Merek Dagang Merdeka Belajar Dihibahkan

Penulis : Kampus Guru Cikal | 14 Aug, 2020 | Kategori: Merdeka Belajar

Sebagai merek dagang, apakah istilah Merdeka Belajar boleh digunakan semua orang?

Pertanyaan tersebut menjadi polemik masyarakat dalam beberapa waktu terakhir. Setelah mendengarkan masukan sejumlah pihak, Cikal memutuskan untuk menghibahkan merek dagang Merdeka Belajar kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Silakan baca siaran pers lengkapnya

Jakarta, 14 Agustus 2020 – Sekolah Cikal yang menginisiasi sejumlah lembaga dan jaringan pendidikan di Indonesia, akan menghibahkan hak atas merek “Merdeka Belajar” yang dimilikinya kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Penggunaan Merdeka Belajar sejak 2015, dimaksudkan Cikal untuk menggerakkan perubahan pendidikan dan telah dipraktikkan dalam kurikulum, pelatihan dan publikasi Yayasan Guru Belajar. Sebelumnya, Cikal juga telah menyatakan tidak ada kompensasi apapun untuk penggunaan merk atas jasa dan barang Merdeka Belajar oleh Kemendikbud dan untuk kepentingan pendidikan dan ilmu pengetahuan. “Atas masukan berbagai pihak, sekarang kami memperkuat surat pernyataan itu dengan keputusan menghibahkan hak atas merek Merdeka Belajar ke Kemendikbud,” tandas Najelaa Shihab, pendiri Cikal. Pengalihan hak atas merek ini diharapkan mengakhiri polemik penggunaan kata Merdeka Belajar.

“Demi kemajuan pendidikan Indonesia, kami memutuskan menghibahkan hak atas merek Merdeka Belajar kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tanpa biaya dan/atau kewajiban pembayaran apapun. Dengan catatan, kami dan siapapun masih bisa menggunakannya tanpa kompensasi apapun untuk kepentingan pendidikan sesuai ketentuan yang berlaku,” ujar Najelaa Shihab.

Mendikbud Nadiem Makarim pada akhir tahun lalu mengumumkan nama “Merdeka Belajar” sebagai payung besar kebijakan pendidikan nasional. Belakangan penggunaan idiom Merdeka Belajar oleh Kemendikbud dipertanyakan oleh sejumlah pihak karena sudah sejak lama didaftarkan sebagai merek oleh Sekolah Cikal. Mereka ingin memastikan bahwa penggunaan idiom Merdeka Belajar tidak akan menimbulkan implikasi hukum di kemudian hari.

Menurut Najelaa, sejak 2004, lima tahun setelah pendirian Cikal,  pelajar merdeka (berkomitmen, mandiri, reflektif) sudah menjadi bagian dari cita-cita menumbuhkan kompetensi yang utuh bagi semua dan setiap murid serta guru. 

Pada tahun 2014, melalui Kampus Guru Cikal mengembangkan Merdeka Belajar sebagai karakteristik ekosistem yang pada intinya merupakan gerakan pendidikan yang meningkatkan kompetensi, kolaborasi dan inovasi semua pemangku kepentingan, mulai dari guru, orang tua, komunitas dan organisasi. Merdeka Belajar terinspirasi dari pemikiran sejumlah tokoh, di antaranya Ki Hadjar Dewantara, Rahmah Al Yunusiah (tokoh pendidikan pendiri Sekolah Diniyah Putri) dan Barry Zimmerman (peneliti pendidikan yang dikenal dengan teorinya tentang belajar mandiri/ self- regulated learning). 

Konsep Merdeka Belajar diwujudkan dalam bentuk pengembangan guru penggerak dan komunitas guru belajar yang berdaya di ratusan kabupaten/kota, maupun publikasi praktik baik yang dilakukan di lapangan. Merdeka Belajar juga selalu digaungkan di setiap Temu Pendidik Nusantara dan Temu Pendidikan Daerah dan Regional yang diselenggarakan selama 6 tahun terakhir. Cikal juga menerbitkan buku Merdeka Belajar di Ruang Kelas (2017)  serta surat kabar Guru Belajar secara rutin sejak 2015 hingga saat ini untuk menyebarluaskan konsep Merdeka Belajar sesuai paradigma dan cara yang dilakukan oleh Komunitas Guru Belajar dan Jaringan Sekolah Merdeka Belajar di penjuru Nusantara. 

Pada 1 Maret 2018, Sekolah Cikal kemudian mendaftarkan hak atas merek Merdeka Belajar ke Ditjen HKI Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham), sebagai upaya mencatatkan dan melindungi keberlangsungan upaya-upaya yang telah dilakukan selama ini, yang kemudian disetujui oleh Kemenkumham pada 2020. “Kami mendaftarkan hak atas merek Merdeka Belajar, bukan hak paten. Sejak awal, kami tidak bermaksud untuk mencari keuntungan komersial. Sesuai yang kami nyatakan dan lakukan, selama ini kami tidak pernah mempersoalkan penggunaan Merdeka Belajar untuk kepentingan pendidikan dan ilmu pengetahuan”, ungkap Najelaa.

Hingga saat ini, Kemendikbud telah meluncurkan lima episode Merdeka Belajar. Pada Episode 1 Merdeka Belajar mengubah Ujian Nasional menjadi asesmen kompetensi minimum dan survei karakter, menghapus Ujian Sekolah Berstandar Nasional, menyederhanakan rencana pelaksanaan pembelajaran, dan menyesuaikan kuota penerimaan peserta didik baru berbasis zonasi. Merdeka Belajar Episode 2: Kampus Merdeka, memberikan kemudahan pelaksanaan pembelajaran di perguruan tinggi. Merdeka Belajar 3: perubahan mekanisme Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tahun anggaran 2020, Merdeka Belajar 4: Program Organisasi Penggerak, dan Episode 5 yaitu Guru Penggerak. (*)

About the Author

One thought on “Merek Dagang Merdeka Belajar Dihibahkan”

Leave a Reply

%d bloggers like this: