Murid Sekarang Tak Tahu Aturan, Dijadikan Teman Malah Kebablasan, Bagaimana Mengatur Kelas?

Penulis : Maman Basyaiban | 17 Dec, 2019 | Kategori: Liputan Guru Belajar, Temu Pendidik Mingguan

Mas Hartawani, KGB Kotawaringin Barat

Gambar mungkin berisi: 2 orang, orang tersenyum, teks

Bertahun tahun mengajar, Tantangan terasa semakin berat. Murid jaman sekarang lebih aktif dan kritis. Hukuman tak lagi mempan. Memposisikan murid sebagai teman pun, justru malah tak di hormati. Capek pasti ya mengalami hal tersebut setiap hari? Ingin mengatasinya? Bagaimana mengatur kelas?

Mari kita belajar bersama  Ibu Ely Virgijanti yang berasal dari KGB Surabaya, Beliau sudah  5 Tahun menjadi pendidik di Sekolah Cikal Surabaya. 

Silahkan bu Ely Virgijanti untuk menyapa Bapak ibu  yang ada diskusi kali ini sekaligus menyampaikan praktik baiknya dalam melaksanakan pengelolaan kelas.

Ely Virgijanti, KGB Surabaya

Langsung ke berbagi praktik ya

1. Ajak murid membuat kesepakatan kelas. Ini bisa dilakukan di waktu kapanpun. Tidak ada kata terlambat. Tetapi memang lebih tepat di awal tahun ajaran. Saya ajak murid murid berbagi tentang kenyamanan belajar. Saya berikan kesempatan kepada mereka memberikan usulan aturan aturan yang diperlukan supaya situasi kelas bisa nyaman dan aman. Tekankan pada kenyamanan dan keamanan bersama. Dalam kelas yang besar mereka bisa dibagi menjadi beberapa kelompok untuk berdiskusi dan setelah itu ajak diskusi dalam kelompok besar. Saya kupas satu per satu. Kenapa aturan itu diperlukan? Apa yang akan terjadi apabila tidak dilakukan? Jadi murid saya ajak memahami  konsekuensi dari sebuah tindakan. Ingat konsekuensi bukan reward atau hukuman.

Mas Hartawani, KGB Kotawaringin Barat

 Wah, sangat menarik  konsepnya. Saya akan buka diskusi dengan 2 Termin, Pada termin saya akan  pilih tiga Penanya untuk menyampaikan pertanyaan. saya persilahkan kepada :

  1. Salsabila Dhea
  2. Hilal Rizki
  3. Nur Syifa 18

1. Salsabila Dhea

Pertanyaan saya, bagaimana kalau anak anak ini datang dari culture yang tidak paham namanya kesepakatan,bagaimana jika anak anak ini malah memberi kesepakatan yang maaf malah nyeleneh atau di luar yang kita harapkan seperti, “bu saya tidak mau banyak menulis dan latihan” tapi dalam prakteknya saat ulangan mereka tidak menyerap materi apapun.

2. Ely Virgijanti KGB Surabaya

Selalu ada pengalaman pertama ,  kerja sama yang baik antara sekolah, guru dan orang tua memang diperlukan. “Kesepakatan yang nyeleneh”, makanya disini ada diskusi bersama bu salah satunya membahas perlu tidaknya aturan tersebut untuk menjamin kenyamanan belajar. Jadi bukan berarti apa yang diusulkan murid langsung diterima. Setelah diskusi ini aturan aturan yang disepakati akan mengerucut bu. Dalam diskusi pemahaman akan aturan dan konsekuensinya harus benar benar didapatkan oleh murid dan ini membutuhkan waktu. “Anak tidak mau menulis dan latihan, padahal tidak menyerap materi.” Yang perlu ditanyakan disini adalah apakah itu gejala atau masalah sebenarnya. Apa yang membuat dia tidak mau menulis. Sudahkah ada diferensiasi. Pertanyaan ini lebih tepat dijawab saat diskusi materi diferensiasi.

Hilal Rizki

Cara ini sudah pernah saya terapkan Bu tetapi tidak berhasil, malah terkadang siswa sering kali melanggar,dan penyebabnya ya dari siswa sendiri yang sepele akan kesepakatan yang dibuat apalagi disekolah saya bisa dibilang si pembuat masalah anak yayasan,

Jadi gimana itu Bu

Ely Virgijanti KGB Surabaya

Penerapan dan pemahaman konsekuensi perlu dilakukan secara konsisten. Biasanya pendiskusian masalah akan dilakukan hanya pada saat pelanggaran terjadi. Padahal seharusnya dilakukan rutin, jangan menunggu ada masalah. Saya selalu memulai kelas dengan melakukan ngobrol ringan dengan murid dan saya selipkan diskusi kesepakatan kelas. Diskusi ini juga bisa dilakukan di akhir pelajaran, menjelang pulang. Ajak mereka merefleksikan pengalaman mereka belajar di hari tersebut apa yang perlu ditingkatkan, apa yang perlu diperbaiki. Biasanya diskusi ini saya lakukan 15 menit.

Nur Sifa 18

Saya punya murid masih belum mengenal padahal usia sudah cukup aja Bu dan anak ini diberitahukan ortunya sekolah duduk saja. Nah anak ini sering tidak mematuhi peraturan Bu contohnya sering terlambat. Diberikan kesepakatan tidak ada perubahannya Bu masih seperti anak TK perilakunya  padahal sudah kelas 1 SD.

Ely Virgijanti KGB Surabaya

 Kesepakatannya berupa apa bu? Diskusi dengan orang tua perlu dilakukan, kenapa datang terlambat. Apakah benar masalahnya di murid tersebut? Atau justru keterlambatan tersebut diakibatkan pihak lain. Saya pernah memiliki murid seperti ini, dan keterlambatan mereka lebih diakibatkan hal yang diluar kendali mereka, seperti orang tua yang berangkat terlambat atau perlu mengantar adik dulu. Apabila sudah diketahui penyebabnya perlu dilakukan diskusi dengan murid dan orang tua untuk mencari solusi. Saya ajak murid ini reflektif akibat dari keterlambatan test. Nyaman tidak kalau terlambat. Alhamdulillah keadaan berubah bahkan murid tsb bisa mengatur waktu bagaimana supaya tidak terlambat dan mengingatkan orang tuanya kalau utk masalah duduk saja, sepertinya perlu dicari tahu penyebabnya. Jangan jangan dia merasa tidak nyaman dengan situasi belajar atau ada permasalahan lain. 

Hilal Rizki

Hampir setiap pertemuan saya memberikan konsekuensi terhadap mereka yang melanggar kesepakatan,dan saya juga melakukan refleksi ya walaupun masih belum bisa konsisten, itu karena kadang saya merasa kesal sendiri akibat ulah si anak yayasan Bu

Karena setiap saya beri konsekuensi dia merasa ada dukungan dari orang tuanya,

Jadi gimana caranya mengatasi anak yang seperti itu Bu

Soalnya saya khawatir anak yang lain pada ikutan

Ely Virgijanti KGB Surabaya

Memberikan konsekuensi? Disini saya memahaminya seperti sebuah hukuman pak. Konsekuensi menurut artinya adalah akibat dari perbuatan tersebut. Saya pernah memiliki murid yang juga anak pemilik sekolah. Di awal saya diwanti wanti untuk hati hati. Saya menerapkan hal yang sama ke semua murid. Pemahaman dan penerapan konsekuensi dari sebuah perbuatan. Apabila dirasa masih belum cukup, diskusi dengan orang tua memang diperlukan. Diskusi bertiga juga diperlukan untuk mencari sumber masalah dan solusi yang tepat. Bisa juga dibuat kontrak antara guru, orang tua dan murid. Oh ya kesepakatan kelas (aturan kelas yang sudah disepakati) saya infokan juga ke orang tua melalui surat karena setiap orang tua diharapkan memahami cara belajar dan aturan yang telah disepakati di sekolah.

Mas Hartawani KGB Kotawaringin Barat

Baiklah, untuk 3 Penanya saya  rasa sudah cukup dulu untuk jawaban yang sudah disampaikan Bu Ely Virgijanti. Berikutnya untuk termin kedua saya  persilahkan dua orang penanya lagi untuk menyampaikan pertanyaan terkait dengan pengelolaan kelas. Yaitu :

  1. Amalia dari KGB Rembang
  2. Choifah dari Jepara

Amalia dari KGB Rembang

Kami biasanya memperlakukan anak didik layaknya teman,… kami berharap dengan begitu akan muncul rasa nyaman pada diri anak, agar proses pembelajaran bisa menjadi menyenangkan….

Namun saat ini, yg terkesan malah guru sering diabaikan dan anak cenderung tdk hormat… mohon solusinya bu.. terimakasih.

Mas Hartawani   KGB Kotawaringin Barat

Baiklah Ibu Amalia, sudah mempelajari paparan Praktik Baik yang sudah disampaikan  Bu Ely Virgijanti pada awal diskusi? Silakan dipraktekkan dulu bu, semoga bisa terselesaikan masalahnya karena  hal itu adalah Pengalaman pribadi yang sudah dilakukan beliau.

Amalia Sholichah

Ohh, Iya bu Terimakasih. Kami juga sedang  mempraktikkan sebagian dari hal itu. Terkait kesepakatan, memang kami belum bisa membuat kesepakatan yang matang, seringkali kesepakatan yang dibuat itu hanya berlaku beberapa hari saja, hingga saat ada yang melanggar, kami buat kesepakatan baru. Demikian itu masih terus terulang. Jadi terkesan kesepakatannya kurang konsisten.

 Choifah dari Jepara

1. Konsekuensi yg bukan berupa reward atau hukuman, sebaiknya berupa  apa Bu?

2. Bolehkah kesepakatan itu dibuat setiap awal pelajaran? 

3. Mungkin tidak ya terjadi pelanggaran kesepakatan dilakukan oleh guru, semisal larangan bawa hp,eh malah guru sendiri buka hp?

Terimakasih

Ely Virgijanti KGB Surabaya

1. Konsekuensi adalah akibat dari sebuah perbuatan dan itu terjadi bukan karena diberikan. Contoh kesepakatan mengumpulkan tugas tepat waktu. Apabila tidak konsekuensi apa yang terjadi: tugas menumpuk, pekerjaan jd lebih banyak, beban tugas semakin berat. Jadi bukan malah berdiri didepan kelas, atau yang mengumpulkan tugas lebih awal mendapatkan tanda bintang.

2. Kesepakatan bisa dilakukan kapanpun bu. Bahkan bisa direview 

3. Namanya saja kesepakatan kelas. Ini berarti semua anggota harus menaati termasuk guru dan murid.

4. Kesepakatan kelas bisa dipasang di kelas bu, bisa ditambah tanda tangan atau cap jempol murid jadi spt kontrak begitu. Dan diskusi berkala dilakukan. Bisa diskusi per item saat diskusi rutin.

Saya ajak murid membuat display kesepakatan kelas lalu saya meminta mereka tanda tangan, untuk murid dengan usia lebih kecil bisa kita buatkan lalu minta mereka cap tangan

Utk tahun ini kesepakatan kelas yang kami buat:

1. Respect others

2. Be on time

3. Clean up after activities

4. Use inside voice when speaking

Mas Hartawani  KGB Kotawaringin Barat

Karena waktu diskusi sudah  melewati jadwal maka saya meminta kalimat penutup dari Bu Ely Virgijanti sebelum mengakhiri diskusi TPM  Ke 112 pada hari ini.

ELY VIRGIJANTI KGB Surabaya

Dalam manajemen kelas yang baik diperlukan sikap saling memahami. Kerjasama yang baik antara guru dan murid bahkan dengan orang tua diperlukan. Konsistensi juga perlu dijaga. Jadi bukan tentang guru galak ataupun guru keren. ❤

About the Author
Tim Pengetahuan Kampus Guru Cikal. Suka belajar bareng anak-anak. Suka board games. Suka nyanyi dalam hati.

Leave a Reply

%d bloggers like this: