Merdeka Belajar – Apakah Merdeka Berarti Bebas?

Penulis : Intan Rizki | 17 Dec, 2019 | Kategori: Banda Aceh, Liputan Guru Belajar, Temu Pendidik Daerah

Pada tanggal 10 september 2019 kemarin, saya Intan Rizki dan rekan saya Suhaimi mengadakan kegiatan nonton bareng Guru Merdeka Belajar bersama seluruh guru di sekolah tempat kami mengajar yaitu IVS ALFATA Banda Aceh. Alhamdulillah, turut serta hadir salah satu guru dari Al-Fityan Islamic School Banda Aceh yang bernama Bu Dian. Di awal saya informasikan kepada teman-teman mengenai kegiatan ini, banyak diantara mereka yang bingung, sehingga ada yang bertanya:

“Nonton bareng?”

“Film kah?”, atau

“Ohh.. nonton bareng film yang ada unsur pendidikannya ya?” dan berbagai pertanyaan lainnya. 

Sedikit informasi, di sekolah kami yang namanya upgrading ilmu bagi guru-guru bukanlah hal yang langka. Setiap hari kamis merupakan hari training bagi guru-guru di sekolah, yang dipimpin langsung oleh Ketua Yayasan dan Kepala Sekolah dengan berbagai materi kependidikan dan ilmu pola asuh. 

Nah, ketika kami (pihak penyelenggara) menyampaikan tentang judul nobarnya yaitu Guru Merdeka Belajar, semua teman-teman guru sangat excited dengan kata MERDEKA. Sehingga memunculkan pertanyaan “Apakah karena kita baru saja merayakan 17 Agustus sehingga judulnya seperti itu?” atau “merdeka apa ini?”

C:\Users\T O S H I B A\AppData\Local\Microsoft\Windows\Temporary Internet Files\Content.Word\IMG-20190914-WA0005.jpg

Saat nonton bareng di mulai, saya melemparkan beberapa pertanyaan pemantik bagi para peserta yaitu:

  1. Apa itu merdeka?
  2. Kebebasan seperti apa ?
  3. Lantas, apa kaitannya merdeka dengan belajar?

Awalnya mereka sedikit bingung dan takut untuk menjelaskan maksud dari merdeka itu sendiri. Akhirnya setelah saya persilakan satu per satu baru ada yang menjawab bahwa merdeka itu adalah bebas. Ms. Nisa, salah satu peserta saat itu menjelaskan bahwa merdeka belajar itu adalah kebebasan seseorang dalam proses belajar mengajarnya. Ms. Julika juga menambahkan makna dari merdeka belajar adalah kebebasan seorang anak dalam belajar sehingga tidak ada intervensi dari orang tua, keluarga, lingkungan hingga siapapun, dan jawaban-jawaban serupa dari para peserta lainnya, sehingga menimbulkan diskusi dan tanya jawab diantara para peserta. Menarik!

C:\Users\T O S H I B A\AppData\Local\Microsoft\Windows\Temporary Internet Files\Content.Word\IMG-20190914-WA0006.jpg

Nah, untuk lebih memantapkan lagi diskusi ini, kami pun langsung saja memutarkan video dari Ibu Najelaa Shihab mengenai apa itu guru merdeka belajar. Video berdurasi 15 menit ini berhasil mencuri hati dan mengalihkan sudut pandang beberapa orang peserta. Maklum saja, di sekolah kami ada guru-guru yang fresh graduated sehingga banyak sekali informasi-informasi dan ilmu-ilmu baru bagi mereka atau bahkan ada yang belum pernah mereka dapatkan sebelumnya.

Setelah menonton video ini, kegalauan dan kebimbangan mulai terlihat di raut wajah peserta. Langsung saja kami selaku pihak penyelenggara menunjukkan pertanyaan refleksi yang tersedia sebagai ajang refleksi bagi diri sendiri. Para peserta sudah mulai mesem-mesem sendiri, karena mereka mulai menilai ke diri mereka masing-masing. “Ternyata banyak sekali miskonsepsi yang terjadi di diri kita selama ini” papar salah seorang dari mereka. Diantaranya adalah masih adanya rasa ego yang tinggi dalam menuntut ilmu dan mengembangkan ilmu; sehingga terkesan seperti sedang berkompetisi satu diantara lainnya yang tujuannya adalah untuk terlihat hebat di mata teman atau atasan. Kemudian, masih adanya pemahaman belajar kepada yang lebih senior tanpa mempertimbangkan kesesuaian ilmu tersebut apakah layak atau tidak untuk diterapkan di era seperti sekarang ini. Ada juga guru yang ilmu dan pemahamannya akan pendidikan sudah mumpuni, namun kurang cukup waktu untuk merefleksi diri dikarenakan banyaknya pekerjaan sampingan yang ingin mereka kerjakan. Maka dari itulah, miskonsepsi ini terus terjadi di lingkungan tenaga pendidik. 

Situasi semakin jelas, ketika mereka mulai menuliskan jawaban atas pertanyaan refleksi yang kami berikan. Sesi refleksi ini, menjadi ajang muhasabah diri bagi para peserta. Alhasil, membutuhkan waktu lebih dari 20 menit. Di tengah-tengah kegiatan, Bu Dian, pamit undur diri dari acara ini karena mendapatkan kabar bahwa anaknya sakit. Sehingga, Bu Dian tidak bisa menyelesaikan tulisan hasil refleksi pada saat itu. Yang di kemudian waktu, dikirimkan melalui pesan whatsapp kepada kami. 

C:\Users\T O S H I B A\AppData\Local\Microsoft\Windows\Temporary Internet Files\Content.Word\IMG-20190914-WA0007.jpg

Setelah sesi menulis refleksi selesai, para peserta terlebih guru-guru fresh graduated mulai menyadari kendala yang mereka dapatkan di diri mereka selama ini, yaitu selama ini mereka “dibesarkan” dengan pemahaman konservatif yang membuat mereka sendiri belum merdeka belajar. Sehingga semua peserta sangat setuju sekali dengan istilah Guru Merdeka Belajar. Yang mana tidak memenjarakan diri akan keingintahuan suatu ilmu dan mematikan kreativitas seseorang yang mengikuti alur miskonsepsi selama ini. 

Diakhir acara, para peserta menyimpulkan bahwa mereka sangat setuju dengan 3 poin penting yang dipaparkan Ibu Najelaa Shihab, yaitu:

1. Komitmen pada tujuan

Bahwa selama ini, para peserta belum sepenuhnya berkomitmen pada diri sendiri apa tujuan akhir mereka belajar. Pun, apa tujuan mereka menjadi guru selain karena mengikuti jejak orang tuanya yang berprofesi guru dan menambah pendapatan bulanan.

2. Mandiri terhadap cara belajar

Selama ini begitu banyak kita menjiplak gaya dan cara belajar seseorang yang tanpa kita sadari sebenarnya kita bisa saja lebih menarik daripada itu. Secara otomatis kita lupa, bahwa Tuhan menciptakan manusia itu penuh dengan keunikan dan keberagaman sehingga di setiap diri seseorang terdapat gayanya sendiri dalam belajar atau mengajar.

3. Melakukan refleksi

Inilah poin yang sangat sulit atau bahkan hampir tidak pernah dilakukan oleh tenaga pendidik yaitu merefleksi diri. Terkadang kita terlalu bangga akan status guru yang melekat di diri kita sehingga kita merasa tidak ada yang kurang atau salah pada diri seorang guru. Padahal dengan melakukan refleksi diri kita bisa terus berubah dan berbenah diri untuk kemajuan anak didik kita nanti.

Inilah tiga poin penting yang mengubah sudut pandang para peserta. Yang mana di akhir acara mereka masih mendiskusikan ilmu dan pemahaman yang luar biasa ini. Semoga dengan adanya kegiatan nonton bareng ini, para peserta menjadi paham akan esensi mengembangkan semangat belajar bagi tenaga pendidik seperti kita. Sebagai kalimat penutup, saya mewawancarai salah satu peserta dengan bertanya “Apa pengembangan diri yang ingin mereka capai sebagai  Guru Merdeka Belajar?” Sebuah jawaban yang meluluhkan hati saya yaitu “Saya ingin peserta didik saya merasakan kebermaknaan dari apa yang ia pelajari”. Ya inilah, Merdeka Belajar!

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: