Nonton Bareng Merdeka Belajar – Mempertanyakan Proses Pendidikan

Penulis : Arfi Syahbandi | 21 Jul, 2019 | Kategori: Liputan Guru Belajar, Temu Pendidik Daerah

Bulan Mei ini jadwal guru se-Indonesia Raya semakin padat. Diawali dengan menyambut Ramadhan, pengumuman kelulusan siswa kelas XII dan IX, persiapan Penilaian Akhir Tahun, pelaksanaan hingga proses pengolahan nilainya.

Hari ini, di sela-sela kesibukan mengolah nilai siswa di kantor, kami terlibat obrolan hangat terkait hasil UNBK yang telah diumumkan beberapa waktu yang lalu. Secara mengejutkan, perolehan nilai rata-rata untuk sekolah kami naik secara signifikan, menempatkan sekolah kami (SMAN 3 Teluk Keramat, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat) pada posisi 10 besar sekolah dengan perolehan nilai UNBK tingkat SMA/SMK/MA terbaik di kabupaten Sambas. Sebuah berita yang membanggakan seharusnya, namun kami malah tersenyum kecut, mengingat proses panjang berliku selama tiga tahun terakhir dan bagaimana kami telah mengenal dengan baik karakter siswa kami sendiri. Belum lagi jika membayangkan nasib siswa cemerlang tersebut ketika masa SMA berakhir, yang seringkali tak secemerlang nilainya. Disisi lain, nilai bertabur bintang ini menjadi kebanggaan dan lantas dibandingkan dengan perolehan nilai sekolah, kabupaten dan provinsi lain, untuk kemudian menjadi tolak ukur keberhasilan program dan landasan untuk menentukan arah program berikutnya bagi pejabat pembuat kebijakan di tingkat pusat. Obrolan kami kemudian bermuara pada beberapa pertanyaan; Apakah tujuan hakiki sistem pendidikan kita dan apa indikatornya? Lalu dimana peran guru seharusnya ditempatkan dalam sistem ini? Sangat wajar jika pertanyaan ini muncul, mengingat seringnya bongkar-pasang kurikulum yang diterapkan di negeri ini, yang seringkali tidak sesuai dengan daya dukung sekolah dan kebutuhan dunia kerja. 

Saya kemudian teringat sebuah video “merdeka belajar” yang pernah dibagikan oleh teman saya, dan mengajak teman-teman untuk sejenak ikut menontonnya. Sebuah laptop dengan pengeras suara ditata sekenanya. Ada kesan kaget, heran di raut wajah teman-teman ketika menontonnya, terutama pada bagian penjelasan piramida pendidikan di Indonesia. Spontan, kami membandingkan apa yang dijelaskan dalam video tersebut dengan apa yang kami rasakan selama ini. Kami semua sudah paham alur kebijakan pendidikan di Indonesia dan menyadari ada yang salah dengan itu. Guru sebagai garda terdepan pendidikan yang lebih mengenal medannya, selama ini diatur oleh pembuat kebijakan yang berada di belakang.  Dan penjelasan tentang membalik piramida tersebut membuka pikiran kami, bahwa seharusnya seperti ini lah sistem pendidikan dijalankan.

Lalu kami sampai pada diskusi, apa bedanya program ini dengan program Pendidikan Keprofesian Berkelanjutan yang telah digagas oleh pemerintah beberapa tahun yang lalu? Program Merdeka Belajar membuka kesempatan bagi setiap orang untuk berperan dalam sistem dan belajar berproses dari bawah, menikmati jatuh bangunnya, karena belajar bukan hanya dari pakar, namun bisa dari mereka yang sama seperti kami, yang lebih memahami kondisi nyata yang kami hadapi. Akhirnya kami menyadari, bahwa suara kami sendiri tidak akan berpengaruh untuk perubahan, namun akan sangat berperan jika kami bersatu dalam komunitas. Perubahan itu seharusnya dimulai dari diri kami sendiri sebagai pendidik, dan kemauan untuk berubah itu sudah seharusnya ditularkan kepada semua yang merasa bahwa pendidikan kita butuh perhatian.

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: