Nasehat Tak Mempan, Masuk Kuping Kiri, Keluar Kuping Kanan

Penulis : Kurniati | 30 Jan, 2020 | Kategori: Liputan Guru Belajar, Temu Pendidik Mingguan

Nia Kurniati:

Assalamualaikum Bapak dan Ibu Guru Hebatnya Indonesia! Gimana kabarnya malam ini? Semoga Bapak dan Ibu masih terus semangat ya mengikuti ajang sharing mingguan kita, di TPM.

Judul diskusi malam ini “Nasihat Tak Mempan, Masuk kuping Kiri, Keluar Kuping Kanan”.

Hai, Bapak/Ibu yang sudah gabung, siap berbagi kisahnya terkait dengan tema kita ya?

Faristya Eni:

Waaaaaah apalagi saya sebagai guru BK, sering sekali mengalami kaya gini Bu. Sehari dinasihati kadang bisa langsung tobat kadang juga masih kumat. 

Nia Kurniati:

Sadarkah Bapak dan Ibu, anak-anak zaman sekarang , alias anak zaman milenial, mengalami tantangan yang luar biasa dalam hidupnya? Tantangan sekaligus pengaruh dari perkembangan teknologi yang membentuk mereka menjadi generasi yang dinilai canggih dalam hal teknologi, namun mengalami degradasi nilai. Salah satu hal yang sering terjadi adalah sulitnya memberikan masukan atau nasihat kepada anak-anak. Pernahkah Bapak dan Ibu mengalami kesulitan dalam hal ini?

Nurul Badriyah:

Tantangan yang luar biasa menghadapi sikap anak zaman sekarang. Pasti banyak faktor yang mempengaruhi sikap anak.

Nia Kurniati: 

Oiya, sebelumnya, perkenalkan, saya Nia yang akan memoderatori diskusi kita malam ini.

Ziqi:

Kalau dengan anak-anak saya biasanya ajak bertukar pikiran, mendengarkan apa yang menjadi harapan mereka dan kondisi riil yang mereka lakukan. Ya tapi harus siap dengan berbagai jawaban mereka, ada yang bertahan diam, ada yang mendebat kritis, dan ada pula yang mendebat sekenanya.

Kharisma Fassra:

Memang benar kita sulit sekali memberikan nasihat. Sampai saya menyadari bahwa saya harus masuk ke dunia mereka. Mereka senang membuat film, saya beri layanan membuat film dengan tema-tema yang sesuai dengan perkembangan mereka, yang membuat mereka jauh mengerti apa yang harus dan tidak boleh dilakukan. Oh ya perkenalkan saya Kharisma guru BK SMA N 3 Demak Jateng.

Fathiah Salma:

Terkadang anak-anak berantem dan ngobrol sendiri, tidak mau untuk mendengarkan penjelasan dari saya, Bu.

Nia Kurniati: 

Selama ini bagaimana penanganannya jika siswa Bapak/Ibu tidak juga berubah setelah diberi nasihat ?

Ziqi:

Setiap sekolah tentu memiliki treatment berbeda menyesuaikan karakteristik dan lingkungan, semangat berbagi semuanya.

Waniy:

Nggeh, Bu. Mereka minta didengarkan harapannya dan perasaannya tapi masih lupa untuk mendengarkan nasihat.

Novi:

Dipenuhi kebutuhannya, Bu. Kalau perlu ngobrol dengan temannya dipersilahkan tapi di luar kelas

Umy Adhwa (Fitriani):

Menurut Pandangan saya, banyak faktor yang menyebabkan hal demikian. Baik pengaruh personal siswa karena kebiasaan pola asuh dan pola didik yang salah, atau karena kurangnya strategi dan metode yang dilakukan oleh Guru. Terkadang kita harus mampu melihat duduk persoalannya. Karena tidak selamanya letak kesalahan terletak pada anak. Terkadang pengamatan saya siswa demikian karena figur guru dan cara pengajarannya kurang berkenan di hati siswa. Siswa merasa tidak nyaman dengan guru tersebut, sehingga apa yang diberi kepada Siswa tidak bisa diterima dengan Baik. Mohon koreksi jika ada yang salah pada perkataan saya.

Kharisma Fassra:

Sebenarnya jika kami sebagai guru BK, kita lebih mengajak atau mengeksplor apa yang terjadi pada dirinya.sehingga mereka menyadari apa yang dilakukannya itu tidak benar. Dan mereka juga kami ajak untuk mendapatkan solusi dari konsekuensi yang telah mereka lakukan. Memang tidak mudah dan butuh waktu konseling beberapa kali untuk mencapainya.

A.Ninik Angraeni M:

Perkenalkan saya A.Ninik Angraeni guru Bid. Studi Bhs. Inggris di SMPN 1 Arungkeke, KAB. Jeneponto, Sulawesi Selatan
Baru-baru ini,  di sekolah saya ada siswa pindahan dari sekolah Madrasah. Kebetulan dimasukkan ke kelas saya. Jadilah yang bersangkutan anak wali saya,..nah ternyata setelah 2 minggu di sekolah, udah beberapa pelanggaran yang dia lakukan, seperti tidak ikut sholat dhuhur berjamaah, yang ini alasannya karena gak tahu, jadi saya jelaskan ke dia tentang jadwal sholat kelasnya. Terus yang kedua, selama pindah, ternyata dia tidak pernah masuk pada mapel Matematika. Saya tanya kenapa alasannya. Gak jelas, Bu. Terus sudah berjanji mau ikut, tapi terakhir kemarin jadwal MTK ternyata gak ke sekolah lagi, katanya telat bangun. Terus yang terakhir dia kedapatan sedang merokok di area kebun sekolah pada saat jam istirahat, siswa tersebut dibuatkan surat perjanjian oleh Bagian kesiswaan sebagai peringatan terakhir. Nah, Bu, kira-kira saya selaku wali kelasnya, bagusnya bagaimana yah dengan siswa tersebut?

Nia Kurniati :

Bapak/Ibu, bagaimana perasaan Bapak dan Ibu menghadapi siswanya yang sepertinya kok ya ga mendengarkan nasihat kita sebagai gurunya ?

Novi Cakra:

Sedih tapi harus evadir (evaluasi diri)

Umy Adhwa (Fitriani):

Saya merasa tertantang Bu. Selain sebagai Guru Agama, saya juga harus berperan sebagai Guru BK. Saya senang melakukan terhadap siswa yang demikian. Ternyata banyak penyebabnya. Namun setelah berbagai pendekatan kita bisa menentukan langkah untuk mendapatkan solusi terbaik. Entah dengan kolaborasi ataupun Referal jika perlu tenaga khusus

A.Ninik Angraeni M:

Iya bu, saya bahkan jadi jaminannya kalau dia berbuat kesalahan lagi…. Sejauh ini saya hanya melakukan pendekatan personal ke dia, kalau dia tidak ke sekolah, saya chat dan tanyain alasannya, selain itu saya harus gimana lagi yah, Bapak/Ibu?

Nia Kurniati: 

Sedih pasti ya Bapak dan Ibu. Tapi sebagai guru, itu jadi tantangan yang luar biasa….Dan seperti Bu Novi sampaikan, sebagai guru, perlu juga kita melakukan evadir  

Nah, Bapak dan Ibu, untuk membahas lebih jauh tentang hal ini, kita akan ditemani 2 narasumber untuk menggali lebih dalam tentang topik malam ini. Untuk itu, saya perkenalkan narasumber-narasumber hebat kita Pak Huda dan Bu Rani. Pak Huda dari Sekolah MI Al Huda Malang, Bapak dan Ibu. Dan Ibu Rani dari Sekolah Menengah Cikal Jakarta Timur.

Huda :

Assalamu’alaikum bapak/ibu guru Indonesia.. selamat datang d acara diskusi temu pendidik mingguan.

Rani Indirani :

Assalamu’alaikum Bapak dan Ibu semuaaa.. Haiii.. Saya Rani, dari Sekolah Menengah Cikal Amri Setu, Jakarta Timur.

Huda:

Terimakasih ibu moderator atas kesempatan yang diberikan, sungguh kesempatan yang luar biasa bagi kami di malam hari ini untuk berbagi dan belajar bersama-sama dalam temu pendidik mingguan seri ke 113. Pada kesempatan ini saya ingin mengambil tema “MotivAksi-Menyelaraskan antara semangat dan Aksi”

Suatu hari saat menjelang Ujian akhir nasional, kami mengumpulkan siswa kelas 6 untuk mengikuti kegiatan motivasi di aula, kami mendatangkan motivator yang berpengalaman, banyak materi yang disampaikan oleh motivator, saat sesi renungan para siswa pada nangis karena tersentuh dengan kata-kata sang motivator, mereka menangis sambil memeluk orangtua dan bersalaman meminta maaf bapak/ibu guru. Hari itu suasana haru di aula begitu berkesan, tapi selang beberapa hari kemudian bisa ditebak bagaimana ceritanya, mereka kembali ke tabiat awal. 

Hal sama saat kegiatan pesantren Ramadhan di sekolah dimana salah satu kegiatannya adalah renungan Ramadhan. Namun hasilnya pun sama, tidak banyak perubahan yang dirasakan siswa sehingga kegiatan ini hanya sekedar sebagai pelengkap acara saja. Mungkin bapak/ibu guru juga mengalami hal yang sama seperti yang kami alami disekolah. Lalu apa yang salah? Gurunya? Siswanya? Atau bahkan motivatornya? tentu tidak ada subyek yang salah disini. Mungkin kita perlu melakukan evaluasi dengan metode kita dalam memotivasi siswa, selama ini kegiatan seperti ini lebih cenderung sebagai “ritual formalitas” dan pelengkap kegiatan saja. Namun dampaknya kurang dirasakan oleh siswa.

Kita perlu menentukan target dan tujuan yang ingin dicapai dalam memotivasi siswa. Tentu kita menginginkan perubahan sikap siswa untuk menjadi lebih baik setelah kita memberikan motivasi. Namun kadang kata-kata saja tidak cukup untuk membuat mereka menjadi lebih baik. Maka perlu diikuti dengan tindakan (action) agar apa yang kita sampaikan dapat betul-betul dirasakan oleh siswa. Hal yang bisa kita lakukan adalah pahami kondisi, beri sugesti dan lakukan aksi. Ketiga hal inilah yang akan kami sampaikan pada malam hari ini.

Di forum malam hari ini, kami ingin berbagi sedikit pengalaman bagaimana menyelaraskan antara motivasi dan aksi untuk membentuk karakter siswa yang baik. Ada sebuah permasalahan yang kami alami, dimana bapak/ibu guru menemukan gejala-gejala degradasi moral yang mulai tampak pada siswa. Mereka lebih suka hidup berkelompok dengan siswa tertentu, menyibukkan diri dengan gadget dan tak jarang mereka membully siswa yang dianggap lemah. Banyak bapak/ibu guru yang mengeluhkan tentang sikap siswa. Bapak/ibu guru takut jika suatu hari siswa menjadi manusia yang individualis serta acuh terhadap lingkungan sekitar dan hilangnya rasa empati pada orang lain. Hingga suatu hari, dalam sebuah forum rapat, kami bersama bapak/ibu guru berdiskusi untuk membahas bagaimana kami mengatasi hal ini.

Akhirnya kami sepakat untuk membuat sebuah ide program *“Sedekah Sego (nasi) Sebungkus Setiap Sabtu (gerakan 5S)*. Kegiatan ini telah rutin dilaksanakan di MI Al Huda Malang sejak tahun 2016 hingga sekarang. Kegiatan ini dilaksanakan setiap hari Sabtu pagi dengan jadwal bergiliran tiap minggunya. Setiap hari Sabtu terdapat 3 kelas paralel yang mengikuti kegiatan ini. Dimulai dari kelas 1 sampai kelas 6 yang masing-masing jenjang terdapat 3 kelas paralel. Setiap Sabtu terdapat 84 siswa yang mengumpulkan nasi Bungkus, sebagian dari mereka membawa nasi lebih dari 1 bungkus. Rata-rata dalam tiap minggunya nasi bungkus yang terkumpul sejumlah kurang lebih 160 bungkus. Kegiatan pembagian nasi bungkus dimulai pukul 7.30 WIB dengan beberapa titik tempat yang menjadi sasaran pembagian nasi bungkus ini adalah Pasar, TPA (Tempat Pembuangan Akhir), kampung-kampung kumuh, dan di sepanjang jalan sekitar MI AL Huda Malang.

Antusias siswa terlihat dari banyaknya siswa yang ingin berpartisipasi dalam membagikan nasi bungkus, maka dari itu pihak sekolah menunjuk 6 siswa secara bergiliran untuk membagikan nasi bungkus kepada pemulung, tukang sampah, anak-anak jalanan, tukang becak dan pedagang asongan pinggir jalan. Selain itu bapak ibu guru menjadi pendamping selama kegiatan ini berlangsung. 1 guru membawa sepeda motor bersama 1 siswa untuk berkeliling membagikan nasi bungkus.

Ibu Yudaryati, S.Pd, M.Pd selaku kepala Yayasan Kharisma Hidayatul Mubtadi’in yang menaungi MI Al Huda Malang mengatakan bahwa program ini menjadi efektif karena kerjasama yang solid dari pihak sekolah dan wali murid. Keterlibatan siswa yang turun langsung ke jalan untuk membagikan nasi bungkus dirasa cukup efektif dalam menanamkan sikap peduli sosial pada siswa siswi. Pendidikan karakter yang dilakukan di lingkungan MI Al Huda merupakan upaya-upaya yang dilakukan sekolah untuk menciptakan pembentukan kepribadian siswa yang memiliki etika, tanggung jawab, dan kepedulian dengan menerapkan dan mengajarkan karakter-karakter yang baik melalui penekanan pada nilai-nilai dasar kemanusiaan.

Saya terlibat langsung sebagai penanggung jawab program kegiatan ini selama 1 tahun pada periode 2016-2017, saat saya terjun langsung kelapangan ketika memberikan nasi bungkus salah seorang pedagang memberikan buah naga sebagai ucapan syukurnya. Hal ini membuktikan bahwa ternyata kegiatan ini tidak hanya berdampak positif terhadap siswa namun juga berdampak positif terhadap masyarakat yang merasa terbantu dengan program ini.

Dari program ini, kami menemukan fakta bahwa ternyata program sedekah nasi sebungkus setiap hari sabtu membawa dampak yang sangat positif terhadap siswa, diantaranya adalah : (1) meningkatnya antusias siswa dalam hal keterlibatannya dalam pembagian nasi bungkus kepada para tukang becak, pemulung dan tukang sampah. (2) jumlah nasi bungkus yang terkumpul melebihi jumlah siswa, hal ini menunjukkan bahwa wali murid juga memberikan kontribusi besar dalam kegiatan ini dengan memberikan sedekah makanan dalam jumlah yang banyak. (3) menumbuhkan kesadaran pada masyarakat sekitar komplek MI Al huda Malang tentang pentingnya berbagi nikmat kepada sesama, terutama mereka yang tidak mampu. (4) gerakan 5S telah memberikan pengalaman berharga terhadap siswa siswi MI Al Huda Malang tentang kepedulian terhadap sesama.

Dari program ini para siswa siswi mendapatkan banyak pengalaman dan pelajaran yang berharga, bahwa ternyata di sekitar mereka masih banyak orang-orang yang hidup kekurangan dan membutuhkan bantuan. Kami berharap program ini dapat terus menumbuhkan kepeduliaan sosial dan kepekaan mereka terhadap orang lain dan menjadikan mereka lebih menghargai orang lain

Demikianlah materi yang dapat saya sampaikan pada kesempatan malam hari in, semoga bermanfaat. untuk selanjutnya saya kembalikan kepada ibu moderator.

Rani Indriani:

Senang sekali berkesempatan untuk berbagi praktik baik untuk Bapak dan Ibu Guru semua.. dan kita mulai dari kisah awalnya dulu ya..

Terlebih dahulu saya mau bercerita mengenai pengalaman saya ketika membimbing murid berkebutuhan khusus. Ia adalah murid dengan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas. Ia cenderung menunjukkan impulsivitasnya dalam berinteraksi dengan teman di kesehariannya. Ia mudah terpicu untuk menyerang temannya secara verbal dan fisik saat ia merasa tidak nyaman dalam berinteraksi dengan temannya.

Murid yang saya bimbing ini memiliki kesulitan dalam mengungkapkan pemikiran dan perasaannya. Ia juga memiliki kendala dalam mengekspresikan kebutuhan, harapan, pandangan, dan perasaannya dengan cara yang sesuai. Ia seringkali mengungkapkan perasaan marah, sedih, dan kecewanya dengan perkataan atau perilaku yang dianggap menyerang kepada murid-murid lainnya, sehingga membuat temannya kesal dan marah hingga memunculkan konflik. Berkali-kali diberikan nasihat, ia terus saja terlibat dengan konflik-konflik baru dengan teman yang berbeda-beda. Saat diberikan nasihat, ia berkata, “Iya, sudah menyesal dan tidak akan mengulangi”. Namun, tetap saja ia masih sangat mudah terpicu untuk berkonflik dengan temannya.

Kemudian saya berupaya menerapkan serangkaian strategi untuk memotivasi murid saya tersebut agar dapat meminimalisir terjadinya konflik dengan teman temannya. 

Saya memulai dengan mengajak murid untuk berdialog konstruktif dengan saya. Saya menyampaikan kepada murid saya dengan pola kalimat “I-Message” :

“Saya merasa sedih ketika kamu sering mengalami konflik dengan teman-temanmu. Saya ingin kamu bisa berdialog dengan saya dari hati ke hati secara terbuka karena saya bisa lebih mudah untuk memahami kebutuhanmu dan membantumu dalam mengatasi permasalahan ini bersama-sama.”

Ia pun mengiyakan ajakan saya dan mulai berdialog.

Saya memintanya untuk melakukan refleksi mengenai pola penyebab dari konflik-konflik yang selama ini terjadi antara ia dan teman-temannya. Dari hasil refleksi, murid saya tersebut dapat menemukan benang merah dan kesimpulan bahwa salah satu faktor penyebab utamanya adalah tantangan yang berasal dari dirinya sendiri yaitu kesulitannya dalam mengungkapkan pikiran dan perasaannya.

Lalu, saya pun mengajaknya untuk memikirkan kembali berbagai akibat yang merugikannya baik yang sudah terjadi maupun yang belum terjadi karena seringnya ia mengalami konflik dengan teman-temannya. Ia diminta membuat daftar akibat dari seringnya ia berkonflik dengan teman-temannya. Ia pun bersedia menuliskannya dan mulai menyadari bahwa banyak sekali kerugian yang ia alami dan hal-hal tersebut cukup membuatnya merasa tidak nyaman dengan hal tersebut.

Saya pun mulai mengajaknya merenung dan memvisualisasikan tentang kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi jika ia terus berkonflik dengan teman-temannya dan mengecek perasaan yang muncul. Ia mengatakan bahwa ia tidak ingin terus menerus berkonflik dengan teman-temannya. Ia tidak ingin mengalami kerugian-kerugian yang akan membuatnya merasa tidak nyaman. Lalu, ia pun mulai bertanya, “Bagaimana Bu caranya untuk berubah, rasanya kok susah?”

Setelah pertanyaan itu muncul dari murid saya. Kemudian saya pun melanjutkan dengan pertanyaan berikutnya yakni, “Baik, Jika itu adalah hal yang kamu tidak inginkan, lalu sebenarnya apa yang sungguh-sungguh kamu inginkan sekarang?”

Murid saya hening sejenak dan berpikir, baru kemudian menjawab, “Aku mau bisa mengontrol diri sendiri ketika situasi ataupun teman-teman bikin aku ngerasa nggak nyaman.” Saya menyadari bahwa murid saya mulai terbangkitkan kesadarannya akan tujuannya sendiri.

Lalu saya pun mengajarkannya teknik deep breathing untuk melatihnya memberi jeda untuk mengendalikan dirinya saat ia merasa tidak nyaman dan dilanjutkan dengan mengajarkannya teknik berkomunikasi yaitu I-Message. Cara untuk mengatakan bagaimana perasaan orang yang berbicara, tanpa menyerang atau menyalahkan kawan bicaranya. Pernyataan ini berupa kalimat yang diawali dengan kata “Saya”. Pesan ini bertujuan untuk mengurangi konflik, memfasilitasi dialog yang konstruktif, dan berfokus pada solusi pemecahan masalah.

Saya memberikannya gambaran mengenai You-Message : “Kamu iseng banget deh nyembunyiin pensilku terus. Kamu nggak lihat yaa kalau aku lagi perlu cepat cepat pakai pensilnya. Kamu memang menyebalkan!” Dan pola kalimat ini dapat memicu pertengkaran.

Sedangkan contoh pola kalimat I-Message : “Aku merasa kesal ketika kamu menyembunyikan pensilku, terus aku jadi nggak bisa menulis kalau tidak ada pensil, aku ingin pensilku dikembalikan sekarang yaa agar aku bisa menulis kembali.”  Pola kalimat ini cenderung lebih aman dan tidak memicu pertengkaran.

Karena tujuannya untuk berubah sudah muncul dari dirinya dan bukan karena kita yang menasihati.. Alhamdulillah murid saya tersebut bersedia menjalankan strategi tersebut dan melatihnya hari demi hari. Bersyukur sekali frekuensi konflik yang ia alami kini jumlahnya sudah semakin berkurang. Murid saya juga jadi semakin terlatih mengungkapkan perasaan dan keinginannya tanpa terkesan menyerang teman-temannya..

Baiklah.. demikian sepertinya materinya, cukup saya persingkat, mengingat waktu sudah menunjukkan pukul 20.30.

Nia Kurniati: 

Baik. Terima kasih, Bapak dan Ibu nara sumber atas paparan materinya. 
Bapak dan Ibu, sekarang kita buka termin pertanyaan ya.
Adakah yang ingin bertanya?

Achmad Junaedi:

Saya, Bu. 

Saya tinggal di lingkungan pondok pesantren sebagai pembina. Saya melihat ketika anak-anak terlihat religius sekali ketika sedang mengikuti kegiatan pondok. Tapi begitu selesai, sudah tingkah lakunya benar-benar bikin resah orang lain. Setiap Minggu kami melakukan refleksi untuk membina mereka, tapi setelah 1-2 hari kemudian mereka kembali berulah lagi dan semakin menjadi-jadi. Pertanyaan saya, bagaimana menumbuhkan kesadaran mereka tanpa harus saya yang aktif harus bicara? karena saya merasa ketika menasihati mereka tidak mempan.

Novi :

Saya punya pertanyaan mendasar Pak / Bu, apa hubungan antara motivasi dan aksi, padahal seorang motivator akan berusaha memasuki Motivasi dan aksi apa hubungannya?

Bunda Pelangi:

Selamat malam rekan seperjuangan dan pemandu diskusi.. Saya ada persoalan nih. Saya mengajar di sekolah RA siswa ya usia 5 sampai 6 th… Anak – anak ini gampang sekali meniru kata kata kotor yang di sekolah tidak pernah ada mungkin dapat dari rumah ya.. Trus mereka selalu saja mengadu… Setiap persoalan sepele, kecil saja selalu disampaikan.. Ya mungkin saja karena mereka ingin didengar tetapi saya ingin sekali mereka bisa belajar menyelesaikan masalah sepele itu tanpa harus mengadu pada gurunya, bagaimana ya caranya? Kedua, anak2 laki laki terutama suka nya main perang-perangan saja. Emosional dan temperamen.. Bagaimana menghadapinya? Terimakasih

Huda

Terimakasih Pak Ahmad atas pertanyaannya.. ini mengingatkan masa-masa kecil saya di pondok dulu juga seperti itu. Kita perlu sepakat dulu Pak di sini kita tidak sedang membenarkan  siswa kita tapi kita berusaha memahami permasalahan mereka. Karena setiap anak dilahirkan dengan tabiat yang berbeda. Boleh jadi saat ini kita anggap anak tersebut saat ini menjadi anak yang (maaf) kurang ajar, tapi banyak bukti bahwa karakter anak akan berubah seiring dengan tingkat kedewasaan anak tersebut. Yang dulu kurang pintar sekarang malah jadi direktur, yang dulu suka berantem di kelas sekarang jadi manager perusahaan. Itu lah uniknya anak-anak Pak.

Kembali ke permasalahan Pak Ahmad, saya sarankan Bapak melakukan pendekatan pada mereka, posisikan diri bapak sebagai kakak bukan sebagai seorang guru yang killer, cobalah masuk ke dunia mereka dan bapak akan merasakan apa yg mereka rasakan, saat bapak sudah mulai mengenal mereka. Bapak akan tau apa yg harus dilakukan untuk mengendalikan mereka. Kuncinya pahami dulu mereka kemudian dekati mereka dan seiring berjalan waktu insya Allah tanpa bapak banyak omong mereka akan segan terhadap bapak. Jika kita menghargai mereka maka mereka pun juga akan menghargai kita. Jika kita sudah dapatkan simpati mereka, apapun perkataan bapak akan diikuti oleh siswa.

Kartika Chandra:

Bunda Pelangi, perkenalkan saya Chandra guru TK juga.. Saya pikir semua guru TK pasti merasakan yang ibu rasakan. Mungkin kita bisa berikan cara kepada mereka untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Contoh di sekolah anak-anak suka sekali mengadu “Si A tidak mau diajak main sama si B”. Respon saya “Tidak mengapa, masih banyak teman yg lain, bermain dengan yang lain insyaallah nanti dia mau main lagi” itu terus saya ulang setiap ada yang mengadu masalah itu, hingga pada saatnya ketika ada yang mengadu hal tersebut,yang mengingatkan bukan saya lagi, tapi temannya yang lain dengan menggunakan kalimat saya…mereka jadi saling mengingatkan sendiri antar teman. Pengalaman lain, di sekolah ada 2 ayunan, yang merupakan favorit semua anak,mereka sering bertengkar u bergantian dan sering mengadu temannya tidak mau berbagi, saya berikan solusi dengan meminta 20 hitungan bergantian. Ketika mereka mengadu saya ingatkan lagi solusi ini. Alhamdulillah mereka jadi bisa negosiasi sadar saat minta gantian.. Memang harus kreatif memberi solusi pengaduan dan sabar konsisten terus menerus  Sekedar sharing Bunda Pelangi, semoga ada manfaatnya.

Rani Indriani :

Terima kasih untuk pertanyaannya Pak Junaidi. Seperti yang saya telah uraikan dalam cerita saya. Bahwa kesadaran bisa distimulus dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang menggugah, yang menstimulusnya untuk berimajinasi jika ia mengalami kerugian atau akibat kalau terus berperilaku negatif. Pada dasarnya kita mau berubah ketika tidak merasa nyaman dengan kondisi sebelumnya. Gunakan rasa tidak nyaman itu untuk mendorongnya memiliki tujuan perubahan menuju perilaku yang lebih baik yang ia inginkan. InsyaAllah kesadarannya akan terbangun karena motivasinya muncul dari dalam dirinya sendiri dan bukan dari luar.

Huda :

Baik saya akan coba jawab pertanyaan dari Bu Novi. Apa hubungannya motivasi dan aksi?

Dalam pembelajaran, motivasi dibutuhkan untuk memberikan sugesti pada siswa agar lebih semangat dalam belajar. Untuk itu guru melakukan pengkondisian gelombang otak zona alfa untuk menjadi rolex dalam belajar, dimana Biasanya guru akan memberikan sugesti misal dengan cerita2 inspiratif atau game ice breaking dll. Namun sayang pengkondisian ini tidak bisa bertahan lama, kebetulan saya tergabung dalam lembaga training remaja d Malang yg beberapa kali kami mendapat amanah untuk memberikan motivasi belajar pada siswa di beberapa sekolah. Setelah sekian lama kami selalu merasa bahwa apa yang kami sampaikan hanya bersifat temporary dan siswa akan kembali pada tabiatnya. Dari pengalaman tersebut maka kami mencoba menggunakan sebuah program atau gerakan yang kami sebut sebagai “aksi” secara konsisten dilakukan agar apa yang disampaikan tersebut tidak mudah hilang dalam diri siswa. Dari materi yang saya sampaikan, permasalah siswa yang paling mendasar di sekolah kami adalah berkurangnya nilai-nilai kepekaan sosial. Jika hanya menggunakan nasihat saja kami rasa tidak akan berlangsung lama. Oleh karena itu kami membuat program gerakan 5S agar siswa dapat terlibat lebih jauh dalam penanaman karakter peduli sosial. Dengan melakukan gerakan tersebut siswa akan merasakan langsung dampaknya.

Huda :

Baik Bu terima kasih bu atas pertanyaannya. Dalam teori perkembangan kognitif anak. Anak usia 5-7 tahun memasuki fase simbolik dimana anak akan mulai belajar mengenal makna simbol, bahasa, logika, matematika dsb. Jadi seorang anak masih belum memahami betul apa itu kata2 kotor Bu.. jadi dia hanya paham bahwa kata-kata tersebut tidak boleh diucapkan, tapi mereka masih belum memahami apa esensi dari kata-kata kotor tersebut.

Saran saya, ketika si anak mengucapkan kata-kata kotor maka kita timpali dengan kata-kata positif misalkan dengan ucapan istighfar atau kalimat tayyibah lainnya. Kita juga perlu memberikan pemahaman bahwa dalam berucap harus baik. Dan apa yang diucapkan oleh si anak itu adalah ucapan yang tidak baik. Memang butuh proses Bu, tapi insya Allah seiring waktu mereka akan memahami tiap ucapan mereka. 

Terkait dengan banyaknya siswa yang mengadu, menurut saya memang sudah menjadi tabiat anak kecil untuk mengutarakan apa yg mereka lihat. Hal ini disebabkan rasa penasaran mereka terhadap sesuatu sehingga mereka akan bertanya dan menyampaikan apapun yang mereka lihat dan mereka dengar. Justru jika kita melarang mereka, akan dapat mengganggu perkembangan berpikir mereka Bu. Biasanya anak yang banyak bicara mempunyai kemampuan verbal yang bagus.. hanya memang perlu kita arahkan sedikit demi sedikit.

Rani Indriani:

Terimakasih pertanyaannya Bunda. Jika dikaitkan dengan materi.. sejak kecil kita bisa membiasakan murid untuk melatih diri menggunakan I-Message. Dimulai dengan diri kita yang mencontohkan terlebih dahulu kepada murid. Misal dengan menyampaikan bahwa “Ibu merasa nggak nyaman waktu mendengar kamu bicara kata-kata kotor itu (spesifik katanya disebutkan). Ibu ingin kamu bisa memilih kata-kata yang baik untuk diucapkan karena kamu adalah anak yang baik. Ibu juga berharap kalau kamu ada masalah, boleh cerita sama Ibu, lalu kita belajar sama sama yuk untuk menyelesaikan masalahnya.” Dengan begitu, akan menstimulus murid untuk memahami perilaku apa yang sebaiknya ia tunjukkan. Kemudian, untuk menghadapi anak laki-laki yang tempramen, bisa juga Ibu menggunakan pendekatan komunikasi I-Message, seperti yang sudah saya contohkan. Monggo dimodifikasi yaa Bunda.

Nia Kurniati :

Bapak dan Ibu, dari paparan sharing di atas, izinkan saya membuat kesimpulan.
Bahwa seluruh anak terbentuk dari lingkungan dan kebiasaannya masing-masing. Munculnya anak-anak yang sulit mengubah diri, menuntut peranan kita sebagai gurunya di sekolah. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan pendekatan personal. 

  • Mengajak siswa melakukan refleksi diri untuk menyadari akan masalah dan menemukan kebutuhannya. 
  • Melakukan aksi yang melibatkan anak secara langsung dan dilakukan secara konsisten.

Baik Bapak dan Ibu, karena waktu sudah semakin larut, izinkan saya mengakhiri diskusi kita malam ini.

Saya Nia, selaku moderator, mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk Pak Huda dan Bu Rani sebagai nara sumber. Juga kepada seluruh Bapak/Ibu guru hebat Indonesia yang malam ini sudah berpartisipasi.

Secara pribadi saya mohon maaf atas kekurangan dan khilaf selama memandu diskusi.

Terus semangat Guru Hebatnya Indonesia! Jangan pernah berhenti belajar dan upgrade diri untuk tularkan energi positif ke anak didik kita, menuju Generasi Penerus yang Unggul!

Saya akhirnya sampai di sini. Mohon maaf lahir batin. 

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat istirahat, Bapak dan Ibu.

Usai Temu Pendidik rekan-rekan guru memberikan refleksi

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: