Orangtua Hilang Rasa Percaya, Guru Tak Berani Bicara

Penulis : Luthfia Nurrahmi | 23 Jun, 2020 | Kategori: Liputan Guru Belajar, Temu Pendidik Mingguan

Tanggapan saat tahu anak berdarah karena murid lain di Sekolah, pasti berbeda antara satu wali murid dengan yang lain. Guru Heni Surya memaparkan cerita berkait hal tersebut pada Temu Pendidik Mingguan Edisi 115. Kemudian beliau melanjutkan dengan bagaimana hubungan antara guru dan dan orangtua dibangun di sekolahnya. Yuk simak liputan berikut.

Tips Parenting

Membangun Relasi dengan Orangtua

Halo perkenalkan kembali, saya Dhea yang akan memoderatori diskusi ke depan. Salam kenal semuanya berhubung saya di lokasi waktu Indo bagian barat, selamat menunaikan ibadah salat magrib bagi yang menjalankan. Saya perkenalkan dulu Narasumber kita bu Heni Surya. Beliau bergerak di Divisi Pendidikan di Yayasan Indria Jaya, Penggerak KGB Solo Raya, Relawan Keluarga Kita, Ketua Pokja IV PKK Kec Pasarkliwon dan juga Pengelola TaBAH(Taman Belajar Anak Hebat) di Rusunawa Putri Cempo. Dengan pengalamannya yang cukup panjang ini, beliau menemui berbagai macam karakter wali murid dengan berbagai background. Langsung saja kita panggil, Bu Heni.

Narasumber : Halo selamat malam bapak ibu yang baik. Terima kasih sudah sangat semangat menyambut diskusi dengan tema β€œMembangun Relasi dengan Orang-Tua” malam hari ini. Saya ingat dengan tulisan saya di SKGB edisi 15 mengenai hal ini. Saya bagikan sebagai materi ya

[ Inti Diskusi ]

Moderator :  

Terima kasih bu Heni atas materinya.Untuk teman-teman, silahkan dipelajari dahulu. Kami beri waktu 5-8 menit setelah itu sesi diskusi termin 1 akan dibuka. Berikut pertanyaan terpilih di termin pertama : 

Purwani Febri dari Bekasi

Bagaimana baiknya menyampaikan kepada orang tua murid bahwa sekolah dan rumah harus sinergis karena banyak sekali orang tua sekarang taunya sekolah itu yang membentuk akhlak siswa. Orang tua terima beres jadi pendisiplinan di sekolah dan dirumah tidak sejalan. Alhasil anak selalu mengandalkan orang tua. Bagaimana menyampaikan misi ini kepada orang tua?

Narasumber

Yang kami lakukan ada beberapa tahapan. 

1. Ketika orang tua mendaftarkan anaknya di sekolah kami, kami minta untuk mengisi angket tentang kebutuhan anak dan juga kebutuhan orang tua dalam belajar. Ini kami gunakan supaya kami paham, apa yang diinginkan orang tua dan apa yang dibutuhkan anak.

2. Kami undang para orang tua baru sebelum hari pertama masuk sekolah. Ini bisa di hari Sabtu jika hari senin adalah pertama masuk sekolah. Di pertemuan ini kami sampaikan visi, misi dan tujuan sekolah menerima anak mereka.

3. Kami bentuk Komite

Tambahan, Kami juga membuat grup WA per kelas yang anggotanya para orang tua ini. Sebagai pengaman Buku Penghubung. Kami sangat memahami apa maksud mereka menyekolahkan anaknya dan ini hal wajar.

Purwani Febri dari Bekasi :  

Untuk komite sebaiknya arahan yang bagaimana ya bu agar terlibat dan bisa satu visi juga? karena terkadang komite suka bikin acara sendiri dan di sekolah kami juga sudah ada buku penghubung bu, tapi memang pengecekannya masih kurang maksimal. Terimakasih sarannya bu jadi diingatkan kembali.

Narasumber

Saya lebih merekomendasikan grup WA bu. Oh iya. Jangan lupa save nomor para wali murid ini, kalau perlu sesekali komentar story WA nya. Ini akan lebih mendekatkan hubungan guru dan orang-tua murid.

Moderator

Baik. Sepertinya sudah bisa dilanjut ke pertanyaan kedua ya bu Heni. 

Erwan Hermawan KGB Sukabumi :

Di beberapa wilayah, Orang tua wali murid sebagai buruh pabrik bahkan ada buruh migran. Komitmen bersama dalam pendidikan anak diwakilkan kepada penanggung-jawab anak yang bukan ayah ibunya. Bagaimana membangun komitmen dengan wali murid (paman bibi kakek nenek) yang perhatiannya tidak sebesar ayah ibunya?

Narasumber

Halo bapak Erwan Hermawan. Sekolah kami ada di area dampak sosial, profesi para orang tua juga mayoritas buruh pabrik garmen dan plastik. Banyak anak yang dihandle oleh nenek atau tantenya.

Kita sadar betul bahwa orang tua ini butuh mencari nafkah untuk keluarga. Juga menyadari bahwa para orang tua wali pun punya prioritas utama yakni keluarganya masing-masing. 

Jika memang mereka yang mengasuh anak didik kita. Maka sebaiknya mereka semua diminta waktunya untuk diskusi di awal tahun ajaran baru. Jika berhalangan karena berbarengan dengan jam kerja. Kiat bs diskusikan malam hari. Ketika sudah lengang. Kita wapri, atau bahkan khusus bikin grup WA untuk guru, orang tua dan orang tua wali. Sebab kita butuh kerjasama mereka dalam hal mendidik anak mereka.

Kembali lagi kekuatan ada di penyampaian kita di awal tahun ajaran baru. Yakni ketika pertemuan orang tua murid. Membangun kesepakatan dengan orang tua murid terlebih dahulu bisa kita jadikan acuan dalam mengasuh. 

Di sekolah kami, yang bertugas dalam hal ini adalah saya. Bukan guru kelas anak mereka dan bukan kepala sekolah. Menurut kami memang harus ada orang ketiga yang lebih paham dan banyak waktu mengurusi ini. Orang tua murid punya banyak harapan kepada sekolah. Tugas sekolah adalah memfasilitasi dengan kesepakatan yang memanusiakan hubungan

Purwani Febri :

Yup betul sekali bu Heni, memang harusnya ada pihak ketiga agar wali kelas tidak terlalu terbebani, bahkan kadang sampai malam pun masih menanyakan anak. maaf malah curcol πŸ™πŸ˜„

Fitriyani Mustafa :

Wah…menarik sekali. Bentuk angketnya seperti apa ya bu?

Narasumber

Kita bisa bikin angket yang ringan ya, tidak perlu banyak narasi. Karena kita tahu orang tua suka malas baca. Seperti jam berapa dia tidur dan makan, apa mainan favoritnya, apa tujuan orang tua menyekolahkan.

Lia Camelia : 

Pihak ketiga ini maksudnya siapa yah bu ? 😊

Narasumber

Bukan guru kelas dan bukan kepala sekolah bu. Posisi saya adalah penasehat komite di struktur yayasan saya pegang divisi pendidikan

Purwani Febri :

Bisa diusulkan ke pengurus supaya divisi pendidikannya bisa lebih terlibat… πŸ‘πŸ‘ Maaf bu Heni untuk yang penasehat komite ini apakah ibu mengurus semua kelas atau bagaimana ya bu?

Narasumber

Betul .Semua orang tua murid. Karena memang sudah ditugaskan. Oh iya, tips supaya para orang tua murid ini mau menjalankan perannya sebagai komite sekolah adalah Kepala Sekolah wajib membuatkan SK, struktur dan job desk untuk mereka. Adalah kebanggan jika foto mereka terpampang di ruang komite.

Siti Umi Choiriyah :

Kadang ada wali murid yang dari strata ekonomi rendah tidak mampu menyentuh anaknya apalagi bersinergi dengan sekolah dikarenakan sibuk mencari nafkah, jadi undangan dari sekolah dalam rapat apapun tidak bisa hadir.

Maka sedikit berbagi pengalaman kadang kami pihak sekolah melakukan pendekatan sampai di tempat kerja wali murid tersebut. Misal ke pasar tempat wali murid berjualan. Duduk santai ngobrol dan mencoba berdiskusi santai.

Narasumber

Kegiatan ini kami namai Home Visit, bu. Ini banyak kegiatannya. Seperti silaturahmi ya. Bukan hanya datang untuk menjenguk kalau sakit atau melayat saja πŸ™ˆ

Siti Umi Choiriyah :

Betul sekali ibu. Just sharing wali kelas di lembaga kami wajib home visit sejumlah siswa di kelasnya dengan kesempatan jangka waktu 1 tahun dan alhamdulillah ternyata segala masalah yang tadinya agak rumit bisa cair dengan home visit ini.

Moderator

Selain komen di wa story wali murid ternyata home visit salah satu cara jitu mengenal lebih dekat ya… πŸ˜„

Narasumber

Iya. Karena orang tua murid adalah aset buat sekolah. Sekali mereka puas maka cerita soal sekolah kita tentang bagaimana mereka diperlakukan akan menjadi daya tarik sendiri.

Siti Umi Choiriyah :

Betul bu Dhea, kami pernah sangat deg-degkan lebih tepatnya ketakutan suatu ketika mendapatkan musibah ada murid yang patah tulang permanen, seketika itu kami berkunjung bahu membahu wali kelas, kepala sekolah, dan komite.

Alhamdulillah ketakutan kami akan dituntut kelalaian pun tidak terjadi. Wali murid bersangkutan yang awalnya sangat tidak terima menjadi luluh

Moderator

Baik. Termin pertama sungguh luar biasa responnya. Saya kagum dengan teman-teman semua πŸ˜„. Saya buka pertanyaan termin kedua untuk 3 penanya pertama. Sertai nama dan daerah. Silahkan

Waniy dari Kotawaringin Barat :

Selamat malam bu, bagaimana merangkul orang tua siswa yang tidak mau ikut aktif di sekolah dengan membatasi kegiatan anak? padahal siswa tersebut berbakat, misalnya kalau ada lomba anaknya mau ikut tapi dibatasi oleh orangtuanya karena alasan pasti kalah πŸ™ˆ

Narasumber

Sebelumnya kita harus memberikan bukti bahwa anak mereka memang berbakat. Seperti hasil karya dan kumpulan portofolio anak ketika di sekolah.

Jadi begini. Ketika sejak awal kita pihak sekolah sudah bersikap santun dan baik kepada orang tua murid. Meluangkan waktu untuk perhatian meski hanya sesekali beri komentar story wa. Saya yakin kok. Segala konflik akan teratasi. Kesepakatan yang dibuat bersama harus atas dasar pemikiran bersama, yaitu sekolah, dan orangtua murid dengan mengacu pada kebutuhan anak

Bagaimana pintarnya kita mengemas narasi akan anak mereka yang hebat dan bisa maju. Menunjukkan hasil karya sangat efektif, namun jika lomba ini berbayar maka hanya komite yang bisa menyelesaikan (ini jika alasan orang tua tidak mengikutkan anaknya lomba adalah soal dana ya).

Moderator

Wah jawaban yang menarik. Intinya membuat orang tua juga percaya diri dengan melihat karya anaknya ya bu Heni ? Bagaimana bu Waniy ada tanggapan?

Waniy :

Siap,akan ditindak-lanjuti bu😊 seperti pembuktian kalau anaknya bisa nih, gitu ya bu, kalau masalah dana biasanya dari sekolah ada kebijakan, malah siswa yang ikut lomba-lomba kami beri snack dibungkus lucu gitu buat apresiasi.

Moderator

Kita langsung ke pertanyaan selanjutnya ya

Siti Umi Choiriyah – Tuban KGB Rembang :

Bagaimana menyikapi wali murid dari unsur komite yang malah mendominasi sekolah?

Narasumber

Baik, Bagaimana bisa komite kok mendominasi sekolah bu? Secara struktur, Komite ada di bawah pengawasan sekolah. Jobdesk sudah dijelaskan. Contoh mendominasinya seperti apa ibu?

Siti Umi Choiriyah  :

Kadang terjadi karena mungkin sering dilibatkan dalam berbagai kegiatan, sehingga dalam menyampaikan pendapat sedikit memaksakan. Contohnya, merasa jika sekolah tidak melibatkan komite beberapa program tidak bisa jalan.

Purwani Febri :

Iya ini juga terjadi di sekolah kami bu, ketika dikomunikasikan komite menganggap sekolah tidak kooperatif padahal seharusnya semua kegiatan komite atas persetujuan sekolah.

Narasumber

Penyampaian pendapat memang boleh, tetapi tetap kita pakai model kesepakatan ya dalam menentukan hasil. Banyak kok kasus begini. Kami pun sering mengalaminya. 

Tidak kami tegur langsung. Tapi kami ajak bicara ketika jam santai di sekolah. Sambil lontarkan sedikit humor untuk membuat suasana pecah. Saya sering kok nongkrong di kafetaria. Membicarakan model baju apa yang lagi kekinian, kuliner apa ya buat PMT bulan depan dan mau ketemuan parenting dimana.

Sejatinya ini benar. Memang beberapa program kami tidak bisa jalan tanpa komite. Ini juga yang membuat mereka punya harga diri untuk tampil. Bahkan mengeluarkan segala ilmu pengetahuan yang mereka punya untuk memajukan program Komite. Kami sangat terbantukan. Semua ide dari orang tua sebisa mungkin kami realisasikan. Meski tidak langsung seketika itu ya. Kembali lagi, selagi untuk membuat mereka nyaman, maka anak pun akan mereka dukung dalam proses belajar di sekolah kami.

Moderator

Suasana bisa lebih mencair kalau ngobrol diluar topik anak-anak ya bu.. πŸ‘

Siti Umi Choiriyah  :

Pendekatan personal ya…πŸ‘

Karena kadang dalam pleno wali murid yang lain sangat terpengaruh dengan suasana rapat yang di dominasi komite, sehingga terjadilah wali murid yang lain tidak berani berpendapat.

Narasumber

Betul bu. Kembali lagi, harus ada pihak ketiga yang menjembatani ini.

Moderator

baik. kita lanjut ke pertanyaan terakhir ya

Iis Istiqfaroh dari Jember :

Bagaimana menghadapi wali murid yang sering kali menunggui anaknya sekolah dan ketika melihat anaknya dibuat menangis dengan teman langsung nyelonong masuk kelas dan marah-marah? Saya juga selalu diminta melakukan hukuman fisik untuk anak-anak yang dianggap nakal, termasuk juga anaknya πŸ˜•

Narasumber

Selamat malam bu Iis. Ini juga sering terjadi di sekolah kami di awal – awal anak masuk sekolah. Biasanya adalah para nenek yang menunggui. Karena ditempat kami sudah diberlakukan jadwal piket. Maka tidak semua orang tua murid bisa menunggui anaknya di dalam sekolah.

Kita sekolah ada peraturan dan tidak bisa menuruti semua permintaan wali murid. Disampaikan saja, kami akan menindak lanjuti dengan cara sekolah. Kita ingatkan pada kesepakatan awal lagi tentunya. Bu Iis bisa coba bikin pertemuan orang tua murid kelas ibu misalnya. Supaya saling akrab juga para orang tua ini.

Moderator

Membangun relasi dengan menegaskan tugas pihak sekolah dan wali murid ya bu..

Narasumber

Betul. Sekolah kudu BAKOH. Tegas dalam Bahasa Jawa.

Iis Istiqfaroh :

Kebetulan saya ini baru menggantikan guru kelas di sekolah tempat saya mengajar sekarang, jadi saya tidak tahu bagaimana kesepakatan awal dulu πŸ˜…

Dan sekolah saya ini sekolah kampung, yang tidak semua wali murid punya hp, masih banyak yang kudet, program komite sekolah pun sepertinya tidak ada. Jadi di sini yang penting anak sekolah mengisi waktu di pagi hari, sudah 😒

Narasumber

Kesempatan buat ibu untuk memulai. Ajak kumpul para orangtua murid. Anggap aja ini perkenalan dengan mereka karena guru baru. Bagikan angket. Sampaikan tujuan ibu mengajar dan tanya apa harapan orang tua.

Kami pernah mendapat keluhan dari wali murid soal guru baru yang sama sekali tidak mau mengajarkan calistung. Orang tua khawatir ketika akan masuk SD anaknya tidak bisa membaca dan menulis. 

Maka kami ajak mereka diskusi, apa itu calistung, bagaimana kami menerapkan dengan model rangsangan dan kenalkan guru kami baru, fresh dan siap bekerjasama.

Lambat laun anak cerita ke orang tua. Sekolahnya enak, banyak mainnya. Namun anak hafal Pancasila, bisa mengeja dan sejenisnya.  Pembuktian tidak perlu kita perjuangkan dengan vokal. Karena kita pun memahami kebutuhan orang tua ini

Iis Istiqfaroh :

Alhamdulillah mulai dapat pencerahan saya. Terima kasih ilmunya bu. Akan saya coba praktekkan

Waniiy :

Ini keren banget bu😍😍😍

Moderator

Waaaaaaaaaaaaah tak terasa 15 menit lagi diskusi kita akan berakhir. Senang sekali dengan diskusi malam ini. Sepertinya menjawab kegalauan-kegalauan yang selama ini kita rasakan πŸ˜„

Banyak sekali yang bisa dipelajari untuk membangun relasi dengan wali murid. Mulai dari hal sederhana seperti memberi komen di postingan WA story, membuat angket, sampai home visit. Oh ya kafetaria komite yang memberi ruang dan akses untuk wali murid bisa bercengkrama langsung dengan pihak sekolah πŸ‘

Silahkan bu Heni closing statementnya πŸ˜„

Narasumber

Menjadi pendidik dan tenaga kependidikan tidak hanya bicara membangun relasi dengan anak didik, bukan selesai dengan hasil anak belajar. Namun proses dalam mendampingi anak hebat ada peran orang tua hebat juga. Kita harus paham bahwa waktu kita dengan anak didik hanya sedikit, lebih banyak waktu diluar sekolah. Yang salah satunya adalah bersama orang tua mereka. Pendidik yang pertama dan utama. Maka penting buat kita membangun relasi dengan orang tua, untuk bersinergi membawa anak menuju kebermanfaatan.

Ketika anak didik maen kasar dan orang tua pada gahar, pendidik dan tenaga kependidikannya gak perlu pasang muka sangar. Memanusiakan Hubungan adalah kunci

Terima kasih bapak ibu yang baik. Terima kasih atas kesempatannya boleh belajar bersama. Terima kasih moderator, Dhea yang keren.

Mohon maaf jika ada salah ketik dan kurang berkenan. Selamat malam dan selamat beristirahat. Karena kita juga orang tua, maka wajib kita paham peran sebagai orang tua. Tidak ada orang tua yang sempurna. Namun menemukan cara untuk mencintai dengan lebih baik itu wajib.

Salam cinta.

❀️❀️❀️❀️

Purwani Febri :

Terimakasih bu heni atas ilmu dan sharingnya, dapet banyak insightnya malam ini.  jadi banyak ide untuk tindak lanjut. πŸ‘πŸ‘

Waniy :

Terimakasih bu Dhea dan bu Heni  sharing ilmunya❀️

Moderator

☺️ Super sekali narasumber kitaaaaa

Semoga diskusi malam ini memberikan manfaat untuk kita semua. Terima kasih juga untuk semua peserta yang sudah terlibat. Sekarang masuk sesi paling akhir. Sesi Refleksi. Dipersilahkan untuk mengisi template dan share disini yaaaaa.

About the Author

Leave a Reply

%d bloggers like this: