Murid Bosan, Ice Breaking Tak Mempan, Muridku Kenapa Ya?

Penulis : Lia Leonita | 5 Aug, 2019 | Kategori: Liputan Guru Belajar, Temu Pendidik Mingguan

Lia Leonita KGB Depok

Setiap murid punya keunikannya masik-masing, dan ruang kelas adalah tempat berkumpulnya karakter unik ini. Terkadang kita sudah berusaha untuk membuat proses pembelajaran menyenangkan, tapi kok masih ada saja siswa yang tidak mau terlibat? masih ada saja siswa yang tetap bosan meski sudah dilakukan ice breaking? Murid saya kenapa ya?

Sebelum kita masuk ke materi, saya akan memperkenalkan narasumber kita malam ini. Beliau adalah Ibu Titis Kartikawati. Guru yang mengajar di kelas 5 SDN 09 Sanggau ini mempunyai cara tersendiri dalam memahami karakter murid. Mari kita dengarkan sharing materi dari ibu Titis yang telah 16 tahun menjadi guru. Kepada Ibu Titis, saya persilakan 

Titis Kartikawati KGB Sanggau

Assalamualaikum, selamat malam teman-teman guru berdaya di seluruh Nusantara!!
Apa kabar nih. masih semangat ya? senang dan sangat berterima kasih kepada Kampus Guru Cikal yang mengundang saya untuk berbagi praktik cerdas di TPM malam ini.
Pernah punya punya murid yang berkarakter unik dan perlu perhatian khusus tidak?

Kalau punya kita diskusi yuk malam ini.

Alhamdulillah saya sudah mengajar selama 16 tahun dan sudah mempunyai pengalaman diberi keragaman karakter siswa. dari mulai anak yang karakter pendiam, pemarah, hiperaktif dan lain-lain. Nah saya mempunyai cerita menarik yang mungkin bisa menginspirasi teman-teman semua. dulu ketika saya mengajar di kampung saya mempunyai anak bernama Onal sebut saja seperti itu. Anaknya aktif, sering bikin onar dan kurang sopan. Kadang membuat ribut dan bermain-main di kelas. Kalau saya mengajar dan anak-anak yang lain senang, dia selalu bilang tidak tertarik bahkan pernah mendoakan saya ketika mau ke Jakarta pesawat saya meledak. Ehm rasanya menghadapi dia sangat stres waktu itu. Sering saya berdiskusi dengan teman dan suami saya bagaimana cara menghadapinya.

Kata teman-teman saya mereka juga stres menghadapi di Onal ini. Dan mereka memyarankan untuk tidak memperdulikannya. Di cuekin aja bu. Nti juga dia yang akan minta maaf dan baikin ibu kata mereka

Tetapi setelah saya renungkan kalau saya ikuti saran mereka nanti tingkah laku Onal akan semakin menjadi.
Nah untuk mengatasi hal tersebut saya punya strategi menggunakan Buku Kejujuran (Bujur)

Buku ini adalah buku tulis biasa yang saya berikan kepada Onal untuk di tulis permasalahan yang dia hadapi maupun unek-unek yang mungkin sedang memenuhi pikirannya. Bisa juga ditulis apa yang menjadi harapannya terhadap saya selaku gurunya.
Saya guru yang terbuka. Tidak mudah tersinggung dengan kritikan karena itu akan menjadi bahan masukan untuk kebaikan saya

Lia Leonita KGB Depok

Menarik nih bu, lantas bagaimana bujur ini dalam menyelesaikan masalah anak?

Titis Kartikawati KGB Sanggau

Baiklah…
Pertama saya sudah menyiapkan bujur itu untuk setiap siswa. Ketika ada siswa yang bermasalah saya panggil dan saling berdiskusi (hanya berdua) dan tempatnya tidak di kantor. Saya bilang ke murid saya toling kamu isi buku ini dengan tulisan unek-unek atau permasalahan yang sedang kamu hadapi. Kamu bisa cerita sama ibu tentang keluargamu dan harapan kamu terhadap ibu. Nulisnya dirumah saja sambil santai-santai.

Singkat cerita, bujur itu sudah diisi sama Onal sebanyak 1 halaman. Dia menceritakan keluarganya. Ternyata dia anak angkat di keluarganya dan dia merasa kurang kasih sayang. Setiap hari tidak diberi uang jajan dan tidak boleh main sepulang sekolah. Aktivitasnya mengurus babi peliharaannya. Mencari umpan, memasaknya dan memberikannya pada babi-babinya (maaf saya mengajar di kampung yang mayoritas non muslim waktu itu). Jadi kesempatan bermain hanya di sekolah dan dia berharap saya menjadi ibu yang lain tidak seperti ibunya yang galak dan suka marah-marah

Waktu itu saya sempat menangis membaca tulisannya, saya menyesal sekali sering marah dan menyalahkan Onal serta tidak berusaha memahaminya. Akhirnya saya balas juga tulisannya di buku itu sebanyak 1 halaman juga, seperti berbalas surat.

Saya membalasnya dengan meminta maaf sama dia karena selama ini saya kurang memahami dan memperhatikannya. Saya juga berjanji akan menjadi ibu yang tidak galak seperti mamaknya. Tempat curhatnya

Akhir cerita kami sudah sepakat untuk menjadi yang terbaik. Dia akan menjadi anak yang baik dan saya akan menjadi guru yang baik

Lia Leonita KGB Depok

Dari bujur, menjadi sebuah komitmen bersama. kita buka termin pertanyaan ya bu Titis Kartikawati, untuk teman-teman yang mau bertanya, silahkan untuk menyebutkan nama dan asal daerahnya. Pada termin pertama saya buka untuk 3 penanya

  1. Tya KGB Kediri Raya
  2. Nurul KGB Tulungagung
  3. Choifah KGB Jepara

Tya KGB Kediri Raya

Karakter siswa kan beda ya Bu. Nah buat siswa yang belum mau terbuka bagaimana apalagi baru kenal? Dan bagaimana mengatasi anak yang malas menulis misalnya, dan mempertanyakan buat apa sih Bu begitu. Intinya bagaimana mengatasi penolakan dari siswa tentang program curhat lewat buku itu?

Titis Kartikawati KGB Sanggau

Di sekolah yang baru saya juga pernah mengalami ini bu. Dia cenderung cuek dan tidak mau menulis bujur. Lalu saya beri pengertian kamu lebih suka cerita secara lisan atau menulis. Kalau secara lisan resikonya nti di dengar kawan-kawan dan guru yang lain. Lalu kita kasih pandangan dan alternatif lain.

Nurul KGB Tulungagung

Terima kasih. Ide yang super ni dari bu Titis. Dulu saat mengajar di SD dan SMA saya pernah terapkan metode ini dan alhamdulillah memang berhasil. Nah, sekarang saya mengajarnya di TK/RA Bu. Bagaimana ya secara mereka terkadang juga belum bisa memahami perasaan mereka sendiri apalagi menuliskan nya. Kalo diajak main atau ice breaking hanya sesaat saja kadang mau kadang tidak?

Titis Kartikawati KGB Sanggau

Memang agak susah untuk anak usia RA bu. Karena memang blm bisa menulis. Jadi strategi bujur ini memang untuk anak yang sudah bisa menulis. Tapi menurut saya kalau anak usia RA memang harus banyak diajak bercerita, menggambar emosinya dan kita ajak main.
Diajak makan juga mereka akan senang. Intinya memang kita harus berhasil jadi temannnya dulu. Jadi org yang menarik perhatian dan kepercayaannya dulu

Nurul KGB Tulungagung

Kalo boleh menanggapi nih, misal kan ada tuh anak anak saya yang kalo diberi cerita eh, malah ngantuk padahal saya juga dah bawa boneka dan bersuara aneh aneh seperti binatang gitu heheh… Atau mungkin memang mood nya lagi ga bagus ya. Terima kasih

Titis Kartikawati KGB Sanggau

Mungkin cari aktifitas lain Bu, bisa kita ajak gantian dia yang bercerita

Choifah KGB Jepara

Menurut ibu bagaimana cara yang paling tepat menghadapi anak-anak yang butuh perhatian khusus tidur dan tidak peduli apalagi saya mengajar matematika di tingkat MA /SMA dan waktunya siang sudah capek dan lapar.

Titis Kartikawati KGB Sanggau

Saya rasa bisa rehat sejenak suruh mereka berimajinasi dengan bujur atau keranjang emosi.

Choifah KGB Jepara

Keranjang emosi apa lagi Bu? Kalo boleh ngomong bujur juga bermanfaat biar anak bisa menulis ya Bu, jadinya kegiatan literasi

Titis Kartikawati KGB Sanggau

Keranjang emosi itu keranjang yang saya siapkan di meja saya untuk menampung tulisan siswa. Bisa di awal pembelajaran, di tengah maupun di akhir pembelajaran. Isinya tentang perasaan mereka terhadap pelajaran. jadi mereka bisa puas menuangkan emosinya, bisa jadi refleksi kita jika pembelajaran memang kurang menyenangkan

Lia Leonita KGB Depok

Pertanyaan termin kedua ya
1. Anas maria dari malang
2. Destie dari temanggung
3. Agus gunawan dari cilacap

Saya persilahkan buat penanya termin kedua memberikan pertanyaannya

Anas Maria KGB Malang

Saya ini menghadapi siswa kelas 4 tapi dia tidak bisa menulis atau membaca jika tidak dipenggal tiap suku kata, kalau tidak diperhatikan dia bakal mengajak temannya yang lain untuk membicarakan hal lain sehingga temannya ikut tidak memperhatikan, tapi tiap disuruh nulis selalu mengeluh disuruh baca banyak alasan. Kalau temannya yang baca selalu ikut campur. Bagaimana solusinya menurut anda bu?

Titis Kartikawati KGB Sanggau

Memang butuh kesabaran dan latihan terus Bu. Karena itu merupakan keterampilan menulis. Jadi guru dan siswa harus sama-sama konsisten. Bisa alihkan dengan cara menggambar lalu di tulis apa yang di gambar. karena mungkin dia punya bakat/potensi yang lain. Seperti anak saya paling malas menulis tapi kalau mendengarkan dia akan ingat lama. Jadi kita fokuskan ke pontensinya. Kita latih terus

Agus Gunawan KGB Cilacap

Terimakasih, maaf saya punya murid kelas 6 sekarang cewe, pindahan dari sekolah lain dan info yang didapat, dia jadi pendiam dan selalu menyendiri karena korban buli dari teman-teman sekolahnya.
Pendiam sekali, kalau ditanya cuma senyum, cewe sudah dewasa, cara mendekatinya gmn?
Saya kan guru laki-laki

Titis Kartikawati KGB Sanggau

Menurut saya solusinya dengan bujur itu pak. Karena dengan bujur kita bisa menyimpan rahasinya dr kawan-kawannya.

Destie KGB Temanggung

Ketika ibu menerapkan bujur ini apakah langsung berhasil? Sekali aplikasi? Atau berproses? Karena kalau saya mengaplikasikan ini disekolah saya sepertinya tidak langsung berhasil karena mereka lebih ke cuek dan seperti yang ibu tyas tadi katakan

Titis Kartikawati KGB Sanggau

mungkin memang lain daerah lain pula permasalahannya ya. Kebetulan di daerah Kalimantan muridnya masih bisa kita atasi dengan bujur sekali aplikasi. Intinya bujur ini salah satu solusi. Jika belum berhasil, mungkin kita bisa cari alternatif yang lain

Lia Leonita KGB Depok

Untuk termin ketiga, 1 penanya saya buka

  1. Iwan A. Priyana KGB Bandung

Iwan A. Priyana KGB Bandung

Apakah guru yang menyediakan buku untuk siswa ? Apakah bujur itu untuk semua siswa?

Titis Kartikawati KGB Sanggau

Kalau saya,…
Guru yang menyediakan bukunya. Dan kita berikan hanya kepada siswa yang membutuhkan penanganan khusus. Tetapi jika kita ingin mengetahui lebih dekat tentang pribadi dan masalah mereka, tidak apa-apa kalau kita berikan setiap siswa.

Iwan A. Priyana KGB Bandung

Kalau sebagian, bagaimana menjelaskan pada siswa yang tidak.menerima buku? Sebab ada kesan perlakuan berbeda

Titis Kartikawati KGB Sanggau

Makanya saya biasanya secara pribadi dan diam-diam memberikan buku itu pak. Supaya dia merasa tidak malu dan tidak timbul hal-hal yang tadi dikhawatirkan

Lia Leonita KGB Depok

Okey, saya rasa cukup ya Bu.

Terima kasih kepada teman-teman atas antusiasnya, jika masih dirasa kurang mungkin bisa berdiskusi langsung dg bu Titis.

Kepada Ibu Titis, saya persilahkan memberikan kesimpulan materi

Titis Kartikawati KGB Sanggau

Baiklah, sebagai kesimpulan dari saya.
Seorang guru memang dituntut untuk memahami murid sebelum memberikan perlakuan yang tepat untuk mereka. Kita tidak tahu hal apa yang akan terjadi pada murid kita atas tindakan kita. seandainya saya waktu itu mengikuti saran teman-teman saya untuk membiarkan/cuek terhadap Onal mungkin Onal akan menjadi anak yang nakal dan dendam dengan saya. bahkan mungkin doa-doa jelek akan terus dia panjatkan untuk saya. kita akan dikenang sebagai guru yang bagaimana itu tergantung dari sikap kita menghadapi mereka. tetap semangat dalam memahami murid dan membimbing mereka. Insyaallah berkah dan doa terbaik yang akan kita terima. Mungkin bujur bukan satu-satunya solusi untuk permasalahan murid kita tetapi apa salahnya kita mencobanya.
Tetap semangat teman-teman

Baja Kampus Guru Cikal

Assalamualaikum,
Selamat malam teman-teman Guru Belajar Nusantara.
Perkenalkan saya Baja Seto dari tim Komunitas Kampus Guru Cikal (KGC). Terimakasih atas waktu dan kesempatan yang diberikan untuk bercerita sedikit tentang Temu Pendidik Nusantara (TPN) 2019.

Sebelum dimulai, saya ingin bertanya siapa yang sudah pernah hadir dan belajar di TPN sebelumnya?
Silakan acungkan jari melalui emoticon (saya berikan waktu 1 menit)

Kali ini kita fokus ke pengalaman belajar di TPN ya

Saya mengajak bu Titis Kartikawati untuk berbagi pengalaman di TPN sebagai peserta

Bu Titis Kartikawati , kalo 1 kata yang mewakili pengalaman ibu belajar di TPN apa, dan kenapa memilih kata itu?

Titis Kartikawati KGB Sanggau

Cerita sedikit tentang TPN ya..
TPN mrpkan momen bersejarah dalam hidup saya. Terutama untuk karir dan pengalaman belajar. Belajar merdeka belajar, belajar mamanusiakan hubungan, belajar mengelola KGB dan belajar jadi pembicara/narasumber.
Oleh kampus cikal kita dibimbing dan diberi kesempatan seluasnya untuk berbagi dan belajar.

Baja KGC

Pertanyaannya, kenapa bu Titis Kartikawati mau ikut TPN ?

Titis Kartikawati KGB Sanggau

Karena dengan ikut TPN kita akan bertemu teman seperjuangan, teman-teman yang merdeka belajar tnpa paksaan dan semangat kolaborasi sangat terasa di TPN. Banyak ilmu baru yang bisa kita terapkan di kelas kita, sekolah bahkan KKG masing-masing

Baja KGC

Apa 1 dampak yang paling berkesan dari mengikuti rangkaian belajar di TPN Bu?

Titis Kartikawati KGB Sanggau

Dampak yang saya rasankan saya merasa dapat energi baru untuk melalukan perubahan di kelas saya.

Baja KGC

Wah, energi untuk berubah ya Bu?
Apakah ibu juga dapat menemukan rekan untuk berjuang?

Titis Kartikawati KGB Sanggau

Ada dong. SetiP tahun yang ikut ke TPN makin banyak. Th 2016 hanya berlima, th 2017 tambah jadi 8 org, danntahun kemaren bertambah jadi 20 org. Kami berangkat dengan biaya sendiri dari kalimantan. Itulah rekan-rekan sama-sama berjuang

Baja KGC

Jika dari obrolan yang sangat singkat tadi, ibu Titis Kartikawati hadir di TPN karena dorongan internal, hadir karena ingin bertemu dan belajar bersama Guru Merdeka Belajar dari seluruh Indonesia. Dampaknya, berlipatnya energi untuk berubah menjadi guru yang lebih baik dan lebih memahami murid.
Bukan hanya berdampak bagi diri sendiri namun juga untuk lingkungan yang lebih besar.
Benar begitu Bu?

Titis Kartikawati KGB Sanggau

Yes Pak Baja

Lia Leonita KGB Depok

Rekan-rekan guru, tibalah kita di akhir diskusi, mari kita melakukan refleksi dengan templat berikut

Lia Leonita KGB Depok

Saya selaku moderator, undur diri. Mohon maaf lahir batin jika ada kesalahan selama diskusi

Refleksi Moderator

Refleksi saya saat menjadi moderator TPM kali ini adalah harus bisa focus diantara kondisi yang ada, dari mulai saya punya bayi 9 bulan yang ga bisa liat bundanya megang laptop, dari Gempa yang terasa kencang dan membuat saya harus meninggalkan kamar untuk berlindung.

Menjadi moderator artinya menjembatani antara peserta dengan narasumber, dan saya merasa di TPM kali ini belum terlalu maksimal terkait masalah komunikasi antara saya dengan narasumber, mungkin terkendala dari jaringan sehingga sempat terjadi kekosongan disaat sesi diskusi, dan jujur saya bingung harus bertindak apa.

Merefleksi materi yang menurut saya out of the box, tidak semua guru berfikir cara ini. dulu saat saya mengajar, saya selalu merefleksikan diri dengan cara meminta murid menulis surat tentang saya, baik secara pribadi, social maupun saat mengajar. Ketika saya menjadi Kepala Sekolah, ini juga yang sering saya lakukan ke siswa untuk merefleksikan guru, siswa diminta menuliskan isi hatinya tentang guru-guru yang ada di sekolah saya. sehingga saya bisa melakukan pembinaan dari sisi yang tidak terlihat oleh saya.

Terima kasih untuk KGC yang telah menawari saya menjadi moderator, tantangan menjadi moderator online adalah kita tidak bisa menyetop komen dari peserta karena tanpa izin mereka bisa saja langsung memberikan pertanyaan ataupun memberi tanggapan.

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: