Orangtua Memaksa Murid, Guru Bagaimana?

Penulis : Ermaida | 11 Feb, 2020 | Kategori: Merdeka Belajar, Temu Pendidik Mingguan

Pernah menghadapi orangtua memaksa murid.
Orangtua inginnya anaknya A.
Eh kita tahu kalau anaknya sebenarnya minatnya di bidang B.
Bagaimana ya guru mengkomunikasikannya?

Yuk simak Liputan Temu Pendidik Mingguan ke 125 dengan tema orangtua memaksa murid.
(#SeminarOnline Telegram). Jumat, 31 Januari 2020.

Orangtua Memaksa Murid

Pengalaman Menghadapi Orangtua yang Memaksa Murid

Ermaida:
Teman teman adakah orangtua yang memaksa murid dengan keinginannya dalam belajar.

Alinnila:
Ada Bu. Orangtua memaksa murid Anak dituntut dapat peringkat 1. Kalau dapat nilai kurang memuaskan yang disalahkan gurunya. 

Imroatus Solikah:
Pernah orangtua memaksa murid. Membawa anak ke tempat les dan memarahi anak ketika tidak mau belajar di tempat les bu biasanya.

Ermaida:
Bu Alinila apakah pernah ditegur sama orangtua yang memaksa murid. Karena murid tidak dapat rangking 1? Cerita dong saya penasaran membayangkanya 

Alinnila: Bukan saya sih Bu yang menghadapi orangtua memaksa murid. Tapi rekan guru saya. Kebetulan jadi wali kelas. 

Ermaida:
Sepertinya diskusi kita sebentar lagi kita mulai ya 

Sebelumnya saya minta maaf kalau nanti tiba saya terlihat menghilang ini karena pengaruh sinyal. Ini profil narasumber kita hari: Kristijorini mengajar di KB / Tk Kr. Widya wacana Pasar Legi Surakarta. Hobi menulis Menulis beberapa buku kolaborasi (Memanusiakan Hubungan, Literasi Menggerakkan Negeri, Menenun Rinai Hujan, dll dan 1 buku karya sendiri : CPR (salah satu solusi memahami orangtua dan murid) Tinggal di Solo dan punya anak 1 usia 8 tahun

Kristijorini:
Selamat malam bapak ibu. perkenalkan saya Rini. Narasumber hari ini yang ingin belajar bersama bapak ibu semua.

Ermaida:
Silakan ibu narasumber 

Refleski Narasumber

Kristijorini:
Terima kasih bu Linda. 

Ternyata kita mengalami hal yang sama. Orangtua memaksa murid ☺☺ 

Tulisan berikut adalah tulisan saya yang di muat di buku Memanusiakan hubungan. silakan dibaca dulu pengalaman saya ini:

Menjadi guru yang berbaur dengan berbagai karakter anak adalah tantangan yang menyenangkan. Menyelami tiap pribadi yang unik butuh keahlian khusus yang tidak hanya didapat ketika kuliah. Namun butuh juga menyelami pribadi mereka. Anak adalah duplikat orangtuanya. Mereka adalah bentuk mini dari orangtua. Memahami karakter anak tidak bisa tanpa memahami orangtua. Untuk itulah sekolah perlu melakukan komunikasi yang intens dengan keluarga. Dalam komunikasi dengan orangtua, pasti sering terjadi kesalahpahaman. Kenapa? Karena ekspektasi orangtua pada anak berbeda dengan keinginan anak. Kadang kala guru juga begitu pada anak. Bagaimana guru, murid dan orangtua dapat bersinergi untuk memahami kebutuhan murid? Untuk memahami bakatnya? Untuk memahami keinginan murid? Gunakan data anak. Makin banyak data yang kita punya, makin mudah kita memahami mereka. Hasil asesmen kita sangat penting. Penting untuk membuka kesadaran guru tentang bakat dan keinginan anak. Jika guru sudah menyadari apa yang dimiliki oleh anak, pasti akan mudah mengkomunikasikannya pada orangtua. 

Tidak hanya guru, orangtua dan murid saja yang harus saling memahami. Tapi juga pihak lembaga secara keseluruhan. Nah inilah tantangan nya. Tidak mudah. Butuh waktu untuk bisa saling memahami. Menerima kelebihan dan kekurangan murid? Tidak memaksakan kehendak baik orangtua, guru apalagi lembaga sekolah hanya dengan dalih peringkat sekolah 

Baca juga: Surat Kabar Guru Belajar Edisi Melibatkan Orangtua di Sekolah

Amalia Jiandra:
Silakan dibaca ya bapak-ibu Kami beri waktu 10 menit untuk membaca 

Amalia Jiandra:
Atau adakah yang mau cerita tentang pengalaman yang serupa yang pernah di alami di sekolah/kelas? Sambil kita menunggu teman-teman lain membaca materinya 

Ermaida:
Teman teman guru setelah membaca karya tulis Bu Rini. Adakah yang ingin bertanya? Silakan 2 orang penanya tunjuk tangannya.

Kristijorini:
Paling susah kalau orangtua memaksa ya bu pakai banget. Merasa paling benar. Nah gimana tuh?

Kristijorini:
Seru nih. Kita berdua ngobrol bu linda. Cerita serunya diomeli orangtua 

Umi Hani:
Boleh ya bu cerita sedikit, dulu teman satu sekolah pernah diomeli orangtua murid. Gara- gara peraturan sekolah yang tidak sesuai dengan keinginan orangtua. 

Kristijorini:
Silakan bu Umi. Bagi yang baru online juga boleh curhat. Kita curhat bersama. Kita cari solusinya 

Umi Hani:
Di sekolah kami dilarang bawa HP. Tetapi saat sidak murid tersebut membawa HP. Maka guru menindaklanjuti hal tersebut sebagai pelanggaran, dengan ketentuan yang sudah disampaikan di awal. Yakni HP tersebut disita selama 1 bulan. Namun belum genap 1 bulan, ibu murid tersebut marah dan mengatai hal yang tidak sepantasnya. 

Kristijorini:
Boleh tanya bu? Aturan itu disepakati bersama kah dengan orangtua dan anak? 

Atau memang aturan itu yang buat pihak sekolah saja? Sudah disosialisasikan kah? 

Umi Hani:
Iya aturan tersebut sudah disampaikan di awal bu. Namun sepertinya beliau tidak mau tahu. 

Juga sudah disosialisasikan. 

Kristijorini:
Maaf sekolahnya Jenjang SD, atau SMP, atau SMA bu? 

Umi Hani:
SMP bu
Ternyata setelah melakukan penelusuran, bunda dari murid tersebut memang seperti itu. Karena di jenjang sebelumnya, apabila anaknya salah akan selalu membela. Atau menuruti kemauan sang anak (memanjakan). Bagaimana ya mengatasi orangtua yang menganggap sang anak (murid) selalu benar? Mungkin bisa dibagi ilmunya 

Kristijorini:
Masa remaja memang masa paling seru. Masa-masa membangkang dan menjadi jati diri. Pun begitu juga orangtua. Sering dibikin pusing dengan si anak. Tipe orangtua juga perlu diperhatikan. Kalau saya biasanya melihat aturan tersebut berpihak pada anak atau belum. Relevankah konsekuensi dengan kesalahan anak? Bolehkah kita mendisiplin murid dengan menghukumnya seperti itu? Adakah konsekuensi itu sudah disepakati oleh semua pihak? Sudah tepatkah dengan undang-undang perlindungan anak? 

Nah jika memang sudah ada sosialisasi dan disepakati bersama semua pihak tapi anak nekat dan orangtua marah-marah, bagaimana pendekatan kita? 

Daciel Junior:
Maaf klo sedikit keluar jalur hehheee 

Saya punya teman main (sebutan murid bagi saya) dia anaknya cerdas kemandiriannya tinggi, bahkan jika ada home challenge dari sekolah dia bisa mengerjakannya dengan mandiri, temen saya ini anaknya nga enakan, jadi apa yang orangtuanya suruh pasti selalu dilakukan, bahkan hal-hal yang terkadang temen saya ini nggak suka tetap ia lakukan demi orangtuanya.

Untuk tahun ini kegiatan dia semakin banyak, mulai dari les akademik, les olahraga, sampai les agama. Kegiatan hariannya full. 

Pernah suatu ketika orangtua nya minta pelajaran tambahan ke saya. Saya sudah coba komunikasikan kalau anak itu cerdas dan mandiri. Tapi orangtuanya tetap minta anaknya untuk les. Akhirnya saya tetap ngelesi dia. 40% belajar , 60%nya saya coba ajak dia untuk bermain edukasi yang ringan. Saya tahu dia udah terlalu capek, kadang dia lebih berani curhat kesaya dari pada ke orangtuanya, karna dia takut mengecewakan orangtuanya) 

Kalau seperti itu ada tips mengkomunikasikan ke orangtuanya, pak, bu ? Saya sudah coba, tapi karena orangtuanya idealis jadi merasa cara mereka benar, dan itu semua demi kebaikan anaknya 

Memahami Murid dan Orangtua

Kristijorini:
Biasanya di awal tahun ajaran atau tengah tahun ajaran, saya mendata semuanya. Kalau perlu akun facebook, instagram, temennya orangtua. Gunanya untuk mengetahui sifat dan kebiasaan orangtua. Dari sana saya jadi tau cara mendekati mereka. Yang pemalas pasti punya hobi kan? Kita masuk dunia hobinya itu. Puji hobinya. Memahami orangtua itu penting. Itulah beratnya tugas guru. Jadi sejarah apapun, pasti akan mudah berkomunikasi dengannya. Mudah menenangkan nya. Mudah memberi masukan padanya. 

Kristijorini:
Kuncinya di komunikasi dan memahaminya. Tiap kali saya jengkel sama orangtua yang nyebelin, saya selalu melihat sisi positifnya beliau. Maka ketika hati bisa memahami dia, eee kok ya… Beliau nya malah jadi baik ya… Sama saya mungkin hukum magnet berlaku ya bagi kejiwaan manusia  betul. Begitu bu Umi. Maaf jika terlalu panjang. Dan mungkin kurang memuaskan jawaban saya.

Umi Hani:
Wah, terimakasih bu. Ini mungkin harus saya terapkan juga. Apalagi saat ini saya juga sebagai wali kelas. 

Kristijorini:
Sama-sama bu
Bu Fita silakan 

Ermaida:
Artinya kita harus menjalin hati dengan orangtua murid ya. Supaya orangtua paham tentang anaknya. 

Kristijorini:
Betul bu Linda 

Saya juga pernah dapat murid begitu. Masak anak kelompok bermain les nya macam- macam. Saya cerita saja tentang anak yang jadi masuk rumah sakit jiwa karena stres. Membenci mamanya. Trus saya kasih tunjuk tahapan perkembangan anak yang seharusnya dilakukan anak. Intinya saya ceritain kisah-kisah serem tentang anak yang dipaksa orangtuanya. Yang maksa anak akibatnya. Tapi dengan bukti ya. Saya cari di google dampaknya bagi anak. Untuk saya ahli mendramatisir, sambil nangis. Kalau nangis saya sungguh karena nggak tega lihat anaknya. 

Daciel Junior:
Hihihi berarti saya harus belajar teather lagi ya bu, biar bisa mendramatisir juga. Siap bu, terima kasih.

Kristijorini:
Saya juga cari di youtube apa kata psikolog tentang akibatnya bagi anak…. Kalau masih maksa, ya saya cuma bertanya, tugas kita adalah merawat anak titipan Tuhan. Dia bukan milik kita. Dia milik Tuhan. Silakan ambil pilihan. Dibenci anaknya atau disayang anaknya dan mendapatkan berkat dari Yang Maha Kuasa.

Betul pak. Wajib itu. Sama-sama pak

Ermaida:
Narasumber kita banyak pengalamannya
Yuk ibu Fita silakan bertanya 

Kristijorini:
Saya masih baru bu. Baru 11 tahun mengajar. 

Yang pasti, ketika kita memahami anak dan orangtua, kita pasti akan menemukan cara untuk membantu anak dan juga orangtuanya yang sesungguhnya mengalami ketidakberdayaan. Tugas guru membantu, membangun kesadaran bersama tanpa memaksa anak. Memanusiakan anak, memahami anak. Tidak mudah. Sampai sekarang saya juga masih belajar. Terutama mengendalikan diri sendiri untuk melukai perasaan anak didik kita 

Begitulah Kira-kira pemahaman saya tentang memahami murid dan orangtua. Karena sudah bikin kecil-kecilan penelitian. Jadi tau yang dirasa dan dialami orangtua. 

Ermaida:
Sambil nunggu yang mau bertanya.. Bagaimana kalau Bu putri cerita apa yang memotivasi ibu bergabung disini 

Silakan putri 

Kartini Tini:
Maaf terlambat, Saya Kartini hadir 

Kristijorini:
Halo bu kartini
Paling seru kalau ngobrol dengan orangtua apa ya bu Linda 

Ermaida:
Biasanya orangtua paling senang ketika kita bicarakan tentang kepandaian anaknya Dan kelebihan anaknya dari anak yang lain Bu rini 

Ketika Murid Melakukan Pelanggaran

Yeni Sekr:
Teman-teman saya mau nanya, apa solusinya kalau ada murid kedapatan sedang nonton video porno saat PBM berlangsung, dan ketahuan sama guru yang ngajar pada waktu itu. 

Kristijorini:
Sama bu. Apalagi jika kita tau ada bakat terpendam anaknya… Kita cerita tentang kelebihan anak.

Ermaida:
Selamat bergabung Bu Kartini. 

Kristijorini:
Ada kesepakatan tentang aturan di kelas sebelum mengajarkan? Mengajarkah? 

Yeni Sekr:
Waktu itu belum Bu, anak masih boleh bawa hp di sekolah cuman waktu itu kejadiannya sama teman saya. Tapi kata teman saya itu sudah ada aturan tidak boleh buka hp pada pbm. Tapi murid masih banyak yang melanggar yang saya mau tanya bagaiman membina murid yang sudah terlanjur seperti ini.

Kartini Tini:
Saya juga pernah punya pengalaman orangtua memaksakan kehendak pada anaknya Bu. Waktu itu saya mengajar kelas satu. Waktu itu murid itu belum pandai calistung. Hasil rapat walikelas kami sepakat anak itu tinggal kelas, dengan pertimbangan berbagai hal. Ternyata orangtua murid saya tidak terima jika anaknya tinggal kelas. Saya diomelin dan kepala sekolah dicari agar anaknya naik kelas. Saya harus bagaimana keputusan telah disepakati. Akhir murid saya itu dipindah ke sekolah lain. 

Kristijorini:
Nah buat kesepakatan kelas dulu. Aturan yang harus disepakati bersama. Jika dilanggar apa konsekuensinya. Jika sudah terlanjur, biasanya saya lakukan pendekatan. Mengajak nya bicara baik-baik. Bertanya kenapa menonton itu, apakah baik menonton saat kbm apalagi video porno. 

Yeni Sekr:
Yang sangat saya takutkan adalah anak smp sudah seperti ini, apakah bisa kita dengan hanya bicara baik-baik saja bisa masalah ini selesai?. Atau ada ndak cara lain Bu agar hal ini tidak bisa terulang lagi. 

Kristijorini:
Nah saat seperti itu tugas guru menahan emosi. Pahami dia. Jengkel pasti, pingin marah pasti, gali pertanyaan darinya. Sudah sering kah dia nonton itu. Sesudah itu. Kasih tau dampaknya. Sekali lagi perlu gunakan data yang tepat tentang dampak. Bukankah youtube. Mungkin saat itu dia cuek atau jengkel. Tapi ketika kita melakukan pendekatan dari hati ke hati tanpa menghukum. Saya yakin pulang dia mikir. Dia merenung. Kalau diulang lagi, cari solusi lain. Selidiki latar belakang keluarga dll 

Kartini Tini:
Malam juga bu.

Kristijorini:
Pasti ada hal yang perlu kita tolong. Bahwa dia butuh pertolongan kita. Ternyata jadi guru itu hangabehi (menjadi banyak peran), semua peran dimainkan. 

Intinya pahami dan cari solusi. Dia butuh bantuan kita. 

Begitu Kira-kira sepemahaman saya. Mohon maaf jika kurang pas menjawabnya 

Ermaida:
Sepertinya Bu kartini harus menjalin hati dulu dengan murid yang suka nonton itu Bu. Supaya kita tau kenapa dia melakukannya 

Kristijorini: Kita jadi detektif, lalu merumuskan masalahnya dan cari cara. Lakukan diskusi dengan guru lain atau guru BP di sekolah 

Bicara baik-baik dengan orangtua nya jika memang diperlukan 

Yeni Sekr: Ok ibu kristijo, terima kasih atas penjelasannya 

Kristijorini: Sama-sama ibu 

Ermaida:
Sepertinya waktu diskusi kita sudah habis bagaimana Bu rini.. 

Banyak sekali pengalaman rekan rekan guru tentang bagaimana kemauan orangtua tehadap anaknya 

Kristijorini:
Wah berat nih. Tidak naik kelas itu beban mental bagi anak. Butuh perjuangan bagi orangtua dan anak menerima kenyataan itu. Doakan yang terbaik buat mereka. Dan mungkin, perlu adanya kebijakan sekolah yang kelak lebih memahami murid. Apalagi tahun depan merdeka belajar. Bikin rumusan baru tentang anak dan memahaminya yang disepakati bersama. 

Siap bu. 

Anisah:
Hallo bu ibu, saya Anisah maaf terlambat. Maaf boleh ikut.

Kartini Tini:
Itu terjadi 6 tahun silam bu.

Kristijorini:
Kesimpulan saya ketika kita memahami anak dan orangtua, kita pasti akan menemukan cara untuk membantu anak dan juga orangtuanya yang sesungguhnya mengalami ketidakberdayaan. Tugas guru membantu, membangun kesadaran bersama tanpa memaksa anak. Memanusiakan anak, memahami anak. sama-sama belajar untuk saling memahami dan menemukan cara untuk mendampingi anak. kuncinya adalah cinta. begitu kira-kira bapak ibu.

Ermaida:
Hallo anisah. Selamat bergabung. 

Kristijorini:
Boleh bu.

Ermaida:
Bapak ibu kita refleksi diskusi kita hari ini ya.

Orangtua Memaksa Murid

Kristijorini:
Mohon maaf jika ada salah-salah kata. Terima kasih semua 

Ermaida:
Di isi kolom refleksinya ya bapak ibu hasil kita diskusi tadi. 

Beli Jayanti: Insyaallah bu 

Kartini Tini:
Terima kasih banyak atas ilmu Bu Rini 

Kristijorini:
sama-sama bu 

Daciel Junior:
Terima kasih juga bu moderator, bu pemateri.. untuk diskusinya malam ini semoga selalu bermanfaat untuk kita semua 

Ermaida:
Semoga diskusi yang kita lakukan hari ini bermanfaat untuk kita semua. Mari kita bergerak dikelas supaya pendidikan di indonesia semakin maju 

Kristijorini: Terima kasih pak. Amin 

Kartini:
Selamat untuk ibu @⁨Kristijorini⁨ dan @⁨lindaermaida⁨. Sukses selalu… Terima kasih telah berbagi ilmunya 

Terimakasih Bu kartini 

Saya sebagai moderator mohon maaf kalau ada kata yang salah Terimakasih kepada seluruh peserta diskusi TPM malam ini Saya mohon pamit 

Assalamualaikum 

Waniy:
Terimakasih atas ilmu bu Rini,  KGB Surakarta, terimakasih moderator Ermaida 

Kristijorini:
Sama-sama bu 

Maaf Ibu baru bisa baca diskusi tadi malam dan baru kirim refleksi. Terimakasih Ibu Kristijo sebagai nara sumber dan ibu Ermaida sebagai moderator yang sudah berbagi praktik baiknya,. 

Kristijorini: Sama-sama bu 

Ermaida: Sama sama Bu choifah 

Amalia Jiandra:
Selamat siang. Jika masih ada pertanyaan dan butuh diskusi dengan narasumber atas ijin dari narasumber. Bu Kristijorini bersedia untuk berdiskusi secara pribadi melalui chat pribadi. 

Putri Ars:
Benar kah?….terima kasih banyak atas infonya 

About the Author

One thought on “Orangtua Memaksa Murid, Guru Bagaimana?”

Leave a Reply

%d bloggers like this: