Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar – Guru yang Menggerakkan

Penulis : Hibatun Wafiroh | 21 Jul, 2019 | Kategori: Lamongan, Liputan Guru Belajar, Temu Pendidik Daerah

Salah satu ciri-ciri hidup adalah bergerak. Dan salah satu hidup yang bermakna adalah menggerakkan. Menggerakkan apa? Apapun yang digerakkan, tentu orientasinya pada kebaikan. Demikian halnya ketika guru ingin menggerakkan diri sendiri maupun orang lain agar mau belajar. Mestinya seorang guru pantang mengajar jika tidak mau belajar lagi. Apalagi melihat dinamika hidup yang terus berkembang. Rata-rata guru yang merupakan produk Abad ke-19 harus sering beradaptasi menghadapi murid-murid abad ke-21 yang tentu lebih kompleks tantangannya. Bagaimana mungkin kita tidak mau belajar lagi, sedangkan hidup terus memberikan pembelajaran? 

Salah satu cara memotivasi guru untuk terus belajar adalah dengan cara melaksanakan kegiatan nonton bareng video guru merdeka belajar. Saya tertarik untuk mengajak teman-teman menonton video ini dengan harapan dapat menginspirasi teman-teman lain tentang guru merdeka belajar. Maka, kami mengagendakan kegiatan ini pada hari Kamis, 23 Mei 2019 di SMP Negeri 2 Kedungpring Lamongan ini. Tentu sebelumnya kami publikasikan dulu adanya kegiatan ini baik secara langsung dari mulut ke mulut maupun melalui media sosial. Alhamdulillah sampai hari yang ditentukan ada sepuluh teman yang bersedia hadir. 

Sebelum kegiatan nobar video, terlebih dahulu saya mengajak teman-teman untuk berdiskusi dan berbagi tentang pengalaman belajar ketika menjadi guru. Saya pun mengawali bercerita. Pada awal menjadi guru, saya sering mendengar komentar negatif ketika melakukan kegiatan belajar. Ada orang yang mengatakan bahwa masa belajar guru adalah dulu saat sekolah dan kuliah. Sekarang saatnya mengajar, dan tak perlu lagi belajar. Ada pula yang berkomentar, “Enak cari sertifikat saja. Bayar sedikit sudah cukup. Daripada menghabiskan waktu untuk belajar atau pelatihan.” Dan yang lebih parah lagi saat saya menjadi juara I dalam sebuah kompetisi guru, ada guru lain yang berkomentar, “Cari sensasi saja!”. Tapi itu dulu, saat saya masih belajar sendirian dan butuh waktu untuk mengajak belajar teman-teman lainnya. 

Apa yang saya ceritakan di atas ternyata diiyakan dan dialami oleh teman- teman yang lain. Bahkan ada yang merasa dijauhi teman-temannya karena dianggap guru yang sok ilmiah. Juga ada yang mendapatkan sikap sinis dan komentar, “Mau jadi apa kok ikut pelatihan, seminar, komunitas, dan organisasi? Mau cepat jadi Kepala Sekolah?”, dan lain-lain. Namun, dengan berlalunya waktu dan juga berkembangnya kebutuhan, sebagian guru sudah ikut semangat belajar. Meski sebagian lainnya masih mempertahankan pola pikir lamanya. Namun saya yakin perlahan-lahan kondisi ini akan membaik.

Setelah kegiatan sharing tadi, saya mulai mengenalkan komunitas guru belajar. Keresahan dan keprihatinan yang selama ini saya rasakan, terjawab saat mengenal Komunitas Guru Belajar (KGB), Komunitas guru atau pendidik yang mau berbagi praktik cerdas pengajaran dan pendidikan yang diinisiasi Kampus Guru Cikal. Perkembangan KGB Lamongan juga menjadi materi kami. 

Perlu diketahui bahwa KGB Lamongan selama ini telah menyelenggarakan Temu Pendidik Mingguan (TPM) sebanyak 6 kali secara daring. Saya menjadi narasumber pada TPM perdana, tanggal 7 Maret 2019 dengan moderator Sarah Aulia. Menyelenggarakan TPM Perdana bukan hal yang mudah. Apalagi bagi teman- teman yang belum terbiasa diskusi secara online. Dengan dibatasi waktu dan respon agak lambat, saya dan moderator sepakat untuk bekerja sama menghidupkan diskusi ini. Alhamdulillah semua terlaksana dengan baik dan TPM selanjutnya berjalan lancar. 

Pada Temu Pendidik Daerah (TPD) perdana, saya dan Sarah Aulia sepakat untuk berbagi tentang kegiatan Wardah Inspiring Teacher yang kebetulan kami ikuti berdua. TPD kami jadwalkan pada tanggal 21 April 2019, bertepatan dengan hari Kartini. Namun ternyata yang hadir hanya 4 orang termasuk kami berdua. Sedih? Tentu. Namun, itu tak membuat kami patah semangat. TPD yang kedua adalah nobar di MAN I Lamongan. Saya kebetulan berhalangan hadir karena jatuh dari sepedamotor. Berapa yang hadir? Hanya Sarah dan satu teman lagi. 

Kami tak menyerah. Saya berinisiatif mengadakan nobar lagi. Barangkali di Lamongan sebelah barat kejauhan jika harus ke Lamongan kota. Maka terlaksanalah kegiatan Nobar Video Guru Merdeka Belajar ini sesuai jadwal, yaitu 

Kamis, 23 Mei 2019 pukul 13.00-15.00 WIB. Kegiatan nobar ini bertujuan : (1) adanya komunitas perintis yang mulai membuat kegiatan, dan (2) adanya pemahaman tentang merdeka belajar baik oleh anggota maupun penggerak. 

Sebagai pengantar sesi nobar, saya sedikit mengulas tentang empat kunci dalam pengembangan kompetensi guru menurut kampus guru cikal yaitu: (1) kemerdekaan belajar adalah prasyarat agar setiap pelajar, guru, komunitas, dan organisasi melatih otonomi untuk tumbuh berkembang secara optimal, (2) kompetensi guru adalah fondasi terselenggaranya pendidikan berkelanjutan yang berkualitas, (3) kolaborasi memberdayakan guru dan semua pemangku kepentingan untuk saling dukung dan menghasilkan dampak positif terhadap ekosistem pendidikan, dan (4) karier guru yang jelas dan beragam menjadi daya dorong bagi guru untuk terus menerus berkarya dan berkontribusi pada negeri ini. 

Pada point pertama yaitu kemerdekaan belajar merupakan materi yang didiskusikan dalam pertemuan TPD III ini. Semua peserta yang hadir menyimak video Merdeka Belajar yang berisi penjelasan tentang Merdeka Belajar oleh pemateri Najelaa Shihab. Najelaa Shihab menjelaskan bahwa ada tiga ciri-ciri merdeka belajar yaitu komitmen pada tujuan, mandiri untuk belajar yang berarti, dan refleksi berkala dalam pembelajaran. 

Najelaa Shihab mengatakan, “Memerdekakan diri kita sendiri dimulai dari pembuktian bahwa kita dan perubahan yang kita lakukan adalah yang kita nanti- nantikan. Jadi, tidak perlu menunggu siapapun untuk merdeka belajar.” Guru yang merdeka belajar memiliki ketekunan dalam perjalanan menuju tujuan yang bermakna bagi dirinya. Tidak hanya memahami kewajiban, tetapi juga memiliki otonomi dan menggunakan otoritas dengan bijak. Guru yang merdeka juga memiliki kemandirian dalam meningkatkan kompetensi dirinya dan juga bisa memotivasi dan menumbuhkan kemandirian pada murid-muridnya. Dan yang tak kalah penting, guru merdeka belajar melakukan refleksi berkala dalam pembelajaran yang telah dilaksanakan. Refleksi ini penting dilakukan untuk mengevaluasi, memperbaiki, dan merencanakan apa yang akan dilakukan di masa mendatang. 

Yenni Rinawati, guru termuda dari SMPN 2 Kedungpring mengungkapkan pendapatnya tentang kegiatan ini, “Wah,perlu juga nobar yang begini ini ya. Dapat ilmu dan motivasi dari Bu Najelaa.” Sementara itu Santhy Rahayu, guru SMK Muhammadiyah 7 Kedungpring menyatakan senang dapat mengikuti kegiatan ini. “Kegiatan ini sangat bermanfaat. Kalau selama ini kita menunggu diundang pelatihan dari pemerintah, maka susah mendapatkan kesempatan belajar. Tetapi dengan konsep guru merdeka belajar ini, kita jadi semangat untuk belajar dimanapun dan kepada siapapun,”ungkapnya. 

Materi nobar ini juga dapat meluruskan miskonsepsi yang selama ini sering ditemui. Bahwa belajar itu harus ada insentif dari eksternal misalnya. Yang betul belajar itu sebagai kebutuhan alamiah kita. Banyak guru yang selama ini berpendapat bahwa belajar itu harus kepada para ahli, profesor, dosen, atau pakar lainnya. Padahal sesungguhnya belajar itu bisa dari sesama guru yang justru memahami kondisi lapangan. Jika selama ini banyak yang beranggapan bahwa belajar itu perlu diburu target yang dipaksakan, maka yang benar adalah belajar itu butuh waktu. Dan kompetensi itu bisa tumbuh bersama lingkungan, dan bisa ditumbuhkan bersama-sama. Tidak sendirian. 

Untuk menjadi guru yang merdeka belajar tentu perlu proses. Untuk itu para guru perlu saling suport dan belajar bersama agar tercapai pendidikan yang lebih baik sesuai dengan yang diharapkan. Sesuai dengan apa yang disampaikan Ibu Najelaa Shihab, “Tidak ada guru yang bisa belajar sendirian dan tidak ada guru yang bisa merdeka belajar sendirian.” Adanya Komunitas Guru Belajar yang diinisiasi oleh Kampus Guru Cikal dapat menjadi wadah yang baik bagi setiap guru dalam berproses menjadi guru yang merdeka belajar. Harapannya dapat terwujud kompetensi guru yang meningkat dan berdampak pada murid. Selain itu guru juga memiliki beragam peran dan jenjang karir, serta bisa berkolaborasi dalam ekosistem pendidikan.

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: