Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar – Mengulik Miskonsepsi Guru Belajar

Apa sih merdeka belajar itu?
Kenapa belajar harus merdeka?
Lho kok belajar ada miskonsepsinya? Bagaimana cara agar bisa merdeka belajar dan menangani miskonsepsi itu?

Pada tanggal 12 Mei 2019 KGB kudus mengadakan nobar atau nonton bareng video Guru Merdeka Belajar. Apa pentingnya sih acara nobar ini?
Di dalam video guru merdeka belajar ini, mengulik keseluruhan miskonsepsi dalam pendidikan di era sekarang. Banyak sekali yang menjadi penghambat guru mengembangkan dirinya, dan mungkin menyebabkan pembelajaran di kelas jadi “membosankan” alias “bikin ngantuk!”. Tidak hanya miskonsepsi yang dibahas dalam kegiatan nobar ini, ada pula cara bagaimana menjadi guru yang merdeka belajar. Nah dari sini kita bisa tau, kenapa bisa begitu? Bagaimana solusinya agar guru bisa merdeka belajar serta mengembangkan dirinya?

Ada beberapa susunan acara, sebelum pemutaran video, moderator menanyakan apa yang dipahami oleh peserta tentang merdeka belajar. Guru Shofi berpendapat, “Merdeka belajar tanpa terlalu terkekang dengan administrasi”. dan ada juga yang berpendapat Guru Ayu, “Guru yang dapat memotivasi diri sendiri untuk menciptakan hal baru dalam pembelajaran dan mampu belajar terus”. Kemudian dilanjutkan dengan pemutaran video dengan durasi 15 menit. Dalam video tersebut memaparkan beberapa cara mejadi guru yang merdeka belajar dan miskonsepsi yang memang terjadi sekarang ini. Menjadi guru yang merdeka belajar terdapat
beberapa hal yang essensial, pendidik yang merdeka itu punya komitmen, memiliki kemandirian dan berefleksi. Berkomitmen dengan tujuan, yang menjadi tantangan dalam hal ini adalah kita lupa membedakan cara dengan tujuan. Kita terjebak pada tugas – tugas administratif, akkreditasi, ketentuan birokrasi yang sebenarnya semua hanya cara namun kemudian menjadi tujuan dan prioritas utama. Hal yang kedua kemandirian, ini perlu adanya tingkatan – tingkatan seperti manipulasi, kesadaran, interaksi/dialog, masukan/konsultasi, kemitraaan, pemberdayaan, memegang kendali atas proses belajar kita sendiri dan mejadi guru mandiri. Melakukan tingkatan – tingkatan tersebut bukan lah hal mudah tentunya, perlu konsistensi yang tinggi untuk menuju puncak tingkatan. Yang terakhir adalah refleksi, yang mudah dikatakan namun sulit untuk melakukan. Kita cenderung menutup mata menolak melihat cermin dengan seribu alasan. Kita selalu bilang, masyarakat belum paham, anak – anak tidak mengerti, orang tua akan menentang, padahal itu adalah ketakutan kita sendiri untuk menuju berubahan.

Menjadi guru yang merdeka belajar tentu ada hambatan dan permasalahan yang kompleks di era pendidikan sekarang. Adanya beberapa miskonsepsi seperti belajar diburu target yang dipaksakan, sedangkan belajar itu sendiri butuh waktu. Bukan hanya 1 hari 2 hari
materi selesai untuk mengejar kompetensi dasar untuk memenuhi nilai capaian KKM. Belajar cukup terbatas “How to?” padahal belajar harus dengan tujuan dalam konteks. Tak melulu membaca buku teks mejawab pertanyan, mengisi LKS, namun harus ada penjelasan dan contoh yang mungkin bisa berupa pengamatan sederhana dikaitkan dengan kehidupan
sehari- hari agar mengena. Bagaimana guru dapat mengatasi permasalahan tersebut? Jawabannya adalah guru harus merdeka belajar. Guru mau belajar kembali. Bukan belajar perlu intensif eksternal, bukan hanya untuk mendatkan sebuah poin tertentu, ataupun sebuah penghargaan namun belajar sebagai kebutuhan alamiah. Harus membaca lagi, harus melakukan riset dengan hasil inovasi pembelajar yang mampu diterapkan didalam kelas. Terakhir belajar tak melulu harus dari ahli namun bisa belajar dari sesama guru. Saling berbagi informasi dan pengalaman, materi maupun treathmen terhadap anak yang perlu perlakuan “khusus” dikelas dengan berbincang santai tapi penuh makna.

Setelah pemutaran video, peserta diajak untuk merefleksikan dengan durasi 30 menit. Beberapa peserta mengutarakan pengalamannya berkaitan denga miskonsepsi tersebut. Seperti contohnya miskonsepsi belajar perlu intensif eksternal, Guru Shofi berpendapat, “Kebanyakan guru yang mau belajar hanya untuk mendapatkan sertifikat dan imbalam sekolah.” Dalam konteks miskonsepsi lainnya belajar diburu target yang dipaksakan, Guru Tika berpendapat,“Terkait administrasi dan untuk mengejar akreditasi nilai siswa harus mencapai KKM bagaimanapun caranya.” dan masih banyak pendapat lainnya yang muncul terkait miskonsepsi guru merdeka belajar dilingkungan sekolah. Selain pendapat tersebut banyak peserta yang mengemukakan pendapat untuk mengembangkan beberapa inovasi yang menjadi salah satu langkah memerdekakan kelasnya, salah satunya ingin membuat sebuah produk dari KGB Kudus yang dapat dimanfaatkan dan ditiru oleh guru-guru tidak hanya tersekat dalam ruang kelas, namum dapat memanfaatkan apa yang ada dilingkungan sekitar untuk menjadi media belajar. Melakukan sebuah perubahan dan meminimalisir miskonsepsi ini, resep utamanya adalah guru yang mau terus belajar. Mencari bagaimana cara membuat inovasi,
mengembangkan diri menjadi guru yang merdeka belajar, dengan tahapan berkomitmen dengan tujuan, meningkatkan kemandirian dengan memegang kendali proses belajarnya sendiri, yang selalu membuka mata hati dan pikiran untuk melakukan refleksi diri. Tentunya dengan penuh semangat, kesadaran maupun rasa tanggung jawab agar tujuan pembelajaran tercapai dan bermakna menuju perubahan pendidikan Indonesia yang lebih baik lagi.

Tags:
About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: