Murid Sulit diatur, Guru Jenuh Menegur, Apa solusinya?

Penulis : Rofiqoh Istighfar | 28 Jan, 2020 | Kategori: Belajar, Semarang, Temu Pendidik Daerah

Temu Pendidik Nusantara 2019 yang diselenggarakan tanggal 25-27 Oktober 2019 menyisakan sebuah tanya bagi guru. Lalu apa setelah ini? Salah satu hal yang bisa dilakukan yaitu berbagi praktik baik dengan rekan seperjuangan di dunia pendidikan. Tidak terkecuali bagi Bu Ika. Jauh-jauh datang dari Semarang dengan membawa semangat merdeka belajar, sepulang TPN 2019 dirinya menerapkan ilmu yang didapat untuk dipraktikkan di ruang kelas dan membagikan praktik baiknya dengan guru-guru lainnya di grup WA dalam diskusi daring Grup Intervensi dengan tema “Murid Sulit diatur, Guru Jenuh Menegur, Apa solusinya?” yang dilaksanakan pada hari Rabu, 27 November 2019.

Murid Sulit Diatur

Bu Ika merupakan salah seorang guru BK yang mendapatkan beasiswa pelatihan dari Nusantarun dan Kampus Guru Cikal beberapa waktu lalu di Semarang dan berkesempatan mengikuti TPN 2019. Bu Ika bercerita bagaimana dirinya mengelola kelas. Sebagai Guru BK, saat itu Bu Ika merasa resah ketika menemukan banyak permasalahan di kelasnya. Mulai dari penataan posisi kursi dalam kelas yang amburadul, banyak meja kursi yang tidak terpakai di dalam ruangan kelas, banyak murid yang curhat kelasnya mulai tidak nyaman, dan juga adanya kesalahpahaman antar siswa sehingga membuat kelas menjadi sepi dan tidak saling menyapa satu dengan lainnya. Guru-guru mata pelajaran juga seringkali mengeluhkan bahwa murid sangat sulit diatur padahal guru sudah berkali-kali memberikan teguran. Berawal dari keresahan tersebut, bu Ika berinisiatif untuk meminta izin kepada kepala sekolah untuk mengisi jam pelajaran guru lain karena sebagai guru BK biasanya tidak diberikan jam pelajaran mengisi kelas. Selama bu Ika mengisi kelas , ia menerapkan ilmu yang didapatkan selama mengikuti kelas kompetensi di TPN terkait strategi pengelolaan kelas. Ada empat hal yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan kelas diantaranya : penataan kelas, kesepakatan, kebiasaan, pengelompokan, komunikasi dan motivasi.

Bagaimana bu Ika menerapkan strategi pengelolaan tersebut di kelasnya?  

Bu Ika bercerita bahwa awalnya ia mulai dengan penataan kelas dengan mengubah letak tempat duduk yang biasanya hanya empat berderet memanjang menjadi letter U. Selain mengubah tempat duduk menjadi letter U, dirinya juga memajang papan kebaikan yang dipajang di dinding kelas, membuat mading class, mengadakan counseling class, membuat birthday chart, pojok literasi dan menggantungkan tulisan berisi cita-cita siswa di langit-langit kelas. Beberapa hari setelah penataan kelas tersebut, banyak rekan guru-guru mapel yang lain merespon baik dan merasakan manfaat dari penataan kelas yang lebih variatif. Murid jadi tidak jenuh di kelas dan guru bisa lebih menguasai kelas. “Bu Ika, sekarang anak-anak kelas X.IA makin antusias bu belajarnya. Biasanya anak-anak kalau nggak geger ngobrol dewe ya ngantuk. Sekarang jadi lebih fokus belajarnya. Maturnuwun nggih bu Ika ” ujar salah seorang guru yang mengajar kelas tersebut. 

bagaimana mengajarkan disiplin

Setelah selesai penataan kelas, bu Ika mulai dengan strategi berikutnya yaitu komunikasi. Awalnya, terdapat murid yang merasa tidak nyaman ketika belajar karena teman yang duduk di depan bangku murid tersebut badannya lebih besar sehingga menyulitkan dalam memperhatikan pelajaran dan keduanya seringkali berselisih. Kemudian bu Ika mengajak murid-muridnya di kelas untuk bermain game. Murid diminta untuk menuliskan nama-nama mereka dan menempelnya di lantai. Kemudian murid diminta menyusun mulai dari nama yang terpanjang dan kemudian disusul dengan nama-nama yang lainnya. Dengan permainan tersebut, murid yang berselisih paham tersebut bisa saling kolaborasi, terjalin komunikasi, dan bisa saling memaafkan satu dengan lainnya.

Di akhir diskusi, bu Ika bercerita bagaimana dirinya membangun kesepakatan kelas. Setiap membuat kesepakatan kelas dirinya selalu melibatkan murid. Dengan melibatkan murid, murid merasa dirinya dihargai dan guru menjadi lebih mudah dalam melakukan pendekatan dan memberi masukan jika murid melakukan hal yang kurang  baik.

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: