Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar – Passion Guru

Berawal dari kata Remedial.

Remedial kali ini tidak mengartikan kekecewaan karena saya harus mengulang, namun menjadikan saya lebih semangat atas dukungan dan energy positif yang diberikan Bapak Ibu Guru dari Komunitas Guru Belajar Makassar. 

Remedial kali ini berbeda dengan makna ujian ulang yang saya kenal sejak dulu. Melainkan sebuah simbol, bahwa belajar tidak mengenal kata STOP. Saya dengan segenap keberanian mengajukan jadwal Nonton Bareng Video Guru Merdeka Belajar, tepat pada hari Kamis 8 Agustus 2019 bertempat di Sekolah Lazuardi Athaillah GIS. Kegiatan ini serangkaian dengan jadwal sharing di Sekolah saya sebut saja Teacher to Teacher, hampir semua guru Lazuardi ikut dalam kegiatan nonton bareng. Narasumber dari kegiatan ini adalah Ibu Guru Najelaa Shihab, pendiri Kampus Guru Cikal saat mengisi acara sebagai pembicara di Temu Pendidik Nasional (TPN) 2016.

Sebelum pemutaran Video Ibu Guru Elaa dimulai, terlebih dahulu saya sebagai fasilitator sekaligus moderator memberikan pengantar terkait narasumber dan video yang akan ditonton. Antusias teman-teman guru membuat saya harus segera memulai pemutaran videonya yang merupakan acara inti dari kegiatan ini.

Setelah video selesai ditonton, saya pun membuka sesi diskusi dengan pertanyaan awal, “Sebenarnya makna kata merdeka itu seperti apa teman-teman?’

Setiap teman guru memiliki persepsi dan jawaban yang berbeda-beda, salah satu nya diungkapkan oleh Pak Guru Nas “Merdeka itu memiliki definisi yang luas, saya pernah mendengar sebuah ungkapan terkait pendidikan di lingkungan Sekolah bahwa Sekolah itu lebih buruk dari penjara, mengapa? Karena seseorang yang terkurung dalam penjara cukup duduk diam saja, tidak sama halnya dengan sebuah sekolah di mana kita terkurung di dalamnya dan membaca buku secara terpaksa dalam hal ini sekolah dengan aneka ragam aturannya”.

Ada tiga poin penting terkait ciri guru merdeka belajar, yaitu

  1. Guru yang komitmen akan tujuan
  2. Guru yang mandiri, yang pada akhirnya berada pada puncak di mana guru yang memegang kendali atas dirinya
  3. Guru yang reflektif, guru yang mengevaluasi dirinya sendiri.

Pertanyaan-pertanyaan terkait miskonsepsi yang dipaparkan pada video, kemudian menjadi sesi yang alot kami diskusikan setelah pemahaman kata merdeka sebelumnya.

“Cukup bayar saya dengan kopi!” Ungkap salah satu guru. Pak Guru Alamsyah adalah salah satu guru Bahasa Indonesia di Unit SMP, sebelum bergabung dengan Lazuardi hingga saat ini beliau mengelolah salah satu blog yang menampung tulisan-tulisan menarik namun mengkritik ☺. Pak Anca sapaan akrabnya, sangat senang jika diajak menjadi relawan dengan bayaran Kopi plus diskusi, “Saya mengajar bukan karena butuh uang melainkan karena ingin belajar dari pengalaman dan siswa saya nantinya bisa mengingat apa yang telah saya ajarkan, itulah tujuan saya”.

Salah satu ciri guru merdeka belajar yang disampaikan oleh Ibu Elaa adalah komitmen akan tujuan. Memang tidak mudah untuk menjadi guru yang komitmen akan tujuan namun yang saya pahami  tentang makna seorang guru yang merdeka belajar adalah guru yang mampu memerdekakan dahulu anak didik di dalam kelasnya. Fasilitas dan sarana belajar yang lengkap belum bisa menjadi indikator seorang anak merdeka dalam belajar, lalu bagaimana dengan anak pelosok? Anak yang tinggal di daerah yang sulit dalam penggunaan teknologi?, pertanyaan saya ini dijawab langsung oleh Ibu Guru dian Ayu “Guru merdeka belajar adalah guru yang menemukan solusi dalam kesulitan!”. 

Miskonsepsi yang terjadi di sekitar kita, dirasakan oleh setiap guru  dengan banyak cerita dan pengalaman dalam menghadapinya. Banyak rintangan untuk menjadi seorang guru yang merdeka belajar, bukan hanya guru Karena profesi melainkan guru yang merupakan passion. Passion yang tidak pernah bosan untuk dilakukan, mengorbankan segala hal demi mencapai tujuan mulia, serta tidak pernah memperhitungkan untung rugi yang telah dilakukan. Miskonsepsi yang perlu diberi perhatian lebih agar dapat mewujudkan tujuan dengan sistem pendidikan yang lebih terarah yaitu :

  • Guru cenderung ingin belajar karena adanya dorongan lain (godaan sertifikat, insentif, dan sebagainya). Sebut saja ini profesi guru bukan passion guru.
  • Tidak mengakui kelebihan orang lain, terlebih jika bukan seorang ahli atau tokoh terkenal.
  • Guru dengan “How to” hanya terbatas kepada cara atau teknis. Guru perlu lebih ekstrim dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan esensial dan fundamental.
  • Guru fokus administrasi, seperti Ujian Nasional yang dijadikan alat ukur kecerdasan seorang anak hanya dengan tiga hari pelaksanaan. 
  • Guru yang masih bersifat individualis. Guru merdeka belajar harusnya dapat bekerja dengan tim serta mampu berkolaborasi dalam menyatukan atau menyamakan pendapat.

Dari serangkaian kegiatan Nobar ini, saya dan teman-teman dapat menarik kesimpulan bahwa menjadi seorang guru yang merdeka belajar tidak semudah seperti yang dipikirkan. Banyak hambatan dan rintangan yang harus dihadapi. Kami sepakat bahwa cukuplah profesi guru itu disandang sebelum kegiatan ini, sekarang mari sama-sama kita aplikasikan “Guru adalah Passionku dan Passionmu”. Semangat ini akan menjadi pendorong dan motivasi dalam mengembangkan diri dan mandiri demi mencapai sebuah tujuan pendidikan “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: