Merdeka Belajar itu yang Seperti Apa?

Penulis : Titik Nur Istiqomah | 29 Jan, 2020 | Kategori: Magelang, Merdeka Belajar, Temu Pendidik Daerah

Pertanyaan tentang “Apa itu Merdeka Belajar?”, kami bahas pada Rabu, 18 September 2019, melalui aktivitas temu pendidik yang tidak biasa dilakukan di sekolah kami. Bertempat di ruang kelas IA pukul 13.00-14.30 WIB, guru-guru SD Muhammadiyah 1 Muntilan, Magelang berkumpul untuk menonton bareng video Merdeka Belajar. Ini merupakan kegiatan yang tergolong baru di sekolah kami, karena sebelumnya belum pernah dilakukan. Pertemuan Kelompok Kerja Guru yang dilakukan secara rutin setiap bulan biasanya hanya sekadar membahas administrasi guru, agenda kegiatan sekolah dalam waktu sebulan ke depan, atau tentang laporan keuangan selama satu bulan. 

Istilah tentang Guru Merdeka Belajar masih terasa asing di keseharian kami. Saya sendiri, Titik Nur Istiqomah, berperan sebagai moderator untuk membuka kegiatan nonton bareng ini. Bahkan ketika mau memulai kegiatan ini, ada peserta yang bertanya “Kita mau menonton bareng film apa? Lho, guru kok diajak nonton bareng?” 

Saya lalu menjelaskan sebentar tentang video apa yang akan kami tonton di pertemuan hari itu. Sebelum pemutaran video, saya juga bertanya apa yang diketahui sebelumnya oleh peserta tentang Merdeka Belajar, hampir semuanya saling memandang satu sama lain, meminta bantuan pertimbangan dari yang lainnya untuk menjawab pertanyaan. Kemudian, pertanyaan saya ubah dengan meminta peserta mengungkapkan kira-kira apa arti Merdeka Belajar. Dari delapan peserta yang hadir, ada yang menjawab dengan kesempatan untuk belajar seluas-luasnya dan setinggi-tingginya. Ada yang menjawab belajar yang bebas dan tidak tertekan. Ada juga yang menjawab belajar tanpa terjajah oleh siapapun. Jawaban yang menarik. Dari jawaban-jawaban tersebut, pertanyaan menjadi merambah ke beberapa hal tentang siapa yang berhak mendapatkan kemerdekaan dalam belajar, bagaimana menjadi guru yang merdeka belajar, praktik merdeka belajar itu yang seperti apa. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, kami melanjutkan sesi selanjutnya, yaitu mengamati video merdeka belajar oleh Ibu Najelaa Shihab. 

Baca juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon

Usai 15 menit mengamati video merdeka belajar, sesi paling menarik selanjutnya adalah refleksi. Refleksi dibuka dengan mengutip kata-kata ibu Najelaa Shihab, “Yang kita inginkan adalah anak-anak yang punya aspirasi tinggi, yang punya cita-cita melampaui langit, melampaui batas ruang kelas, melampaui batas dunianya. Dan itu hanya akan terjadi pada saat anak-anak punya kemerdekaan dalam belajar. Tapi kemerdekaan belajar murid-murid hanya dapat terjadi pada saat kita sebagai pendidik juga memiliki kemerdekaan. Apakah ibu-ibu sudah merasa merdeka dalam belajar?”

Semua peserta mengungkapkan secara jujur bahwa mereka baru tahu kali ini tentang ciri-ciri Guru Merdeka Belajar. Ciri guru yang Merdeka Belajar adalah memiliki komitmen, memiliki kemandirian, dan melakukan refleksi. Namun, semua juga sepakat bahwa ternyata selama ini, masih banyak miskonsepsi yang kami lakukan dalam belajar maupun dalam mengajar. Kami mengakui, ternyata selama ini, kami belum menjadi guru yang merdeka belajar. 

Salah satu peserta, guru Tesa Erma Yussie mengungkapkan bahwa di antara semua miskonsepsi yang disebutkan dalam tayangan, yang paling menggambarkan dirinya adalah terjebak pada tugas-tugas administratif, ketentuan-ketentuan birokrasi, hingga ujian, akreditasi, seleksi, nilai, yang sebetulnya semuanya hanya cara, kemudian menjadi tujuan, dan menjadi prioritas utama. Bahkan lebih tinggi dari prioritas tujuan pendidikan nasional sendiri atau prioritas kita masing-masing, mengapa kita memilih menjadi pendidik. 

Guru Umi Nur Hanifah mengamini bahwa banyak dari kita yang menolak untuk melihat cermin dan terkesan menyalahkan pihak lain. Kita bilang masyarakat belum paham, kita bilang anak-anak tidak mengerti, kita bilang orang tua akan menentang. Padahal itu sebenarnya alasan dari ketakutan diri kita sendiri untuk menuju perubahan. Banyak kompetensi guru yang sama sekali tidak berdampak pada siswa, kesempatan peran dan jenjang karir guru yag masih terbatas, dan kesempatan kolaborasi di antara guru yang belum berkembang utuh. Guru Wiwin Setiyana memberikan kesimpulan dari hasil tayangan video yang beliau pahami adalah bahwa ternyata guru belajar paling efektif sebetulnya dari sesama guru lain yang belajar, mempraktikkan apa yang dipelajari, dan yang belajar banyak dari kegagalan sebelum akhirnya berhasil. Guru Indah Sulistyaningsih lalu menambahkan, “Sejak kemarin saya bertanya-tanya, guru yang merdeka belajar itu yang seperti apa? Sekarang terjawab sudah. Ternyata saya belum merdeka, namun saya ingin belajar menjadi guru yang merdeka belajar.”

Forum diskusi kami tutup dengan kesepakatan dan kesepahaman bahwa kami sebagai pendidik akan melawan miskonsepsi guru merdeka belajar bersama-sama. Bahwa guru belajar bukan karena ada insentif, bukan juga untuk mendapatkan sertifikat, namun guru belajar karena kebutuhan alamiah. Kami sepakat bahwa guru merdeka belajar tidak diburu target yang dipaksakan. Namun, menyadari bahwa belajar butuh waktu untuk memahami apakah inovasi itu sudah sesuai dengan kondisi siswa ataukah malah tidak bisa dipakai. Guru yang merdeka belajar adalah kunci. Sehingga kompetensi bukan bersifat individual, namun potensi individu yang didukung oleh ekosistem yang baik. Tidak ada guru yang kompeten sendirian, bisa merdeka belajar sendirian.

Ketika sampai pada pertanyaan terakhir di akhir sesi dalam kegiatan nonton bareng Guru Merdeka Belajar ini tentang kata-kata apa yang terngiang-ngiang dalam video dan harapannya akan dipraktikkan selanjutnya secara bersama-sama, guru Hesti Tri Rahayu mengungkapkan beliau sangat setuju dengan kalimat ibu Najelaa Shihab tentang mimpi kita adalah untuk membalik piramida pendidikan di Indonesia, sehingga bisa adaptif dan ada umpan balik yang berjalan. Apa yang bisa dilakukan masyarakat untuk mendukung pemerintah, dan apa yang bisa dilakukan pemerintah untuk meningkatkan cara, praktik-praktik baik yang sudah ada di masyarakat.

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: