Naik Angkot ke Ujung Kulon?

Penulis : Amalia Jiandra Tiasari | 8 Jan, 2019 | Kategori: Refleksi Guru Belajar

“Mbak, akhirnya pulang ya?”

“Iya mbak. Tapi ini mau berangkat lagi”

“Mau berangkat lagi kapan mbak?”

“Ini nanti jam 2”

Begitu percakapan saya dengan mbak Sharah, mbak yang biasa menjaga kos.  Iya, jam 13.30 baru sampai kos setelah perjalanan dari Lombok jam 14.00 sudah harus berangkat ke stasiun Rawa Buntu janjian dengan temen-temen KGC lain. Mau kemana? Ujung Kulon!  Nggak capek? Anehnya saya nggak capek, cuma laper aja.  Jadi setelah sampai stasiun langsung buru-buru beli Roti Maryam Salman.  Penyelamat perut paling bisa diandalkan ketika kelaperan di stasiun. Teman-teman KGC lain sudah lengkap menunggu di peron kearah Rangkas Bitung.  Mahayu dengan buku dari pengarang favoritnya, Pak Bukik sedang asyik live facebook, Pak Baja dan Mas Rizky seperti biasa bersenda gurau khas mereka, sedangkan Maman sebagai kordinator studi tour Honje ((studi tour hahaha)) beberapa kali terlihat membuka hape untuk melihat alternatif transport menuju Honje.  Nah loh mau udah berangkat kok baru lihat alternatif transport? Nekat emang ya… anehnya saya kok mau maunya ikut nekat.

Mau cerita sedikit, saya baru bergabung di KGC sekitar bulan Agustus lalu. Dan ini adalah pekerjaan pertama saya selain guru selama saya bekerja.  Saya suka berinteraksi dengan anak-anak dan menikmati proses belajar bersama anak-anak.  Lalu kenapa akhirnya bergabung di KGC?  Entah. Ini seperti Moana yang mengikuti suara hatinya.  Sayapun seperti itu. Walaupun saya tahu saya tidak punya pengalaman dan saya pasti akan harus mendorong lebih diri saya untuk menyesuaikan diri. Dan memang itu yang saya rasakan selama beberapa bulan ini. Rasanya diawal tiga bulan rasanya seperti tiga tahun. Tidak jarang saya seperti memaksa diri saya berlari.

Berlari

Banyak yang bilang ke saya kalau tipe orang-orang di Jakarta itu ritme kerjanya cepat. Bahasa jawanya “tak tek”. Setelah disini beberapa bulan saja saya yang susah membuat keputusan mulai belajar lebih cepat dalam mengambil keputusan.  Contoh sederhananya mau naik apa kalau harus ke suatu tempat di Jakarta. Mana yang lebih murah dan cepat.  Dan itu proses yang kami lakukan juga saat perjalanan menuju Honje. Bagaimana caranya ke Honje dengan budget yang ada dan bisa selamat sampai tujuan? Begitu turun dari stasiun Rangkasbitung kami berjalan kearah sumber transport umum di sekitar. “Eh ada pickup. Mau naik ini nggak?” begitu Pak Bukik menawarkan ke kita.  Sebenernya kita semua tipe yang asik asik aja naik apa saja tapi sayangnya pickup tersebut tidak disewakan.  Pilihan yang lain adalah angkot. Awalnya kita berniat naik angkot sampai Terminal saja lalu lanjut naik Damri, tetapi karena ternyata karena tidak ada Damri akhirnya kita coba merayu bapak supir mengantar kita sampai Honje. Dimana ada proses tawar menawar disitu Mahayu beraksi. Sudah tentu Mahayu pakarnya dibantu rayuan Pak Bukik dan muka-muka memelas kita. Ya, kita tidak berlari otak kita yang berlari dalam mengambil keputusan. Salah memilih bisa bisa jalan kaki di tengah hutan malam-malam. 

Berjalan

Whuah! Bagaimana rasanya bangun pagi denger suara ombak? Seneng banget! Saya pada dasarnya suka air; air kolam, air kamar mandi, air kolam ikan, air sungai, air danau, air es degan. Apalagi air laut. Bawaan pengen deket-deket aja. Selesai senam dan lari pagi kami dapat tugas untuk mencari foto “Apa perubahan positif yang dirasakan akhir-akhir ini?” dan “Apa harapan kedepannya?”   

Kami mulai berjalan menyusuri  Honje, mulai dari pinggiran pantai hingga semak-semak. Saya mulai berhenti di beberapa titik yang saya rasa sesuai dengan apa yang saya rasakan.

Saya suka sekali menulis. Entah kenapa saya seperti tidak menemukan diri saya setahun lalu. Otak saya dipenuhi rasa cemas “kalau saya nulis gini gimana ya kalau dibaca orang?”. Seperti yuyu keluar dari lubang tanah, sejak saya di Kampus Guru Cikal saya kembali menemukan diri saya.  Amel yang pikirannya kemana-mana. Hahaha.. dan berani untuk menuangkannya di tulisan. Goal dalam waktu dekat saya ingin membuat blog baru khusus membahas pendidikan dan tetap menulis cerita pendek di blog lama.

Seketika waktu bagian Honje berjalan lebih lambat. Semua pikiran jadi lebih jernih.  Padahal sebenarnya ada banyak tugas yang menanti tapi kami memilih untuk ambil jeda, menikmati alam, saling mengenal satu sama lain, refleksi diri. Seperti kaki kanan dan kiri kami yang berjalan beriringan.

Satu titik saya merasa penting memiliki ekosistem yang mendukung proses belajarmu. Sama-sama berani salah dan berani memperbaiki. Berjalan bersama.

Tidak sendiri

Sebenarnya  sehari-hari  kami sering bercakap-cakap membicarakan banyak hal, mulai dari musik kesukaan,  selera lidah asin atau manis, hobi, passion sampai ke kehidupan percintaan masing-masing. Tetapi dari sudut saya, saya tidak benar-benar tahu mereka secara keseluruhan. Sampai akhirnya….. kami main Truth or Truth hahaha.. karena nggak ada yang milih Dare. Mending kebongkar semua daripada harus beranjak dari tempat duduk.  Dari permainan sesi Truth or Truth keterampilan bertanya  kami diuji.  Semakin tajam semakin bagus. Semakin membuat yang ditanya berkeringat atau nampakkan gelagat cemas semakin bagus.

Kemudian suasana menjadi  hangat. Kami semakin memahami satu sama lain. Memahami rahasia-rahasia satu sama lain maksudnya. Hahaha..

Mungkin kami pernah resah dengan kondisi dan masing-masing melakukan apa yang bisa kita lakukan . Ada yang sering membuat diskusi dan membuat gagasan, ada yang melibatkan murid di kelas hingga menginspirasi orang lain, ada yang memasukkan passionnya game ketika mengajar, ada yang suka membuat video sekaligus seorang bapak yang berusaha untuk menerapkan Disiplin Positif pada anaknya, ada akuntan yang resah dengan pendidikan dan memilih terjun langsung di dunia pendidikan.

Sekarang kami bersama. Tidak lagi sendiri.

Tak apa gagal, asal mencoba lagi haha

Refleksi

Yang saya suka dengan lingkungan bekerja yang sekarang kami selalu diajak refleksi. Dan itu yang kami juga lakukan selama di Honje. Kami mengevaluasi diri apakah cara bekerja kami sudah sesuai  5M; Memanusiakan Hubungan, Memahami Konsep, Membangun Keberlanjutan, Memilih Tantangan dan Memberdayakan Konteks. Apa yang sudah sesuai dan apa yang masih belum sesuai. Kami juga saling memberi masukkan.  Di hari terakhir kami juga membantu atasan kami untuk refleksi.  Kami diminta untuk menggambar sebuah benda yang menggambarkan Pak Bukik, kemudian Pak Bukik menebak kira-kira apa yang dimaksud oleh yang menggambar.

Saya rasa jarang ada atasan yang mau dengan terbuka menerima masukkan dari rekan kerja. Saya teringat sebuah kutipan,

“Don’t pick a job. Pick a Boss. Your first boss is the biggest factor in your career success. A boss who doesn’t  trust you won’t give you opportunities to grow”  – William Raduchel.

Dulu saya memiliki atasan yang selalu belajar. Saya beruntung kali ini saya memiliki atasan yang tidak hanya selalu belajar tetapi juga mengajak kita terus refleksi. Sudah pernah berpetualang dengan rekan kerjamu? Cobalah. “Guys, ayo liburan!”

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: