Murid Penyandang Disabilitas Ikut Berkontribusi di Garis Start NusantaRun Chapter 6

Penulis : rizqy | 8 Dec, 2018 | Kategori: Inspirasi Guru Belajar, Liputan Guru Belajar

Noriko adalah murid penyandang tuna daksa yang memiliki hobi komputer serta memiliki cita-cita menjadi ahli komputer jika besar nanti. Sore itu di kursi roda yang sering dipakai di sekolah, ia dibantu pak Waluya gurunya menuju stand relawan. Matanya berbinar,senyumnya mengembang dan terkadang ia meminta gurunya untuk mempercepat langkahnya.

 “Noriko mau pilih yang mana? Mau membantu kakak-kakak memasang tatoo kilometer? Atau itu (menunjuk) membantu kakak-kakak drop bag ke pelari? Atau yang ini, memberikan formulir daftar ulang ke pelari” tanya Harry salah seorang panitia NusantaRun chapter 6

“Aku mau ini aja.” Ujar Noriko dengan menunjuk stand bagian formulir. Ia mulai bertugas membantu relawan lainnya yang bersal dari berbagai daerah memberikan formulir kepada pelari.

Noriko adalah satu diantara 12 murid dari SLBN Temanggung yang memilih menjadi relawan NusantaRun chapter 6 di garis start. Selain Noriko ada Rizki murid penyandang disabilitas tuna rungu ini dengan antusias menjadi relawan pemasang tattoo kilometer. Ia menempelkan kertas putih ke lengan pelari, kemudian menggosok-gosokkannya dan terakhir ia melepaskan kertas putih tersebut. Tatto kilometer pun terpasang di lengan pelari.

Lain cerita dengan Noriko dan Rizki, adapun Bagas murid penyandang disabilitas dengan asik memilah ukuran-ukuran kaus. Bagas asik cerita dengan relawan lainnya tentang pengalamannya menjuarai turnamen futsal di Semarang.

“Malam ini menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi anak-anak. Mungkin besok mereka akan berceloteh dengan teman-temannya di sekolah tentang apa yang mereka alami malam ini” ujar Guru Ina kepala SLBN Temanggung.

Di perhelatan ini tampak #PendidikanUntukSemua , murid-murid penyandang disabilitas sejak awal memasukki lokasi start sudah disambut dengan hangat oleh para pelari. Beberapa di antaranya menghampiri anak-anak dengan Bahasa isyarat. Ada pula yang mengajak berswafoto tanpa ada sekat di antara mereka.

Bertempat di pelataran hotel Kledung Pass (Jumat, 7 Desember 2018) sebanyak 80 pelari memantapkan diri mengambil kategori full course, ini artinya mereka akan berlari sejauh 169 km dari Kledung Pass sampai Pantai Sepanjang di Wonosobo dan melewati 16 titik point peristirahatan.

“Saya memilih ikut NusantaRun bukan sekedar karena event larinya, tapi karena dampaknya. Dampaknya untuk pendidikan Indonesia” Ujar Adam seorang pelari dari Jakarta.

Waktu menunjukkan pukul 06.45 beberapa pelari melakukan pengecekan perlatan yang dibawa, yang lainnya sudah siap berlari di garis start. Adapun murid-murid penyandang disabilitas sudah berkumpul di depan garis start. Sebelum memulai lari, Christhoper Tobing Co-Founder NusantaRun meminta pelari, dan pengunjung yang ada di garis start mengheningkan cipta untuk salah seorang pelari yang seminggu sebelum race minggal karena stroke.

Setelah itu, Eriska murid  penyandang disabiltas dari SLBN Temanggung langsung memimpin menyanyikan lagu Indonesia Raya.

“Indonesia tanah airku… tanah tumpah darahku…”

Murid lainnya penyandang tuna rungu menyanyi menggunakan bahasa isyarat.

“Garis start dan finish bukan Wonosobo atau Gunung Kidul, di rumah kita masing-masing. Safety first!” ujar Christopher sebelum melepas pelari.

Diiringi lagu Tulus Manusia Kuat, malam itu pukul 19.00 WIB sebanyak 80 pelari mulai menapakkan langkahnya menuju Gunung Kidul.

“Manusia… manusia kuat.. itu kita…. Jiwa. Jiwa yang kuat.. itu kitaaa”

Sayup-sayup lagu tersebut sudah tidak terdengar lagi, pelari sudah mulai menjauh dari garis start. Malam itu di dinginya Wonosobo pelari menyusuri jalan.

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: