Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar – Mewujudkan Pengalaman Belajar yang Bermakna

Penulis : Zienaat Rifaty | 21 Aug, 2019 | Kategori: Liputan Guru Belajar, Merdeka Belajar, Pekalongan

Pertama kali mendengar kata “merdeka belajar” cukup menggelitik hati saya. Apakah guru  bebas seenaknya mengajar, atau apakah murid bebas seenaknya belajar. Hal ini terjawab sudah setelah saya bergabung dalam KGB Pekalongan. Saya mulai mengenal KGB Pekalongan sejak mengikuti kegiatan Ransel Ramadhan tahun lalu. Mengikuti kegiatan-kegiatan KGB Pekalongan membuat semangat belajar saya semakin bertambah. Dengan mengikuti kegiatan KGB Pekalongan membuat saya sadar bahwa guru haruslah selalu meng-upgrade ilmu, guru harus selalu belajar, lebih-lebih bisa berbagi kepada teman sesama guru. Semakin lama semakin kami penasaran dengan praktek merdeka  belajar. Akhirnya ketika TPN 2018 saya memilih mengikuti kelas Guru Unun tentang Merdeka Belajar. Tidak hanya itu saja, sembari praktek merdeka belajar di kelas, agar sewaktu-waktu saya bisa kembali membuka materi, saya beli buku tentang merdeka belajar.

Saya ingin praktek merdeka belajar yang positif ini menyebar di kota Pekalongan. Karena pengalaman belajar bermakna dapat terwujud karena adanya kemerdekaan belajar bagi guru dan siswa di sekolah. Dengan melobi sana sini, akhirnya ada sekolah yang bersedia untuk dijadikan tempat. Pada hari Kamis, 23 Mei 2019 pukul 13.00 WIB saya berkesempatan mengadakan nobar merdeka belajar. Tidak hanya nobar merdeka belajar saja, tetapi saya mengajak Guru Desi dan Guru Zidnil untuk berbagi. Guru Zidnil berbagi materi merdeka belajar menjelang PAT dan Guru Desi berbagi materi peningkatan literasi dengan panen tumbar. Tentang Guru Zidnil, beliau berbagi 3 kegiatan sekaligus. Yang pertama math challenge. Math challenge ini untuk mengetahui seberapa pemahaman anak terkait Matematika untuk persiapan PAT. Guru Zidnil mengolahnya dalam bentuk games. Anak tak terasa kalau masih evaluasi. Beberapa soal Matematika disebar di beberapa tempat dan anak menjelajahi beberapa sambil mengerjakan soal. Anak terlihat antusias mengerjakan dan belajar. Kegiatan kedua adalah smart id. Guru Zidnil memanfaatkan meja dan lantai untuk menempel double tip. Saling mengkaitkan dan membentuk sudut. Anak dibagi dalam beberapa kelompok dan dengan metode widow shopping. Ternyata cara ini membuat anak lebih semangat belajar daripada dengan metode ceramah saja. Kegiatan ketiga, Guru Zidnil berbagi pembelajaran dengan film memakai sinedu.id yang dipadukan dengan materi bahasa Indonesia. Anak-anak sangat senang dengan cara ini. 

Selanjutnya, Guru Desi berbagi materi tentang peningkatan literasi dengan panen tumbar (papan temple dan kartu bergambar berbantuan kamus digital). Guru Desi mengajar mapel TIK. Sebelumnya guru Desi memilih musik untuk mengiringi pembelajaran. Sambil bermain dan belajar. Tiap kali music berhenti, giliran anak mencoba membaca kartu dan kemudian menempel pada papan. Kartu ini berisi gambar perangkat keras computer disertai dengan tulisan. Jadi anak tak hanya mengetahui tulisan dan pengucapan bahasa Inggris tetapi juga tahu fungsi dari alat tersebut. Jika anak masih salah dalam pelafalan maka bisa belajar sambil membuka oxford living dictionaries.

Sebelum Guru Desi dan Guru Zidnil berbagi, kita mengadakan nobar merdeka belajar, kemudian dilanjut dengan diskusi, dan terakhir adalah refleksi. Kesimpulan hasil diskusi kami di antaranya adalah kita sepakat bahwa :

  1. Proses belajar membutuhkan kemerdekaan dan harus melibatkan semua pihak
  2. Pelajar dan guru yang merdeka mempunyai komitmen pada tujuan belajar. Pelajar mengetahui mengapa dan untuk apa dia belajar, begitu pun guru
  3. Pelajar dan guru merdeka adalah yang mandiri mengatur strategi untuk mencapai tujuan belajar. Seperti menekankan bahwa motivasi internal dalam belajar sangatlah penting, pelajar harus dilibatkan dalam merencanakan tujuan belajar, menjelaskan manfaat dan tujuan belajar, memberikan dukungan yang tepat, memberi kritik yang konstruktif, pelajar bertanggung jawab dalam proses belajarnya sendiri, merancang tantangan belajar, memberikan pilihan dalam proses belajar, melibatkan pelajar dalam proses asessment
  4. Pelajar dan guru merdeka harus melakukan refleksi. Memahami sejauh mana belajar, mengetahui sisi mana yang perlu dikembangkan, memantau seberapa jauh proses perjalanan belajarnya kemudian merencanakan follow up
  5. Pengalaman belajar bermakna akan terwujud jika ada kemerdekaan dalam belajar.
  6. Belajar itu tidak harus dengan ahli, tapi dengan sesama guru pun bisa belajar
  7. Belajar sebagai kebutuhan
  8. Belajar dengan tujuan dalam konteks
  9. Belajar butuh waktu
  10. Kompetensi tumbuh bersama lingkungan
  11. Merdeka belajar itu kita bisa belajar dengan siapapun, di manapun kita berada, dan kapan pun selalu belajar.

Setelah nobar dan berdiskusi, saya mengajak teman-teman guru untuk berefleksi bersama. Setelah nobar kita jadi semakin sadar bahwa selama ini kita masih terkurung dengan segala miskonsepsi belajar. Padahal sebenarnya merdeka belajar adalah sebuah kebutuhan. Kita semua sepakat mengikis sedikit demi sedikit miskonsepsi yang selama ini ada dalam diri kita.

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: