Merintis Pembentukan Guru Belajar Batu

Penulis : bukik | 17 Sep, 2018 | Kategori: Liputan Guru Belajar, Temu Pendidik Daerah

Dari panas kerontang menuju kedinginan. Itulah kalimat yang menggambarkan perjalanan menuju Temu Pendidik Daerah di Kota Batu. Rintisan Komunitas Guru Belajar baru

Temu Pendidik Daerah di Kota Batu bukanlah agenda baru. Kami sebenarnya sudah bersepakat mengadakannya sebulan yang lalu. Tapi karena berbagai kesibukan, akhirnya baru terwujud kemarin hari minggu. 

Awalnya ada seorang kepala sekolah, Bu Prapti namanya, menghubungi tim Komunitas Kampus Guru Cikal. Beliau menyampaikan minatnya untuk merintis Komunitas Guru Belajar di Batu. Dibentuklah grup WA, Bu Prapti kemudian mengajak rekan kepala sekolah dan guru yang lain bergabung. Dari Grup WA tersebut lahir kebutuhan untuk mengetahui lebih lanjut tentang Komunitas Guru Belajar.

Setelah agenda sebelumnya batal, pada akhirnya disepakati Temu Pendidik Daerah diadakan pada Sabtu, 15 September 2018. Kalau melihat jadwal, tanggal tersebut sebenarnya kurang pas dibandingkan agenda sebelumnya. Pada agenda sebelumnya, saya menyepakati tanggal yang bertepatan dengan kepulangan saya ke Sidoarjo. Jadi pulang sekalian mampir ke Batu. Berbeda dengan 15 September, yang sebenarnya bukan jadwal saya pulang ke Sidoarjo.

Meski begitu, bagaimana bisa menolak, kebutuhan guru yang utama kan? Jadi saya sanggupi hadir untuk merintis Komunitas Guru Belajar Batu. Jumat petang, seusai mengisi sesi personal brand di pelatihan guru Cikal, saya meluncur ke Stasiun Gambir. Sampai stasiun tepat pukul 19, saya pun bergegas menukar tiket hanya dengan menunjukkan layar telepon genggam ke sensor tiket. 

Pagi sampai di Stasiun Pasar Turi, meluncur naik taksi daring (online), sampai rumah mandi dan sarapan. Setelah itu, meluncur lagi ke Stasiun Sidoarjo untuk menuju Sasiun Malang. Sampai Malang, saya mampir sebentar di warung kopi, mengerjakan proposal pelatihan strategi membaca yang diminta sebuah yayasan. Selesai mengerjakan proposal, saya meluncur ke Batu mengendarai, lagi-lagi, taksi daring. 

Sampai di Batu, menelusuri jalan menuju lokasi kegiatan di tempat tinggal Bu Prapti. Dari jalan besar berbelok ke jalan kecil dan kebingungan karena nomor rumah yang tidak urut. Turun di dekat balai benih. Saya telepon Bu Prapti dan diarahkan ke rumah yang banyak bunganya. Saya bingung karena ada beberapa rumah yang halaman rumahnya penuh dengan bunga. Dua rumah dengan bunga terlewat dan kemudian ada suara yang memanggil. Ah ternyata ini, rumah dengan halaman yang luas dan penuh terisi bunga.

Saya disambut hangat oleh Bu Prapti dan dijelaskan bahwa suaminya berprofesi sebagai pengusaha bunga sejak lebih 20 tahun yang lalu. Kami pun berbincang sambil menunggu rekan guru yang lain hadir. Tidak lama, satu per satu guru dan kepala sekolah berdatangan. Kami berkenalan. Saya lebih sering bertanya dan mendengar cerita-cerita mereka. Ternyata para guru berasal dari berbagai kecamatan yang berbeda, terjauh dari Cangar, yang setahu saya adalah ketinggian yang berbatasan dengan Mojokerto. 

Salah satu topik yang menarik dari obrolan dengan Bu Prapti adalah kesempatan berkembang yang terbatas bagi guru dan sekolah yang jauh dari kota. Meski Kota Batu selalu macet di akhir pekan, kenyataannya ada banyak sekolah yang berada di ketinggian pegunungan yang sulit dijangkau. Banyak program sekolah hanya ditujukan pada sekolah tertentu yang berada di daerah perkotaan. Topik ini jadi tantangan bagi Komunitas Guru Belajar, bagaimana dampak komunitas bisa menjangkau ke berbagai penjuru. 

Ketika semakin banyak guru yang hadir, saya pikir akan segera dimulai Temu Pendidik Daerah. Ternyata dugaan saya keliru. Kami semua diajak makan siang oleh tuan rumah. Makan siangnya pun tidak tanggung-tanggung, di atap rumah. Makan siang pun jadi lahap karena sambil menikmati pemandangan kota Batu. Inilah menariknya Komunitas Guru Belajar, di setiap daerah selalu saja ada keunikannya. Komunitas yang dibangun berdasarkan potensi, bukan standardisasi *eh

Meski makan siang di atap rumah, tetap tidak kepanasan karena udara Batu yang dingin. Selesai makan siang, akhirnya Temu Pendidik Daerah pertama di daerah Batu dimulai. Saya mengawali sesi dengan dua pertanyaan: Apa yang sudah diketahui dan apa yang ingin dipelajari tentang Guru Merdeka Belajar? Dua pertanyaan yang mengajak peserta untuk fokus sekaligus menumbuhkan keingintahuan tentang topik TPD perdana ini. 

Dari jawaban atas pertanyaan tersebut, saya memulai menjelaskan tentang Guru Merdeka Belajar. Sepanjang proses diskusi, ternyata ada kesamaan keresahan yang dirasakan oleh pada Guru Belajar Batu. “Ketika SD, anak belajar start jongkok. Ketika SMP, anak belajar start jongkok. Ketika SMA, anak bekajar start jongkok, tapi mereka tidak pernah tahu untuk apa belajar berlari”, ungkap Pak Iwan. Sementara Bu Sumarmi menyampaikan “Banyak guru yang menuntut murid memahami murid, tanpa pernah mau memahami murid. Murid dipaksa berlari mengajar kemauan guru”. 

Keresahan tersebut juga dirasakan banyak guru lain sehingga menumbuhkan Komunitas Guru Belajar di banyak daerah. Komunitas Guru Belajar mengimpikan pendidikan yang bermakna bagi murid sekaligus relevan dengan tantangan kehidupan. Guru yang memilih untuk terus belajar agar berdaya melakukan adaptasi terhadap berbagai tantangan pendidikan. Hari ini keyakinan saya terbukti, selalu ada guru belajar di setiap daerah. Terima kasih rekan-rekan guru Batu yang memilih untuk menjadi teman perjalanan dalam melakukan perubahan pendidikan Indonesia. 

Temu Pendidik Daerah diakhiri dengan penjelasan tentang Beasiswa Penggerak dan Beasiswa Anggota untuk mengikuti Temu Pendidik Nusantara 2018. Dan diakhiri dengan sesi foto bersama.

Saya meninggalkan lokasi Temu Pendidik Daerah Batu pukul 17.00 sore…..dan terpaksa memakai baju hangat karena udaranya sudah mulai menusuk tulang. Udara Batu dingin atau memang saya yang terlalu lama tinggal di dataran rendah yang sekarang sedang dilanda kering kerontang. Bagaimana pun, saya akan kembali ke Kota Batu, bukan untuk mengunjungi taman-taman buatan yang semain marak, tapi menjangkau guru di ketinggian pegunungan. Anda mau ikut? 

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: