Merdeka Belajar di Tengah Kepungan Asap

Siang itu (21/09/2019), setelah anak-anak kembali ke rumahnya masing-masing, Guru-gurunya menggantikan posisi mereka di tengah ruang kelas, mereka memenuhi ajakan saya untuk mengadakan temu pendidik daerah pertama, nonton bareng video Guru Merdeka Belajar. 

Ini bukan Riau ataupun Kalimantan belakangan ini menjadi pusat perhatian kita semua karena kekelabuan keadaan yang menyandera mereka akibat aktivitas pembakaran hutan. Tempat ini adalah sebuah dusun kecil yang menjadi sebuah batas desa, Kampung Jawa namanya, sebuah daerah yang ditempuh Sembilan jam  dari Kota Terbesar ketiga di Indonesia yaitu Kota Medan.

Bersentuhan dengan pendidik adalah rutinitas saya sehari-hari kini dan beberapa waktu ke depan. Namun di  tempat ini saya melihat ada kesenjangan antara semangat belajar dengan kesempatan yang hadir diantara mereka.

Awal saya membersamai mereka, Salah seorang guru mengatakan  ini adalah penantian yang cukup panjang buat mereka. Selama ini kami ingin mengembangkan diri sebagai seorang guru, tetapi bingung mau ke mana dan ke siapa. Di mereka saya menemukan nyala kesadaran Merdeka Belajar telah hadir dan harus diperkuat, sehingga awal Temu Pendidik Daerah ini saya mengawalinya dari mereka. 

Temu Pendidik Daerah pertama di Kabupaten Labuhanbatu menjadi langkah awal untuk mendekatkan kesempatan belajar ke guru-guru daerah, dimana seringkali perhatian untuk pengembangan guru hanya mendatangkan guru bukan mendatangi mereka. Seringnya juga pelatihan untuk pengembangan guru sering hanya untuk guru itu-itu saja, tidak ada ruang kesempatan ke guru-guru yang lain, sehingga sungguh perlu memang menghadirkan temu pendidik daerah ini mengakomodir keinginan-keinginan guru daerah yang turut ingin berkembang. 

Temu Pendidik Daerah pertama yang kita laksanakan pada hari Sabtu, 21 September 2019 di MTs Uswatun Hasanah, Kampung Dalam Labuhanbatu. Sengaja Temu Pendidik Daerah ini dilaksanakan di sana karena wilayah tersebut adalah perkampungan yang cukup jauh dari Ibukota Kabupaten dan beberapa sekolah juga berdiri di sana. 

Madrasah ini menjadi pemutus mata rantai persoalan anak-anak putus sekolah, didirikan dari sebuah kepedulian seorang Ibu yang melihat banyak anak-anak di sana yang tak melanjutkan sekolah karena ketiadaan sekolah dan jikalau ada sekolah tersebut sangat jauh dari pemukiman mereka. 

Kegiatan Temu Pendidik Daerah ini dilaksanakan selama dua jam, tanpa aktivitas yang terlalu formal. Di buka dengan mengenalkan apa itu Kampus Guru Cikal, menyampaikan misi tentang kedepan kita harus optimis, pengembangan guru akan menjadi upaya terus-terusan, guru-guru bisa punya kesempatan belajar dan membahas persoalan-persoalan apa saja yang membuat guru sulit berkembang. 

Peserta yang tengah hadir antusias melihat sambutan Bu Najelaa Shihab di dalam Video Guru Merdeka Belajar. Mereka mencatat poin-poin yang disampaikan Bu Elaa mengenai 3 Karakteristik Guru Merdeka Belajar diantaranya adalah Komitmen, Mandiri, Relflektif. 

Dalam kesempatan itu lewat Miskonsepsi yang diutarakan oleh Bu Elaa kita melaksanakan refleksi mengenai keadaan hari ini. Di tengah kegiatan muncul pertanyaan, sudahkah kita semua menjadi Guru Merdeka Belajar? Berbagai jawaban baik muncul dari peserta dan saya yang berperan dalam memoderatori pertemuan tersebut sangat tersentuh dengan masing-masing jawaban peserta. 

Salah seorang yang hadir adalah Pak Supriadi, Pak Supriadi merefleksikan diri sebagai merdeka belajar dengan mengutarakan betapa ia selama ini salah menilai bahwa belajar harus ke ahli, sehingga dalam benaknya begitu sulit untuk menemukan tempat belajar, begitu sulit baginya untuk menemukan sosok yang tepat untuk ditanyai, lewat pertemuan pendidik daerah ia membuka pemahamannya mengenai guru bisa belajar ke guru. 

“Saya yakin Bapak/Ibu Guru yang hari ini akan merdeka belajar, akan menjadi tempat belajar saya kelak”, ujarnya.

Baca juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon

Salah seorang pendidik lain Ibu Kasni mengirimkan pesan optimis kedepan lewat Komunitas Guru Belajar dan kesempatan Temu Pendidik Daerah mendatang ia akan menemukan dirinya yang baru, dirinya akan terbekali hal-hal baik agar proses mengajar di kelas menjadi sesuatu hari baik untuk siswa/i nya. 

“Kualitas saya kedepan semoga menjadi lebih baik untuk anak-anak murid saya, ini seperti menjawab penantian panjang yang mendera kami semua”, katanya. 

Guru tetap belajar Merdeka Belajar di tengah kesibukan

Setelah refleksi, peserta diajak narasumber untuk menganalisis diri mereka sendiri sebagai seorang guru yang akan merdeka belajar, analisis ini dilaksanakan dengan SWOT,

Menjawab segenap harapan yang muncul dalam kegiatan Temu Pendidik Daerah tersebut, mampukah kita semua menjawabnya? Besarkah kemungkinan untuk menghadirkan ruang-ruang belajar murah-mudah yang berkualitas untuk para pendidik-pendidik di daerah ini? 

Ini menjadi satu pertanyaan yang mendasar dan tidak sekadar untuk bisa dijawab. Ke depan barangkali kesadaran untuk mendekatkan kesempatan belajar menjadi hal penting untuk kita himpun bersama, agar optimisme-optimisme guru-guru yang hadir pada temu pendidik daerah itu bisa kita sambut bersama. 

Gagasan yang lahir adalah kita bisa berbagi dengan apa saja, tidak melulu dengan kompetensi yang kita miliki, tapi dengan hal-hal yang bisa kita fasilitasi. Saat ruang belajar guru sudah hadir barangkali kita bisa menitipkan semangat lewat berbagai titipan hal-hal yang akan mendukung dari ruang belajar tersebut. 

Para Guru Merdeka Belajar di tengah pendidikan

Kita bisa memfasilitasi banyak hal, dari kebutuhan pembelajaran seperti ATK, kebutuhan Transportasi dan lain-lain. Kita juga bisa melakukan upaya berbeda lainnya. Mengutip kalimatnya Bu Elaa tidak cukup dengan hanya mengatakan jika guru adalah kunci pendidikan, karena kunci pendidikan justru ada pada Guru yang Merdeka Belajar. Mari kita dorong bersama.

Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar?

Yuk pelajari Surat Kabar Guru Belajar Edisi 6
Unduh Gratis
Klik:
Merayakan Merdeka Belajar PDF

merdeka belajar pdf
About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: