Observasi Kelas Merdeka Belajar

Penulis : Marjenny | 8 Sep, 2021 | Kategori: Asesmen, Liputan Guru Belajar, Merdeka Belajar, Merdeka Belajar

Pusing menghadapi murid yang acuh dalam belajar khususnya saat PJJ? Ragu akan pentingnya observasi dalam pembelajaran di kelas? Bingung cara apalagi yang bisa dilakukan untuk melakukan asesmen selain asesmen kognitif? Yuk ikuti Obrolan Guru Merdeka Belajar (OGMB)!

Deretan pertanyaan di atas terjawab tuntas pada Obrolan Guru Merdeka Belajar pada hari Selasa tanggal 31 Agustus 2021 secara live streaming di youtube. Obrolan berupa bincang seru ini dihadiri oleh dua narasumber keren. Ada ibu Cornelia Amita atau yang akrab disapa bu Mita yang juga berprofesi sebagai konselor middle school di Sekolah Cikal Serpong. Selain itu hadir juga ibu Anik Puspowati seorang guru PAUD di Fatif Edu. Bincang seru ini digawangi oleh moderator keren ibu Ira Ari Nuraini dari Kampus Guru Cikal.

Narasumber Observasi di Kelas Merdeka Belajar

Perbincangan yang berlangsung secara santai selama tapi sarat makna dan kaya pengetahuan serta berdasarkan pengalaman empiris dua nara sumber yang mumpuni di bidangnya ini benar-benar mencerahkan. Peserta yang berasal dari guru-guru pembelajar seluruh Indonesia, dosen dan praktisi pendidikan ini membahas tentang pentingnya melakukan observasi yang dapat berfungsi sebagai asesmen di kelas-kelas merdeka belajar. Waktu 90 menit berlalu tak terasa karena diskusi mengalir dengan lugas dan berkualitas.

Ketika membahas tentang pentingnya observasi bagi murid, bu Anik  memaparkan agar guru bisa memahami muridnya. Kenapa murid A begini. Guru bisa mengidentifikasi kemampuan dan aspek perkembangannya.

Saat ditanya tentang caranya agar bisa mengenal murid lebih baik secara kognitif maupun nonkognitif, kedua narasumber sepakat melakukannya melalui observasi di kelas merdeka belajar. Menurut bu Mita, observasi adalah melakukan pengamatan dengan tujuan. Apalagi saat PJJ dimana kita hanya ketemu murid melalui tatap maya. Sebagian murid remaja menurut bu Mita cenderung untuk off cam karena sebagian murid usia remaja ini feeling insecure dengan penampilan fisiknya di layar. “Sebaiknya kita buat suatu kesepakatan bersama atau essential agreement dimana 10 menit pertama mereka harus buka kamera”, saran bu Mita. Beliau juga menjelaskan bahwa dari penampilan fisik murid, chatnya di WAG kelas dan memfollow IG nya, kita bisa mendapatkan data primer tentang murid. Selain itu, kita bisa mendapatkan dokumen sekunder dari rekaman, video bersama orang tuanya dan informasi dari guru sebelumnya.

Baca juga: Jurus Jitu Lulus Asesmen Nasional

Sementara itu, bu Anik yang merupakan seorang pendidik di tingkat PAUD justru menemukan kalau murid-muridnya lebih senang, kalau wajahnya kelihatan di kamera, karena usia seperti memang lebih suka melakukan eksplorasi dengan memencet tombol yang ada di piranti gawai atau laptop saat PJJ daring. Setelah itu, para murid akan berlari-lari terang bu Anik. Sama dengan bu Mita, bu Anik juga setuju, kalau dengan mengamati rekaman sesi zoomnya dan obrolan di WAG wali murid, data tentang murid akan didapatkan.

Mengenai hal apa yang perlu disiapkan sebelum melakukan asesmen observasi di kelas merdeka belajar, kedua narasumber sepakat mengenai perlunya persiapan khusus. Menurut bu Anik, kita perlu mempersiapkan apa, kapan, bagaimana cara serta metodenya. Persiapan menyangkut format check list, anecdote, foto, HP , kertas dan sticky note. Sementara bu Mita lebih melihat ke tujuan asesmennya dan evaluasi kegiatan sebelumnya. Disamping itu, menurut beliau hendaknya ada semacam guidelines, check list, dan template untuk memasukkan foto dan video. Sasaran observasi menyangkut murid, orang tua atau teman-temannya juga perlu dipersiapkan agar bisa lebih fokus.

Bu Ira sebagai pemandu diskusi juga menanyakan tentang sasaran yang tepat untuk observasi. Bu Anik menegaskan bahwa semua anak bisa diobservasi. Murid dilihat tumbuh kembangnya, orang tua diobservasi kondisi keluarganya serta bagaimana mereka berinteraksi dengan anaknya. Warga sekolah berupa orang dewasa sekitar anakpun tak luput menjadi sasaran observasi.

Bu Mita menyatakan hal yang sama bahwa semua anak berhak, dan harus diobservasi. Observasi bisa berupa semacam personal treatment dan preferences yang hanya dimiliki anak. Atau dengan kata lain ada benchmark bagi setiap anak. Kita biasanya cenderung mengingat anak yang paling pintar atau paling sulit belajar.

Ketika ditanya adakah cerita menarik selama melakukan observasi, keduanya kompak menjawab. Menurut bu Mita, di awal tahun ajaran baru selalu ada kejutan seperti murid kelihatan lebih cantik atau ganteng. Terkadang kita kaget dengan respon murid yang out of the box secara akademik. Makanya kita janganlah membatasi informasi yang masuk karena kita punya standar sendiri. Sering terjadi kejutan saat asesmen atau saat belajar.

Menurut bu Anik, beliau kadang terkejut dengan anak yang bertambah tinggi badannya pas saat masuk sekolah lagi. Hal yang mengagetkan menurut beliau, kadang saat daring mereka berlarian, tapi saat luring bisa lebih fokus belajarnya. Bahkan murid yang hanya merepon dengan mengangguk atau menggeleng saat daring , bisa memberikan respon lebih saat luring.

Berbicara soal tindak lanjut yang tepat setelah mendapatkan data observasi primer dan sekunder, kedua narasumber menyampaikan kalau mereka amat paham dengan beban administrasi guru yang banyak. Bu Mita mengingatkan para guru agar lebih teliti dalam menyeleksi data dan bukti pembelajaran, lalu melakukan kompilasi sehingga lebih paham akan tujuan observasi. Disamping itu, disarankan untuk sharing dengan guru kelas dalam rangka pengerucutan data serta mendiskusikan hasilnya dengan orang tua murid.

pembelajaran jarak jauh

Sedangkan bu Anik juga mengungkapkan hal yang senada. Data yang didapat disimpulkan, diinterpretasi dan hasilnya dibawa untuk bahan diskusi dengan orang tua. Hasil observasi disusun dalam google drive. Setelah sebulan, data tersebut diidentifikasi tindak lanjutnya sehingga didapat informasi aktual misalnya masih ada anak yang belum bisa mewarnai di usianya dan menggambar tidak sesuai dengan kemauannya.

Pertanyaan terakhir dari bu Ira sebagai pemandu jalannya diskusi menyangkut bagaimana mengaitkan berbagai asesmen seperti proyek, observasi, wawancara, tugas dan tes tertulis. Hal ini dijawab secara lugas oleh bu Mita bahwa keseluruhan asesmen di atas saling terkait dan dapat dijadikan bahan untuk saling memperkaya pemahaman terhadap anak sehingga kita memiliki pemahaman yang utuh terhadap seorang anak. Bu Anik menambahkan perlu adanya penekanan pada aspek mana yang akan disasar dan tujuan pembelajarannya. Intinya menurut beliau, sebagai guru kita harus cerdas dalam memilih asesmen.

Sementara itu, peserta terlihat sangat antusias dengan mengajukan berbagai pertanyaan di kolom chat. Diantaranya ada Ibu Supadmi yang meminta contoh observasi di tingkat SD dan kapan pelaksanaanya. Ada lagi ibu Anggun Dwi Lestari yang menanyakan bagaimana bentuk asesmen murid dengan tingkat kognitif rendah saat PJJ. Ibu Ayu Ade Irene ingin tahu adakah bentuk asesmen khusus untuk observasi. Berikutnya ada ibu Carla Adi Pramono yang bertanya tentang pengalaman empiris terkait asesmen observasi  yang digunakan untuk menambah program baru di kelas atau sekolah. Pertanyaan terakhir datang dari ibu Yayu Arundina yang bertanya tentang masalah aktual saat PJJ yaitu banyaknya siswa introvert yang tidak ikut PJJ serta tidak menyelesaikan tugasnya. 

Pertanyaan bu Ayu dijawab secara kompak oleh kedua narasumber dengan menyatakan tidak ada bentuk instrumen khusus. Menurut bu Mita, bentuk observasinya bisa berupa video, rekaman dan foto. Bu Anik menambahkan anecdotal record dianggap paling cocok untuk anak usia dini, table serta matrik.

Mengenai program baru di sekolah sebagai tindak lanjut asesmen observasi, bu Anik mencontohkan dari pengamatan dan proses empati terhadap sikap janitor di sekolahnya, sekolah merilis program Jum’at Bersih. Ada lagi program bermain dengan prokes ketat setelah mengamati obrolan para orang tua di group chat. Bu Mita meluncurkan program sesi berkomunikasi di sekolahnya setelah mengamati tingkah polah dan etika anak-anak di chat kelas yang berkomunikasi tanpa sapaan, menghubungi guru di waktu yang kurang tepat dan mengganti nama mereka di profil WA.

Di lain pihak, menyikapi murid-murid yang bersifat kurang terbuka, bu Mita memberikan saran agar perlu lebih banyak hal yang harus dikompromikan dan melakukan refleksi dari berbagai sisi. Disamping itu, kita sebagi guru perlu membina komunikasi dengan murid agar mereka merasa dekat dan mau terbuka bercerita. Bu Anik menambahkan agar kita perlu mengenali profil anak salah satunya dengan menanyakan kegemarannya agar mereka menjadi lebih terbuka dalam berkomunikasi. 

Sebagai closing statement, bu Mita menegaskan kembali bahwa observasi adalah pengamatan yang bertujuan. Bukan hanya sekedar melihat kekurangan murid, tapi juga bisa melihat potensi yang dimiliki. Observasi merupakan pelengkap data selama PBM berlangsung. Bu Anik menutupnya dengan menekankan pentingnya asesmen observasi, terutama dalam mengenali murid kita secara lebih baik agar terbangunnya relasi yang lebih baik.

Sebelum menutup sesi Obrolan Guru Merdeka Belajar kali ini pemandu mengajak para peserta untuk menuliskan insight. “Apa yang didapat dari diskusi bernas ini? Bu Ira mengajak peserta menuliskannya di padlet. Para peserta juga diundang untuk menulis di Surat Kabar Guru Belajar (SKGB) edisi 31 dan 32 melalui link bit.ly/FormulirSKGB

Kesimpulan obrolan sarat makna ini yakni observasi penting untuk mengumpulkan bukti-bukti yang tidak bisa diperoleh dari tes. Selain asesmen kognitif dan non kognitif, tindak lanjut dan tujuan hendaklah menjadi fokus perhatian. Observasi amat berhubungan dengan asesmen lainnya seperti proyek dan wawancara.

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: