Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar – Guru Merdeka Guru yang Mandiri

Penulis : Sarah Aulia Wibowo | 9 Aug, 2019 | Kategori: Lamongan, Liputan Guru Belajar, Merdeka Belajar

“Apa itu Merdeka Belajar?”

“Apa berarti bebas tidak Belajar?”

“atau justru Belajar yang seperti apa?”

“Kenapa Guru harus Merdeka dalam Belajar?”

Keempat pertanyaan ini merupakan pertanyaan pemantik yang saya tanyakan kepada peserta TPD KGB Lamongan pada tanggal 15 mei 2019 di MAN 1 Lamongan. Diawal diskusi peserta masih belum memahami makna merdeka belajar. Bagi peserta, merdeka belajar berarti belajar dengan cara sebebas-bebasnya, artinya belajar tidak harus berada di dalam kelas. Sayapun setuju dengan pernyataan itu, bahwa belajar tidak harus berada di dalam kelas, dimanapun tempatnya dan dengan siapapun orangnya kita dapat belajar bersama. Melalui forum ini saya menjelaskan kepada peserta bahwa konsep dari merdeka belajar sangat berkaitan dengan 4 kunci pengembangan guru, yaitu: Kemerdekaan, Kompetensi, Kolaborasi, dan Karier.

Sebelum masuk ke materi kunci pengembangan guru, saya menanyakan kembali kepada peserta TPD mengenai cita-cita dari seorang guru. Seringkali sebagai seorang pendidik/guru menanyakan “Apa cita-citamu?” kepada murid, namun kita sering kali lupa akan cita-cita kita sendiri. Jawaban menarik terucap dari Guru Anis, “Saya ingin menjadi guru yang dapat berinovasi dalam pengembangan metode dan media ajar yang sesuai dengan kebutuhan murid”. Di saat saya bertanya apa alasannya Guru Anis menjawab “Agar murid saya menyukai mata pelajaran saya serta terlibat aktif dalam proses pembelajaran”. 

C:\Users\Farrel\Downloads\IMG-20190523-WA0005.jpg

Dari diskusi singkat tersebut dilanjutkan dengan penanyangan video merdeka belajar dari ibu Najelaa Shihab yang berdurasi 15 menit. Dalam video tersebut dipaparkan mengenai beberapa cara mejadi guru yang merdeka belajar dan miskonsepsi yang memang terjadi saat ini. Ada tiga poin utama mengenai Guru Merdeka Belajar. Pertama, guru yang merdeka belajar berarti guru yang memiliki komitmen pada tujuan. Guru yang merdeka akan memahami mengapa perlu mengajar suatu materi serta kaitannya dengan aplikasi kehidupan sehari-hari. Namun seringkali sebagai pendidik kita terjebak pada tugas-tugas administratif, akreditasi, serta ketentuan birokrasi yang sebenarnya hanyalah syarat yang kemudian berubah menjadi tujuan dan prioritas utama. Kedua, guru yang merdeka itu mandiri, selalu bergantung pada dirinya untuk mengatasi tantangan, tidak mudah menyerah menghadapi tantangan, serta tidak mudah menyalahkan orang lain dan keadaan. Ketiga, guru yang merdeka itu reflektif, artinya berani meminta umpan balik secara aktif dan menilai diri sendiri dengan objektif. Pada kenyataannya kita cenderung menutup mata menolak melihat cermin diri kita sendiri dengan seribu alasan. Kita selalu mengatakan bahwa masyarakat belum paham mengenai sistem pendidikan, anak-anak tidak mengerti, orang tua akan menentang, peraturan pemerintah yang ruwet, dan lain sebagainya. Padahal itu adalah ketakutan kita sendiri untuk menuju perubahan.

Selanjutnya, dipaparkan mengenai ragam miskonsepsi yang kerap dilekatkan pada guru. Diantaranya mengenai stigma bahwa guru hanya mau belajar apabila mendapatkan sertifikat atau uang. Namun guru-guru di KGB justru melawan miskonsepsi tersebut. “Guru-guru belajar yang hadir hari ini sebetulnya belajar karena kebutuhan alamiah. Banyak yang tidak percaya bahwa rekan-rekan guru ini datang dengan biaya sendiri, tanpa janji sertifikat atau uang apapun, hanya untuk belajar,” ujar bu Najelaa. 

Miskonsepsi lainnya adalah mengenai guru hanya bisa belajar dari ahli atau pakar pendidikan, faktanya di komunitas belajar, guru saling belajar dari pengalaman rekan seperjalanan. Selanjutnya mengenai miskonsepsi guru diburu target belajar yang dipaksakan, padahal guru belajar itu butuh waktu. Miskonsepsi selanjutnya adalah mengenai guru yang selama ini hanya cukup perlu diberikan cara bagaimana melakukan (how to) saja, tanpa perlu tau mengapa (why) perlu melakukan suatu hal dalam pembelajaran. Padahal Guru profesional itu sebetulnya guru yang adaptif. Kita yang ketemu anak setiap hari tahu, betapa pentingnya peran guru yang adaptif. Setiap tahun ajaran, setiap minggu, bahkan setiap hari. Setiap murid kita butuh hal yang berbeda dari kita, sehingga ‘tahu kenapa’ menjadi sangat esensial.

Setelah menonton video tersebut, Guru Anis kembali bertanya “Bagaimana jika seorang guru yang ingin merdeka belajar namun tidak didukung oleh lingkungan kerjanya? Misalnya: saya sering sekali mengajak guru-guru di MAN untuk berdiskusi dan berfleksi mengenai inovasi cara atau proses belajar-mengajar dalam kelas, namun mereka selalu menolak dengan dalih lebih nyaman mengajar dengan cara text book”

Pertanyaan ini mengingatkan saya pada buku yang ditulis oleh ibu Najelaa Shihab “Merdeka Belajar di Ruang Kelas”. Pada buku tersebut tertulis bahwa kemerdekaan guru membutuhkan lingkungan yang mendukung. Artinya, guru sebagai individu hanyalah potensi dan akan terwujud menjadi kompetensi bila ditumbuhkan oleh ekosistem yang mendukung. Lingkungan kerja perlu mengurangi rasa takut salah, menghormati proses pemecahan masalah bersama, optimis memfasilitasi usaha guru, memberikan umpan balik yang berdasarkan bukti dan observasi yang direncanakan. 

Dari pemaparan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa menjadi guru yang merdeka belajar selain timbul dari dalam diri sendiri juga harus didukung oleh lingkungan kerja serta rekan kerja itu sendiri, dalam hal ini adalah sekolah dan rekan sesama guru. Karena sejatinya tidak ada guru yang bisa belajar sendirian dan tidak ada guru yang bisa merdeka belajar sendirian. Kemerdekaan guru adalah kapasitas individu yang didukung oleh ekosistem yang baik. 

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: