Merdeka Belajar, Mengubah Keresahan Menjadi Keberdayaan

Guru adalah figur perubahan pendidikan yang penuh cita-cita. Tapi di ruang kelas, seringkali keresahan-keresahan membuat guru seolah tidak berdaya. Beberapa pekan sebelumnya, ruang percakapan di Grup Whatsapp Guru Belajar Tegal dipenuhi obrolan anggota grup tentang keresahan-keresahan yang paling sering ditemui guru di ruang kelas. Ada yang menemui keresahan yang berbeda, tak sedikit juga ternyata menemui keresahan yang serupa. Lalu, bagaimana guru bisa mengubah keresahan menjadi keberdayaan?

Minggu (15/9), keresahan-keresahan tersebutlah yang menggerakkan guru-guru berkumpul dalam agenda Temu Pendidik Daerah kedua Komunitas Guru Belajar Tegal yang bertajuk “Ngobrolin Guru Belajar”. Agenda yang berlokasi di Spasi Kreative Space ini dihadiri oleh guru-guru dari kabupaten dan kota Tegal. Jenjang dan jalur pendidikannya pun beragam, mulai dari guru SD, MI, SMA, guru bimbel, hingga guru dari kelas kreatif.

Miskonsepsi Guru Belajar

Agenda berlangsung dari pukul 09.00 wib yang diawali dengan menonton bersama video Bu Najelaa Shihab tentang “Merdeka Belajar” yang dipandu oleh Bu Erna dari SDIT Alam Bina Insani. Seusai menyimak pemaparan “Merdeka Belajar” dari video, peserta antusias mendiskusikan refleksi bersama tentang miskonsepsi guru belajar yang sering ditemui atau dirasakan sendiri oleh peserta. Yang paling banyak direfleksikan peserta adalah bahwa selama ini guru dianggap perlu belajar hanya karena insentif eksternal (sertifikat, uang, dan sebagainya), padahal guru belajar adalah sebuah kebutuhan alamiah guru. Seperti agenda belajar di Temu Pendidik Daerah ini yang berangkat dari keresahan di ruang kelas masing-masing guru yang ingin dicari solusinya dengan belajar lewat saling berbagi praktik baik. 

Guru Berdaya lewat Berkolaborasi

Agenda dilanjutkan dengan sharing pengalaman Bu Dini dari Spasi Kreative Space tentang kolaborasi yang pernah dilakukan dengan Komunitas Guru Belajar. Menurut bu Dini, guru-guru yang merdeka belajar seringkali punya mindset yang antimainstream dalam pendidikan. Ketika tahun 2018 lalu muncul sebuah ide tentang kegiatan yang memberi dampak baik dengan mengajak anak-anak menjelajahi tempat-tempat ibadah di kota Solo bertajuk “Piknik Anak Hebat”. Ide tersebut ternyata disambut baik oleh guru-guru belajar untuk berkolaborasi bersama sehingga akhirnya sukses terselenggara. 

Kolaborasi menjadi kunci yang penting dalam pendidikan. Kolaborasi guru dengan sesama guru maupun dengan komunitas atau pihak lain menjadikan pembelajaran untuk murid semakin kaya, tidak terbatas hanya di ruang kelas. Peserta antusias menanggapi bahkan mengungkapkan pendapat agar kegiatan kolaborasi guru dengan berbagai pihak juga harapannya bisa diselenggarakan di Tegal.

Kekuatan Refleksi

Salah satu sesi yang tidak kalah seru adalah saat sesi refleksi sebelum agenda diakhiri. Masing-masing peserta menyampaikan refleksi dari sesi-sesi agenda belajar. Bu Eva, peserta yang merupakan seorang guru bimbel mengungkapkan bahwa baru saat itu benar-benar merasa diakui sebagai guru. Beliau menyadari bahwa ternyata walau beliau hanya guru bimbel, ada tantangan yang sama, keresahan yang sama saat mendampingi murid. Pertemuan guru dengan berbeda bidang dan jenjang semacam ini juga bisa jadi sarana menyamakan persepsi, saling terbuka, saling melengkapi, dan bersinergi.

Refleksi lain dari Bu Nurlina yang berasal dari kecamatan yang cukup jauh dari lokasi Temu Pendidik. Meski harus menempuh kurang lebih 1,5 jam untuk berangkat ke lokasi, tidak menyurutkan semangat beliau untuk belajar. “Saya ingin lebih memahami permasalahan dalam kelas dan belajar cara mengatasinya. Saya sangat senang dapat wawasan baru juga, kegiatan seperti ini sangat bermanfaat.” Ungkap Bu Nurlina di sesi refleksi.

“Tidak ada guru yang bisa belajar sendirian. Tidak ada guru yang bisa kompeten sendirian. Dan tidak ada guru yang bisa merdeka belajar sendirian.” Begitulah kutipan kalimat bu Najelaa Shihab dalam video “Merdeka Belajar”. Maka agar bisa mengubah keresahan menjadi keberdayaan, mana jalan yang seharusnya dipilih guru: terus sibuk seorang diri mengeluhkan keadaan atau merdeka belajar bersama rekan seperjuangan?

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: