Merdeka Belajar Harus Diwujudkan?

Penulis : Yogo Adi Nugroho | 17 Dec, 2019 | Kategori: Banjarnegara, Temu Pendidik Daerah

Komunitas Guru Banjarnegara mengadakan Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar pada 25/08/2019. Kegiatan ini bertempat di Rumah Baca Komunitas Banjarnegara. Kegiatan ini berjalan dengan baik dan mampu memberikan banyak hal kepada peserta. Meskipun peserta yang datang tidak terlalu banyak, tetapi kegiatan nonton dan diskusi tetap berjalan dengan baik.

Nonton bareng dimulai dari pukul 13.00-14.30 WIB. Peserta kebanyakan terdiri dari guru PAUD dan sebagian guru SD. Latar belakang yang berbeda ini nampaknya tidak menjadi sebuah masalah. Perbedaan latar belakang dan tempat mengajar justru mampu dimanfaatkan para peserta. Perbedaan karakter dan ilmu yang dimiliki saling dibagikan pada saat diskusi.

Kegiatan nonton bareng ini sebenarnya berfokus pada beberapa salah paham (miskonsepsi) dan cara pikir para guru. Guru memiliki berbagai pemahaman dan motivasi yang masih belum kuat dalam meningkatkan minat belajar. Kebanyakan para guru juga merasa bahwa proses belajar seharusnya dilakukan dengan para ahli. Dengan belajar melalui para ahli maka ilmu yang didapatkan akan lebih banyak.

Hal senada disampaikan oleh salah satu peserta nonton bareng. Menurut Bella “Kesalahan persepsi yang selama ini saya alami adalah anggapan bahwa proses pembelajaran harus dilakukan dengan para ahli. Dengan demikian maka berbagai ilmu yang disampaikan dapat lebih mampu dicerna dengan baik”. Tutur salah satu peserta Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar.

Anggapan demikian sebenarnya tidak sepenuhnya benar. Pasalnya, sebuah pendidikan dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja. Sama seperti prinsip proses belajar yang sesungguhnya. Belajar dilakukan sepanjang hayat dari mulai belajar berjalan sampai pada proses belajar memakai tongkat. Semuanya dilakukan melalui proses belajar. Proses belajar ini tidak dilakukan dengan para ahli melainkan dengan sesama atau diri sendiri.

Sama dengan hal tersebut, menjadi seorang guru merdeka belajar maka harus mau dan siap belajar dengan sesama guru. Kegiatan diskusi dan tukar pengalaman seputar proses pembelajaran dirasa lebih efektif. Efektif karena berbagai masalah yang dihadapi disampaikan langsung dari si guru. Hal ini tentu sangat membantu dalam proses pemecahan masalah.

Selain pandangan mengenai proses belajar harus dilakukan dengan para ahli, muncul juga miskonsepsi bahwa belajar harus mendapatkan insentif. Insentif berupa uang merupakan salah satu motivasi semangat belajar. Hal ini bukan rahasia lagi karena sistem pendidikan dan pelatihan yang banyak dilakukan beberapa dinas pendidikan memang demikian. Peserta ikut program pelatihan karena tuntutan pimpinan atau karena diberi uang saku.

Beberapa peserta juga menyatakan hal demikian “Saya merasa proses belajar harus dilakukan ketika mendapat insentif berupa uang. Percuma kita jauh belajar dan tidak mendapatkan apa-apa” pungkas Yogo. Anggapan demikian bukanlah hal yang aneh karena memang motivasi para guru dalam belajar memang uang.

Contoh nyata yang berkembang dalam dunia pendidikan adalah dalam Komunitas guru Belajar, kegiatan belajar yang dilakukan oleh guru merdeka seharusnya dapat dilakukan secara mandiri dan alamiah. Motivasi dari proses pembelajaran adalah ilmu itu sendiri. Betapa pentingnya sebuah ilmu dalam kehidupan. Oleh karena itu tidak ada alasan untuk tidak belajar meskipun tidak mendapatkan bayaran. Merdeka belajar berarti memiliki keinginan dan kemerdekaan untuk menentukan sikap dalam hal mengembangkan kemampuan diri.

Setelah menonton video guru merdeka belajar, para peserta mulai termotivasi dan memiliki keinginan untuk menjadi guru yang merdeka belajar. Menurut Tati “Menjadi guru merdeka belajar sangat diperlukan sebagai wujud menerima tantangan pendidikan di masa mendatang. Menjadi merdeka belajar memang harus diwujudkan. Hal ini dilakukan agar pendidikan di Indonesia menjadi semakin maju.”

Sebagian Guru yang menjadi peserta nonton bareng memiliki keinginan yang hampir sama. Keinginan mereka adalah menjadikan suasana kelas yang menyenangkan sekaligus mencerdaskan. Percuma pintar kalau tidak cerdas dan percuma senang kalau materi tidak masuk. Perubahan-perubahan kecil di dalam kelas sangat ingin dilakukan para peserta agar suasana kelas menjadi lebih kondusif dan murid juga merasa antusias menerima pembelajaran.

Keinginan dan harapan dari para peserta tentunya tidak akan datang begitu saja. Perlu proses pembelajaran secara terus-menerus berkaitan dengan pengkondisian kelas sebagaimana mestinya. KGB diharapkan dapat menjadi wadah bagi para guru muda Banjarnegara dalam mengembangkan kompetensi yang dimiliki.

Pada kesempatan diskusi, peserta juga menyampaikan keinginan untuk mengembangkan kemampuan berbicara di depan umum dan juga menulis. Menjadi seorang guru memang dituntut memiliki kemampuan berbicara di depan umum yang baik. Tidak hanya berbicara di depan para peserta didik melainkan berbicara di depan para orangtua juga. “Berbicara di depan umum menjadi masalah pribadi saya dan ingin dipecahkan mulai sekarang.” tutur Kinanti.

Peserta juga menghendaki adanya pelatihan kepenulisan untuk mengembangkan bakat dan minat pada bidang kepenulisan. Tidak cukup rasanya menjadi seorang guru yang hanya mengikuti tuntutan kurikulum dan berbagai kegiatan administratifnya. Kegiatan dan aturan yang ada terasa mengkerdilkan pola pikir dan nalar para guru. Tidak ada inisiatif dalam melakukan perkembangan karena semuanya sudah diatur sedemikian rupa.

Berbagai kegiatan pembelajaran dan diskusi yang dilakukan secara rutin diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi perkembangan pendidikan di Banjarnegara. Semoga KGB dapat menjadi wadah belajar dan tukar informasi terkait pendidikan yang berkembang di tengah-tengah masyarakat.

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: