Motivasi Guru Penggerak Merdeka Belajar, Berani Berubah Meskipun Tertatih-Tatih

Motivasi Guru Penggerak Merdeka Belajar, Berani Berubah Meskipun Tertatih-Tatih

Ketika pandemi melanda beberapa waktu yang lalu, bapak dan ibu guru pasti merasakan dan mengalami untuk beradaptasi dengan perubahan kebiasaan tersebut tampak jelas terasa karena pada saat kondisi normal, belajar menggunakan sistem tatap muka (luring), lalu berubah menjadi pembelajaran jarak jauh (daring) yang dijalankan sekolah. Oleh karena itu, apakah bapak dan ibu guru pernah merasa bingung, galau, dan tidak mengetahui harus memulai dari mana saat pembelajaran secara daring dilakukan? Untuk lebih jelasnya, mari kita dengarkan cerita inspirasi guru penggerak merdeka belajar yaitu Ibu Theresia A. T. Astuti yang mengajar di TK Yos Sudarso Bandung, dan beliau juga merupakan anggota Komunitas Guru Belajar Bandung.

Pandemi Covid-19 adalah awal cerita inspirasi Ibu Tere ini dimulai. Pada Tahun Pelajaran 2020/2021, Ibu Tere mendapat tugas baru, diberi kepercayaan untuk memimpin TK Yos Sudarso Bandung. Ini merupakan pengalaman pertama beliau untuk pindah tugas setelah selama 16 tahun menjadi guru di tempat yang sama, atau berada di zona nyaman beliau. 

Tempat baru, suasana baru, rekan kerja baru, dan beban tugas baru yang belum pernah terbayang sebelumnya harus Ibu Tere hadapi. Banyak cerita negatif yang beliau dengar tentang sekolah ini. Seketika Ibu Tere merasa ciut, ragu, minder, dan tidak percaya diri. “Apakah saya sanggup melakukan perubahan?”, ujar Ibu Tere dalam hati. Lantas, beliau dan dua rekan guru pun memutuskan untuk melakukan perubahan. Awalnya beliau memiliki perasaan yang sama dengan bapak dan ibu guru kebanyakan, beliau merasa bingung, galau, dan tidak mengetahui harus memulai dari mana saat pembelajaran secara daring wajib dilaksanakan.

Baca juga: Guru Penggerak dalam Peran Pendidikan

Pembelajaran pun dimulai. Para guru melakukan tugasnya, melayani murid secara daring. Pembelajaran saat normal ditransfer menjadi daring. Tidak ada yang berbeda. Para guru melakukan pembelajaran dengan menggunakan aplikasi WhatsApp. Pembelajaran berfokus pada materi dan tema. Berbagai saran dan masukan coba Ibu Tere berikan agar pembelajaran tidak monoton. Namun, berbagai alasan dilontarkan para guru. Mereka berdalih adanya keterbatasan sarana, baik pihak guru maupun murid, serta keterbatasan penguasaan teknologi. Dan lebih kurang tiga bulan pembelajaran model ini dilakukan. Menurut Ibu Tere, pembelajaran terasa hambar, interaksi terbatas, satu arah, dan inisiatif serta instruksi selalu dari guru.

Ibu Tere menyaksikan, setiap hari para guru melakukan komunikasi dengan orang tua murid melalui telepon atau video call untuk menjalin kedekatan. Namun, relasi yang harmonis belum tampak. Para guru mulai lelah dan mengeluh. Mereka merasa respons yang terlalu biasa, baik dari orang tua maupun murid. Ibu Tere mengungkapkan jika beliau dan mayoritas guru lainnya di sekolahan tersebut adalah guru senior. Tepatnya guru jadul yang belum terbuka dan paham banyak penggunaan teknologi, sehingga dalam melakukan pembelajaran hanya mengedepankan rasa, insting, dan pengalaman.

Saat briefing pagi ataupun pertemuan, Ibu Tere berulang kali memberi masukan kepada rekan guru agar melakukan perubahan. Beliau mencoba mengajak mereka lebih terbuka, berani mencoba hal baru. Setelah sekian lama, akhirnya muncul juga keinginan salah satu guru untuk melakukan perbaikan pembelajaran. Dia mengajak guru lain mempelajari berbagai aplikasi pembelajaran berbasis teknologi sebagai variasi dalam pembelajaran daring. Tujuannya agar murid dapat lebih antusias. Awalnya, tampak gurat keraguan dalam diri guru yang diajak belajar. Mereka terpaksa saat belajar bersama. Lewat pendekatan secara pribadi, akhirnya terwujud juga kegiatan belajar bersama.

Berbagai cara dan variasi pembelajaran mulai dipelajari. Ibu Tere mendukung dan mendampingi para guru, turut belajar dan mengembangkan diri. Beliau merasa jika belajar dari siapa pun dan dari mana pun. Terutama tentang penggunaan aplikasi yang dapat digunakan supaya pembelajaran lebih menarik. Para guru memerlukan waktu lama untuk memahami pengetahuan baru. Namun, di sini Ibu Tere melihat semangat mereka, keinginan kuat untuk terus belajar, mencoba, dan mempraktikkan pengetahuan maupun keterampilan baru yang berhubungan dengan teknologi. Guru saling belajar, berbagi pengetahuan dan praktik baik, menguatkan, dan membantu. Bahkan, persiapan pembelajaran dilakukan secara bersama-sama. Sedikit demi sedikit pembelajaran mulai bervariasi. Berbagai aplikasi dipraktikkan dalam pembelajaran. Namun, Ibu Tere merasa masih ada yang kurang dan masih terasa hambar. Peran guru masih sangat dominan di sini. Mereka belum konsisten melakukan perubahan pembelajaran, masih mengadopsi cara dan pola lama.

Text

Description automatically generated

Pada pertengahan Oktober 2020, melalui platform Sekolah.mu, Ibu Tere berkenalan dengan Merdeka Belajar. Kemudian, beliau sering mendengar istilah tersebut. Namun saat itu, Ibu Tere belum memahami maknanya. Akhirnya, beliau mengikuti program Sekolah Lawan Corona. Ibu Tere dan para guru pun belajar bersama. Dari program ini akhirnya beliau menyadari bahwa pembelajaran yang selama ini, pelayanan yang kami berikan, masih mengalami miskonsepsi. Bersama para guru, Ibu Tere belajar membuat persiapan pembelajaran dengan mengedepankan prinsip 5M, belajar membuat dan menggunakan kanvas RPP yang diawali dengan melakukan pemetaan profil murid. Pembelajaran di Sekolah Lawan Corona sudah beliau tuntaskan. Ibu Tere yakin, banyak hal, informasi, dan ilmu baru yang guru dapatkan. Namun, pengimbasan ataupun dampaknya dalam pembelajaran belum terasa. Belum tampak perubahan yang signifikan. Padahal, pengetahuan, keterampilan, dan semangat sudah ada dalam diri para guru.

Lantas, Ibu Tere tertantang mencari akar masalahnya. Rasa penasaran dan keinginan kuat menuntun beliau mencari informasi, belajar dari berbagai sumber. Faktor ini menjadi pemicu beliau untuk mengikuti beberapa program di Sekolah.mu, beliau mengharapkan jika ini dapat membantunya melakukan tugas sebagai pemimpin. Ibu Tere mengikuti program Guru Merdeka Belajar dari Kampus Guru Cikal, berdampingan dengan program Menjadi Pemimpin Merdeka Belajar dari Sekolah Merdeka Belajar. Kemudian, teori dan tips sebagai pemimpin merdeka belajar sudah beliau dapatkan. Ternyata masih ada miskonsepsi yang beliau lakukan dalam melakukan percakapan dan pengamatan sebagai pemimpin merdeka belajar.

Dalam melakukan percakapan, Ibu Tere merasa perlu fokus dan selalu mengarahkan kepada tujuan. Percakapan beliau lakukan dengan lebih santai. Ibu Tere duduk bersama sambil menyelesaikan pekerjaan atau membuat persiapan pembelajaran bersama. Setelah melakukan obrolan dan percakapan dengan guru, beliau merasa ada yang kurang, “Gregetnya belum ada”. Hal ini terutama bila mendengar keluhan atau curhatan guru tentang murid yang dinilai terlalu berinisiatif. Misalnya sudah mengerjakan pekerjaan atau tugas yang seharusnya belum dikerjakan atau belum diperintahkan. Sebagai pemimpin, Ibu Tere mengingatkan mereka melalui percakapan untuk melakukan pembelajaran yang berpihak kepada murid. Beliau mengajak mereka melihat sisi positifnya: murid itu kreatif. Dengan demikian, perlu kreativitas guru dalam merancang pembelajaran dengan memaksimalkan pemanfaatan fasilitas dan penugasan yang berdiferensiasi.

Ibu Tere merasa saat ini rekan-rekan guru sudah memahami bahwa pembelajaran harus fokus kepada kebutuhan anak, memaksimalkan pemanfaatan fasilitas yang tersedia, dengan penugasan yang bervariasi dan berusaha menerapkan prinsip 5M dalam pembelajaran. Keterbatasan sumber daya manusia dan sarana prasarana bukanlah alasan untuk tidak melakukan perubahan. Meskipun sedikit lambat, guru seharusnya tetap mampu melakukan perubahan, dari pola lama berangsur dan bergeser mengikuti perkembangan. Terakhir, Ibu Tere berpesan agar guru dapat berubah, diperlukan semangat untuk menjadi lebih baik, niat dan kemauan yang kuat, serta dukungan internal dan eksternal. Percakapan dan kedekatan antar rekan kerja dapat menjadi sumber inspirasi dan motivasi dalam melakukan perubahan, sehingga perlu selalu dilakukan secara intens dan terjadwal.

This image has an empty alt attribute; its file name is Kumparan-970-X-90.png

Demikian cerita inspiratif dari Ibu Tere mengenai Guru Penggerak Merdeka Belajar, Berani Berubah meskipun tertatih-tatih. Lantas setelah membaca cerita Ibu Tere, apakah bapak dan ibu guru juga bersemangat untuk menjadi Guru Penggerak Merdeka Belajar? Yuk pelajari lebih dalam lagi tentang bagaimana menjadi Guru Penggerak Merdeka Belajar dengan mengikuti Temu Pendidik Nusantara VIII pada 20-21 November 2021 dengan tema merayakan asesmen, mendesain ekosistem merdeka belajar. Dapatkan inspirasi pembelajaran lainnya dari #1000 Pembicara.

Ayo Jadi Guru Merdeka Belajar! Guru Penggerak Perubahan Pendidikan! Mari berjumpa rekan seperjuangan di Temu Pendidik Nusantara VIII, untuk #DukungGuruBelajar bergerak bersama demi Pendidikan

Klik: https://tpn.gurubelajar.org

Sumber buku: Surat Kabar Guru Belajar: Asesmen Sumatif terhadap Capaian Belajar Murid

About the Author
Penulis Cerita - Desainer Program Guru Belajar | Undergraduate English Department Student at Universitas Negeri Malang

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: