Miskonsepi Literasi

Penulis : Rani Indriani Kusumah | 24 Jan, 2019 | Kategori: Liputan Guru Belajar

Ternyata Literasi Tak Cuma Soal Baca Tulis

Selama ini banyak sekali kekeliruan dalam menafsirkan dan memaknai konsep dari literasi. Padahal konsep literasi itu bersifat dinamis. Di masa kini, ada banyak perubahan dan perluasan makna literasi yang sudah berbeda dari makna kata dasarnya.

Pada Temu Pendidik Mingguan ke-81 yang dilaksanakan di telegram.me/mudikmingguan hari Jum’at, 18 Januari 2019, pukul 18.30 – 20.30 WIB, dibahas mengenai berbagai miskonsepsi literasi yang perlu dipahami. Ibu Najelaa Shihab, Pendiri Kampus Guru Cikal dan Inisiator Komunitas Guru Belajar, menjadi Narasumber pada Temu Pendidik Mingguan kali ini dan dipandu oleh Ibu Rani Indriani Kusumah, Guru Sekolah Cikal Amri Setu dan KGB JakartaTimur, sebagai moderator.

Profil Narasumber

Pendidikan adalah belajar, bergerak dan bermakna. Pendidik adalah kita, “semua murid semua guru.” Hal tersebut yang mendorong Najelaa Shihab terus berusaha berkontribusi dalam reformasi pendidikan Indonesia yang utuh melalui karya-karya nyata. Najelaa Shihab menyelesaikan studi S1 dan S2 di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan setelah memulai karirnya di kampus yang sama, memutuskan untuk mendirikan Sekolah Cikal pada 1999, saat ini berada di 9 lokasi di berbagai kota di Indonesia, melayani ribuan murid – mulai tingkat pra sekolah sampai dengan Sekolah Menengah Atas dan Kampus Guru Cikal. Lahir 11 September 1976 dari keluarga dengan nilai-nilai mendalam mengenai pendidikan dan kehidupan menumbuhkan keyakinannya untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya pada masyarakat. Elaa, panggilan akrabnya, dikaruniai tiga orang anak. Kontribusinya di dunia pendidikan selama puluhan tahun, dilakukan dengan meluncurkan berbagai inisiatif dan mendirikan organisasi pendidikan. Najelaa bukan hanya sekedar peduli pada kebutuhan anak-anak di berbagai daerah di Indonesia, tetapi juga sangat yakin bahwa perubahan yang cepat yang terjadi di dunia saat ini, membuat kolaborasi dengan pemerintah, pendidik/guru, orang tua, keluarga, mutlak diperlukan untuk masa depan anak-anak kita. Mendirikan Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) sejak 2007, Keluarga Kita dengan RANGKUL (relawan keluarga kita) sejak 2012, inibudi.org yang mengajak Guru Berbudi dan Teman Belajar sejak 2012, IslamEdu sejak 2013, Komunitas Guru Belajar Nusantara dengan penggerak-nya sejak 2014, Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK) di 2015, Sinedu, serta Youthmanual sejak 2016.

Najelaa menginisiasi Pesta Pendidikan di tahun 2016, yang mengawali jaringan Semua Murid Semua Guru (SMSG). Jaringan ini bertujuan untuk menjadi simpul kolaborasi antar pemangku kepentingan pendidikan. SMSG juga berupaya meningkatkan kapasitas komunitas dan organisasi pendidikan untuk berinovasi dan memberikan contoh praktik baik dalam berbagai isu pendidikan yang penting disebarluaskan. Saat ini lebih dari 400 komunitas/organisasi yang beroperasi di 252 kota di Indonesia telah bergabung dalam jaringan.

Merdeka Belajar, Merdeka dari Miskonsepsi Literasi

Membaca adalah memahami rangkaian makna, bukan sekadar mengeja bahan pustaka. Artinya, pandai membaca adalah proses yang terus dipelajari, jauh sesudah kita bisa menggabungkan suku kata yang berarti. Karenanya, pembaca jagoan adalah yang terus mengusahakan pengenalan lingkungan, bukan sekadar melafalkan tulisan.

Belajar membaca tidak sederhana. Dimulai dari bayi yang membaca emosi diri dan mengobservasi apa yang terjadi. Anak yang membedakan kanan dan kiri, mengeksplorasi bunyi dan pengalaman lain yang kadang tidak disadari, tapi sebenarnya bagian dari persiapan literasi dini.

Berada di lingkungan yang kaya tulisan, seperti papan pengumuman atau koran di meja makan cukup untuk menunjukkan ke anak tentang pentingnya peraturan dan membuatnya mengenal pesan.

Namun tidak ada yang lebih berkesan daripada orang dewasa dan teman sebaya yang meneladankan kegemaran bertukaran pikiran setelah menikmati bacaan. Karena dengan terlibat percakapan, anak belajar mendengarkan dan membuktikan kekuatan gagasan.

Cita-cita agar literasi bisa membumi di negeri ini terasa hanya sekadar janji. Selama ini proses pendidikan menumbuhkan kegemaran membaca dengan sangat terbatas, menghafal lagu tentang vokal dan konsonan, kadang kala ditakuti ujian masuk sekolah dasar.

Saat anak belum menguasai mekanik membaca, semua pemangku kepentingan “bekerjasama” membuatnya cepat bisa menamatkan buku.

Guru PAUD khawatir dilabel tidak kompeten, orangtua ingin pamer anak pintar pada tetangga, toko buku bahkan tempat les membaca menyediakan sebanyak-banyaknya pilihan untuk anak usia dini. “Konspirasi” bertolak belakang terjadi saat anak sudah “bisa” membaca.

Tugas bacaan di buku pegangan makin tidak relevan, semangat orang tua membacakan cerita tidak lagi jadi prioritas, bahkan penerbit dan pengarang buku pun tidak tertarik berusaha karena anggaran membeli bacaan terkalahkan biaya jajan atau permainan.

Tidak heran hasil tes internasional menunjukkan walau anak Indonesia cukup mampu bersaing di pengukuran kemampuan dasar membaca usia dini, saat diukur beberapa tahun kemudian kita terus turun peringkat karena gagal memahami bacaan atau mengevaluasi informasi berkualitas.

Tidak perlu tercengang, saat rasio antara warga dan perpustakaan kita cukup tinggi, pengunjung rutin bangunannya sering bisa dihitung jari. Dalam literasi kita seringkali mudah puas dengan pencapaian tujuan jangka pendek.

Sulit untuk bisa mengharapkan ada perubahan signifikan bila propaganda pemerintah 72 tahun setelah kemerdekaan masih sekadar kesuksesan pemberantasan buta huruf.

Tantangan masyarakat masa kini dan masa depan sudah banyak disuarakan, satu hal yang perlu reformasi segera adalah melek literasi. Reformasi tersebut adalah perjuangan melawan miskonsepsi literasi agar upaya menuju melek literasi mengarah pada tujuan esensial, bukan hanya untuk memenuhi kepentingan jangka pendek.

Inilah lima miskonsepsi literasi

Bukan hanya kemampuan membaca tapi juga kemampuan menalar
Literasi berkait kompetensi berpikir dan memproses informasi, karenanya bukan hanya soal keterampilan membaca apalagi mengeja. Seseorang dengan tingkat literasi tinggi, mempunyai
kemampuan penalaran dan pemecahan masalah dalam berbagai bidang, berkait sains dan numerasi juga finansial.

Belajar untuk membaca tapi tidak membaca untuk belajar
Belajar untuk membaca berkait dengan kemampuan bahasa dalam mengenal huruf, mengeja dan instruksi yang cendrung lebih sederhana, bisa dikuasai di tingkat dasar dalam waktu singkat. Membaca untuk belajar adalah kemampuan lintas disiplin yang menempatkan membaca sebagai alat untuk memahami dan mengaplikasikan ilmu pengetahuan. Membaca bukan tujuan akhir, tapi alat untuk tujuan belajar yang lebih besar.

Aktif membaca tapi tidak membaca aktif
Membaca banyak tulisan, tidak otomatis meningkatkan kemampuan, malah terkadang menurunkan minat atau menghasilkan pengetahuan yang tidak tepat. Kunci keberhasilan dari setiap aktivitas membaca adalah membaca aktif. Memprediksi isi bacaan atau berempati dengan latar belakang penulis sebelum membaca, mempertanyakan argumen dan beridentifikasi dengan karakter selama membaca, menyimpulkan dan mengaplikasikan dengan hal yang relevan dalam kehidupan sesudah membaca. Jangan bangga pada jumlah buku atau lama waktu membaca, belajar terjadi dari interaksi dengan literasi.

Tidak menghubungkan kemampuan menulis dengan kemampuan membaca
Salah satu cara paling efektif meningkatkan kemampuan sebagai penulis adalah pelajaran dari bacaan berkualitas. Semakin beragam bacaan, dari sudut genre, format ataupun penulis yang dipaparkan pada seseorang, eksplorasi dan pendalamannya pada akhirnya akan mengantarkan pada kemahiran dalam dua kemampuan sekaligus, membaca dan menulis.

Bukan bawaan lahir tapi potensi yang bisa dikembangkan
Tidak ada anak yang terlahir dengan kecenderungan tidak suka membaca, atau seseorang yang tidak bisa meningkatkan kompetensinya dalam literasi. Literasi berkaitan dengan banyak dimensi yang bisa ditumbuhkan sepanjang hayat, misalnya yang berkaitan dengan latihan untuk kreatif dan kritis serta memahami perspektif. Sebagaimana semua proses belajar, keberhasilan seseorang bukan hanya tergantung individu yang bersangkutan, tetapi ditentukan oleh dukungan lingkungan.

Sesi Diskusi

@mahayu31, @anyqutsiyati. @ayu_fatmaell, @fatimzzah :
Banyak persepsi tentang Literasi, Apakah mendengar cerita dan membaca alquran juga literasi? Dan Apakah literasi berhubungan juga dengan high order thinking?

Najelaa Shihab
Mendengar cerita atau membaca alquran bisa saja menjadi salah satu kegiatan dengan tujuan literasi, selama memang direncanakan, dan prosesnya dijalankan dengan prinsip yang sesuai konsep literasi. Misalnya saat mendengar cerita, anak memulai dengan menjawab pertanyaan, kemudian disaat mendengarkan ia berhenti dan mengkaitkan karakter cerita dengan peristiwa yang terjadi pada dirinya, sesudahnya anak bisa diajak menampilkan cerita dalam bentuk yang berbeda misalnya drama. Demikian juga dengan membaca alquran, banyak kegiatan pemahaman yang bukan hanya sekadar melafalkan yang akan mampu meningkatkan literasi anak. Pada intinya, jangan terpaku melihat kegiatan hanya dari nama program di permukaan, tetapi cara mendesainnya akan membedakan manfaat yang didapat. Literasi sangat berhubungan dengan high order thinking karena literasi adalah kemampuan menalar – yang berkait dengan kemampuan analisa, sintesa dan evaluasi informasi

Andriani (KGB-sukabumi), @imam_rumahpipit, @ramaistiqlal :
Bagaimana bentuk paling sederhana dari kegiatan literasi di sekolah yang minim sekali sumber bacaan maupun koneksi internet, namun kegiatan tersebut dapat kontinyu dilakukan sehingga menjadi karakter baik pada siswa? Dan Bagaimana membangun literasi untuk anak berkebutuhan khusus?

Najelaa Shihab :


Sumber bacaan dan koneksi internet akan sangat membantu menumbuhkan kompetensi literasi karena jumlah informasi yang bisa didapat lewat media ini sangat banyak. Namun, ketidaktersediaannya tidak menghambat murid maupun guru mengeksplorasi bentuk informasi lisan maupun tertulis lainnya, ataupun langsung mencari informasi dari berbagai sumber di lingkungan. Pengamatan, wawancara, cerita dan lain-lain bisa menjadi sumber informasi yang kemudian diproses dan didiskusikan bersama dalam program literasi yang beragam. Terbiasa kritis, melihat sudut pandang yang berbeda, memahami makna pesan dengan mendalam, secara kreatif membuat informasi baru atau berimajinasi setelah mendapat informasi – semua berkait literasi
sekaligus karakter yang ingin kita tumbuhkan pada anak sejak dini.

Mengenai literasi untuk anak berkebutuhan khusus (ABK) akan sangat tergantung kondisi dan gangguan perkembangannya. Karena karakteristik ABK berbeda, anak dengan tingkat intelegensi terbatas mungkin memang hanya bisa sampai tingkat literasi dasar. Anak dengan gangguan sosial-emosional akan memahami informasi faktual namun sulit mengolah informasi berkait emosi atau detail yang tersirat. Jadi sebelum mengembangkan programnya, perlu dipahami secara detail kebutuhan anaknya.

@faizulwijayanto, @bajaseto, @mrsshofiays :
Apa manfaat literasi dalam diri seseorang? Dan Apa yang harus kita sampaikan ke anak supaya anak menyadari bahwa literasi itu penting?

Najelaa Shihab :
Manfaat literasi itu untuk berbagai aspek perkembangan, kognitif- sosial-bahasa-emosi karena literasi berkait dengan keterampilan belajar dan mengambil keputusan juga penyesuaian diri dengan lingkungan. Salah satu ciri masyarakat di masa kini dan nantinya di masa depan adalah jumlah informasi yang sangat banyak, kehidupan yang makin terdigitalisasi, jenis pekerjaan yang menuntut penalaran tingkat tinggi – semua membutuhkan literasi. Yang harus kita sampaikan pada anak, disesuaikan dengan apa yang dialaminya di kehidupan. Anak akan paham pentingnya saat kita meneladankan praktik literasi di kelas sehari-hari. Seringkali kita sibuk memberikan instruksi atau menjalankan program literasi seperti resep yang bisa direplikasi tetapi lupa pentingnya contoh dari guru sendiri. Jadi literasi bukan mata pelajaran atau tujuan yang berdiri sendiri. Memberikan tugas yang meminta anak membandingkan informasi tentang topik yang sama dari sumber yang berbeda – menunjukkan pada anak bukan hanya pentingnya membaca tetapi kritis mengevaluasi siapa pengirim pesannya. Literasi perlu dilatih, tapi caranya bukan sekadar dengan menasihati.

Andri, KGB Depok :
a. Menurut Ibu, apa indikator seorang anak sudah bisa disebut memiliki kemampuan menalar dari literasi?
b. Saya tertarik dengan saran ibu untuk bisa “interaksi dengan literasi”. Bisakah ibu jabarkan lebih detail beserta contoh-contohnya terutama untuk siswa middle school (SMP) yang tingkatan literasinya masih rendah?

Najelaa Shihab
a. Indikatornya mencakup banyak aspek dari pemahaman bacaan, kemampuan mengevaluasi, kemampuan menyimpulkan dan mengkaitkan informasi dengan informasi lain atau hasil observasi, refleksi yang diekspresikan setelah terpapar pada informasi, dan seterusnya. Cukup banyak skala dan kontinum yang sudah teruji yang bisa digunakan di sekolah untuk menilai ini. Sekali lagi, penilaiannya tidak diisolasi, tetapi
diintegrasikan dengan berbagai disiplin ilmu/mata pelajaran.
b. Interaksi dengan literasi memang sangat tergantung pada tingkat perkembangan dan kemampuan siswa. Kuncinya relevansi. Dan seringkali, kompetensi ini yang kita sebagai guru tidak miliki. Misalnya dalam memilih bahan bacaan yang sesuai topiknya dengan apa yang sedang dialami anak SMP. Tetapi tingkat kesulitannya juga sesuai dengan tingkat penalarannya sehingga tidak terlalu mudah tetapi juga tidak terlalu sulit baginya.

Dalam pengalaman saya, siswa yang di SMP tingkat literasinya rendah sebetulnya mulai ketinggalan di masa-masa kritis kelas 4-6 SD. Jadi tidak ada lompatan dari literasi dasar belajar membaca ke kemampuan penalaran atau membaca untuk belajar di usia 8 tahun keatas.

Lilik Nur Indah Sari
Asumsi siswa : normal
Masalah : susah memahami soal dalam bentuk cerita jd permasalahan ini saya terpikirkan kembali setelah teman saya td melemparkan diskusi tentang ini, saya juga pernah menghadapi, jadi anak-anak sulit sekali memahami soal cerita, misal kalau mengerjakan soal cerita matematika, anak-anak susah sekali untuk menjabarkan variabel apa saja yang diketahui dari soal cerita tersebut, bahkan ketika ditanya, apa yg
ditanyakan dari soal tersebut juga tidak paham.

Kami sempat berpikir ini substansi masalahnya krn anak2 tdk terbiasa memahami bacaan ato simpelnya ada masalah di sisi literasinya..
Pertanyaannya :
a. Apakah ini masalah literasi ?
b. Bagaimana membimbing anak-anak agar bisa pelan-pelan mulai memahami isi cerita dan bisa menjelaskan dengan bahasanya sendiri shg bs menjawab apa yang ditanyakan

Najelaa Shihab
a. Perlu beberapa kali observasi untuk melihat masalah utamanya apa. Dalam kaitan dengan soal cerita matematika memang ada beberapa kemungkinan sebagaimana ibu sampaikan. Keterampilan operasi hitungnya yang kurang, atau pemilihan informasi atau aspek literasi lainnya. Cara mengetahui dengan pasti memang memberikan beragam soal dalam berbagai bentuk, saya senang sekali ibu sudah berdiskusi juga dengan rekan-rekan guru mengenai ini
b. Agar bisa memahami isu cerita dan menjelaskan dengan bahasa sendiri, ada beberapa teknik yang biasa saya pakai. Yang pertama mengajarkan berbagai kata kunci. Dalam soal cerita matematika, ada kata-kata yang menggambarkan operasi aritmatika, hubungan antar angka dsb-nya. Ini sebetulnya pola yang harus dikenali anak agar ia bisa segera menangkap apa yang harus dilakukan untuk menyelesaikan masalah (soal) yang diajukan. Untuk anak-anak yang lebih kecil, visualisasi juga sangat penting. Minta anak menggambarkan hubungan dari soal cerita dalam bentuk diagram, flow chart, gambar sederhana atau apapun yang nyaman untuknya. Ini bisa jadi transisi dari matematika dengan benda kongkrit ke level abstraksi yang lebih tinggi yang seringkali memang sulit untuk sebagian anak

Yunita Elizabeth :
Bagaimana cara lebih mengembangkan literasi anak usia 3th yg notabenenya sudah suka dengan dongeng tapi belum bisa membaca? Terima kasih bu Elaa

Najelaa Shihab :
Halo bu Yunita lewat dongeng banyak sekali yang bisa dilakukan selama anak terus dapat tantangan untuk meningkatkan kemampuannya. Jadi aktivitas dongengnya jangan monoton. Anak bisa mengambil peran bergantian, bukan hanya mendengar tapi menceritakan dongeng versinya. Topik dongeng bisa diganti-ganti, perkenalkan berbagai “genre” lewat dongeng – misteri, hikayat, petualangan, rima dan pantun. Literasi yang tidak berkait teks juga bisa dikembangkan dari mulai media yang beragam
saat terpapar pada film atau tontonan, memahami karakter cerita atau tujuan pembuat film, membuat cerita lanjutan (sequel) atau prequel dengan bermain pura-pura bersama guru, membuat musik atau lagu dari hasil observasi keliling sekolah dll – semuanya bisa berkait dengan kemampuan literasi.

Chadziqoh :
Terkait pembahasan tadi tentang ketertinggalan lompatan kompetensi yang menumpuk, bagaimana solusinya bu Elaa? saya guru kelas 5 yang punya problem murid-murid yang mengalami itu sejak kelas-kelas sebelumnya. Jadi, naik kelas dengan terpaksa. Bagaimana menyikapinya?

Najelaa Shihab :
Butuh latihan ekstra untuk akselerasi kompetensinya, karena itu yang paling esensial kolaborasi antar guru mata pelajaran dan orangtua di rumah. Kalau hanya jadi “program literasi” tambahan, misalnya anak lain wajib membaca 15 menit, anak yang tertinggal 30 menit dll – maka akan dianggap semata sebagai beban dan malah menurunkan motivasi anak karena mengasosiasikan literasi sebagai kegiatan membosankan. Jadi identifikasi bersama masalahnya di aspek mana – misalnya memang minat bacanya tidak bertahan di usia ini, maka fokus ke topik yang diminatinya walau di media yang tidak biasa – misalnya komik atau film pendek.

Keterampilan literasi bermakna juga bisa dipraktikkan di kelas non bahasa misalnya ia berminat IPA maka laporan observasi sederhana yang lebih baik dan panjang dilatihkan disini, bukan di kelas IPS yang mungkin kurang menarik baginya. Atau kalau ia berminat sepakbola, analisa informasi dari ulasan pertandingan, membuat diagram pengolahan informasi setelah menonton gol-gol tertentu dll bisa menjadi keterampilan yang kemudian dikuasai dan dipraktikkan lintas mata pelajaran. Jadi kekuatan anak – apa modalnya untuk menutup kekurangannya – selalu harus jadi modal utamanya.

Chadziqoh :
Tapi apa dengan minat anak yg pastinya melenceng dari bahasan utama pelajaran bisa mengejar materi yg seharusnya dia terima di kelas 5?

Najelaa Shihab :
Saya paham beban guru untuk “menghabiskan” materi. Tetapi, kita perlu sadari, kalau literasinya tidak diperbaiki, maka anak tidak akan punya kemampuan belajar dan menalar mandiri. Sehingga walaupun seolah-olah tanggung jawab kita menyampaikan materi sudah selesai, anak tidak memahami, dan pengetahuan atau keterampilan yang diperoleh tidak akan bisa dikaitkannya dengan informasi di jenjang selanjutnya. Karena kita sifatnya hanya mencekoki, yang pada akhirnya membuat ia makin frustasi. Jadi “mengorbankan” materi seringkali memang perlu di tahap ini dan fokus pada konteks yang lebih beragam di sekitar kehidupan anak bukan hanya topik bahasan yang dipaksakan di standard dokumen kurikulum. Kalau pemahaman bacaan, kemampuan mengajukan pertanyaan, menarik kesimpulan, dll meningkat, maka kemampuannya menguasai materi lanjutan akan lebih cepat dan ia mampu mengejar ketertinggalannya
secara mandiri tanpa tergantung berlebihan pada guru.

Choifah Zamzam
Assalamualaikum,. Bu Elaa saya mau bertanya, sebagai guru tingkat madrasah tingkat atas, seringkali menemui anak-anak yang sudah ketertinggalan dari tingkat sebelumnya yang akhirnya memang membuat anak menjadi down, bagaimana caranya agar mereka bisa mengikuti ketertinggalan itu ditambah lagi motivasi dan semangat literasi itu nyaris
tidak ada. terimakasih

Najelaa Shihab :
Waalaikum salam Bu Choifah sebagian jawabannya mirip dengan jawaban untuk Bu Chadziqoh tetapi saya mau tambahkan untuk murid sekolah menengah memang tantangannya agak lebih butuh kesabaran dari kita sebagai pendidiknya karena masalahnya agak lebih panjang. Di usia ini, mengingat materi pelajaran juga sudah sangat banyak, teknik membuat
proses berpikir jadi nyata saat berhadapan dengan informasi yang banyak sangat esensial. Mengajarkan mind map, menandai kata kunci (dengan stabilo), mencatat informasi setelah mendengarkan uraian, membuat jurnal hasil diskusi, menskimming isi buku lewat daftar isi, membuat trailer dari film yang ditonton – berbagai teknik “cepat” yang diperkenalkan pada anak – akan sangat membantu ia untuk lebih termotivasi

Choifah Zamzam
Terimakasih Mbak Elaa,namun mapel yg saya ampu adalah matematika dimana di matematika itu memang pembelajarannya harus runtut,setiap pelajarannya.

Najelaa Shihab :
Matematika memang banyak yang harus runut, tetapi tidak semua. Coba dibedakan berdasarkan materi, agar anak tidak merasa ketinggalan di semua aspek dan jadi frustasi. Buat yang ada urutannya, berarti harus mengulang dari bawah, walau berarti “turun” beberapa tingkat kelas, tapi jangan khawatir terlalu lama karena kematangan kognitif anak akan membantu pemahamannya menjadi cepat dibanding anak yang lebih muda. Asal, ada motivasinya. Guru yang punya harapan tinggi dan yakin akan keberhasilan muridnya akan membantu murid jadi lebih percaya diri walaupun ia harus mundur atau memutar arah sedikit dalam perjalanan menuju kompetensi. Belajar seringkali lebih seperti “monkey bar” yang bisa dilalui dari berbagai rute, bukan hanya tangga satu arah.

Hana Pratiwi :
Selamat malam Bu Elaa. Sebagai guru anak usia 5-6th, apa perlu setiap hari ada jam khusus untuk story telling agar anak-anak terbiasa membaca aktif?

Najelaa Shihab :
Hai Ibu Hana saya selalu khawatir dengan jam khusus, karena seringkali ini jadi struktur waktu yang kemudian tidak bisa diganggu gugat, dan terus dijalankan walaupun mungkin sudah tidak diperlukan atau tidak mencapai tujuan – tapi hanya karena sudah jadi ketentuan atau kebiasaan.
Sebagaimana saya uraikan tadi, storytelling kegiatan yang bisa jadi pengantar baik untuk mencapai tujuan literasi, tetapi belum tentu sesuai untuk setiap anak dan setiap tingkatan kelas. Jadi disesuaikan saja dengan kondisi saat tertentu, kapan kegiatan mendongeng akan dilakukan. Kalau di kelas, strategi utamanya adalah diri kita sendiri yang mengamati apa kegiatan atau topik favorit anak yang dijalankannya dengan penuh kesungguhan, bahkan sampai harus dihentikan walau sudah jam pulang. Atau apa yang dilakukan di jam istirahat. Kegiatan ini yang “dibawa” kedalam kelas dengan tujuan literasi. Jadi di satu sekolah bentuknya bisa rutinitas bekerja bakti, jalan kaki di sekitar lingkungan, pertunjukan seni atau berbagai program lainnya yang kalau secara kasat mata kita lihat berbeda – tetapi citanya sama. Tidak semua sekolah harus ada 15 menit
mendongeng atau membaca sebelum pelajaran, kalau memang tidak relevan.

Anggi Indra Gumilar :
Perlu strategi dalam “mengorbankan” materinya ya Bu Ela..biar tidak terlalu “mengorbankan” ada tips tidak Bu?

Najelaa Shihab :
Pak @anggi_indragumilar definisi kita tentang mengorbankan materi perlu ditinjau ulang. Panduan kurikulum itu bukan hanya standar isi, tetapi ada juga standar kompetensi, proses, penilaian. Jadi kalau kita berfokus pada tujuan kompetensi literasi, menggunakan cara yang meningkatkan pemahaman anak dan memberikan penilaian yang merangsang penalaran – sebetulnya sebagai guru kita sudah mencapai sangat banyak dalam menjalankan peran – menang di banyak aspek dan hanya “kalah” di
aspek materi/isi. Saya sering juga mengajak guru untuk melihat materi ataupun keterampilan bukan hanya sebagai tujuan satu semester atau tahun ajaran, apalagi tujuan satu rpp atau jam pelajaran. Materi ini justru sesuatu yang paling mudah “dikejar” anak secara mandiri bahkan di luar jam sekolah kalau ia sudah memiliki keterampilan literasi. Ada banyak situasi dimana guru merasa sudah berhasil mengajar, tetapi murid tidak berhasil belajar. Jangan sampai kita merasa kita sedang berjuang untuk anak dengan menolak mengorbankan materi, tetapi yang kita korbankan justru anak yang bersangkutan dan yang kita perjuangkan “ketenangan” guru karena sudah menjalankan kewajiban yang sebenarnya semu.

Mery Yumiati :
Tanya Bu Ela, saya sebagai kesiswaan sudah berusaha membentuk ekstra berkaitan literasi dengan melibatkan guru Bahasa Indonesia. Tahap awal siswa yang ikut banyak, hanya saja selanjutnya mulai saya lihat ada penurunan aktifitas. Alasan dari pembina katanya anggota literasi banyak tugas belajar jadi beban ditambah untuk menulis. Yang saya tanyakan apakah literasi ini bisa dimasukkan dalam pelajaran wajib kurikulum sekolah tidak?

Najelaa Shihab :
Literasi bukan saja bisa, tetapi wajib masuk dalam kurikulum dan pelajaran sekolah. Baik sebagai cita-cita (kompetensi lulusan), cara (proses belajar-mengajar), cakupan (program intra kurikuler maupun ekstra). Ini sudah ada dalam rangkaian regulasi pendidikan indonesia, tetapi mungkin kurang kita pahami. Saran saya, adakan sesi diskusi dengan seluruh guru di sekolah, untuk mengidentifikasi berbagai program yang selama ini dijalani – yang walau namanya bukan literasi sebenarnya sudah mengajarkan hal ini, atau kalau belum, punya potensi untuk diintegrasikan dengan kegiatan literasi.

Jadi jangan menambah program baru yang dianggap membebani anak, dan biasanya memang hanya bertahan beberapa saat, tetapi lihat program yang sudah berjalan konsisten dan bisa diperkaya dengan perencanaan yang lebih baik agar mencapai tujuan yang lebih utuh berkait literasi.

Fahrunnisa Atmaja :
Assalamualaikum Ibu Elaa, saya mau bertanya, saya sbagai guru TK, Bagaimana mengoptimalkan literasi pada anak berkebutuhan khusus di usia 3 tahun yang sudah pandai membaca tetapi belum mampu memahami isi bacaan? Dan apa peran yg harus saya lakukan di kelas untuk mengembangkan literasi pada anak tersebut? Terimakasih ibu.

Najelaa Shihab :
Waalaikumsalam @nisa_atmaja untuk setiap pertanyaan mengenai anak berkebutuhan khusus saya selalu ingin tahu spesifik diagnosanya. Bukan untuk melabel anak atau memperkuat stigma, tetapi untuk mencoba memahami tantangan dan kebutuhannya.

Dari cerita singkat ini saya menduga anak 3 tahun ini punya gangguan perkembangan pervasive developmental disorder. Sehingga kemampuan membacanya cepat – karena kemampuan visual spatialnya memadai dan intelegensinya baik, tetapi sebenarnya fokusnya pada mekanik membaca bukan pada pemahamannya pada makna. Intervensi yang tepat justru interaksi literasi yang lebih melipatkan aspek sosial-emosional, cerita dengan beragam intonasi, kegiatan observasi atau seni yang melatih sensori, bisa dicoba dilatihkan sejak usia dini. Mengajak anak banyak bergerak memperagakan apa yang dibaca, juga bisa membantunya. Tetapi sekali lagi, intervensinya perlu koordinasi dengan intervensi yang dibutuhkannya untuk stimulasi aspek perkembangan lainnya bukan hanya literasi.

Simpulan dan Penutup

“Terima kasih ya teman-teman pertanyaannya. Literasi ini istilah yang sudah sangat sering kita dengar saat ini, tetapi memang masih sarat miskonsepsi. Seharusnya kompetensi literasi menjadi bagian dari cita-cita semua guru dan proses pendidikan untuk setiap anak. Menjadi keterampilan yang diteladankan oleh kita dan dipraktikkan secara nyata selama proses belajar-mengajar di semua mata pelajaran dan beragam kesempatan. Tetapi buat kebanyakan kita saat ini, literasi sekadar cakupan program yang ditambahkan seperti tempelan, menjadi syarat kelengkapan penyelenggaraan kegiatan di kelas atau di sekolah. Saya senang sekali, kita di komunitas guru belajar akan terus membahas literasi ini dari berbagai sudut pandang sampai beberapa bulan kedepan, lewat TPD dan SKGB sampai TPN di Oktober nanti. Semoga pemahaman kita makin baik dan praktik kita makin konsisten ya”

Demikian liputan kegiatan Temu Pendidik Mingguan ke-81. Semoga menjadi catatan pembelajaran yang bermanfaat dan dapat menjadi pengingat. Nah, Sekarang sudah siapkah berliterasi dan menyudahi miskonsepsi? 🙂

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: