administrasi guru. Lalu apa yang berubah? Spirit Bu Wanti yang kami sebut sebagai merdeka belajar! Bu Wanti bersama ribuan guru yang lain memilih berpihak pada anak dengan mengusung paradigma merdeka belajar.

Guru Merdeka Belajar

Mengenal Merdeka Belajar

Perhatian publik tertuju pada merdeka belajar ketika konsep tersebut ditulis sebagai tagar di naskah pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada Hari Guru Nasional tahun 2019. Beberapa sebaran di media sosial mengubahnya menjadi merdeka bergerak atau istilah lain, seolah hanya sebuah jargon. Apa sebenarnya merdeka belajar?

Spirit kemerdekaan dalam pendidikan Indonesia dicetuskan pertama kali oleh Ki Hadjar Dewantara.

“…kemerdekaan hendaknya dikenakan terhadap caranya anak-anak berpikir, yaitu jangan selalu “dipelopori”, atau disuruh mengakui buah pikiran orang lain (1952).

Konsep merdeka belajar sebenarnya konsep lama, sudah dikaji baik di luar negeri maupun di Indonesia. Pada waktu lampau, dunia pendidikan termasuk kami di Kampus Guru Cikal mengenalnya sebagai pembelajaran mandiri sebagai terjemahan dari konsep self regulated learning.

Namun refleksi kami menemukan bahwa istilah pembelajaran mandiri tidak tepat secara konsep dan diplesetkan secara praktik. Secara konsep, mandiri hanyalah satu dimensi dari 3 dimensi self regulated learning, yang berarti istilah yang menggambarkan secara parsial, tidak utuh.

Pada sisi praktik, pembelajaran mandiri yang tidak memadai secara konsep menghasilkan praktik yang tidak berpihak pada anak. Anak dituntut belajar secara mandiri tapi untuk melayani tujuan belajar yang ditetapkan semena-mena oleh guru, sekolah maupun kurikulum nasional. Proses dan hasil belajarnya pun dinilai tanpa melibatkan murid. Jauh dari konsep self regulated learning.

Miskonsepsi self regulated learning tersebut harus dipatahkan, baik secara konsep maupun secara praktik. Secara konsep, kami mengkaji ulang konsep Self Regulated Learning dengan mempelajari 3 dimensinya yaitu yaitu komitmen pada tujuan, mandiri pada cara dan refleksi. Pada titik ini, kami bersepakat untuk menggunakan istilah merdeka belajar, sebagai pengganti istilah pembalajaran mandiri.

Merdeka belajar menggambarkan 3 hal, (1) menetapkan tujuan belajar sesuai kebutuhan, minat dan aspirasinya, bukan karena didikte pihak lain, (2) menentukan prioritas, cara dan ritme belajar, termasuk beradaptasi dengan cara baru yang lebih efektif; (3) melakukan evaluasi diri untuk menentukan mana tujuan dan cara belajar yang sudah efektif dan mana yang perlu diperbaiki.

Merdeka bukan berarti bebas (freedom), tapi kemerdekaan (independence) mengarahkan tujuan, cara dan penilaian belajar. Sebagaimana negara merdeka, guru merdeka belajar berarti menentukan dan mengarahkan nasib dan masa depannya, dalam suatu konteks kehidupan bersama.

Poster Merdeka Belajar

Merdeka Belajar di Ruang Kelas

Merdeka belajar di ruang kelas diawali dari diri guru yang merdeka belajar, sadar dan memprioritaskan esensi tujuan pendidikan, fleksibel dalam menentukan strategi belajar dan menjadikan respon murid sebagai bahan untuk berefleksi.

Guru yang merdeka belajar akan menjadi penggerak kelas merdeka belajar. Merdeka belajar dari lingkup diri disebarkan menjadi lingkup kelas. Murid dilibatkan dalam mengelola kelas, seperti penggunaan kesepakatan kelas, komunikasi positif dan menghindari sogokan dan hukuman untuk memotivasi murid.

Pada proses pengajaran, guru merdeka belajar melibatkan murid dalam menentukan tujuan belajar. Guru menjadi penghubung antara tujuan belajar pada kurikulum dengan kebutuhan murid. Pemahaman terhadap kebutuhan dan potensi murid dijadikan pertimbangan bagi guru untuk menyusun pilihan cara belajar di kelas. Guru melibatkan murid dalam merancang penilaian terhadap proses dan hasil belajar. Pada akhir pelajaran, guru meminta masukan dari murid untuk melakukan perbaikan.

Ketika pertama mensosialisasikan merdeka belajar, baik melalui media sosial, diskusi grup daring, maupun seri pelatihan merdeka belajar, kami mendapatkan banyak respon terkejut dari kebanyakan guru yang bisa dikategorikan menjadi 2 kategori: otonomi dan orientasi pada anak.

Kategori otonomi menggambarkan kekhawatiran dan keraguan guru mempunyai otonomi dalam mengajar. Isinya kekhawatiran guru terhadap tuntutan kepala sekolah dan pengawas, meski mereka jarang berkunjung ke kelas. Keraguan apakah guru mempunyai kewenangan dalam merancang proses belajar di kelas.

Kategori orientasi pada anak menggambarkan ketidakpercayaan guru dalam melibatkan murid. Isinya pandangan yang meragukan atau merendahkan kemampuan dan kemauan murid untuk terlibat dalam proses belajar. Mereka khawatir murid jadi besar kepala dan menjadi berlagak di kelas.

Namun sejumlah guru tetap meyakini merdeka belajar dan mempraktikkannya di ruang kelas. Dari mereka lahir praktik baik pengajaran merdeka belajar yang disebarkan dalam Komunitas Guru Belajar. Banyak guru yang tertular dan akhirnya terbit buku Merdeka Belajar di Ruang Kelas, yang berisi praktik pengajaran merdeka belajar di berbagai daerah dari jenjang menengah, dasar hingga anak usia dini.

Bukti praktik pengajaran merdeka belajar selaras dengan temuan risetnya. Sejumlah riset (semisal oleh Moos & Ringdal, 2012) menunjukkan bahwa pengajaran merdeka belajar berkorelasi positif pada capaian belajar murid baik pada pendidikan dasar maupun menengah. Lebih jauh lagi, merdeka belajar adalah prediktor terbaik untuk memprediksi kinerja guru (Kamyabi Gol, Atiyeh & Royaei, Nahid, 2013). Riset di Indonesia pun menunjukkan korelasi positif antara merdeka belajar dengan penurunan prokrastinasi dan peningkatan capaian belajar.

Buku Merdeka Belajar

Gebrakan Merdeka Belajar

Bagaimanapun, dibandingkan istilah sebelumnya, merdeka belajar lebih renyah diucapkan dan terdengar lebih keren. Namun lebih dari itu, bukan sekedar jargon, tapi sebuah konsep yang terbukti melalui riset dan praktik pengajaran. Dan menariknya, sekarang pun disebut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Nadiem Makarim tentu tidak asal mencomot. Dari rekaman video maupun pernyataan di media menunjukkan penyebutan berulang konsep merdeka belajar. Artinya, ada komitmen untuk mendukung kemerdekaan belajar sebagai pondasi pengembangan guru.

Pidato Menteri Pendidikan di hari guru telah menjadi viral. Ada yang mendukung, menyebarkan dan membuat konten tambahan. Sejumlah kepala sekolah menyerukan gurunya untuk mempelajari merdeka belajar. Ada pula yang mengkritik atau meragukan. Meski beragam respon, tapi sebenarnya mereka punya sikap dasar yang sama: menanti gebrakan kebijakan kementerian untuk mewujudkan kemerdekaan belajar sebagai spirit ekosistem pendidikan.

Versi ringkas tulisan ini telah diterbitkan di Kompas.com

About the Author

15 thoughts on “Merdeka Belajar Bukan Jargon”

  1. RINI SURYATI says:

    Tulisan pak bukik apa bisa diunduh biar di print

    1. Silakan bisa print tulisan ini

  2. May Silla says:

    Terima kasih, Pak.
    Sangat bermanfaat 🙏🙏

Leave a Reply

%d bloggers like this: