Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar – Melawan Miskonsepsi Belajar

Hari Jum’at sore tanggal 24 Mei 2019, dalam rangka Temu Pendidik Daerah (TPD), Komunitas Guru Belajar (KGB) mengadakan nonton bareng atau nobar video Guru Merdeka Belajar di salah satu rumah penggerak, Guru Niken. Sambil menunggu waktu berbuka puasa, kami mencoba mengobrol ringan sambil menonton bersama video ibu Najelaa Shihab, pendiri Kampus Guru Cikal dan Inisiator Komunitas Guru Belajar, saat berbicara di acara Temu Pendidik Nasional (TPN) 2016. 

Banyak hal yang kami dapatkan setelah menonton video ini. Kami merasa mendapat sebuah pencerahan sebagai seorang guru. Pencerahan yang nantinya diharapkan dapat memberikan perubahan bagi kami. Perubahan yang sangat penting bagi kami yang mengabdikan separuh waktu dan tenaga untuk selalu menjadi bagian dari dunia pendidikan Indonesia. Apa yang kami rasakan adalah guru perlu menjadi guru yang merdeka belajar. Guru yang tidak berhenti untuk mengembangkan dirinya dan merasa terkekang. Guru yang terus berusaha melawan beberapa miskonsepsi yang terjadi di pendidikan. Dari sinilah kami menjadi paham dan menyadari bahwa setidaknya guru harus mencari solusi menjadi guru merdeka belajar di kelas untuk membawa pembelajaran di kelas lebih bermakna. 

Sebelum menginjak acara inti yaitu pemutaran video guru merdeka belajar, saya sebagai fasilitator sekaligus moderator membuka acara nonton bareng dengan memberikan gambaran susunan acara. Peserta yang seluruhnya adalah guru terlihat sangat antusias. Ada sekitar 13 peserta yang hadir saat itu sehingga saya juga mengajak mereka untuk bertukar pikiran tentang hal-hal yang berkaitan dengan arti kata “merdeka”, apa sebenarnya merdeka belajar, bagaimana menciptakan kelas yang merdeka belajar, dsb. Ada beberapa jawaban mengenai apa itu merdeka belajar dari salah satu guru yang berkomentar bahwa guru merdeka belajar adalah guru yang punya kebebasan untuk belajar apapun yang tujuannya untuk selalu upgrade kemampuan diri. Setelah sesi bincang santai dilanjutkan sesi pemutaran video dengan durasi 15 menit. 

Video yang berisi pemaparan dari Ibu Najelaa Shihab ini membuka jendela wawasan para peserta terutama diri saya pribadi. Video ini mampu menjawab rasa keingintahuan saya selama ini bahwa guru adalah seseorang yang perlu merasa merdeka dalam belajar. Bukan hanya saya saja yang merasakan pentingnya merdeka belajar, namun semua peserta guru merasakan hal sama. Bu Najelaa menjelaskan banyak sekali cara-cara seorang guru yang merdeka belajar. Menurut beliau ada tiga hal urgensi utama guru sebagai pendidik yang merdeka yaitu; 1) Komitmen, 2) Memiliki kemandirian, dan 3) Berefleksi. Di bawah ini akan saya paparkan secara singkat tiga hal di atas sesuai dengan apa yang Ibu Najelaa Shihab jelaskan di dalam video yang kami tonton bersama;

1). Komitmen

Guru harus memiliki komitmen kuat terhadap tujuan yang akan diraih. Tujuan pembelajaran yang memberi pengaruh terhadap perkembangan anak didik di dalam kelas. Tujuan yang membawa guru untuk selalu semangat menciptakan inovasi-inovasi pembelajaran.Namun, ada saja tantangan yang dirasakan di dalam prosesnya yaitu kadangakala guru lupa membedakan mana yang termasuk cara dan tujuan komitmen. Banyak guru malah menghabiskan waktunya untuk fokus mengurus tugas administrasi, menyiapkan akreditasi, atau ketentuan birokrasi lainnya yang sebenarnya adalah cara namun kemudian menjadi prioritas dan tujuan utama. Sehingga, guru cenderung mengesampingkan komitmen awal yang dimiliki.

2). Kemandirian

Dalam kemandirian, ada sebuah anak tangga tingkatan dimulai dari tingkata pertama yaitu anak tangga (1) manipulasi, (2) kesadaran, (3) interaksi/dialog, (4) masukan/konsultasi, (5) kemitraan, (6) pemberdayaan, (7) kendali, dan (8) mandiri. Menjadi guru mandiri tidaklah mudah karena ada banyak anak tangga yang perlu dilewati dan konsistensi sehingga menjadi guru yang memegang kendali atas proses belajar masing-masing dan kemudian berada di atas puncak sebagai guru mandiri. 

3). Refleksi

Kegiatan refleksi adalah kegiatan melihat cermin dan mengamati diri sendiri sebagai pelaku utama dalam kelas namun hal ini sulit untuk dilakukan. Akhirnya, banyak diantaranya yang selalu berdalih untuk melihat pelaku lain sebagai alasannya, seperti masyarakat belum paham, murid-murid tidak mengerti, orang tua yang menentang yang faktanya diri sendirilah yang merasa takut untuk berubah. 

Ada banyak hambatan dan permasalahan untuk menjadi guru yang merdeka belajar yaitu memahami adanya miskonsepsi di dalam dunia pendidikan. Miskonsepsi yang perlu ditindaklanjuti oleh guru belajar agar dapat mewujudkan sistem pendidikan nasional, yaitu:

  1. Guru mau belajar seringnya terdorong karena motivasi eksternal (mendapat sertifikat, insentif, namun sejatinya guru perlu belajar sebagai kebutuhan alamiah. Tidak ada paksaan ataupun iming-iming saat mau belajar.
  2. Guru banyak yang ingin belajar dari para pakar pendidikan, padahal belajar antarsesama guru dapat menjadi salah satu cara efektif untuk saling bertukar informasi dan berbagi tentang praktik baik di pembelajaran.
  3. Guru hanya terbatas membangun pertanyaan dengan “how to”, tetapi secara aplikatif guru perlu mengenalkan hal-hal yang berbeda dan menarik kepada murid-muridnya. Guru yang adaptif belajar dengan tujuan dalam konteks yaitu dengan mmberikan pertanyaan-pertanyaan tentang “why” dalam setiap kondisi di dalam kelas.
  4. Guru sering fokus terhadap pemenuhan target yang dipaksakan  untuk selesai serta nilai capaian KKM dengan mengejar ketertinggalan materi di dalam kompetensi dasar pembelajaran. Namun, secara alami, proses belajar membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Seiring dengan proses belajar yang membutuhkan waktu, guru dapat menciptakan inovasi dengan baik dengan melihat dan memahami inovasi tersebut apakah sudah sesuai kebutuhan murid atau belum.
  5. Guru lebih mengutamakan kompetensi secara individual ketika belajar. Tetapi, guru merdeka belajar adalah mereka yang berani mengambil aksi untuk kompetensi tumbuh bersama lingkungan. Oleh karena itu, guru butuh teman kolaborasi untuk bertindak dan menyamakan persepsi menjadi guru merdeka belajar. 

Setelah pemutaran video, sesi berikutnya adalah refleksi bersama. Di sesi refleksi, guru secara bergantian menjawab pertanyaan. Beberapa peserta menjelaskan pengalamannya berkaitan dengan miskonsepsi yang terjadi di lingkup pendidikan sekolah mereka. Pak Huda berpendapat bahwa miskonsepi yang beliau rasakan adalah belajar dikejar target materi yang terkadang membuat murid jenuh dan tertekan ditambah dengan adanya kompetisi-kompetisi atau lomba yang dapat mengurangi jam murid untuk belajar. Padahal idealnya, belajar membutuhkan waktu yang tidak sebentar (tidak bisa instan). Selain itu, masih banyak pendapat lain terkait menjadi guru merdeka belajar dan hal-hal yang berkaitan dengan miskonsepsi di dunia pendidikan. 

Akhirnya dari serangkaian kegiatan nonton bareng video merdeka belajar, kami sama-sama memahami bersama bahwa guru yang merdeka belajar tidak semudah yang dibayangkan. Guru merdeka belajar yaitu dia memiliki komitmen pada tujuan pencapaian, meningkatkan kemandirian, dan berusaha melakukan refleksi di setiap akhir kegiatannya. Pastinya guru merdeka belajar adalah guru yang memiliki semangat berkembang dan mandiri demi terwujudnya pendidikan Indonesia yang lebih baik.

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: