Merdeka Belajar – Terus Menerus Belajar

Penulis : Surya Herdiansyah | 18 Dec, 2019 | Kategori: Binjai, Liputan Guru Belajar, Temu Pendidik Daerah

Seru dan menyenangkan. Itulah kata-kata yang dapat menggambarkan kegiatan Nonton Bareng (Nobar) Guru Merdeka Belajar Komunitas Guru Belajar (KGB) Binjai pada hari Selasa, 27 Agustus 2019 lalu. Kegiatan ini adalah kerjasama KGB Binjai dengan salah satu organisasi mahasiswa Kota Binjai yaitu Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Binjai dan dilaksanakan di Sekretariat HMI Cabang Binjai Jalan T. Amir Hamzah Binjai. Karena menggandeng HMI sebagai organisasi mahasiswa, maka awalnya acara nobar ini dilaksanakan dengan target peserta yaitu mahasiswa-mahasiswa jurusan kependidikan dari universitas dan sekolah tinggi ilmu pendidikan yang ada di Kota Binjai. Namun ternyata antusiasme guru-guru Kota Binjai terhadap kegiatan ini cukup baik, yang ditandai dengan hadirnya peserta guru selain mahasiswa. Bahkan sebagian besar mahasiswa yang hadir pun ternyata bukan hanya mahasiswa yang kuliah di kampus semata, namun juga mahasiswa yang sudah terjun sebagai guru honorer dan sudah mengajar di sejumlah sekolah di Kota Binjai. 

Kesempatan ini dimanfaatkan dengan sangat baik oleh Moderator Acara sekaligus calon penggerak KGB Binjai, Surya Herdiansyah untuk melakukan jaring pendapat dari seluruh peserta. Kegiatan yang awalnya hanya diperuntukkan untuk sosialisasi KGB Binjai dan memperkenalkan konsep Guru Merdeka Belajar lewat Nonton Bareng (Nobar) kepada mahasiswa, akhirnya diarahkan menjadi diskusi interaktif seputar permasalahan mengajar yang dihadapi guru dalam kesehariannya. Setelah nobar selesai, acara menjadi seru dan menyenangkan karena hampir seluruh peserta terlibat secara aktif dalam diskusi. 

Diskusi interaktif diawali dengan diskusi mengenai merdeka belajar. Menurut Hayatus Sahidah, guru dari SDIT Al Fityah Binjai, merdeka belajar itu adalah merdeka belajar kapanpun dan dimanapun. Guru harus terus menerus belajar dan tidak mengenal kata berhenti belajar. Belajar juga bukan harus terbatas pada pelatihan-pelatihan kedinasan yang diadakan, tapi guru harus tetap membuka diri untuk belajar hal-hal baru kapanpun dan dimanapun. 

Menurut Lusiana Matondang, guru dari SMPIT Al Fityah Binjai, merdeka belajar adalah kondisi ketika guru tidak hanya terpaku pada buku teks. Merdeka belajar selaras dengan ruh dari Kurikulum 2013 (K13/ Kurtilas) dimana murid yang lebih aktif daripada guru. Demi merangsang keaktifan murid, guru tidak boleh hanya terjebak di metode ceramah saja. Guru yang merdeka belajar berarti mampu memfasilitasi murid untuk juga merdeka belajar dengan berbagai metode. 

Menurut Yusi Wijayanti, pengurus KOHATI HMI Cabang Binjai, merdeka belajar adalah kondisi dimana guru mampu melaksanakan proses belajar mengajar dengan menggunakan hati nurani/ perasaan sehingga guru akan peka dan memahami apa yang murid butuhkan. Bila guru memahami kebutuhan murid, maka kreatifitas murid dapat ditingkatkan sesuai dengan potensi, minat dan bakat murid tersebut. 

Mayoritas para peserta menarik sebuah kesimpulan bersama bahwa sebagai guru merdeka belajar, maka pengembangan diri yang dapat dilakukan oleh seorang guru adalah tidak bergantung kepada minimnya sarana dan prasarana sekolah, atau halangan lainnya, melainkan harus berupaya memberdayakan diri sendiri untuk bisa melakukan yang terbaik bagi peserta didik. 

Selain berdiskusi tentang merdeka belajar, ada pula sharing moment mengenai permasalahan mengajar dari mahasiswa yang juga menjadi guru honorer, Maya dari SMA Karya Agung, yang bertanya mengenai bagaimana tips dan trik menghadapi murid yang lebih sering memperhatikan guru daripada memperhatikan mata pelajaran yang diajarkan oleh guru. Usia peserta didik yang tidak terlalu jauh dengan usia guru honorer ini membuat guru Maya terkadang gelisah dengan perhatian berlebihan para muridnya ketika ia mengajar. 

Ada beberapa saran dari guru-guru yang hadir. Susiana, guru SMPIT Al Fityah menyampaikan bahwa guru perlu mematut diri di cermin dan mempertimbangkan gaya/ style yang menunjukkan kewibawaan seorang guru sebelum masuk ke ruang kelas. Gaya/ style ini bukanlah gaya jaim yang berjarak dengan murid, namun seperti yang disampaikan salah seorang penggerak KGB Binjai yang hadir, Lisza Megasari dari SLB Negeri Binjai, gaya yang dimaksudkan dapat dianalogikan dengan gaya tarik ulur ketika bermain layangan. Bila selalu ditarik, maka layangan tidak akan terbang tinggi. Namun bila selalu diulur, maka layangan akan lepas dan malah tidak bisa dimainkan. Bermain layangan membutuhkan proses seimbang antara gaya tarik dan ulur yang disesuaikan dengan arah dan kecepatan angin ketika bermain layangan. Begitulah kira-kira analogi dari hubungan guru-murid yang terjadi selama pembelajaran maupun selama berinteraksi di luar jam pembelajaran.

Sejalan dengan hal ini, Lusiana Matondang dari SMPIT AL Fityah Binjai menyampaikan bahwa guru perlu untuk menyeimbangkan kapan waktu menegakkan aturan yang tegas. Apapun yang dilakukan guru perlu didasarkan kepada keinginan luhur untuk mendukung murid menjadi pribadi yang lebih baik. Proses belajar mengajar bukan hanya transfer ilmu dari guru kepada murid, tapi yang lebih penting adalah dalam rangka pembangunan karakter positif pada diri murid. Salah satunya dapat dilakukan lewat Kontrak Belajar di hari pertama kegiatan pembelajaran (di Komunitas Guru Belajar, istilah Kontrak Belajar ini lebih dikenal dengan Kesepakatan Kelas). 

Di akhir acara, moderator mengarahkan peserta untuk berdiskusi seputar literasi. Apakah peserta menganggap bahwa literasi adalah sama dengan membaca buku semata? Itu pertanyaan yang diajukan ke forum acara. Peserta diajak untuk mengkritisi praktik literasi yang pada pelaksanaannya cenderung terbatas pada membaca 15 menit sebelum memulai kegiatan pembelajaran di kelas. 

Mayoritas peserta ternyata memiliki pemahaman yang menarik mengenai literasi. Devi Agustina, guru dari SMPIT Al Fityah menyampaikan bahwa saat ini terjadi masalah besar bagi anak-anak Indonesia, yaitu turunnya minat anak untuk membaca buku. Dan menurut Lisza Megasari, guru SLB Negeri Binjai, orangtua di Indonesia cenderung berlomba-lomba agar anaknya sudah bisa membaca di usia balita. Para balita ini diajari membaca huruf demi huruf, kata demi kata dan bukannya diajarkan untuk menyukai membaca lewat buku bergambar dan metode yang menarik lainnya. Sehingga budaya cinta membaca bertukar menjadi budaya cepat-cepat balita bisa baca. Padahal baca tulis hitung (calistung), idealnya diajarkan di bangku SD di usia lebih dari 6 tahun (bukan balita). 

Menyikapi diskusi tentang minat baca di Indonesia yang rendah, Ramadhani, guru dari SDIT Al Fityah menyampaikan bahwa ada perbedaan besar antara belajar membaca dan membaca untuk belajar. Belajar untuk membaca hanya akan memberikan tuntutan bagi anak untuk bisa cepat baca, sedangkan membaca untuk belajar adalah sebuah upaya menjadikan membaca sebagai salah satu cara belajar. Belajar perlulah dilakukan seumur hidup. Karena itu, membaca juga idealnya dilakukan bukan hanya pada buku-buku teks pelajaran sekolah, tapi lebih dari itu semua. Bagi Ramadhani, literasi itu lebih dari sekedar membaca semata, literasi adalah sebuah keterampilan mengolah informasi secara lebih bijaksana. 

Andrian Firdaus, mahasiswa dari STKIP Budidaya Binjai yang juga guru SMP Karya Agung, memberikan pandangannya, literasi bagi Andrian adalah melek informasi, ingin tahu lebih jauh mengenai informasi dari setiap aspek terkait, mengolah informasi tersebut dan mengaplikasikannya dalam proses belajar, sehingga belajar membaca menjadi lebih substansi dan lebih produktif bagi generasi Indonesia yang lebih baik. 

Di akhir diskusi, moderator Surya Herdiansyah menyampaikan bahwa seluruh pendapat dan harapan para guru dan mahasiswa pendidikan di acara ini adalah sesuatu yang juga menjadi spirit dari terbentuknya Komunitas Guru Belajar (KGB), terutama di kota Binjai – Sumatera Utara. Hal ini diamini oleh penggerak KGB Binjai, Lisza Megasari yang menyampaikan bahwa diskusi kali ini adalah langkah awal dari upaya untuk terlibat bagi perbaikan pendidikan terutama di Kota Binjai.

Para penggerak KGB Binjai berharap agar budaya diskusi para guru dan mahasiswa pendidikan terus dilakukan, terutama di dalam sebuah wadah Komunitas Guru Belajar yang seperti namanya adalah tempat bagi para guru untuk selalu belajar, kapanpun dan dimanapun.

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: