Nusantarun ke 6 – Berlari Untuk Pendidikan Murid Difabel

Penulis : Baja Seto | 11 Jan, 2019 | Kategori: Liputan Guru Belajar

Apa iya berlari bisa memberikan kontribusi terhadap pendidikan?
Apa iya tujuan besar pendidikan hanya tanggung jawab sekolah dan guru?

Saya berangkat ke Wonosobo menggunakan kereta api bersama Pak Bukik dan Pak Rizqy untuk menghadiri acara lari dari Nusantarun. Saya bertugas membantu meliput dan mengorganisir guru serta murid yang akan mendukung dan memberikan semangat para pelari. Ada 210 pelari yang menempur rute sejauh 169 Km untuk menggalang dana program pengembangan murid difabel di daerah Wonosobo dan Gunung Kidul.

Hari pertama kami datang ke SLBN Wonosobo. Ini pertama kali saya datang ke sebuah SLB. Kami disambut dengan kegiatan olehraga bersama yang diikuti oleh semua murid. Ada beberapa hal yang berbeda dengan kegiatan olahraga disekolah ini. Beberapa diantaranya adalah sebagian murid didampingi oleh orang tua atau keluarga dan murid dapat mengikuti kegiatan sesuai dengan kemampuannya. Saya berbincang dengan beberapa guru disana mengenai keunikan disekoah tersebut. Disekolah tersebut tidak hanya mengajarkan kemampuan kognitif terhadap murid, namun juga mengajarkan dan melatih murid untuk untuk dapat berkarya sesuai dengan kemampuan dan minatnya. Terlihat sekali bahwa murid-murid sangat menikmati proses belajar disekolah.

Salah satu hal yang sangat saya ingat adalah cerita dari seorang guru mengenai beberapa murid yang sangat senang berada di sekolah, sampai-sampai lebih suka di sekolah daripada dirumah (kebetulan sekolah ini memiliki fasilitas menginap). Guru tersebut bercerita mengapa banyak murid yang lebih suka di sekolah karena mereka merasa lebih dipahami, dihargai, dan merasa punya harapan untuk masa depan.

Kami melanjutkan kegiatan dengan mewawancarai beberapa murid dibantu oleh gurunya. Kami menanyakan apa yang disukai disekolah, apa cita-cita mereka dan apa yang mereka harapkan untuk masa depan. Ada yang bercita-cita ingin menjadi programmer, dokter dan guru. Hati saya terenyuh saat mereka mengungkapkan alasan mereka memiliki cita-cita tersebut adalah agar bisa membuktikan bahwa disabilitas tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk berkarya dan bermanfaat bagi orang lain.

Setelah itu kami mewawancarai beberapa guru. Para guru bercerita bahwa mengajar murid disabilitas memiliki banyak tantangan. Guru wajib memahami murid sebelum menyiapkan program yang tepat bagi murid. Guru juga wajib memiliki kemampuan yang mendukung interaksi dengan muridnya. Contohnya adalah memiliki kemampuan berbahasa isyarat bagi guru yang mengajar murid tuna daksa.

Dari wawancara kami dengan beberapa guru tersebut, ada guru yang menyayangkan akses pendidikan yang terbatas bagi murid difabel. Banyak murid yang bingung dan merasa kesulitan untuk mengenyam pendidikan yang lbih tinggi. Bukan hanya soal fasilitas, namun yang lebih penting lagi belum banyak perguruan tinggi yang mendukung murid difabel untuk bisa berkuliah dan mencapai pendidikan yang menunjang cita-cita besar mereka.

Salah satu tujuan program Nusantarun ke-6 adalah menyuarakan dan mendukung murid difabel untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan setara dengan murid biasa. untuk mewujudkan tujuan tersebut Nusantarun bekerjasama dengan Kampus Guru Cikal sebagai penanggung jawab program pengembangan murid difabel di Wonosobo dan Gunung Kidul

Dari perjalanan singkat tersebut saya menyaksikan bahwa tujuan besar tidak dapat dicapai jika hanya 1 atau 2 pihak yang berkomitmen untuk mewujudkannya, namun harus semua pemangku kepentingan yang bergerak. siapa pemangku kepentingan dalam pendidikan ? bukan hanya sekolah, guru atau pemerintah saja, tapi semua orang, dan itu termasuk kita. Apa yang bisa kita lakukan untuk pendidikan? bukan orang lain yang tahu tapi kita sendiri yang harus menjawab. Mari berkontribusi untuk pendidikan sesuai dengan apa yang kita miliki, baik itu materi, tenaga atau pemikiran.

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: