Murid Diam Karena Takut, Bukan Paham, Guru Perlu Bagaimana?

Penulis : Erna Sugiarti | 10 Jan, 2020 | Kategori: Liputan Guru Belajar, Tegal, Temu Pendidik Daerah

Rodiyanto
Di Temu Pendidik Daring #3 KGB Tegal kali ini, kita akan membahas tentang “Strategi Komunikasi : Dari Marah-marah Menjadi Komunikasi Hati”. Berikut profil beliau : Ratno Kumar Jaya. Profesi beliau sebagai guru SMK Muhammadiyah Pekalongan. Mengampu mata pelajaran Bahasa Indonesia. Kegiatan lainnya, beliau aktif di Komunitas Guru Belajar Pemalang.

Ratno Kumar Jaya
Bapak ibu guru yang baik, izinkan saya berbagi cerita malam ini ya. Sebelum saya masuk ke cerita, ada gambar nih buat bapak dan ibu. Bisa berikan pendapatnya ya tentang gambar berikut. Apa yang bapak dan ibu pikirkan tentang gambar ini? Boleh kasih pendapatnya ya.

Semua hampir sepakat bahwa nomor gambar nomor 1 adalah gambar yang baik. Terlihat jelas ketulusan hati dan cinta seorang guru dalam mendidik muridnya. Lain halnya dengan gambar yang nomor 2. Tampak ada ekspresi kemarahan dan ancaman yang diarahkan ke murid. Dampaknya apa? Tentu akan mempengaruhi keharmonisan hubungan antara guru dan murid dan kegiatan belajar pun akan berlangsung tidak efektif. Persis seperti cerita saya beberapa waktu lalu.

Ceritanya begini bapak dan ibu:

Berawal dari beberapa murid yang memancing kegaduhan saat ulangan remedial yang saya bagi menjadi dua kloter. Kloter pertama melakukan ulangan dan kloter kedua inilah yang di luar kelas tetapi mengganggu murid yang sedang ulangan remedial. Bukannya belajar mereka malah bermain sok sok peng (himpit-himpitan) di tempat duduk depan kelas sambil teriak-teriak dan tertawa lepas. Sudah saya ingatkan berkali-kali tetapi mereka tidak mempedulikan saya, sampai akhirnya emosi saya sampai pada titik puncaknya.

Tak kurang dari sepuluh menit, saya minta semua murid masuk kelas. Saya lampiaskan kekesalan saya di kelas. Saya minta murid-murid tersebut untuk berdiri di depan kelas. Kemudian memintanya maju ke depan meja saya dan menyebutkan namanya satu-persatu, saat itu juga saya coret nama mereka di buku jurnal penilaian dan saya katakan ke mereka “Jangan harap kalian akan tuntas nilainya”. Peringatan ini sekaligus sebagai ultimatum untuk semua murid agar tidak seenaknya berperilaku kurang sopan dengan saya. Seketika kondisi kelas hening semua murid menundukkan kepalanya, sedangkan saya masih terus memarahi mereka hingga mengancam tidak akan naik kelas. Melihat reaksi mereka seperti itu, saya pikir dengan cara seperti ini (marah serta mengancam) akan membuat jera dan mereka tidak akan mengulanginya lagi, serta bisa bersikap lebih sopan dengan saya ataupun guru yang lain.

Tergambar tidak bapak ibu galaknya saya dulu? 

Ternyata cara yang saya lakukan untuk merespons emosi yang muncul dalam diri saya itu kurang tepat. Emosi marah yang muncul karena ketidaksukaan saya terhadap perilaku yang menyimpang dari murid tidak sepatutnya saya luapkan dengan ancaman-ancaman atau pun menantang murid yang bermasalah. Tidak semua murid bisa terima dan takut dengan ancaman. Kecenderungan meluapkan emosi dengan perkataan-perkataan yang menyakitkan atau menakuti-nakuti murid dilatarbelakangi kurang pahamnya saya bagaimana untuk mengelola emosi. Saat ada hal yang bertentangan saya bersikap reaktif tanpa pikir panjang yang kemudian justru membuat masalah baru.

Seperti saat saya memarahi dua anak yang mengulang di kelas sebelas, bisa jadi kedua anak ini sudah terbiasa diancam oleh guru-guru yang lain dan sudah merasakan konsekuensi langsungnya yakni tinggal di kelas sebelas. Alhasil, saat saya nasehati seperti sudah tidak mempan malah mereka menyanyikan cuplikan lagu Iwan Fals “Masalah moral, masalah akhlak biar kami cari sendiri. Urus saja moralmu, urus saja akhlakmu peraturan yang sehat yang kami mau”. Langsung saya minta mereka keluar kelas tanpa pikir panjang. Ternyata keputusan saya ini berimbas terhadap kondisi kelas yang akan saya ajar. Atmosfer kelas jadi sunyi, tetapi bukan karena tenang melainkan lebih ke rasa takut yang menyelimuti kondisi kelas sehingga proses pengajaran tidak berlangsung efektif.

Dari refleksi tersebut saya mencoba mempraktikkan apa yang saya peroleh dari kelas parenting mengenai pengelolaan emosi dan strategi komunikasi untuk menjalin hubungan yang baik dengan murid meskipun dalam kondisi marah. Jika dulu saya lebih reaksional terhadap sikap murid di kelas, sekarang saya bisa lebih tenang untuk merespons hal tersebut. Adapun caranya tiap kali saya marah saya memberi jeda untuk bereaksi dengan duduk dan diam lebih dahulu ketika murid di kelas sudah tenang saya baru mulai berbicara. Hal ini cukup efektif karena saya merasa lebih bisa mengontrol emosi marah saat mendapat perlakuan kurang mengenakkan di kelas. Selain itu, strategi komunikasi yang awalnya saya gunakan dengan mengancam atau menakuti-nakuti murid, saya ubah dengan menerapkan strategi komunikasi dengan i-message.

I-message adalah strategi komunikasi yang mengedepankan kemampuan mengungkapkan kebutuhan diri tanpa menyerang. Atau bisa dibilang i-message itu strategi komunikasi dengan cara mengungkapkan perasaan yang dirasakan agar lawan bicara bisa lebih berempati. Di dalam i-message ada empat bagian utama yakni: saya merasa (…), saat (…), saya ingin (…), dan karena (…). Misalnya, saat murid tidak mengerjakan PR yang saya berikan, jika biasanya saya marah dan menghukumnya berlari keliling lapangan, saya coba menggunakan strategi komunikasi i-message seperti ini. “Sebetulnya Bapak merasa marah, saat kalian tidak mengerjakan PR. Bapak ingin kalian menjadi pribadi yang bertanggung jawab, karena kita harus bertanggung jawab saat diberikan amanah dan PR ini juga tak lain tujuannya untuk belajar kalian di rumah”. Saat saya mengucapkan kalimat ini murid di kelas bisa lebih menerima dibanding saat saya marah-marah kemudian menghukum mereka. Saat itu juga saya minta mereka mengerjakan PRnya dan setelah selesai baru kami bahas.

Memang awalnya saya canggung menggunakan strategi komunikasi tersebut karena tidak mudah bagi saya sebagai guru laki-laki. Saya yang biasanya lebih mudah menghukum harus mengungkapkan perasaan yang dirasakan ke murid. Selain itu, strategi komunikasi ini butuh konsistensi karena tidak semua kelas bisa menerimanya terlebih dengan karakter saya yang dulu lebih suka mengancam atau marah-marah.

Silakan bisa dibaca terlebih dulu ya bapak dan ibu. Setelah selesai bisa langsung sharing aja ya? 

SESI TANYA JAWAB

Dini Sofi
Pak Kumar, apakah setiap masalah cocok menggunakan imessage? Apakah peraturan yang telah dibuat bersama berupa punishment itu baik?

Ratno Kumar Jaya
Cocok atau tidaknya, patrikan terlebih dulu dalam hati kita bahwa apa yang akan kita lakukan ini hal baik dan insyaAllah berhasil. Karena menurut saya, i-message ini sangat efektif untuk komunikasi dengan murid karena dalam proses ini kita juga mengajari mereka untuk berempati. Tantangan sebenarnya bukan di i-message tapi di konsistensi dan kesabaran kita untuk terus menumbuhkan sikap positif terhadap murid.

Kalau kami lebih suka menyebut konsekuensi bukan punishment/ hukuman karena dua hal tersebut beda. Jika sudah ada kesepakatan yang disertai dengan konsekuensi tinggal diteruskan saja pak. Kalau i-message ini strategi komunikasinya agar anak tahu kebutuhan dan perasaan kita saat itu juga.

Dini Sofi
Oh iya mohon maaf yg dimaksudkan adalah konsekuensi dari apa yang telah dilakukan. Setuju pak karena konsistensi juga dapat membuat anak disiplin. Terlebih dengan peraturan yang telah dibuat. Mungkin penanganan yang telah melanggar bisa pakai dengan i message. Terima kasih pencerahannya pak.

Nisa
Kebetulan saya guru jenjang TK. Sering sekali saya dihadapkan dengan anak2 yang keluar kelas atau tidak melaksanakan kesepakatan kelas. Dilihat dari perkembangan mereka saya juga berusaha memahaminya. Namun, mereka juga butuh diarahkan. Pertanyaan saya, bagaimana jika ketika saya sedang menyampaikan i-message di bagian awal: “saya merasa….”, tapi anak sudah lari duluan jadi i-message belum tersampaikan dengan lengkap. Kira-kira bagaimana nih pak strategi yang pas untuk disampaikan ke anak2 TK. Terimakasih.

Ratno Kumar Jaya 
Seru ya bu kalau sama anak-anak pasti lari-lari dulu. Kalau sama anak-anak sebetulnya lebih mudah untuk mereka pahami bu dan kita juga tidak canggung untuk melakukan praktik i-message. Kalau kendalanya karena keaktifan anak yang masih ingin bermain lari-larian. Tenangkan dulu bu, beri sentuhan kecil atau pelukan dan memintanya untuk tenang. Setelah tenang baru deh kita sampaikan harapan atau keinginan kita itu apa. Misal: Nak, ibu merasa khawatir/ takut saat kamu lari-larian terus, ibu ingin kamu bisa lebih hati-hati saat bermain karena ibu sayang kamu.

Nisa
Iya Pak kebanyakan anak-anak TK itu kan energik sekali ya. Wah, ide sentuhan kecil itu so sweet sekali pak,  langsung kena dihati. Maturnuwun sanget pak, langsung sepakat saya pak.

Lia
Wah sama, kebetulan saya juga belajar di jenjang TK. Terimakasih Pak. I-message kata pendek banyak makna. Penasaran sekali nih Pak, pengalaman Bapak,  cara bapak dalam mempertahankan strategi komunikasi bermakna yang sangat butuh akan konsistensi saat pelaksanaannya?

Ratno Kumar Jaya
Sadar penuh, kalau mau marah bisanya kita sadar dan tahu bahwa kita akan marah. Nah kalau aku biasanya menenangkan diri lebih dulu, karena kita perlu memenuhi kebutuhan diri kita agar bisa lebih tenang dalam menghadapi murid kita. Memang kadang godaan jalan pintas itu selalu ada. Kita ingin anak langsung berubah dengan memberikan hukuman padahal hal demikian kurang tepat. Kembali lagi kita perlu mengingat bahwa untuk jadi lebih baik kita semua perlu konsistensi dan itu butuh proses. 

Lia
Waw, lagi-lagi tentang mengelola emosi ya Pak, itu PR untuk diri saya pribadi yang masih naik turun.

Tenangkan diri, setelah tenang baru kita beri sentuhan kecil pada anak kita.

Ratno Kumar Jaya
Tidak ada yang kepo gimana mereka membalas cinta gurunya? 

Lia
Kepo sekali Pak. Tapi saya juga sudah tanya. Apa boleh saya menanggapi dengan bertanya kekepoan saya?  Cara mereka membalas cinta Bapak?

Ratno Kumar Jaya
Hal itu saya ketahui saat memasuki tahun ajaran baru. Di awal tahun ajaran baru saya tidak jarang konsultasi ke guru Bimbingan Konseling (BK) untuk menggali informasi mengenai kondisi murid yang saya ampu. Dari mulai tingkat kerawanan kelas sampai kelas-kelas yang membutuhkan perhatian khusus. Selain membahas hal-hal tersebut, beliau juga menyampaikan hasil observasi tanggapan murid mengenai saya. Beliau menuturkan, menurut anak-anak saya banyak mengalami perubahan dari cara mengajar dan cara berkomunikasi dengan mereka. Saya tak lagi sering mengancam atau berkata kasar kepada mereka saat melakukan pelanggaran. Masih menurut beliau, anak-anak jauh lebih nyaman dan suka dengan perlakukan yang saya upayakan untuk mereka. Berdasarkan penuturan beliau, hal ini membuktikan bahwa i-message lebih efektif daripada marah-marah atau mengancam. Jadi, jangan ragu ya untuk praktik i-message ke murid.

Mailina
Pak, bagaimana langkah selanjutnya jika kita telah mencoba/menerapkan i-message di dalam kelas, tetapi anak tersebut masih saja melakukan hal-hal yg menurut kita tidak baik atau tidak konsisten dengan kesepakatan yang telah dibuat bersama, apa ada model treatment komunikasi selanjutnya pak? Terima kasih.

Ratno Kumar Jaya
Yups, seperti cerita sebelumnya. Pernah diledek pas pakai i-message tapi terjang aja terus. Saat itu, kondisi kelas ramai saya minta tenang, mereka pun langsung tenang, tetapi tak lama kemudian mereka ramai lagi, sampai akhirnya saya memilih duduk dan diam di depan kelas menunggu mereka tenang. Setelah semua tenang, saya coba ungkapkan perasaan saya kepada mereka. Saya pun berdiri dari kursi malas saya menuju tengah ruang kelas sambil berbicara “Sudah tenang ya, sekarang gantian Bapak, Bapak mau ngomong sama kalian.”

Semua murid diam dan memperhatikan, kemudian saya pun melanjutkan berbicara “Bapak merasa sedih, saat kalian tidak memperhatikan. Bapak ingin kalian memperhatikan saat Bapak sedang menjelaskan, karena kita harus saling menghargai di kelas ini.”. Sebagian besar murid diam dan berempati terhadap perasaan saya, tetapi seketika energi itu pecah saat ada beberapa anak yang dengan sengaja berpura-pura menangis dengan suara terisak-isak merespons kalimat saya tersebut. Saat itu saya tidak marah, saya kembali melanjutkan mengungkapkan kebutuhan diri saya tanpa menyerang anak-anak tersebut.

“Bapak tahu, memang terlihat aneh kalau Bapak mengungkapkan perasaan yang sekarang Bapak rasakan. Tetapi Bapak ingin kalian tahu, kalau kalian tidak memperhatikan Bapak merasa sedih. Apalagi kalau perasaan Bapak ini direspons dengan bercanda, Bapak tambah merasa sedih. Apakah kalian mau saat kalian mengungkapkan perasaan kalian, terus responnya justru dijadikan bahan bercandaan?” Semua murid diam, dan anak-anak yang awalnya slengean dengan pura-pura menangis tadi juga ikut diam. Kemudian kondisi kelas bisa lebih kondusif sampai akhir kegiatan pengajaran. 

Rodiyanto
Berhubung waktu sudah menunjukkan pukul 21.15 WIB, kita udah lewat 15 menit, alangkah baiknya kita tutup dulu diskusi malam ini. Setelah ditutup, silakan sharing bebas. Matur suwun sanget kangge pak Ratno Kumar Jaya untuk sharing malam ini.

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: