Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar – Meluruskan Miskonsepsi Belajar

Penulis : Rini Suryati | 2 Aug, 2019 | Kategori: Liputan Guru Belajar, Temu Pendidik Daerah

Pada  hari Sabtu, 25  Mei 2019 jam 14.00  WIB sehabis shalat zuhur, Komunitas Guru Belajar (KGB) Pesisir Selatan mengadakan Temu Pendidik  Daerah ke-8 bertempat di ruang perpustakaan UPT SDN 01 Lunang. TPD. Pessel ke-8 ini memiliki kegiatan inti Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar. Kegiatan TPD Pessel ke-8 ini di Moderatori  oleh saya sendiri Rini Suryati, sebagai salah satu anggota dari KGB Pessel. Kemudian pemandu nobar juga di lakukan oleh Rini Suryati (saya sendiri) karena Cuma ada saya di daerah paling selatan kabupaten Pesisir Selatan tepatnya sekitar 15 km jaraknya dari daerah provinsi Bengkulu Utara.

Kegiatan ini direncanakan pada hari Sabtu, 18  Mei 2019, saya sudah mempersiapkan segala sesuatunya mulai dari materi, slide, peralatan mulai dari laptop proyektor, speaker, dan sound system. Namun sayangnya tidak ada peserta dari sekolah lain yang datang, beberapa saat kemudian teman mengirim pesan via Whatsapp bahwa kegiatan nobar ini kita adakan di komunitas KKG (Kelompok Kerja Guru) saja, karena  hari ini sebagian guru punya kesibukan di sekolah masing – masing dan sebagian tidak dapat izin dari kepala sekolah. Akhirnya acara Nobar hari itu dibatalkan. Beberapa hari kemudian teman – teman di sekolah sendiri merasa penasaran, beberapa diantara mereka mengusulkan,”Bu Rini, bagaimana kalau kegiatan Nobarnya kita adakan saja cukup kita yang hadir di sekolah saja yang mengikutinya.” Ya menurut saya usulan mereka ada benarnya, mengapa kita harus menunggu lama sementara toh guru – guru di sekitar kita ada, sementara kalau ditunggu KKG kegiatannya sudah ditutup untuk tahun ajaran ini., dan akan dilaksanakan tahun ajaran baru nantinya. Dari pada menunggu lama akhirnya kegiatan Nobar kami lakukan pada hari Sabtu tanggal 25 Mei 2019.

Kami bersama teman  – teman di sekolah kembali menyiapkan segala sesuatunya, karena yang ikut hanya guru – guru di sekolah, “Bu Rini, kegiatannya kita laksanakan di perpustaan aja ya biar agak santai.” Usul salah satu guru, kami sepakati kegiatan dilaksanakan di perpustakaan sekolah dengan jumlah guru yang hadir cuma berjumlah 10 orang, kepala sekolah tidak dapat menghadiri kerena ada acara rapat.

Sebelum acara Nobar di mulai, saya membuka kegiatan dengan mengajukan pertanyaan sesuai dengan panduan,” Apa yang anda ketahui tentang merdeka belajar ?.”Sambil tertawa ringan peserta Nobar menjawab merdeka belajar itu murid tidak boleh dimarahi, apalagi dipukul, masing – masing memberi jawaban tapi jawaban tetap seputar itu.

Setelah lima menit kegiatan Nobar dimulai, saya memutar video Bu Najelaa, bebrapa saat peserta fokus menonton.

Lima belas menit kemudian video berakhir, mereka minta di putar sekali lagi setelah selesai tanpa dikomandoi salah satu peserta langsung berkomentar, videonya Cuma ini Bu Rini ?, “Saya kira tadi kita akan nonton tentang cara guru merdeka belajar mengajar, ada tidak ya videonya, kami juga butuh contoh lho bagaimana cara penerapan cara mengajar guru merdeka belajar.”Kata bu Milda. Saya jawab, O…yang sekarang ini dulu ya kita diskusikan, masalah  video cara penerapannya nanti kita tanya Kampus Cikal mungkin Kampus Cikal punya koleksi cara mengajar teman – teman yang sudah menerapkan cara mengajar guru merdeka belajar. “ Benar ya Bu Rini , tolong carikan biar jadi pedoman bagi kami,” pinta mereka.

Kami masuk ke sesi refleksi, saya mulai mengajukan pertanyaan pertama, “Di antara miskonsepsi tadi, mana yang paling menggambarkan diri Anda?” Bu Rini kalau menurut pemahan saya selama ini belajar itu memang harus pada ahlinya, rata- rata jawaban mereka seperti itu,”Kalau begitu jika tidak ada ahlinya, apakah kita berhenti belajar?” Kata saya, semua peserta tertawa renyah, akhirnya bersama teman – teman guru kami meluruskan miskonsepsi belajar selama ini, bahwa kita belajar tidak harus menunggu para ahli atau pakar. Para ahli yang selama ini menurut kita hebat secara teori belum tentu dekat dalam praktiknya, kita guru lah yang berhadapan langsung dengan murid kita, kita gurulah yang lebih tahu permasalahan anak didik kita. Maka kita lah yang paling cocok saling berbagi tentang praktik cerdas kita dalam mengajar. “O, iya ya,” celetuk salah satu guru. Kami lanjut kan dengan mendiskusikan miskonsepsi yang lainnya, hingga kami menyepakati bahwa belajar itu butuh waktu tidak biasa dipaksakan mengejar target kurikulum akan memberikan dampak yang tidak baik bagi anak didik kita. Kompetensi murid akan tumbuh bersama lingkungan, bukan kompetensi individual.

Saya mengajukan pertanyaan kedua, ciri guru merdeka belajar adalah komitmen pada tujuan, mandiri terhadap cara mengajar dan melakukan refleksi. “Apakah Anda setuju dengan pernyataan tersebut? Apa alasannya?” “Setujuuuu.”Kata mereka serentak. Salah satu guru memberi alasan, kita memang harus komitmen pada tujuan, sesuai dengan penjelasan Bu Najelaa bahwa guru merdeka belajar paham mengapa perlu mengajar suatu materi dan kaitannya dalam kehidupan sehari – hari, sehingga murid merasa materi pelajaran bermakna bagi dirinya dan menumbuhkan motivasi instrinsik bahwa belajar itu berarti bagi dirinya. Guru merdeka itu mandiri, selalu bergantung pada dirinya untuk mengatasi tantangan, tidak mudah menyerah menghadapi tantangan, atau menyalahkan orang lain dan keadaan. Guru merdeka belajar juga harus reflektif, berani meminta umpan balik secara aktif, dan menilai diri sendiri dengan objektif.

Pertanyaan selanjutnya pada sesi refleksi adalah Apakah Anda mau menjadi guru merdeka belajar? Apa alasannya? “Kami mau Bu Rini, tapi kadang – kadang mood ini naik turun lho, kadang semangat kadang kendor, yang jelas kami coba ya” Mereka tertawa renyah. Kami ingin menjadi guru merdeka belajar, tapi kami butuh waktu untuk merubah mindset tentang murid, kebiasaan selama ini kita sering menyalahkan murid dari pada mencari solusi, mudah – mudahan seiring perjalanan waktu kami akan menjadi guru merdeka belajar”, ungkap Bu Milda .”Wow, tepuk tangan deh diskusi kita hari ini seru banget”, kata saya menimpali ungkapan Bu, Milda.

Pertanyaan ke empat “Sebagai guru merdeka belajar, apa perubahan yang ingin anda lakukan di kelas ?” Mereka menjawab, “Insyaallah kami akan memulai dengan menata kelas, membuat kesepakatan kelas, ice breking di sela- sela pembelajaran, dan berusaha menciptakan pembelajaran yang menyenangkan, dan tidak lupa di akhir pembelajaran diadakan refleksi bersama murid.”

Pertanyaan terakhir, “Sebagai guru merdeka belajar apa pengembangan diri yang ingin anda lakukan bersama komunitas guru belajar?” “Kami ingin belajar menulis, setidaknya kami bisa menulis PTK” Kata salah seorang peserta.

Di sesi penutup saya sedikit mengulas materi bahwa guru merdeka belajar adalah guru yang komitmen pada tujuan, guru harus tahu kenapa melakukan sesuatu dan apa manfaatnya serta bagaimana cara mengaplikasikan dalam kehidupan sehari- hari. Dalam mengajarkan meteri pelajaran hendaknya kita senantiasa mengaitkan dengan lingkungan dan kehidupan sehari – hari sehingga murid merasa bahwa apa yang mereka pelajari bermakna baginya. Guru merdeka juga harus mandiri, mau berkorban untuk meningkatkan kompetensinya, mengembangkan karier, tidak hanya menunggu subsidi dari pemerintah, guru merdeka mampu menentukan pilihan yang tepat pengembangan kompetensinya. Guru merdeka terbiasa menggunakan refleksi dalam setiap selesai menuntaskan suatu pekerjaan, berani meminta umpan balik, dan mau menilai diri sendiri.

Sebenarnya semangat saya sempat surut untuk mengadakan Nobar ini, usia saya sudah (43 tahun) artinya dari segi usia saya tidak memenuhi persyaratan, sehingga liputannya tidak saya buat. Beberapa teman penggerak bu Novi dan Bu Rahmi selalu menyemangati saya untuk tetap mengirim laiputannya, tanpa pikir panjang, peduli saya lolos jadi penggerak atau bukan saya tetap akan bergerak bersama Komunitas Guru Belajar, Kampus Guru Cikal, esensinya toh tidak tergantung label penggerak atau bukan yang jelas kita mau bergerak untuk belajar, berbagi dan berbuat untuk perubahan pola pikir guru – guru tentang merdeka belajar. Semenjak saya bergabung dengan Komunitas Guru Belajar, alhamdulillah saya sudah bergerak di kelas sendiri dan berbagi dengan teman – teman di KKG, walau hasilnya baru sebatas teman guru merasa senang dengan cara pelatihan yang diterapkan di KKG yang melibatkan, moga seiring perjalanan waktu teman guru di kecamatan lunang kabupaten pesisir selatan akan merasakan nikmatnya belajar, akan menumbuhkan motivasi untuk terus belajar.

Salam Merdeka Belajar!

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: