Nobar Guru Merdeka Belajar – Apakah Kita Melakukan Miskonsepsi Guru Belajar?

Penulis : Dini Alan Faza | 31 Jul, 2019 | Kategori: Liputan Guru Belajar, Pekalongan, Temu Pendidik Daerah

Dalam sebuah adegan persidangan akademik akibat menjalankan praktik pengobatan tanpa lisensi, Hunter “Patch” Adams, mahasiswa Sekolah Tinggi Kedokteran Virgina, mengajukan pembelaannya bahwa mahasiswa kedokteran perlu berkolaborasi secara erat dengan perawat. 

Perawatlah yang tiap hari berinteraksi dengan pasien dan, karena itu, mereka dapat menceritakan berbagai hal tentangnya. Perawat punya begitu banyak kekayaan pengalaman yang sangat bermanfaat bagi calon dokter. Setidaknya kesan itu yang terlukis jelas di film Patch Adams.

Hal yang sama agaknya juga berlaku di dunia pendidikan. Pihak yang setiap hari berhubungan dengan murid adalah guru. Merekalah yang memiliki keragaman pengalaman pengajaran untuk dibagi kepada rekan guru lain dan diolah menjadi solusi-solusi pembelajaran.

Melalui itu, guru tidak hanya belajar perihal materi pelajaran, tetapi juga macam-macam metode pembelajaran yang cocok di situasi tertentu, kelas tertentu, atau bahkan murid tertentu.

Itu lah yang kiranya sedikit tergambar di acara Nonton Bareng  (Nobar) Guru Merdeka Belajar di SMK Negeri 1 Karangdadap, Pekalongan, Jumat (31/5/2019), yang dihadiri belasan guru sekolah itu.

Merdeka Belajar dan Kebiasaan Mengajar

“Saat bicara tentang merdeka belajar, selalu terbayang anak-anak,” kata Najelaa Shihab, pembicara dalam video yang dinikmati peserta. Merdeka belajar, yang mulai bergaung luas berkat giatnya Komunitas Guru Belajar (KGB) atas inisiasinya, merupakan cara pandang yang humanis dan terpusat pada murid.

Diawali dengan pengenalan miskonsepsi guru belajar, peserta nobar kemudian membandingkan praktik pembelajaran yang lazim dilakukannya dengan miskonsepsi tersebut. 

“Yang sesuai dengan keadaan saya ada di poin tiga, yaitu cukup tahu ‘how to’ dalam mengajar,” kata Guru Yeni, pengajar Matematika.

Lebih jauh, ia juga menceritakan pengalaman mengajarnya yang amat berkesan, yakni saat mendapati muridnya mengerjakan salah satu soal Matematika dengan cara yang bahkan tidak terpikirkan sebelumnya oleh Guru Yeni. 

“Bagi saya ini termasuk merdeka dalam memilih cara, dan saya membebaskan murid yang punya ide-ide seperti ini,” lanjutnya dengan semangat.

Guru Musyafiah selaku fasilitator mengatakan, hadirnya guru-guru SMK Negeri 1 Karangdadap dalam acara tersebut merupakan bukti tindakan yang menegasikan salah satu miskonsepsi tadi, yakni ‘guru hanya mau belajar jika ada iming-iming sertifikat atau motivasi eksternal lainnya’.

Dipaparkan dalam video itu, setidaknya terdapat lima miskonsepsi guru belajar yang disampaikan Najelaa, diantaranya yaitu guru hanya mau belajar jika ada iming-iming sertifikat, guru hanya dapat belajar dari para ahli,  dan belajar itu soal kompetisi, bukan kolaborasi. 

“Permasalahan pendidikan memang sangat kompleks. Untuk mereformasinya pasti butuh waktu dan kesepakatan dari berbagai kepentingan,” lanjut Najelaa. 

Oleh karenanya menjadi guru belajar adalah sebuah proses. Selanjutnya guru Musyafiah memaparkan tiga ciri guru belajar, antara lain komitmen pada tujuan, mandiri, dan refleksi, yang mendapat beragam respon dan pertanyaan dari peserta.

Menanggapi ciri guru belajar tersebut, Guru Fullu, pengajar matematika, mengatakan, “Kita sebenarnya perlu mencari banyak aplikasi ilmu matematika dalam kehidupan sehari-hari agar murid tahu dan sadar bahwa belajar matematika punya manfaat praktis.”

Ia juga melanjutkan, manfaat matematika muncul sesuai dengan profesi yang dijalani. Sebagai pedagang dan peneliti, misalnya, murid akan melihat bagaimana mapel itu diterapkan.

Ketika ditanya mengenai aktivitas refleksi, semua peserta setuju bahwa langkah itu telah dilakukan, hanya saja tidak didokumentasikan. 

“Refleksi harus dicoba, dilakukan dengan variasi cara, dan didokumentasikan,” ujar Guru Musyafiah memberi tanggapan.

Refleksi membantu guru dalam melihat  dampak pembelajaran yang telah guru dan murid lakukan. Hal ini perlu dilakukan sebagai pertimbangan dalam pengambilan keputusan untuk pembelajaran selanjutnya.

Antusiasme 

Ketika hendak menutup sesi refleksi bersama, baik mengenai miskonsepsi merdeka belajar maupun ciri guru belajar, sebagai akhir acara nobar, salah satu peserta menginterupsi fasilitator dengan pertanyaan. 

Meski pada awalnya menolak, Guru Musyafiah, yang juga penggerak KGB Pekalongan, akhirnya memberikan tanggapan. Tidak hanya kepada satu penanya, bahkan empat hingga lima penanya.

Diskusi pun berlangsung. Pertanyaan peserta lebih berupa kemungkinan bagaimana mewujudkan konsep merdeka belajar daripada sikap keputusasaan.

Melihat antusiasme guru SMK Negeri 1 Karangdadap di acara Nobar Guru Merdeka Belajar itu, Guru Musyafiah mengajukan tawaran apakah berminat untuk mengadakan Temu Pendidik Sekolah (TPS).

“Saya yakin sebenarnya bapak dan ibu guru ingin mengadakan TPS, terlihat dari pertanyaan yang panjenengan semua sampaikan ke saya beberapa waktu lalu.” ungkapnya diakhir acara.

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: